NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kebohongan diruang direktur

Wajah Arga langsung berubah tegang.

Tatapannya berpindah dari Nayla kepada Raka, lalu kembali kepada Nayla. Rahangnya mengeras, sementara tangan kanannya masih mencengkeram gagang pintu ruangan direktur itu.

“Apa maksudmu?” tanya Arga.

Nada suaranya rendah, tetapi Nayla bisa mendengar kemarahan yang ditahannya.

Nayla berdiri di dekat sofa dengan kedua tangan saling menggenggam di depan tubuhnya. Jantungnya berdebar cepat. Sebagian dari dirinya ingin mundur. Namun ia sudah terlalu lelah menjadi perempuan yang selalu mengalah.

“Aku bertanya,” jawab Nayla, berusaha menjaga suaranya tetap stabil, “apa yang kamu lakukan setiap kali bilang sedang bekerja.”

Arga melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.

“Kamu mengikutiku?” tanyanya.

Pertanyaan itu membuat Nayla hampir tersenyum pahit.

“Aku tidak mengikutimu. Aku melihatmu dari jendela apartemen.”

Arga terdiam sesaat.

“Kamu melihat apa?”

“Kamu tahu apa yang aku lihat.” Nayla menatapnya lurus. “Seorang perempuan masuk ke mobilmu pagi ini.”

Arga mengalihkan pandangan, hanya sedetik. Namun gerakan kecil itu cukup untuk membuat Nayla semakin yakin.

“Dia rekan kerja,” jawab Arga cepat. “Kami berangkat ke kantor karena ada urusan proyek.”

“Rekan kerja yang kamu simpan dengan nama Sayang Kantor?”

Wajah Arga memucat.

Ruangan itu mendadak sunyi.

Raka yang sejak tadi berdiri di dekat mejanya tidak menyela. Namun Nayla dapat merasakan perubahan udara di antara mereka. Seperti ada badai yang akan pecah sewaktu-waktu.

Arga kembali menatap Nayla. Kali ini sorot matanya tidak lagi sekadar marah. Ada keterkejutan, lalu rasa curiga.

“Kamu buka ponselku?” tanyanya.

Nayla mengangkat dagunya. “Aku tidak perlu membuka seluruh ponselmu untuk melihat pesan yang muncul di layar.”

“Itu privasi aku, Nayla.”

“Privasi?” Nayla tertawa kecil, pahit. “Kamu menyebut perselingkuhan privasi?”

“Aku tidak selingkuh.”

Jawaban itu keluar begitu cepat sampai Nayla hampir percaya jika ia tidak sudah melihat semua pesan semalam.

“Jangan bohong.” Suara Nayla mulai bergetar. “Aku melihat pesan kalian. Aku melihat kamu bilang lebih nyaman dengannya. Aku melihat kamu meminta dia berhati-hati supaya aku tidak curiga.”

Arga menatapnya tajam.

“Jadi kamu memang membuka ponselku.”

“Kamu lebih peduli ponselmu dibuka daripada perasaanku yang kamu hancurkan?”

“Karena kamu sudah melanggar batas!”

Kalimat itu membuat Nayla terdiam.

Arga melangkah lebih dekat. Wajahnya tampak kesal, tetapi tidak ada sedikit pun penyesalan di sana.

“Kamu selalu membesar-besarkan semuanya,” lanjutnya. “Siska hanya teman dekat. Kami sering kerja bareng. Kalau ada pesan yang terdengar salah, itu cuma bercanda.”

“Bercanda?” Air mata Nayla hampir jatuh, tetapi ia menahannya. “Memanggil perempuan lain sayang itu bercanda? Menjemputnya setiap pagi itu bercanda? Menghapus chat supaya istrimu tidak tahu itu juga bercanda?”

Arga mengepalkan tangan.

“Kamu tidak mengerti situasi di kantor.”

“Kalau begitu jelaskan.” Nayla menatapnya tanpa berkedip. “Jelaskan sampai aku mengerti. Jelaskan kenapa kamu berubah. Jelaskan kenapa kamu pulang larut. Jelaskan kenapa kamu marah setiap kali aku bertanya. Jelaskan kenapa aku merasa seperti orang asing di rumahku sendiri.”

Arga membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.

Raka akhirnya melangkah maju.

“Cukup, Arga,” katanya tegas.

Arga menoleh kepada atasannya. “Ini urusan rumah tangga saya, Pak. Saya bisa selesaikan sendiri.”

“Kalau itu benar-benar urusan rumah tangga, kamu tidak seharusnya membawa kebohonganmu ke kantor.” Tatapan Raka mengeras. “Kamu menggunakan jam kerja untuk kepentingan pribadi. Kamu meninggalkan beberapa tugas penting, lalu meminta rekan satu tim menutupinya.”

Arga tampak semakin terpojok.

“Pak Raka tidak tahu seluruh situasinya.”

“Saya tahu cukup banyak.” Raka mengambil sebuah map tipis dari mejanya. “Dalam dua minggu terakhir, kamu tercatat meninggalkan kantor sebelum jam kerja selesai pada lima kesempatan. Kamu menyatakan sedang menemui klien, tetapi tidak ada laporan pertemuan maupun pembaruan proyek.”

Nayla menatap map itu.

Ternyata bukan hanya hatinya yang Arga bohongi. Pekerjaannya pun ikut ia abaikan.

Arga mengembuskan napas kasar. “Saya akan menyelesaikan laporan itu.”

“Ini bukan hanya tentang laporan.” Raka meletakkan map kembali di meja. “Ini tentang tanggung jawab.”

“Pak Raka tidak perlu ikut campur hubungan saya dan istri saya.”

Nayla menunduk sesaat.

Kalimat itu seharusnya terdengar seperti perlindungan. Namun di telinganya, itu justru terdengar seperti Arga ingin menyembunyikan kesalahannya.

Raka tidak terlihat tersulut emosi. Ia justru memandang Arga dengan tenang, tetapi ketegasan dalam suaranya terasa semakin kuat.

“Saya tidak berniat ikut campur. Saya hanya ingin memastikan tidak ada pihak yang dirugikan lebih jauh.”

Arga tertawa pendek tanpa humor. “Pihak yang dirugikan? Bapak bicara seolah saya penjahat.”

“Kamu yang menentukan sendiri seperti apa kamu ingin dilihat,” jawab Raka.

Nayla menatap Arga.

Ia berharap suaminya akan meminta maaf.

Ia berharap Arga akan mengatakan bahwa semua itu salah, lalu berjanji menghentikannya.

Namun yang ia lihat justru seorang pria yang lebih sibuk membela diri daripada menyelamatkan pernikahan mereka.

“Kita pulang,” kata Arga tiba-tiba kepada Nayla. “Tidak perlu membicarakan ini di kantor.”

Nayla tidak bergerak.

“Aku tidak mau pulang bersamamu.”

Arga menatapnya tajam. “Nayla.”

“Aku bilang aku tidak mau.”

“Kamu istriku.”

“Dan kamu suamiku.” Suara Nayla perlahan meninggi. “Justru karena itu aku punya hak untuk tahu kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini.”

Arga melangkah lebih dekat. Tangannya terulur, seolah ingin menarik pergelangan tangan Nayla.

Namun sebelum jemarinya menyentuh Nayla, Raka berdiri di antara mereka.

Gerakannya tidak kasar, tetapi cukup untuk menghentikan Arga.

“Jangan sentuh dia kalau dia tidak mengizinkan,” ujar Raka.

Arga menatap Raka dengan wajah gelap.

“Bapak sudah terlalu jauh.”

“Tidak,” jawab Raka. “Kamu yang sudah terlalu jauh.”

Ketegangan di ruangan itu membuat Nayla sulit bernapas. Ia tidak ingin pertengkaran mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk.

“Aku akan pulang sendiri,” katanya.

Arga menoleh padanya. “Nayla, jangan keras kepala.”

“Keras kepala?” Nayla menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku menunggu kamu setiap malam. Aku memasak untukmu. Aku berhenti bekerja karena kamu bilang aku tidak perlu terlalu lelah. Aku percaya ketika kamu mengatakan sedang sibuk. Kalau sekarang aku memilih menjaga diriku sendiri, itu bukan keras kepala, Arga.”

Arga terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu, ekspresinya sedikit goyah.

Namun Nayla sudah tidak sanggup melihatnya lagi.

Ia mengambil tasnya dari sofa.

“Saya pamit, Pak Raka,” ujar Nayla sambil menoleh kepada pria itu.

Raka mengangguk. “Dimas akan mengantar Anda turun.”

Nayla berjalan menuju pintu. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara Arga memanggil dari belakang.

“Nayla.”

Ia berhenti, tetapi tidak menoleh.

“Kita bicara di rumah nanti,” kata Arga.

Nayla memejamkan mata sebentar.

“Kalau kamu ingin bicara, mulailah dengan kejujuran,” jawabnya.

Lalu ia membuka pintu dan keluar dari ruangan itu.

***

Dimas sudah menunggu di luar.

“Apakah Ibu baik-baik saja?” tanyanya hati-hati.

Nayla mengangguk, meski ia sendiri tidak yakin. “Saya hanya ingin pulang.”

“Baik. Saya antar sampai lobi.”

Mereka berjalan menyusuri lorong. Nayla berusaha menjaga langkahnya tetap normal. Namun ketika pintu lift tertutup, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.

Dimas pura-pura tidak melihat.

Sikap itu justru membuat Nayla sedikit bersyukur.

Setelah sampai di lobi, Nayla keluar dari gedung dan berdiri di bawah kanopi. Langit kembali mendung. Angin membawa bau tanah basah, seolah hujan bisa turun kapan saja.

Ia membuka aplikasi transportasi daring di ponselnya.

Sebelum sempat memesan kendaraan, sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung.

Pintu belakang terbuka.

Raka keluar dari mobil itu.

Nayla terkejut melihatnya.

“Pak Raka?” tanyanya.

Pria itu mendekat, tetapi tetap menjaga jarak. “Saya akan mengantar Anda pulang.”

“Tidak perlu. Saya bisa pesan kendaraan sendiri.”

“Saya tahu.” Raka menatapnya tenang. “Tapi setelah apa yang terjadi di atas, saya tidak yakin Arga akan membiarkan Anda pulang dengan tenang.”

Nayla menggenggam ponselnya lebih erat.

“Dia tidak akan melakukan apa-apa.”

“Saya harap begitu.” Nada Raka tetap datar, tetapi jelas ada kekhawatiran yang disembunyikannya. “Namun, saya lebih memilih memastikan Anda sampai dengan aman.”

Nayla ragu.

Ia tidak terbiasa menerima bantuan dari pria lain. Terlebih dari atasan suaminya.

Namun bayangan wajah Arga ketika marah tadi kembali muncul. Cara suaminya mencoba menarik tangannya. Cara ia seolah ingin mengendalikan pembicaraan dengan membawa Nayla pulang.

Akhirnya, Nayla mengangguk kecil.

“Baik. Terima kasih.”

Raka membukakan pintu mobil untuknya.

Nayla masuk ke kursi belakang. Raka tidak duduk di sampingnya. Ia memilih duduk di kursi depan, tepat di sebelah sopir.

Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara.

Nayla memandangi jalanan dari balik jendela. Pemandangan kota bergerak pelan, tetapi pikirannya justru berlari ke mana-mana.

Tentang Arga.

Tentang Siska.

Tentang pernikahan yang ternyata dipenuhi kebohongan.

Dan tentang Raka Aditya.

Pria dingin yang tadi berdiri di antara dirinya dan Arga.

Pria yang seharusnya tidak memiliki alasan untuk peduli.

Ketika mobil berhenti di depan apartemennya, Nayla membuka pintu.

“Pak Raka,” panggilnya sebelum turun.

Raka menoleh.

“Terima kasih karena tadi membantu saya.”

Raka memandangnya cukup lama. Tatapannya tidak lagi sedingin saat pertama mereka bertemu.

“Anda tidak harus berterima kasih karena saya mencegah seseorang menyakiti Anda,” ujarnya.

Nayla menunduk.

“Katakan saja kalau Anda butuh bantuan,” lanjut Raka. “Jangan menghadapi semuanya sendiri.”

Kalimat itu sederhana.

Namun setelah berbulan-bulan merasa sendirian dalam pernikahannya, Nayla tiba-tiba merasa dadanya menghangat.

Ia cepat-cepat turun dari mobil sebelum Raka melihat air mata yang kembali menggenang di matanya.

Nayla berdiri di depan pintu lobi apartemen dan menatap mobil hitam itu hingga menghilang di tikungan.

Ia belum tahu bahwa sejak hari itu, hidupnya akan berubah.

Dan bahwa lelaki yang baru saja menolongnya adalah lelaki yang kelak akan membuatnya berani percaya pada cinta lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!