NovelToon NovelToon
Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:273
Nilai: 5
Nama Author: Arya Setya

Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan Jiangcheng, Warung Teh Tua, dan Janji yang Tak Pernah Pudar

Rintik hujan di jalan tol pinggiran kota Beijing menyapu kaca depan SUV hitam yang dikendarai Lu Feng. Suara usapan "wiper" yang teratur beradu dengan deru mesin mobil, menciptakan ritme yang membawa pikiran mereka kembali menembus lorong waktu.

Lin Xiao menyandarkan kepalanya di sudut kaca jendela mobil, menatap tetesan air hujan yang mengalir turun.

"Hujannya... persis seperti hujan di Jiangcheng waktu semester akhir kelas dua belas," gumam Lin Xiao pelan.

Lu Feng melirik wanita di sebelahnya melalui kaca spion dalam, lalu tersenyum tipis. "Malam pas lo demam tinggi gara-gara nemenin gue belajar sampai jam tiga pagi?"

"Bukan cuma demam," Lin Xiao menoleh, menatap Lu Feng. "Malam di mana kamu hampir dikeluarkan dari sekolah karena berkelahi dengan anak SMA sebelah yang mencoba mencuri lembar soal prediksimu."

Lu Feng terkekeh rendah. "Anak-anak idiot itu pantes dapet pukulan. Mereka mikir bisa dapet nilai gampang dengan cara meras usaha keras lo."

Memori itu mendadak terbuka lebar, membawa kehangatan yang mengalahkan dinginnya pendingin udara di dalam mobil.

Masa-masa kelas dua belas di SMA Mingde adalah neraka bagi semua murid. Tekanan ujian nasional (GaoKao) seperti gantung diri massal yang menakutkan. Di saat semua murid sibuk mempertahankan nilai mereka sendiri, Lin Xiao mengambil keputusan gila: ia mempertaruhkan waktunya untuk mengajari Kang Lu Feng, seorang murid berandal yang nilainya selalu berada di dasar jurang.

Malam itu, hujan deras mengguyur Jiangcheng tanpa henti. Udara sangat dingin.

Di sebuah kedai teh tua yang sepi di sudut gang sempit dekat sekolah, Lin Xiao duduk bertopang dagu di depan meja kayu yang berderit. Wajahnya sangat pucat, matanya sayu, dan tubuhnya dibalut jaket tebal. Suhu tubuhnya naik tinggi akibat kelelahan luar biasa setelah berminggu-minggu membagi waktu antara belajarnya sendiri dan menyusun rangkuman materi khusus untuk Lu Feng.

Di seberangnya, Lu Feng sedang sibuk mencoret-coret kertas rumus matematika. Kemeja seragamnya basah kuyup di bagian bahu karena ia menutupi kepala Lin Xiao menggunakan jaketnya saat berlari menerobos hujan dari gerbang sekolah tadi.

"Salah lagi," tegur Lin Xiao dengan suara serak, menunjuk angka di kertas Lu Feng dengan ujung pulpennya. "Di bagian kalkulus ini, kamu harus memindahkan variabel X dulu ke ruas kiri sebelum diintegralkan, Lu Feng."

Lu Feng meremas kertas itu dengan frustrasi, merusak rambut hitamnya yang basah. "Gue pusing, Xiao! Otak gue rasanya mau meledak! Kenapa rumus-rumus bodoh ini harus diciptakan sih?!"

"Karena rumus-rumus ini yang akan membawamu keluar dari Jiangcheng!" bentak Lin Xiao pelan, suaranya terbatuk-batuk kecil. "Kalau kamu tidak bisa menyelesaikan soal level dasar ini, bagaimana kamu bisa meloloskan nilaimu ke Universitas Beijing?!"

Lu Feng terdiam. Ia menatap wajah pucat Lin Xiao, menatap bibir cewek itu yang gemetar menahan dingin, dan mata cokelatnya yang tetap memancarkan kebeningan yang teguh meski dalam keadaan sakit.

Rasa bersalah yang sangat tajam menghantam dada Lu Feng.

Ia meletakkan pulpennya, lalu mengulurkan tangan memegang dahi Lin Xiao. Panas sekali. Seperti memegang teko air mendidih.

"Lo demam tinggi, Lin Xiao," desis Lu Feng, rahangnya mengeras. "Kenapa lo nggak ngomong dari tadi?! Kenapa lo malah maksain nemenin gue di kedai tua ini?!"

"Karena kalau aku tidak memaksamu malam ini, kamu akan bolos lagi esok hari!" balas Lin Xiao, mencoba mempertahankan keangkuhannya sebagai ketua kelas, meski kepalanya terasa sangat berat dan berputar. "Aku sudah berjanji pada diriku sendiri... aku tidak akan pergi ke Beijing sendirian. Kamu harus ada di sana!"

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Lin Xiao, dipengaruhi oleh rasa demam dan kelelahan mentalnya.

Lu Feng terpaku di tempatnya. Kata-kata "kamu harus ada di sana" bergema di telinganya seperti petir di malam hari. Bagi seorang anak berandal yang selama ini dianggap sampah masyarakat dan tidak pernah diharapkan oleh siapa pun, mendengar seorang gadis terpintar di sekolah memohon agar ia berada di masa depannya adalah sebuah hal yang menghancurkan seluruh dinding pertahanannya.

Tanpa mempedulikan kertas soal yang berserakan, Lu Feng bangkit berdiri. Ia melompati meja kayu kecil itu, berjongkok di hadapan Lin Xiao, dan langsung menyelimuti tubuh mungil cewek itu dengan jaket denimnya yang paling tebal.

Ia mengambil cangkir teh jahe hangat yang baru saja diantarkan oleh pemilik kedai, menyodorkannya ke bibir Lin Xiao.

"Minum ini," perintah Lu Feng, suaranya tidak lagi kasar, melainkan sangat lembut dan bergetar menahan emosi.

Lin Xiao menyesap teh jahe itu perlahan. Rasa hangat jubah jahe mengalir turun ke tenggorokannya, sedikit meredakan rasa menggigil di tubuhnya.

Lu Feng meraih kedua tangan Lin Xiao yang dingin bagaikan es, menggenggamnya erat di dalam kedua telapak tangannya yang besar dan hangat. Pria muda itu mendongak, menatap lurus ke dalam mata Lin Xiao.

"Gue janji sama lo, Lin Xiao," bisik Lu Feng malam itu, diiringi suara deru hujan yang menghantam atap seng kedai teh tua. "Gue bakal belajar sampai otak gue berdarah. Gue bakal ngafalin semua buku tebal yang lo kasih. Gue bakal masuk Universitas Beijing, nggak peduli berapa ribu orang yang mau ngehalangin gue."

Lu Feng mengecup punggung tangan Lin Xiao yang dingin dengan ketulusan yang telanjang.

"Tapi lo harus janji satu hal sama gue," lanjut Lu Feng, matanya memancarkan api tekad yang tidak akan pernah padam. "Jaga kesehatan lo. Jangan pernah sakit gara-gara gue lagi. Karena mulai malam ini... hidup gue, masa depan gue, dan alasan gue bernapas... semuanya ada di tangan lo."

Di dalam kedai teh tua yang berbau aroma rempah dan hujan itu, Lin Xiao mengangguk pelan. Air mata harunya menetes, jatuh tepat di atas tautan tangan mereka. Malam itu, bukan hanya janji akademis yang terucap, melainkan sebuah ikatan jiwa yang mematri takdir mereka berdua untuk selamanya.

***

Kembali ke masa kini.

Mobil SUV hitam yang dikendarai Lu Feng perlahan memasuki kawasan industri pergudangan distrik selatan Beijing.

Hujan gerimis masih turun tipis-tipis. Dari jarak lima puluh meter, mereka sudah bisa melihat kerumunan massa kurir dan wartawan yang memadati gerbang utama gudang Campus Relay. Bendera-bendera tuntutan dan teriakan emosi membumbung tinggi di udara.

Lu Feng mematikan mesin mobil. Ia menoleh ke sebelah kiri.

Lin Xiao sedang merapikan "blazer" hitamnya. Kacamata anti-radiasinya sudah terpasang rapi di hidungnya. Tidak ada lagi jejak air mata, tidak ada lagi keraguan. Yang ada hanyalah sosok Kepala Legal yang siap bertarung dan melindunginya hingga akhir.

Lin Xiao menatap Lu Feng, lalu mengulurkan tangan kanannya. Cincin perak dengan ukiran daun ginkgo—pasangan dari janji masa SMA mereka—berkilau indah di jari manisnya di bawah remang lampu kabin mobil.

"Janji yang sama seperti di kedai teh tua dulu, Lu Feng?" tanya Lin Xiao dengan senyum miring yang sangat anggun dan percaya diri.

Lu Feng menyambut genggaman tangan itu, meremasnya dengan kehangatan mutlak yang sama seperti delapan tahun lalu di Jiangcheng.

"Janji yang sama, Nona Pengacara," jawab Lu Feng mantap. "Gue yang pasang badan, lo yang atur strategi."

Lu Feng membukakan pintu mobil, melangkah keluar ke tengah gerimis hujan malam Beijing. Ia mengancingkan jas mahalnya, merapikan postur tubuhnya yang tinggi tegap, lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu bagi Lin Xiao.

Gadis dari kedai teh tua itu kini melangkah keluar dengan sepatu hak tingginya yang mengetuk aspal dengan mantap. Bersama-sama, bersisihan tanpa jarak satu milimeter pun, mereka berjalan menembus kerumunan massa, siap membakar siapapun yang berani merusak masa depan yang telah mereka bangun dengan darah dan air mata sejak masa muda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!