Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Angka Kematian dan Lintah Pemakan Roh
Kabut pagi di Sektor Ketiga terasa lebih pekat dan menggigit dari biasanya. Ketika Li Yun tiba di pelataran paviliun utama, ia segera menyadari bahwa era kekacauan berdarah telah digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih menakutkan: keteraturan absolut.
Tidak ada lagi penjaga yang bermabuk-mabukan atau berjudi di pos jaga. Barisan penjaga sekte berdiri tegak bak patung batu, memancarkan aura disiplin yang membunuh. Di tengah pelataran, noda darah dari pemberontakan telah disikat bersih, digantikan oleh meja kayu panjang tempat lima orang tabib—termasuk Li Yun—diperintahkan untuk berbaris berlutut.
Di undakan tertinggi paviliun, duduk penguasa baru Sektor Ketiga.
Ia tidak memakai jubah mewah atau menyandarkan pedang besar di pangkuannya seperti Diakon Fang. Pria itu bertubuh kurus, mengenakan jubah sarjana berwarna putih bersih yang dikancing rapat hingga ke leher. Di tangannya terdapat sebuah sempoa kayu cendana dan tumpukan gulungan perkamen.
"Namaku Han Mo," suara pria itu memecah keheningan. Tidak ada teriakan marah, nadanya datar dan tenang seperti air yang mengalir di atas pisau. "Mulai hari ini, aku adalah Diakon Sektor Ketiga. Kultivasiku berada di Lapis Ketujuh Pengumpulan Qi. Tapi aku tidak suka membunuh menggunakan tanganku, aku lebih suka menggunakan ini."
Ia mengetuk sempoanya.
Han Mo meletakkan gulungan perkamen di mejanya. "Selama sebulan terakhir, aku meninjau laporan kematian di sektor ini sebelum mendudukinya. Diakon Fang mungkin orang tolol yang buta, tapi angka tidak pernah berbohong."
Jantung Li Yun berdetak satu ketukan lebih lambat. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menjaga pernapasan Kayu Mati-nya di titik paling pasif.
"Saat pemberontakan pecah, angka kematian budak melonjak hingga empat puluh persen," lanjut Han Mo, matanya yang setajam elang menyapu kelima tabib yang berlutut. "Namun, yang menarik adalah statistik kelompok pencari herbal veteran. Ah San, Paman Zhou, Si Pincang Ma. Orang-orang yang beroperasi di zona miasma paling mematikan ini... semuanya selamat. Tidak hanya selamat dari pemberontakan, persentase kelangsungan hidup mereka terhadap racun rawa mencapai sembilan puluh persen selama enam bulan terakhir."
Keringat dingin benar-benar menetes dari dahi Li Yun. Diakon baru ini tidak mencari siapa yang mencuri herbal; ia mencari anomali data. Dan kelangsungan hidup pion-pion Li Yun adalah sebuah anomali statistik raksasa.
Han Mo bangkit berdiri, melangkah menuruni undakan. "Hanya ada dua penjelasan. Pertama, para budak itu menemukan harta karun penawar racun. Kedua, ada seorang alkemis andal atau kultivator tersembunyi berkedok tabib di jajaran staf medis yang menyuplai mereka dengan pil perlindungan tingkat tinggi. Mungkin mata-mata dari Sekte Awan Beracun, atau mungkin tikus pencuri yang membunuh Diakon Fang."
Udara di pelataran tiba-tiba terasa mencekik. Niat membunuh Han Mo tidak meledak-ledak, melainkan mengunci seluruh area seperti jaring laba-laba raksasa.
"Aku benci ketidakpastian," ucap Han Mo dingin. Ia memberi isyarat dengan jarinya.
Empat orang penjaga sekte melangkah maju membawa sebuah bak kayu besar yang ditutup terpal tebal. Ketika terpal itu ditarik, bau busuk darah kotor langsung menyengat hidung. Di dalam bak tersebut, tergeletak seekor Babi Hutan Sisik Besi yang masih hidup, namun tubuhnya dipenuhi belasan makhluk menjijikkan seukuran telapak tangan.
Makhluk itu berbentuk seperti lintah, namun tubuh mereka transparan, memperlihatkan gumpalan darah dan energi spiritual yang berdenyut di perut mereka.
Di balik wajah paniknya, pupil Li Yun menyusut.
Lintah Penghisap Roh.
Ini adalah parasit mematikan yang biasa hidup di kedalaman rawa energi. Mereka buta, tuli, dan sangat lemah terhadap serangan fisik murni. Namun, mereka memiliki satu karakteristik mengerikan: kepekaan absolut terhadap Qi. Jika seseorang menyalurkan energi spiritual sekecil apa pun di dekat mereka, lintah itu akan langsung menggila, menyedot energi tersebut, dan tubuh transparan mereka akan menyala merah terang.
"Tugas kalian mudah," Han Mo tersenyum tipis, sebuah senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Cabut satu lintah dari babi hutan ini tanpa membunuhnya. Jika kalian bisa memindahkannya ke dalam toples kaca di depan kalian, kalian akan kembali bekerja. Yang gagal... akan digantung di gerbang kamp."
Ujian ini adalah jebakan maut yang dirancang dengan kesempurnaan iblis.
Bagi manusia fana, mencabut lintah raksasa ini sangat sulit karena gigitannya merobek daging. Namun bagi seorang kultivator yang menyamar, insting pertama saat diserang atau digigit binatang buas adalah menyalurkan lapisan tipis Qi untuk melindungi kulit mereka. Di bawah tekanan maut Han Mo, sangat mustahil bagi kultivator tingkat rendah untuk tidak menggunakan Qi secara refleks. Dan saat Qi itu bocor, lintah itu akan menyala seperti lentera, menelanjangi penyamaran mereka seketika.
"Mulai dari kiri," perintah Han Mo.
Tabib pertama, seorang pria tua dari pos medis timur, merangkak maju dengan gemetar. Ia tidak memiliki Qi. Ia murni manusia fana. Dengan tangan kosong, ia mencoba menarik lintah itu.
Srat!
Lintah itu bereaksi ganas, menggigit jari si tabib tua hingga putus. Pria tua itu menjerit histeris, darah memuncrat, dan ia pingsan karena syok.
Han Mo tidak berkedip. "Gagal. Gantung dia."
Dua penjaga menyeret pria tua itu pergi seolah ia hanya karung beras.
Tabib kedua maju. Ia adalah pria paruh baya dengan tatapan mata yang sedikit lebih tajam. Li Yun, dengan kepekaan Kayu Mati-nya, bisa merasakan bahwa pria ini menyembunyikan fluktuasi Qi di Lapis Kedua. Pria ini pasti kultivator liar yang mencoba bersembunyi dari perburuan di dunia luar dengan menyamar di sekte pinggiran.
Pria itu mengulurkan tangannya. Lintah di depannya meliuk, bersiap menggigit. Karena panik melihat nasib tabib pertama, pria itu secara refleks memutar sehelai Qi ke telapak tangannya untuk mengeraskan kulitnya, mengira Han Mo yang berada sepuluh langkah darinya tidak akan bisa merasakannya.
Namun ia lupa pada si lintah.
Begitu jari yang dilapisi Qi itu menyentuh kulit lintah, makhluk parasit itu langsung bereaksi. Tubuhnya yang transparan seketika menyedot energi tersebut dengan rakus, berubah menjadi warna merah terang yang menyilaukan mata di tengah kabut pagi.
"Mata-mata," desis Han Mo sekilas.
Sebelum pria itu sempat menarik tangannya atau memohon ampun, Han Mo menjentikkan jarinya. Sebuah panah air yang berputar dengan kecepatan bor melesat menembus udara, melubangi dahi kultivator malang itu. Pria itu tewas seketika, matanya masih terbelalak kaget.
"Singkirkan sampahnya," perintah Han Mo tanpa emosi. "Selanjutnya. Tabib Li dari tenda tengah."
Jantung Li Yun berdetak stabil, namun wajahnya ia buat sepucat mayat. Ia merangkak maju dengan tubuh gemetar, terlihat seperti pria yang sudah kencing di celana karena ketakutan.
Di dalam kepalanya, perhitungannya berjalan lebih cepat dari kilat. Ia tidak bisa menggunakan Qi sedikit pun. Jika mutiara peraknya bocor, fluktuasi Lapis Kelima-nya bukan hanya akan membuat lintah itu menyala, tapi akan meledakkannya, membongkar identitasnya secara absolut. Ia harus mengandalkan Tulang Kayu Besi miliknya dan pengetahuannya.
Li Yun tidak langsung menyentuh babi hutan itu. Dengan tangan gemetar yang ia lebih-lebihkan, ia merogoh keranjangnya. Ia mengeluarkan sebuah obor dupa yang biasa ia gunakan untuk mensterilkan ruangan, meminjam api dari obor penjaga terdekat, dan mengambil segenggam bubuk garam kasar.
"Akal tabib fana," gumam Han Mo, matanya mengawasi setiap inci pergerakan otot Li Yun, mencari tanda-tanda sirkulasi Qi.
Li Yun mendekatkan ujung obor dupa yang membara ke kulit lintah transparan itu, sambil menaburkan garam kasar. Panas yang menyengat dan garam membuat lintah itu menggeliat kesakitan. Gigitannya pada babi hutan sedikit melonggar.
Kesempatan ini tidak dilewatkan oleh Li Yun. Ia mencengkeram tubuh licin lintah itu dengan tangan kosongnya untuk menariknya paksa.
Merasa terancam ditarik, lintah itu memutar kepalanya dengan kecepatan kilat dan menancapkan gigi-giginya yang setajam silet tepat ke pergelangan tangan Li Yun.
Ini adalah momen penentuan.
Jika Li Yun adalah manusia fana biasa, gigitan itu akan merobek urat nadinya dalam sekali renggut. Jika ia menggunakan Qi, ia akan terbongkar.
Namun, ketika gigi-gigi lintah itu mencoba menembus kulit Li Yun, parasit itu membentur sesuatu yang tidak masuk akal. Di bawah kulit yang tampak tipis dan lemah itu, terdapat serat otot padat dan kerasnya Tulang Kayu Besi yang ditempa oleh darah mendidih. Gigi lintah itu gagal merobek dalam, hanya menembus lapisan kulit luar.
Li Yun memaksa dirinya menjerit kesakitan yang melengking. Ia membiarkan darah fananya (yang telah ia tekan agar tidak membawa energi spiritual) mengucur dari luka dangkal itu. Sambil menangis dan meratap seolah tangannya hampir putus, ia menekan obor dupa yang membara langsung ke atas lintah yang sedang menggigitnya, membakar lintah itu sekaligus kulit lengannya sendiri!
Lintah itu tak tahan dengan luka bakar ganda dari api dan garam. Ia melepaskan gigitannya dan jatuh ke dalam toples kaca dengan bunyi plup yang basah.
Li Yun jatuh terduduk, memegangi lengannya yang berdarah dan melepuh akibat obornya sendiri, merintih dan menangis tersedu-sedu di atas lantai batu yang dingin.
Tidak ada cahaya merah. Tidak ada fluktuasi energi. Hanya ada keputusasaan barbar dari seorang manusia fana yang rela membakar kulitnya sendiri demi bertahan hidup.
Han Mo menatap toples kaca yang berisi lintah biasa berwarna keruh, lalu menatap Tabib Li yang tampak sangat menyedihkan, kotor oleh lumpur dan darahnya sendiri. Kesadaran Spiritual Han Mo yang Lapis Ketujuh tidak menangkap kejanggalan apa pun. Tidak mungkin ada kultivator waras yang rela lengannya dibakar dan digigit tanpa melindungi diri dengan Qi.
"Berani dan nekat, meski sangat kasar," ucap Han Mo pelan, kecurigaannya terhadap Tabib Li menguap. Ia melambaikan tangannya. "Kembali ke barisan. Obati lukamu sebelum membusuk."
Sambil terus merintih dan menunduk berterima kasih, Li Yun merangkak mundur. Di balik rambutnya yang acak-acakan dan air mata palsu yang membasahi pipinya, sudut matanya melirik tajam ke arah Han Mo.
Diakon baru ini adalah monster yang sepenuhnya berbeda dari Fang. Ia cerdas, teliti, dan bertindak berdasarkan data. Sektor Ketiga kini berada di bawah pengawasan mata elang.
Li Yun memegang pergelangan tangannya yang terbakar. Rasa sakit ini adalah harga yang murah untuk mempertahankan nyawanya dan rahasia Tulang Kayu Besi-nya. Ia sadar, tidak mungkin lagi mengontrol aliran herbal dari balik layar dengan bebas seperti enam bulan terakhir.
Ia harus mengubah strateginya. Jika ia tidak bisa menghindari pengawasan sang Diakon, maka ia harus membuat sang Diakon menjadi pihak yang membutuhkan kekuatannya.