Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan yang Tak Pernah Ada
Suara jam dinding berdetak di ruang tamu terasa seperti palu godam yang menghantam tengkorak Lily. Tik. Tik. Tik. Setiap detik adalah pengingat bahwa waktu untuk membuat keputusan semakin menipis. Di hadapannya, dua koper berdiri tegak seperti penjaga gawang yang menunggu arah tendangan penalti. Satu milik Ayah, satu milik Ibu. Dan Lily? Lily hanyalah bola yang akan ditendang ke salah satu sisi gawang.
“Lily, sudah malam,” suara Ibu memecah keheningan. Wanita itu duduk di kursi tunggal, tangannya meremas erat tisu basah hingga kusut. Matanya merah, namun tatapannya tajam menatap putrinya. “Ayahmu harus pergi besok pagi. Kamu harus memutuskan sekarang.”
Lily tidak menjawab. Ia menatap lantai keramik dingin, menghindari pandangan kedua orang tuanya yang duduk berseberangan seperti musuh dalam sebuah gencatan senjata yang rapuh.
“Ayah…” panggil Lily pelan, suaranya serak.
Ayah, seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal yang masih dikenakannya meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, mengangkat kepala dari ponselnya. Layar itu menyala terang, memantulkan cahaya biru ke wajahnya yang lelah. “Ya, Lil? Ada apa?”
“Ayah ingat ulang tahun aku bulan lalu?” tanya Lily. Pertanyaan itu sederhana, namun mengandung bobot yang mematikan.
Ayah mengerutkan kening, jempolnya berhenti mengetik layar. Ia tampak berpikir keras, mencari-cari ingatan di antara jadwal rapat dan konferensi video yang padat. “Tentu saja, Sayang. Ayah kirimkan hadiah itu, kan? Jam tangan merek Swiss yang kamu inginkan. Itu sampai tepat waktu, bukan?”
“Itu sampai, Yah,” jawab Lily, suaranya mulai naik nada. “Tapi Ayah nggak ada di sana. Nggak ada kue, nggak ada nyanyian, nggak ada pelukan. Hanya kurir yang mengetuk pintu dan meninggalkan kotak itu. Mama yang membukakan paketnya. Mama yang meniup lilin sendirian bersamaku.”
Wajah Ayah berubah. Rasa bersalah sesaat muncul di matanya, namun cepat tertutup oleh topeng defensifnya. “Lily, Ayah bekerja keras untuk itu semua. Untuk rumah ini, untuk sekolahmu, untuk masa depanmu. Ayah nggak punya waktu luang, tapi Ayah memberikan yang terbaik secara materi. Apakah itu tidak cukup?”
“Cukup untuk apa, Yah?” Lily bangkit dari sofa, kakinya gemetar namun ia memaksakan dirinya berdiri tegak. “Cukup untuk membeli rasa sepi? Cukup untuk mengganti kehadiran Ayah dengan uang transfer bulanan? Aku nggak butuh jam tangan Swiss, Yah. Aku butuh Ayah yang pulang sebelum jam sembilan malam. Aku butuh Ayah yang tahu kalau nilai matematikaku anjlok karena aku stres mendengar kalian bertengkar tiap malam.”
Ibu menarik napas tajam, seolah terkejut dengan keberanian putrinya, namun ia tidak menghentikan Lily. Ia hanya menatap suaminya dengan tatapan hampa.
“Kamu terlalu dramatis, Lily,” ucap Ayah, menutup ponselnya dan meletakkannya di meja kopi dengan kasar. “Dunia nyata tidak seindah dongeng. Ayah membangun karir ini agar kamu tidak kekurangan apa-apa. Jika kamu merasa kesepian, itu karena kamu belum dewasa enough untuk memahami pengorbanan.”
“Pengorbanan?” Lily tertawa pendek, tawa yang kering dan tanpa humor. “Itu bukan pengorbanan, Yah. Itu pilihan. Ayah memilih kantor daripada aku. Ayah memilih klien daripada keluarga. Dan sekarang, setelah rumah ini hancur, Ayah masih mencoba membeli cinta Ayah dengan alasan ‘masa depan’.”
Lily berbalik menatap ibunya. Wanita itu tampak lebih kecil dari biasanya, bahunya turun, namun ada ketenangan aneh di wajahnya. Sejak perceraian ini digulirkan, Ibu memang kehilangan banyak hal—status sosial, kenyamanan finansial, bahkan sebagian harga dirinya. Namun, ada satu hal yang tidak pernah hilang: waktunya.
“Ma,” panggil Lily, air matanya akhirnya menetes deras.
Ibu mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. “Iya, Sayang?”
“Aku pilih ikut Mama.”
Kalimat itu menggantung di udara, berat dan final.
Ayah terdiam. Mulutnya terbuka sedikit, seolah ingin membantah, ingin menawarkan sesuatu yang lebih besar, lebih mahal, lebih menggiurkan. Tapi ia tahu, argumen materi tidak akan lagi mempan pada luka batin yang sudah terlalu dalam.
“Kenapa?” tanya Ayah, suaranya kehilangan ketegasannya tadi. “Karena Ayah jarang di rumah? Kita bisa atur jadwal, Lil. Akhir pekan kita bisa…”
“Nggak, Yah,” potong Lily tegas. “Aku nggak mau diatur jadwalnya seperti meeting bisnis. Aku mau hidup yang nyata. Selama tiga tahun terakhir, Mama selalu ada saat aku sakit demam tengah malam. Mama yang mengantarku latihan tari meski hujan deras. Mama yang mendengarkan keluhanku tentang teman-teman di sekolah. Ayah mungkin menyediakan atap di atas kepala kami, tapi Mama yang membuat atap itu terasa seperti rumah.”
Ibu menutup mulutnya dengan tangan, menahan isakan. Bahunya berguncang pelan.
Ayah menunduk, menatap kopernya sendiri. Untuk pertama kalinya, pria sukses itu terlihat kalah. Bukan oleh hukum atau harta, tetapi oleh kehadiran sederhana yang ia abaikan selama bertahun-tahun.
“Ayah mengerti,” bisik Ayah, suaranya hampir tak terdengar. “Maafkan Ayah, Lily. Mungkin… mungkin Ayah memang sudah terlambat.”
Lily merasakan dadanya sesak, namun ada beban berat yang terlepas dari pundaknya. Memilih Ibu bukanlah tindakan membenci Ayah. Itu adalah tindakan menyelamatkan dirinya sendiri. Ia memilih kehangatan yang tidak sempurna, daripada kemewahan yang dingin dan kosong.
“Aku akan sering menjenguk Ayah,” janji Lily, meskipun ia tahu janji itu mungkin akan sulit ditepati jika Ayah tetap sibuk seperti biasa. “Tapi untuk tempat tinggal, untuk sehari-hari… aku butuh Mama.”
Ayah mengangguk pelan, lalu berdiri. Ia berjalan mendekati Lily, ragu-ragu, lalu memeluk putrinya sekilas. Pelukan itu kaku, canggung, namun tulus. “Jaga diri baik-baik, Nak. Jangan lupa makan sayur.”
Lily tersenyum tipis, senyum yang sedih namun lega. “Iya, Yah.”
Saat Ayah mengambil kopernya dan berjalan menuju pintu depan, langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Bunyi pintu tertutup menandai akhir dari sebuah era. Lily dan Ibu kini sendirian di ruang tamu yang luas.
Ibu berdiri, mendekati Lily, dan memeluknya erat. Kali ini, pelukan itu hangat, menyelubungi, dan nyata. Aroma sabun cuci baju yang khas dari baju Ibu menyeruak, aroma yang selalu berarti "pulang".
“Terima kasih sudah memilih Mama, Lily,” bisik Ibu di telinganya. “Mama nggak punya banyak uang seperti Papa, tapi Mama punya waktu. Dan Mama janji, kita akan baik-baik saja.”
Lily membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di bahu ibu. Di luar, hujan masih turun, namun bagi Lily, badai di dalam hatinya akhirnya mulai reda. Ia tahu jalan ke depan tidak akan mudah. Mereka harus pindah ke apartemen yang lebih kecil, menyesuaikan gaya hidup, dan menghadapi gosip tetangga. Namun, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Lily merasa tidak sendirian. Ia telah memilih kedamaian, dan itu adalah pilihan terbaik yang bisa ia buat untuk jiwanya yang retak.