NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Asap putih beraroma gurih mengepul dari pembakaran sate di halaman Kos Putra Putri Melati.
Budi menepati janjinya. Ia memborong lima puluh tusuk sate kambing dan puluhan tusuk sate ayam untuk merayakan promosi jabatannya malam ini.
Semua penghuni kos berkumpul di teras depan yang sudah digelari tikar.
Maya sibuk menuangkan kecap manis dan irisan bawang merah ke dalam piring-piring kecil.
Rina menyuapi Dimas kecil yang terlihat sangat doyan makan sate ayam.
"Ayo dimakan, Pak Rahman."
"Ini sate kambing muda spesial, dagingnya empuk tidak bikin gigi palsu bapak lepas," canda Budi sambil menyodorkan sepiring penuh sate kambing ke hadapan bapak kosnya.
Rahman mendengus pelan namun tangannya dengan cepat mengambil tiga tusuk sate sekaligus.
"Gigi asliku masih kuat mengunyah batu, anak muda."
"Tumben kamu tidak pelit membeli makanan mahal begini."
Rahman langsung menggigit daging sate itu dengan lahap.
"Ini kan wujud rasa syukur saya, Pak."
"Mulai bulan depan gaji saya lumayan besar, jadi tidak perlu lagi ngutang sama Mpok Siti," jawab Budi sambil tertawa bangga.
Suasana sangat hangat dan penuh canda tawa.
Maya sesekali meledek Budi yang sekarang harus pakai kemeja rapi ke pabrik, bukan lagi kaos oblong kusam.
Namun di tengah keriuhan itu, Rahman menyadari ada satu kursi kayu di sudut teras yang kosong.
"Ke mana anak baru yang menempati kamar nomor lima itu?"
"Tumben jam segini dia belum pulang, padahal biasanya jam enam sore dia sudah duduk di depan mesin cuci," tanya Rahman dengan mulut penuh sate.
"Oh, Mas Dimas yang mahasiswa baru itu ya, Pak?"
"Tadi pagi dia pamit mau ikut rapat panitia ospek di kampusnya."
"Katanya pulangnya mungkin agak larut," jawab Maya menjelaskan.
Mendengar kata rapat panitia, Rahman hanya mengangguk pelan.
"Dasar anak muda, suka sekali menghabiskan waktu untuk kegiatan tidak menghasilkan uang."
Rahman kembali fokus menghabiskan sate gratisannya.
Tepat pukul sembilan malam, pesta kecil itu selesai.
Para penyewa mulai membersihkan sampah dan kembali ke kamar masing-masing.
Rahman baru saja akan mengunci pintu kamarnya ketika sebuah notifikasi muncul.
Ting!
[Sistem Keamanan Kos Tingkat 1 mendeteksi anomali pada penyewa Dimas.]
[Analisis CCTV: Penyewa Dimas baru saja memasuki area kos dengan langkah gontai dan tingkat stres yang sangat tinggi.]
Rahman menoleh ke arah layar monitor kecil yang ia simpan di balik meja kerjanya.
Monitor itu terhubung ke CCTV gaib dari sistem.
Benar saja, ia melihat sosok Dimas berjalan gontai memasuki gerbang dengan kepala tertunduk.
Bruk.
Dimas tiba-tiba terduduk di kursi teras depan kamarnya sambil memeluk lututnya sendiri.
Dari layar yang hitam putih itu, Rahman bisa melihat bahu anak muda itu bergetar hebat.
Dimas sedang menangis sendirian dalam kegelapan malam.
"Ada apa lagi dengan anak ingusan ini?"
"Baru beberapa minggu sewa di sini sudah membawa masalah saja," gerutu Rahman pelan.
Ting!
[Misi Utama Harian: Lindungi masa depan akademis penyewa Dimas.]
[Kondisi: Dimas sedang dituduh menggelapkan dana kas panitia ospek oleh senior kampusnya.]
[Tugas: Bebaskan Dimas dari tuduhan palsu tersebut dan bersihkan nama baiknya di kampus besok pagi.]
[Syarat Khusus: Jangan gunakan uang pribadi Anda untuk mengganti dana yang hilang.]
Rahman membelalakkan matanya membaca notifikasi tersebut.
"Menggelapkan dana kampus?"
"Anak sepelos dia mana mungkin berani korupsi, dia bayar uang kos saja pakai uang pas-pasan."
[Hadiah: Tambahan umur 10 hari dan Bebas Tagihan Listrik selama enam bulan.]
[Kegagalan: Pengurangan umur 10 hari dan Dimas dikeluarkan dari kampusnya.]
Ancaman Dimas dikeluarkan dari kampus membuat Rahman merasakan sedikit cubitan di hatinya.
Ia ingat bagaimana antusiasnya anak itu saat pertama kali masuk ke kamar kos dengan kasur barunya.
Bagi seorang mahasiswa perantauan, di-DO dari kampus sama dengan kiamat.
"Sistem ini tahu persis kalau aku tidak bisa menolak hadiah bebas tagihan listrik," Rahman beralasan pada dirinya sendiri.
Tanpa banyak bicara lagi, Rahman membuka pintu kamarnya dan berjalan pelan menghampiri kamar nomor lima.
Tap tap tap.
Suara langkah sandal jepit Rahman membuat Dimas mendongak kaget.
Anak muda itu buru-buru mengusap air matanya dengan lengan bajunya.
"P-Pak Rahman? Kok bapak belum tidur?" tanya Dimas dengan suara serak.
"Bagaimana aku bisa tidur kalau ada anak perawan menangis di depan kamarku."
"Ada apa denganmu? Kalau kamu mau minta perpanjangan bayar kos, jawabannya tidak bisa!" gertak Rahman mengawali percakapan.
"Bukan itu, Pak."
"S-saya..." Dimas menelan ludah, merasa sangat malu menceritakan masalahnya.
Namun melihat tatapan tajam bapak kosnya, ia akhirnya tidak bisa menahan beban itu sendiri.
"Saya dituduh mencuri uang kas panitia ospek, Pak."
"Jumlahnya lima belas juta rupiah."
Air mata Dimas kembali menetes dengan deras.
Rahman pura-pura terkejut.
"Lima belas juta?"
"Lalu, apa benar kamu yang mencurinya?"
"Sumpah demi Tuhan bukan saya, Pak!"
"Saya cuma bendahara pembantu, uang itu saya simpan di dalam loker ruang BEM sore tadi."
"Tapi waktu ketua panitia, Kak Aldo, menyuruh saya membawanya untuk rapat malam ini, amplop uangnya sudah hilang."
"Dan Kak Aldo malah menuduh saya yang mengambilnya karena cuma saya yang memegang kuncinya."
Dimas menjelaskan dengan terisak-isak.
"Lalu, apa buktinya kau tidak mengambilnya?"
"Zaman sekarang, sumpah tidak laku di pengadilan," balas Rahman rasional.
"Itu masalahnya, Pak."
"Loker itu ada di sudut yang tidak terekam CCTV ruangan BEM."
"Kak Aldo bilang kalau besok pagi saya tidak mengembalikan uang itu, dia akan melaporkan saya ke dekan dan ke polisi."
"Masa depan saya hancur, Pak."
Dimas menundukkan kepalanya, merasa dunianya sudah runtuh.
Rahman mendengus pelan dan bersandar di tiang teras.
Otaknya yang licik mulai merangkai kepingan cerita.
Loker yang tidak terekam CCTV?
Ketua panitia yang langsung menuduh dan mengancam lapor dekan tanpa menyelidiki?
Bagi mantan rentenir yang terbiasa menghadapi penipu kelas kakap, pola ini sangat mudah ditebak.
"Pencuri berteriak pencuri," batin Rahman sinis.
"Ketua panitiamu itu, siapa namanya tadi? Aldo?"
"Apakah dia sering terlihat punya banyak barang mewah tapi kerjanya cuma rapat dan nongkrong?" tanya Rahman memancing.
Dimas mengangguk pelan.
"Iya, Pak. Kak Aldo itu suka pakai sepatu dan jam mahal."
"Katanya sih dia sering main investasi kripto, tapi belakangan ini dia selalu terlihat stres."
Bingo.
Rahman tersenyum miring dalam kegelapan.
Senior yang kecanduan investasi berisiko dan tiba-tiba butuh uang cepat.
Motifnya sudah sangat jelas.
"Sudah, jangan menangis lagi."
"Air matamu tidak akan mengubah uang yang hilang itu kembali."
"Besok pagi, aku akan ikut denganmu ke kampus," putus Rahman tiba-tiba.
Dimas langsung mendongak dengan wajah bingung.
"Ikut ke kampus? Untuk apa, Pak?"
"Tentu saja untuk membuktikan kau tidak bersalah!"
"Kalau kau masuk penjara besok, siapa yang akan membayar sisa uang sewa kamarmu selama lima bulan ke depan hah?!"
"Aku tidak mau kehilangan aset lancarku hanya karena urusan kampus picisan."
Rahman langsung menggunakan alasan keuangannya yang paling klasik.
"T-tapi Pak, lawannya Kak Aldo."
"Dia anak pejabat kampus, bapak kan cuma bapak kos..." Dimas merasa ragu bapak tua ini bisa membantunya.
Rahman mendelik tajam.
"Kau meremehkanku?"
"Tidurlah, besok pagi jam tujuh kita berangkat."
"Dan jangan berani-beraninya kau kabur malam ini atau kupatahkan kakimu!" ancam Rahman sebelum berbalik menuju kamarnya.
Dimas menatap punggung bapak kosnya dengan perasaan campur aduk.
Entah kenapa, ancaman itu justru membuat hatinya merasa sedikit lebih tenang.
Setidaknya, malam ini ia tahu ada satu orang dewasa yang percaya padanya dan bersedia pasang badan untuknya.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...