Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22_Sebuah Perjalanan panjang
Aku menggendongnya sembari terus berjalan di padang rumput yang luas itu "Stella, sejak aku menggendongmu, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu"
Stella tersenyum lebar "Hmm.. apa itu?? Mungkinkah kamu terpesona oleh bentuk tubuhku!"
Aku membalikan wajahku, mulai sedikit berkeringat "Ah.. tidak, aku hanya penasaran benda lembut apa yang sedari tadi aku pegang ini??"
Dia menoleh ke tanganku, pipinya memerah "A-apa.. yang kau pegang, HAH!!" dia memukul kepalaku, terus meronta-ronta "TURUNKAN AKU!! KAU BENAR-BENAR MESUM, SORA!!"
Aku berhenti dan menurunkannya. Dia berlari menjauh "Kenapa kau menyebutku mesum??"
Dia meneteskan air matanya, bibirnya merengut "Kau.. memegang ekorku.." dahinya mengerut sampai matanya menyipit
Mataku membelalak, menatap tanganku sendiri _Aku tidak mengerti dengan yang dia maksud, diriku merasa nyaman ketika memegang ekornya_
Stella berjalan ke arahku, saat hendak menghampiriku kakinya tersandung. Aku sigap menangkap tubuhnya "Lebih baik kau diam untuk sementara waktu.."
Pipinya merah padam, memalingkan wajahnya "JANGAN PEGANG-PEGANG AKU, DASAR MESUM!!" Dia memukulku pelan
Dia membalikan badannya, keringat bercucuran di wajahnya _Apa yang sebenarnya terjadi denganku, biasanya aku tidak bertingkah seperti ini kepada laki-laki, jika jodohku sampai tahu hal ini..._
Matanya membelalak, tersenyum tipis "Sora, apa kau ingin tahu tentang sesuatu yang sangat rahasia??"
"Tidak juga.." Wajahku datar
Dia menggertakkan giginya, alis dan dahinya mengkerut "Baiklah.. jika itu maumu" dia tersenyum lebar, membusungkan dadanya "Padahal aku mau memberitahumu jika aku memiliki sebuah kamera"
"Ahh.. aku sudah tahu"
Dia menurunkan dadanya dan mengembangkan pipinya, mencolek pipiku "Tunggu dulu.. kenapa kau bisa tahu aku mempunyai kamera??"
Aku menunjuk bagian dadanya yang tertutup mantel "Aku bisa merasakan ada beberapa benda yang kau taruh di sini, dan salah satunya terasa lembut"
Wajahnya merah padam, bahunya meninggi, alisnya berkedut dan kupingnya menekuk "A-APA YANG KAU BICARAKAN! DASAR MESUM" dia memukul kepalaku sangat kencang
Kepalaku tertunduk, alisku berkedut _Kenapa dia marah sekali?? Padahal aku hanya berkata jujur_
[Ingatan masa lalu]
Zafira memukul papan tulis dengan sangat kencang dengan sebuah rotan..
*PLAKKK*
Dia menatapku tajam, salah satu alisnya terus berkedut "Dengar Kai, ketika kau ada di dunia luar, ingatlah apa yang akan aku bilang ini, pertama jangan pernah terlalu mempercayai seseorang, kedua jangan bergantung kepada orang lain, ketiga selalu jujur dalam bertindak, keempat jangan pernah dekat-dekat dengan wanita lain apapun yang terjadi, dan yang terakhir jangan pernah lupakan peraturan ini!"
[Akhir ingatan masa lalu]
Keringat bercucuran di wajahku _Gawat.. aku sudah melupakan 2 peraturan kurang dari satu hari!!_
Saat terus berjalan, akhirnya kami melihat sebuah jalan setapak di antara padang rumput itu, Stella tersenyum lebar "Hore.." dia meneteskan air matanya, bibirnya merengut "Akhirnya kita bisa menemukan sebuah jalan.."
Namun saat baru saja merasa lega, tiba-tiba datang beberapa bandit membawa senjata "Cih.. cuman anak-anak ternyata, padahal aku mengharapkan mangsa yang lebih besar"
Salah satu bandit itu menunjuk ke Stella "Tapi lihat bang... Salah satunya adalah gadis manusia binatang, ditambah dia dari klan serigala.."
Stella gemetar, matanya membelalak, keringatnya bercucuran "Tidak... Berhenti menatapku seperti itu!"
"Apa kau takut??"
Dia menatapku, alisnya mengerut "HAH!! Mana mungkin aku takut dengan orang-orang seperti mereka!"
Aku melihat tangannya yang terus mencengkram pundakku sambil gemetar, menoleh ke para bandit dan menghela nafasku "Huhh.. padahal kau tidak perlu berbohong seperti itu"
Aku membalikan badan dan berlari dari para bandit itu, mereka mengejarku "Magic Accel (meningkatkan akselerasi tubuh untuk sesaat)"
Salah satunya mulai menembakan sihir kepadaku "Sihir roh: Bubble Bullet (menciptakan beberapa gelembung air yang dapat meledak ketika tersentuh)"
Salah satu dari mereka berhenti dan membuat penghalang, tersenyum "Penghalang: Fire Wall (membuat kobaran api yang berfungsi sebagai dinding) Bagaimana dengan ini dia pasti..."
_Bloody Mana_ (memasukan mana ke dalam darah dan otot, lalu memadatkannya) sebagian tubuhku memunculkan urat-urat hitam, aku melompat ke arah kobaran api itu dan melewatinya
Stella yang melihat itu membelalak dan mendegak _Sebenarnya aku ingin memanfaatkan kekuatan anak ini, untuk mencapai tujuanku dengan cara membuatnya simpati karena cerita yang aku buat, tapi sekarang aku menyesali tindakanku.._
Aku terus berlari menjauh dan ketika merasa sudah cukup jauh, aku berhenti "Sepertinya kita sudah cukup jauh dari mereka.." "Oii.. kau baik-baik saja??"
Dia menggelengkan kepalanya dan menyilangkan tangannya "Hmm.. tidak apa-apa, jangan dipikirkan" dia menundukkan kepalanya "Justru harusnya aku yang berterima kasih.. karena kau telah menolongku dari orang-orang seperti mereka"
Dia tersentak, mengerutkan dahinya dan menaikkan pundaknya "OUH IYA!! KENAPA KITA HARUS LARI DARI MEREKA!? BUKANKAH KAU BISA MENGALAHKAN MEREKA SEPERTI PARA ORC ITU!?"
"Karena melawan makhluk berakal itu merepotkan"
Dia menurunkan alis dan bahunya "Merepotkan?? Kenapa??"
Aku menghela nafasku "Huhh.. karena mereka dilindungi oleh hukum di dunia ini"
Aku memalingkan wajahku "Dan juga... Aku punya pengalaman tidak menyenangkan dengan mereka"
[Ingatan masa lalu]
Bos bandit itu mulai mengeluarkan pedangnya.
"Benar.. itu dia. Wajah orang yang putus asa itulah yang sangat menyenangkan hatiku.."
Dia menikamku sampai menembus tubuhku.
*CROTT*
Tubuhku sangat lemas.
Aku berhenti menangis.
Kesadaranku mulai menghilang bersamaan dengan keluarnya darah-darahku dari tubuhku.
Bos bandit itu pun mencabut pedangnya yang menusuk tubuhku
*SRETTT*
"Hei bocah.. kalau kau masih hidup akan ku beritahu. Namaku adalah Rangga Astrea. Jika kau berhasil hidup dari kejadian ini, aku harap kita akan bertemu lagi di akhirat sana."
Setelah berkata seperti itu...
Dia melempar tubuhku yang mulai kaku ke dalam jurang.
[Akhir ingatan masa lalu]
Dia menggelengkan kepalanya, menyilangkan tangannya padaku "BUKAN!! BUKAN BEGITU!!"
Aku menatapnya tajam "Sebenarnya ada yang aku curigai sedari awal tentangmu!"
Dia tersentak, keringat membasahi wajahnya _Gawat! Apa dia sudah tahu bahwa aku ingin memanfaatkan kekuatannya?? Bagaimana ini??_
Aku menggenggam tangannya "Mungkinkah kau.."
"Apa kau melakukan penyelidikan tentang project itu sendirian selama ini" Aku memeriksa luka di tangannya "Kau bahkan sampai harus menerima luka sebanyak ini?? Padahal kau bisa saja membeli High potion untuk menyembuhkan bekas luka ini"
Dia mengerutkan alisnya dan menggerakkan giginya, mengepalkan tangannya erat "Harga untuk satu botol kecil potion itu.." dia memukul perutku sangat kencang "SEHARGA 1 KOIN EMAS KAU TAHU!!"
Aku melihat ke langit yang mulai berubah menjadi keemasan "Sepertinya malam akan segera datang" "Sebaiknya kita bergegas menuju kota" Aku mengulurkan tanganku
Pipinya merah padam, memalingkan mukanya, meraih tanganku _Kenapa?? Setiap tindakannya selalu membuatku malu seperti ini??_
Saat membantunya berdiri, aku membalikan badan dan menundukkan badannya "Cepatlah naik!" "Kau tidak bisa berjalan dengan kaki seperti itu kan??"
Dia tersentak, wajahnya memerah, menundukan wajahnya dan naik ke punggungku, memeluk erat pundakku "Terima kasih.."
Kami berdua kemudian berjalan di bawah langit senja yang sangat terang, kami bahkan melihat beberapa hewan liar lalu lalang di perjalanan, hembusan angin yang terus menerpa kami lembut dan diiringi langit yang berubah agak gelap diikuti bintang-bintang yang mulai muncul sangat banyak
Stella yang sedang digendong merasa sangat gelisah, sampai-sampai jantungnya tidak bisa berhenti berdetak kencang _Kenapa aku selalu merasa cemas ketika berada di dekatnya, pertahankan lah diriku, aku sudah memiliki jodoh, aku hanya perlu menemukannya dan hidup bahagia selamanya, maka dari itu jangan pernah tertarik kepada orang lain lagi!_ matanya mulai menutup dan menidurkan kepalanya di pundakku
Aku menatap wajahnya serius _Padahal niatku adalah memanfaatkan gadis ini, karena dia mungkin mempunyai informasi yang sangat berguna untuk mengetahui project itu_
Stella tersenyum sambil mengibaskan ekornya, aku yang melihat itu menghela nafasku "Huhh.. soal itu aku akan mengurusnya nanti, sekarang aku harus sampai ke kota dan mencari tempat untuk menginap"