NovelToon NovelToon
SISTEM IQ TAK TERBATAS

SISTEM IQ TAK TERBATAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.

Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.

Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Brak!

Tommy tidak bisa menahan dirinya lagi.

Ia menendang pintu depan dengan keras hingga kedua lintah darat itu menoleh ke arahnya.

"Jangan sentuh ibuku," ucap Tommy dengan suara dingin yang terasa sangat asing.

Bang Jali mengangkat sebelah alisnya melihat kedatangan remaja berseragam SMA itu.

"Oh, anakmu sudah pulang rupanya," ejek Bang Jali sambil terkekeh pelan.

"Baguslah, suruh anakmu ini putus sekolah saja lalu suruh jadi kuli bangunan buat bayar utang emaknya."

Ibu Marni menatap Tommy dengan wajah pucat pasi dan air mata yang terus mengalir.

"Tommy, kamu masuk kamar saja Nak, ini urusan orang dewasa," ucap ibunya dengan suara bergetar ketakutan.

Tetapi Tommy tidak beranjak seinci pun dari tempatnya berdiri.

Otaknya yang kini memiliki IQ sembilan puluh lima bekerja dengan kecepatan luar biasa.

Dalam sepersekian detik, ia telah menganalisis postur tubuh, titik lemah, hingga senjata yang mungkin disembunyikan di balik jaket kedua pria itu.

Jika terjadi pertarungan fisik, ia pasti akan kalah telak.

Ia harus menggunakan otaknya, bukan ototnya.

Skill Manipulasi Ekspresi Mikro miliknya seketika aktif secara otomatis.

Raut ketakutan dan kepanikan di wajah Tommy menghilang tanpa sisa, digantikan oleh ekspresi datar yang sangat dingin dan tidak terbaca.

Detak jantungnya kembali normal, membuat napasnya sangat teratur.

Tommy melangkah maju dengan santai dan berdiri tepat di depan ibunya, menghalangi pandangan kedua rentenir itu.

"Duduk, Bu," ucap Tommy pelan tanpa menoleh ke belakang.

Ketenangan luar biasa yang dipancarkan Tommy membuat Bang Jali dan rekannya sedikit tertegun.

Biasanya anak SMA yang melihat rumahnya didatangi rentenir akan gemetar ketakutan atau nekat menyerang membabi buta.

Tetapi anak kurus di hadapan mereka ini justru terlihat setenang air di danau yang dalam.

"Berapa sisa utang pokok ibuku?" tanya Tommy menatap lurus ke mata Bang Jali tanpa berkedip.

"Tuli ya telinga kamu?" bentak rekan Bang Jali sambil maju selangkah. "Totalnya lima belas juta!"

Tommy melirik sekilas ke arah pria itu dengan tatapan meremehkan yang membekukan darah.

"Aku bertanya tentang utang pokoknya, bukan bunga haram yang kalian karang sendiri," balas Tommy dengan nada suara yang sangat stabil.

Bang Jali menyipitkan matanya, merasa sedikit terintimidasi oleh sorot mata remaja di depannya itu.

"Utang pokoknya lima juta, dan bunganya sepuluh juta untuk keterlambatan tiga bulan," jawab Bang Jali mencoba mempertahankan dominasinya.

Tommy menghela napas panjang seolah sedang berbicara dengan orang bodoh.

"Pasal tiga ratus enam puluh delapan KUHP tentang Pemerasan," ucap Tommy dengan suara jernih yang menggema di ruang tamu kecil itu.

Kedua rentenir itu mengerutkan dahi mereka, tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh bocah SMA ini.

"Dan berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 3165 tahun 1986," lanjut Tommy mengutip hukum yang baru saja ia baca dari buku perpustakaan semalam.

"Bunga pinjaman yang tidak wajar dan mencekik hingga melebihi batas utang pokok bisa dibatalkan demi hukum karena memenuhi unsur penyalahgunaan keadaan."

Bang Jali mematikan rokoknya di asbak dengan kasar.

"Gak usah sok pintar pakai bahasa hukum, bocah," geram Bang Jali mulai kehilangan kesabarannya. "Kalian punya utang, ya harus bayar!"

"Kami pasti bayar," potong Tommy cepat dengan nada absolut.

"Tapi hanya sepuluh juta, mencakup utang pokok lima juta dan bunga maksimal seratus persen yang masih dianggap batas toleransi kejamnya kalian."

Tommy mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Bang Jali dengan pandangan setajam silet.

"Atau kalian lebih suka aku melaporkan ancaman kekerasan dan penyitaan paksa mesin jahit ini ke kantor polisi di ujung jalan sana?"

Suasana ruang tamu itu tiba-tiba menjadi sangat sunyi dan tegang.

Ibu Marni menatap punggung anaknya dengan perasaan campur aduk antara terkejut dan bangga yang sulit dijelaskan.

Rekan Bang Jali hendak melangkah maju untuk memukul Tommy, tetapi Bang Jali segera menahan dadanya.

Pria berkumis tebal itu adalah lintah darat berpengalaman, dan ia tahu kapan harus mundur saat berhadapan dengan orang yang memahami celah hukum.

Bocah ini jelas bukan anak SMA biasa yang bisa digertak dengan suara keras dan ancaman fisik semata.

"Gaya bicaramu boleh juga, anak muda," ucap Bang Jali dengan nada setengah mengancam dan setengah segan.

"Sepuluh juta. Aku beri waktu satu minggu dari sekarang." Bang Jali menunjuk tepat di depan hidung Tommy.

"Jika minggu depan uang itu tidak ada di atas meja ini, jangan salahkan aku jika rumah ini rata dengan tanah beserta isinya."

"Satu minggu, sepuluh juta," ulang Tommy menyetujui kesepakatan tersebut dengan tenang.

"Ayo kita pergi," perintah Bang Jali kepada rekannya.

Kedua lintah darat itu melangkah keluar dari rumah kontrakannya dengan wajah masam dan kesal karena gagal membawa barang sitaan.

Setelah suara deru motor mereka menjauh, Tommy langsung membalikkan badannya.

Ekspresi dinginnya seketika runtuh berganti dengan raut kepanikan seorang anak.

"Ibu tidak apa-apa?" tanya Tommy sambil memeluk ibunya yang masih bersimpuh di lantai.

"Ibu tidak apa-apa, Nak," isak ibunya sambil membalas pelukan Tommy dengan erat.

"Darimana kamu belajar bicara seperti itu tadi? Jantung ibu rasanya mau copot melihatmu menantang preman seperti Bang Jali."

"Tommy cuma ingat omongan guru PPKN di sekolah, Bu," bohong Tommy dengan senyum menenangkan.

Ia membantu ibunya berdiri dan membersihkan pecahan gelas di lantai.

"Tapi Tom," ucap ibunya dengan suara putus asa. "Dari mana kita bisa mendapatkan uang sepuluh juta dalam waktu satu minggu?"

"Jangankan sepuluh juta, untuk makan besok saja ibu sudah kebingungan."

Melihat air mata ibunya kembali menetes, hati Tommy terasa seperti diiris sembilu.

Ia menggenggam kedua tangan ibunya yang kasar karena terlalu sering tertusuk jarum jahit.

"Ibu tenang saja, biar ini jadi urusan Tommy," ucapnya dengan nada meyakinkan. "Tommy janji minggu depan uang itu sudah ada."

Meskipun ibunya terlihat tidak percaya, wanita itu hanya bisa mengangguk pasrah karena sudah tidak memiliki jalan keluar lain.

Malam harinya, Tommy mengunci diri di kamarnya yang sempit.

Ia duduk di depan meja belajarnya yang reot dengan secarik kertas dan pulpen.

Di hadapannya, layar sistem kembali menyala dalam kegelapan kamar.

[MISI MENDADAK SELESAI.]

[Evaluasi: Pengguna berhasil menggunakan taktik negosiasi dan intimidasi psikologis untuk menyelesaikan ancaman fisik.]

[Mengirimkan hadiah...]

[IQ pengguna meningkat +3 poin.]

[Poin Sistem bertambah +20 PS.]

[IQ Saat Ini: 98 Kategori: Rata-rata Atas]

[Poin Sistem Saat Ini: 35 PS]

Tommy sama sekali tidak mempedulikan peningkatan poin IQ-nya saat ini.

Pikirannya sedang berputar sangat cepat menyusun strategi finansial.

Sepuluh juta rupiah dalam waktu tujuh hari bukanlah jumlah yang sedikit bagi seorang pelajar SMA miskin tanpa modal sepeser pun.

Ia tidak bisa mengandalkan pekerjaan paruh waktu seperti mencuci piring atau membagikan brosur.

"Aku butuh sesuatu yang menghasilkan uang dalam jumlah besar dengan sangat cepat," gumam Tommy pelan.

Ia menatap opsi-opsi yang ada di Toko Sistemnya.

Matanya tertuju pada salah satu keahlian seharga tiga puluh poin sistem yang berkedip pelan.

[Pengetahuan Kriptografi Dasar]

Bibir Tommy perlahan melengkung membentuk senyuman tipis yang penuh perhitungan.

Dunia internet adalah tempat paling luas, paling gelap, sekaligus paling menguntungkan bagi seseorang yang memiliki otak jenius dan ingin tetap bersembunyi tanpa nama.

"Mari kita lihat seberapa dalam kelinci ini bisa menggali lubang," bisik Tommy sambil menekan tombol beli di udara kosong.

1
Adelina Lin
thor, buat Clarissa dan keluarganya juga prof. handoko dipermalukan diacara Olimpiade, dan titel juara Clarissa di cabut, karena dia memenangkan oliampide yang dulu pun tidak jujur.
Wega Luna
kadang lelucon konyol selain untuk menghibur bisa jadi pisau bermata dua,aku sering memakai lelucon konyol untuk membungkam orang tua wali murid yang gengsinya gede ,teman yang sok pamer atau sok pintar, atau orang yg ngerasa dirinya itu spesial,,,🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: WKWKWK KAKAK INI SENIORNYA TOMMY SIH😂🤣
Bener banget kak, saya setuju banget sih!
Lelucon konyol itu senjata paling ampuh buat ngadepin orang yang gengsinya selangit. Kalau kita ladenin serius, kita capek. Kalau kita bales pakai joke receh tapi logikanya nusuk, yang gengsi gede itu yang malah keliatan bodoh sendiri.
Tommy itu emang saya inspirasikan dari orang-orang kayak kakak ini kak, yang di luar keliatan cengengesan, tapi otaknya muter cepet buat ngebalikin analogi lawan😎🔥
total 1 replies
Wega Luna
secangkir kopi untuk Tommy👍👍👍
Wega Luna: gas ,,,,aku jadi penasaran🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣100 tom ,,,,👍
Night Watcher
ini outhor yg baik dan berfikiran maju, mau menerima kritik sekalipun pedas dgn lapang hati.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
Nissa Safira: Waaaah makasih banyak kak 😭🙏
Seneng banget. Soalnya buat saya, pembaca yang mau komen pedes jujur itu berharga banget kak.
Kritik pedesnya kakak yang bikin novel ini bisa maju. Jadi jangan kapok komen pedes lagi ya kak!🥰🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
di bab² olympiade ini jujur sangat gak masuk akal, jd bikin bosen.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
Nissa Safira: Wah makasih banget kak udah jujur, ini masukan paling berharga buat saya 🙏
Bener kak, saya akui bab olimpiade ini memang agak maksa. Harusnya kan cerdas-cepat, Teng! Jawab! Teng! Jawab selesai, bukan malah debat satu regu di atas panggung 😅
Jujur niat saya pengen nunjukin kocaknya Tommy, tapi saya kebablasan naruh dramanya di tengah lomba, jadinya kesannya kayak diskusi kelas, bukan olimpiade kota. Maaf ya kak bikin bosen🙏🙏🙏
Makasih udah diingetin kak🤝🙏
total 1 replies
Night Watcher
mana ada diacara beginian peserta sempet bercakap² soal kecepatan ngitung...
Nissa Safira: HAHAHA bener banget kak 😅🙏
Iya kak kalau di olimpiade beneran mah, jangankan ngobrol, napas aja harus dihemat ya kak, waktunya mepet banget.
Itu aku sengaja lebay-in dikit kak biar dramanya dapet. Soalnya kalau aku tulis realnya:
Teng! Jawaban 8,55 jam. Benar.
Udah gitu doang, kan kempes kak gak ada greget keselnya si Leo 😂
Anggep aja itu adegan slow-motion ala film kak, di dunia nyata cuma 2 detik, tapi di novel aku lambatin biar pembaca bisa ngerasain Nadin yang otaknya udah mau meledak denger alesan ngawur Tommy.
Makasih koreksinya kak🤝🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
45 kyknya bukan ukuran kecil utk standar kaki org indo deh...
logis dikit kelesss..😇😇
Night Watcher
awas, ntar kepalanya melayang sendiri..🤭🤭🤭
Night Watcher
kok kakak kelas? kan sama² kls 12?
Night Watcher
tadi pas bell masuk, listrik padam. jd utk belnya mukul velg mobil yg digantung..🤭🤭🤭
Nissa Safira: WKWKWK IDE BAGUS KAK🤣🤣🤣
Kringgg! = bel listrik normal
Teng! Teng! Teng! = pas listrik padam, Pak Satpam mukul velg mobil yang digantung di pos satpam pake kunci inggris 😂
Makasih kak idenya! Mulai bab besok kalau ada tulisan Teng Teng Teng berarti di sekolah lagi mati lampu ya kak! Detailnya dapet banget!🤣🤣🤣
total 1 replies
Night Watcher
kadang "kringgg" kadang "teng tenggg"..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA ketahuan deh 🤣 kamu udah jeli banget sih kak🤣🤣
Iya kak, itu aku yang typo pas nulis kebut-kebutan, kadang bel listrik tulisnya Kringgg! kadang bel manual tulisnya Teng Teng Teng! niatnya mau bedain bel kelas sama bel upacara, tapi malah jadi bikin bingung ya kak.
Makasih udah diingetin kak😅😅
total 1 replies
Night Watcher
duh... sayang banget, sistemnya masih manual.. gak matic ehh gak otomatis terpasang..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA Iya kak, sengaja aku bikin sistemnya manual, gak matic🤣🤣
Kalau otomatis kepasang terus, Tommy jadi OP gak ada obat kak, 1 detik langsung dewa hacker. Gak seru dong, musuhnya belum sempet napas udah kalah😅
Jadi di novel ini sistemnya kayak alat tukang kak, dipasang kalau dibutuhin aja. Contohnya pas di warnet Berkah Net itu, dia aktifin Kriptografi Dasar dulu baru otaknya ngebut. Kalau dia lagi di kelas pura-pura bodoh, skillnya dia matiin biar akting begonya natural 100%.
Makanya Tommy harus mikir dulu "aku butuh skill apa nih buat lawan musuh ini?" bukan sistem yang mikirin buat dia. Biar kesannya dia yang ngendaliin sistem, bukan sistem yang ngendaliin dia💪🙏🙏
total 1 replies
Wega Luna
jujur otak aku emang GK ber-IQ 140 tapi pura pura bodoh itu keahlian ku🤣🤣🤣🤣🤣,jadi tahu mana yg bener bener baik atau gk🤣🤣🤣🤣lebih suka praktek langsung daripada teori, lanjutkan tom ,,,aku mendukungmu👍🤣🤣
Nissa Safira: HAHAHA kak ini komen paling jujur se-Indonesia! 🤣🤣🤣
Setuju banget kak, pura-pura bodoh itu skill dewa tau! Soalnya pas kita pura-pura bego, baru keliatan mana temen yang beneran baik kayak Nadin, mana yang toxic kayak Clarissa.
Tommy juga gitu kak, dia IQ 140 tapi sengaja jadi peringkat 31 biar bisa ngamatin semua. Orang pinter teori banyak, tapi yang jago praktek langsung di lapangan kayak kakak & Tommy itu yang paling bahaya 😎🙏🤣🤣
total 1 replies
Rifqy Channel
saya memohon kakak untuk bisa di publik Tommy itu supaya gak pura-pura bodoh lagi. biarkan untuk segera diungkapkan dan ikut serta Olimpiade dan juga ubah pura-pura nya. aku udah bosen kalo pura-pura terus. saya mau Tommy segera di ungkap aslinya😭🙏😭
Nissa Safira: Halo kak, terima kasih banyak udah baca sampai sejauh ini dan kasih masukan jujur! 🙏
Aku paham banget rasa bosennya kalau Tommy pura-pura terus. Justru itu yang mau aku bangun kak.
Kalau dia diungkap sekarang pas IQ 117, efeknya cuma "oh pinter". Tapi kalau dia diungkap nanti pas IQ 150+ di depan ribuan orang di Olimpiade kota, efeknya bakal "GILA MERINDING".
Aku lagi nabung rasa sakit hatinya biar nanti pas payback rasanya 10x lebih puas. Sabar sedikit lagi ya kak, panggung kota sudah dekat. Topengnya akan retak di sana🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!