Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Brak!
Tommy tidak bisa menahan dirinya lagi.
Ia menendang pintu depan dengan keras hingga kedua lintah darat itu menoleh ke arahnya.
"Jangan sentuh ibuku," ucap Tommy dengan suara dingin yang terasa sangat asing.
Bang Jali mengangkat sebelah alisnya melihat kedatangan remaja berseragam SMA itu.
"Oh, anakmu sudah pulang rupanya," ejek Bang Jali sambil terkekeh pelan.
"Baguslah, suruh anakmu ini putus sekolah saja lalu suruh jadi kuli bangunan buat bayar utang emaknya."
Ibu Marni menatap Tommy dengan wajah pucat pasi dan air mata yang terus mengalir.
"Tommy, kamu masuk kamar saja Nak, ini urusan orang dewasa," ucap ibunya dengan suara bergetar ketakutan.
Tetapi Tommy tidak beranjak seinci pun dari tempatnya berdiri.
Otaknya yang kini memiliki IQ sembilan puluh lima bekerja dengan kecepatan luar biasa.
Dalam sepersekian detik, ia telah menganalisis postur tubuh, titik lemah, hingga senjata yang mungkin disembunyikan di balik jaket kedua pria itu.
Jika terjadi pertarungan fisik, ia pasti akan kalah telak.
Ia harus menggunakan otaknya, bukan ototnya.
Skill Manipulasi Ekspresi Mikro miliknya seketika aktif secara otomatis.
Raut ketakutan dan kepanikan di wajah Tommy menghilang tanpa sisa, digantikan oleh ekspresi datar yang sangat dingin dan tidak terbaca.
Detak jantungnya kembali normal, membuat napasnya sangat teratur.
Tommy melangkah maju dengan santai dan berdiri tepat di depan ibunya, menghalangi pandangan kedua rentenir itu.
"Duduk, Bu," ucap Tommy pelan tanpa menoleh ke belakang.
Ketenangan luar biasa yang dipancarkan Tommy membuat Bang Jali dan rekannya sedikit tertegun.
Biasanya anak SMA yang melihat rumahnya didatangi rentenir akan gemetar ketakutan atau nekat menyerang membabi buta.
Tetapi anak kurus di hadapan mereka ini justru terlihat setenang air di danau yang dalam.
"Berapa sisa utang pokok ibuku?" tanya Tommy menatap lurus ke mata Bang Jali tanpa berkedip.
"Tuli ya telinga kamu?" bentak rekan Bang Jali sambil maju selangkah. "Totalnya lima belas juta!"
Tommy melirik sekilas ke arah pria itu dengan tatapan meremehkan yang membekukan darah.
"Aku bertanya tentang utang pokoknya, bukan bunga haram yang kalian karang sendiri," balas Tommy dengan nada suara yang sangat stabil.
Bang Jali menyipitkan matanya, merasa sedikit terintimidasi oleh sorot mata remaja di depannya itu.
"Utang pokoknya lima juta, dan bunganya sepuluh juta untuk keterlambatan tiga bulan," jawab Bang Jali mencoba mempertahankan dominasinya.
Tommy menghela napas panjang seolah sedang berbicara dengan orang bodoh.
"Pasal tiga ratus enam puluh delapan KUHP tentang Pemerasan," ucap Tommy dengan suara jernih yang menggema di ruang tamu kecil itu.
Kedua rentenir itu mengerutkan dahi mereka, tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh bocah SMA ini.
"Dan berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 3165 tahun 1986," lanjut Tommy mengutip hukum yang baru saja ia baca dari buku perpustakaan semalam.
"Bunga pinjaman yang tidak wajar dan mencekik hingga melebihi batas utang pokok bisa dibatalkan demi hukum karena memenuhi unsur penyalahgunaan keadaan."
Bang Jali mematikan rokoknya di asbak dengan kasar.
"Gak usah sok pintar pakai bahasa hukum, bocah," geram Bang Jali mulai kehilangan kesabarannya. "Kalian punya utang, ya harus bayar!"
"Kami pasti bayar," potong Tommy cepat dengan nada absolut.
"Tapi hanya sepuluh juta, mencakup utang pokok lima juta dan bunga maksimal seratus persen yang masih dianggap batas toleransi kejamnya kalian."
Tommy mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Bang Jali dengan pandangan setajam silet.
"Atau kalian lebih suka aku melaporkan ancaman kekerasan dan penyitaan paksa mesin jahit ini ke kantor polisi di ujung jalan sana?"
Suasana ruang tamu itu tiba-tiba menjadi sangat sunyi dan tegang.
Ibu Marni menatap punggung anaknya dengan perasaan campur aduk antara terkejut dan bangga yang sulit dijelaskan.
Rekan Bang Jali hendak melangkah maju untuk memukul Tommy, tetapi Bang Jali segera menahan dadanya.
Pria berkumis tebal itu adalah lintah darat berpengalaman, dan ia tahu kapan harus mundur saat berhadapan dengan orang yang memahami celah hukum.
Bocah ini jelas bukan anak SMA biasa yang bisa digertak dengan suara keras dan ancaman fisik semata.
"Gaya bicaramu boleh juga, anak muda," ucap Bang Jali dengan nada setengah mengancam dan setengah segan.
"Sepuluh juta. Aku beri waktu satu minggu dari sekarang." Bang Jali menunjuk tepat di depan hidung Tommy.
"Jika minggu depan uang itu tidak ada di atas meja ini, jangan salahkan aku jika rumah ini rata dengan tanah beserta isinya."
"Satu minggu, sepuluh juta," ulang Tommy menyetujui kesepakatan tersebut dengan tenang.
"Ayo kita pergi," perintah Bang Jali kepada rekannya.
Kedua lintah darat itu melangkah keluar dari rumah kontrakannya dengan wajah masam dan kesal karena gagal membawa barang sitaan.
Setelah suara deru motor mereka menjauh, Tommy langsung membalikkan badannya.
Ekspresi dinginnya seketika runtuh berganti dengan raut kepanikan seorang anak.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya Tommy sambil memeluk ibunya yang masih bersimpuh di lantai.
"Ibu tidak apa-apa, Nak," isak ibunya sambil membalas pelukan Tommy dengan erat.
"Darimana kamu belajar bicara seperti itu tadi? Jantung ibu rasanya mau copot melihatmu menantang preman seperti Bang Jali."
"Tommy cuma ingat omongan guru PPKN di sekolah, Bu," bohong Tommy dengan senyum menenangkan.
Ia membantu ibunya berdiri dan membersihkan pecahan gelas di lantai.
"Tapi Tom," ucap ibunya dengan suara putus asa. "Dari mana kita bisa mendapatkan uang sepuluh juta dalam waktu satu minggu?"
"Jangankan sepuluh juta, untuk makan besok saja ibu sudah kebingungan."
Melihat air mata ibunya kembali menetes, hati Tommy terasa seperti diiris sembilu.
Ia menggenggam kedua tangan ibunya yang kasar karena terlalu sering tertusuk jarum jahit.
"Ibu tenang saja, biar ini jadi urusan Tommy," ucapnya dengan nada meyakinkan. "Tommy janji minggu depan uang itu sudah ada."
Meskipun ibunya terlihat tidak percaya, wanita itu hanya bisa mengangguk pasrah karena sudah tidak memiliki jalan keluar lain.
Malam harinya, Tommy mengunci diri di kamarnya yang sempit.
Ia duduk di depan meja belajarnya yang reot dengan secarik kertas dan pulpen.
Di hadapannya, layar sistem kembali menyala dalam kegelapan kamar.
[MISI MENDADAK SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil menggunakan taktik negosiasi dan intimidasi psikologis untuk menyelesaikan ancaman fisik.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +3 poin.]
[Poin Sistem bertambah +20 PS.]
[IQ Saat Ini: 98 Kategori: Rata-rata Atas]
[Poin Sistem Saat Ini: 35 PS]
Tommy sama sekali tidak mempedulikan peningkatan poin IQ-nya saat ini.
Pikirannya sedang berputar sangat cepat menyusun strategi finansial.
Sepuluh juta rupiah dalam waktu tujuh hari bukanlah jumlah yang sedikit bagi seorang pelajar SMA miskin tanpa modal sepeser pun.
Ia tidak bisa mengandalkan pekerjaan paruh waktu seperti mencuci piring atau membagikan brosur.
"Aku butuh sesuatu yang menghasilkan uang dalam jumlah besar dengan sangat cepat," gumam Tommy pelan.
Ia menatap opsi-opsi yang ada di Toko Sistemnya.
Matanya tertuju pada salah satu keahlian seharga tiga puluh poin sistem yang berkedip pelan.
[Pengetahuan Kriptografi Dasar]
Bibir Tommy perlahan melengkung membentuk senyuman tipis yang penuh perhitungan.
Dunia internet adalah tempat paling luas, paling gelap, sekaligus paling menguntungkan bagi seseorang yang memiliki otak jenius dan ingin tetap bersembunyi tanpa nama.
"Mari kita lihat seberapa dalam kelinci ini bisa menggali lubang," bisik Tommy sambil menekan tombol beli di udara kosong.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇