Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Setelah mendapatkan pesan singkat dari ayahnya, pesan yang hanya beberapa kata tapi berat, Arhan menatap keluar kaca jendela.
Tidak ada kata sayang, tidak ada basa-basi. Persis seperti ayahnya. Singkat, perintah, dan tidak memberi ruang untuk menolak.
Arhan masih memegang ponselnya erat. Layarnya sudah mati, tapi jemarinya tidak lepas. Di luar, mobil hitam itu masih berhenti di depan pagar kayu rumahnya yang sudah miring. Mobil sedan mewah dengan bodi mengkilap, yang bahkan percikan air hujan pun terlihat enggan menempel lama di atasnya. Mobil yang tidak pernah datang ke rumah kecilnya. Mobil yang selalu ia lihat terparkir rapi di garasi rumah besar ayahnya, rumah bagai istana yang dulu ia tinggali, dengan taman luas dan pilar-pilar tinggi.
Hujan sore masih turun. Tidak deras tapi terus menerus, sabar, membasahi kaca jendela dengan butiran-butiran air yang mengalir pelan, berkelok-kelok seperti mencari jalan. Suara rintiknya di atap seng rumah kontrakan mereka terdengar jelas, menenangkan bagi sebagian orang, tapi bagi Arhan sore ini terasa menekan.
Wajahnya terlihat resah. Dahinya berkerut dalam, alur di antara alisnya begitu jelas, bibirnya terkatup rapat sampai memutih, matanya tidak lepas dari mobil hitam itu. Di dalam dadanya ada dua perasaan yang bertabrakan keras. Rindu pada ayahnya, dan takut. Ia sangat hafal pola kedatangan seperti ini. Ayahnya tidak pernah datang hanya untuk menengok. Setiap kedatangan selalu membawa sebuah penawaran, sebuah keputusan, sebuah transaksi.
Arhan melangkah, langkahnya pelan tapi berat, seolah lantai kayu rumahnya tiba-tiba menjadi lebih lengket. Menuju kamar dan menatap Anya sebentar. Pintu kamar tidak tertutup rapat.
Anya masih di dalam kamar, duduk di samping ranjang, tidak berbaring, hanya duduk memeluk guling kecil yang warnanya sudah agak pudar. Lampu kamar tidak dinyalakan, hanya cahaya temaram keabu-abuan dari luar yang masuk lewat jendela, membuat siluet tubuhnya yang semakin kurus terlihat jelas. Rambutnya yang panjang ia ikat asal-asalan.
"An, aku mau keluar sebentar. Ayahku datang," kata Arhan, suaranya pelan, mencoba terdengar tenang, mencoba menyembunyikan getar di ujung kalimatnya. Ia tidak ingin Anya ikut cemas.
Anya yang saat itu tengah duduk di samping ranjang, menoleh dengan cepat. Gerakannya agak kaget. Matanya sedikit membesar. Ada sisa air mata yang belum kering di sudut matanya karena pertengkaran kecil mereka di dapur tadi.
"Apa... apa dia mau datang berkunjung?" tanyanya. Raut wajahnya yang terlihat sedih pun, yang sejak tadi murung, berubah seketika. Ada harap kecil di sana, secercah harapan yang membuat hati Arhan semakin sakit. Ada cemas yang besar juga. Ia tahu Anya selalu berusaha keras untuk disukai ayahnya, meski selalu gagal. "Apa aku perlu ganti baju?"
Arhan menggelengkan kepala pelan, senyumnya tipis dan dipaksakan. Ia tidak ingin memberi harapan palsu pada Anya. Ia tahu ayahnya. Ia hafal betul tatapan ayahnya pada Anya, tatapan merendahkan yang tidak pernah ditutupi.
"Aku rasa bukan. Kamu tau ayahku kan An?" jawab Arhan. "Dia tidak pernah datang untuk mampir. Tetap di sini saja ya."
Anya kembali menunduk, menatap jemarinya sendiri yang pucat dan sedikit gemetar. "Iya... aku tau. Ayah kamu tidak pernah menyukaiku." Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan di atap seng. Kalimat itu bukan tuduhan, melainkan pengakuan lelah dari seseorang yang sudah lama berjuang.
Arhan menarik nafas panjang, dadanya sesak mendengar itu. Dia menghampiri Anya, berjongkok di depan Anya, lututnya menyentuh lantai kayu yang dingin dan agak lembab. Ia menatap Anya dari bawah, agar mata mereka sejajar. Posisi yang selalu ia lakukan agar Anya tidak merasa kecil.
"Aku tidak peduli soal itu. Sama sekali tidak peduli," kata Arhan. Suaranya lembut, tulus, ia meraih kedua tangan Anya yang dingin. "Yang penting aku tetap di sini, sama kamu kan An? Itu yang terpenting buat aku. Bukan apa kata Ayah."
Anya mengangguk pelan, bibirnya mengurai senyuman tipis, senyum yang dipaksakan agar Arhan tidak khawatir. "Iya Han. Maafin soal tadi ya," ucap Anya, suaranya masih pelan.
Arhan mengecup kening Anya, keningnya yang hangat, yang kadang terasa sedikit panas karena demam yang sering datang tanpa permisi. "Nggak usah minta maaf. Kamu gak salah sayang," jawab Arhan.
"Yasudah, sana, kasihan ayah kamu nungguin di luar. Jangan lupa pakai payung. Di luar masih hujan Han," kata Anya, ia mendorong pelan bahu Arhan.
Arhan mengangguk. Lalu dia berjalan keluar kamar. Mengambil payung hitam besar di belakang pintu rumah, payung yang sudah lama tidak dipakai dan besinya sedikit berkarat. Dan segera keluar rumah, menghampiri mobil mewah itu. Begitu pintu rumah dibuka, hawa dingin dan bau hujan yang segar bercampur bau tanah basah langsung masuk. Hujan membasahi teras, tanah halaman yang licin dan tergenang air.
Saat hampir mendekat, pintu mobil belakang terbuka dari dalam, terbuka pelan secara otomatis. Arhan segera masuk, melipat payung yang basah, menutup payung dengan tergesa-gesa lalu duduk dan menutup pintu mobil. Begitu pintu tertutup, suara hujan hilang seketika. Dunia luar seperti dibungkam. Digantikan dinginnya AC yang menyala kencang dan harum kulit jok mahal yang menusuk hidung.
Tanpa melihat wajah ayahnya, tanpa menoleh, Arhan bertanya, suaranya dingin, menahan emosi yang bergejolak. "Ada apa Ayah?"
Ayahnya tidak langsung menjawab. Pria berjas hitam itu duduk tegak, menatap lurus ke depan, ke rumah kecil Arhan dari balik kaca jendela mobil yang gelap. Tangannya yang dihiasi jam tangan mahal mengambil sesuatu dari samping, dia mengeluarkan amplop coklat besar, amplop yang tebal, dan memberikannya kepada Arhan dengan gerakan pelan, seolah menyerahkan sebuah pusaka.
"Baca ini baik-baik," kata Ayahnya. Suaranya berat dan berwibawa.
Arhan pun mengambilnya dengan ragu, membuka isi amplop itu. Jemarinya agak kesulitan karena amplop itu tebal. Beberapa lembar kertas putih tebal, bertuliskan tentang biodata, foto seorang dokter dari luar negeri, tulisan-tulisan medis dengan istilah yang sulit, dan kop rumah sakit luar negeri.
"Dokter Alfred, spesialis dari Munich..." gumam Arhan pelan, sambil meneruskan membacanya, matanya bergerak cepat dari satu baris ke baris lain. Foto dokter itu menunjukkan pria paruh baya dengan jas putih dan kacamata tipis. Tertulis pengalaman 20 tahun, profesor, dan daftar pasien sembuh.
"Dia adalah dokter terbaik. Yang terbaik di bidangnya di Eropa. Mungkin istrimu bisa sembuh dari penyakitnya," ucap ayahnya masih menatap keluar dari kaca mobil, tidak menatap Arhan. Seolah ia sedang membicarakan bisnis, bukan nyawa seseorang.
Arhan menghela nafas panjang, ia sudah menduga kemana arah ini. Pola lama yang selalu berulang. "Lalu apa tujuan Ayah datang ke sini? Menawarkan bantuan?" tanya Arhan, suaranya mulai tegang.
Ayahnya menoleh, menatap Arhan tajam, tatapan yang dulu membuat semua karyawan Veron Group tunduk. "Menawarkan perawatan dokter terbaik. Ayah akan tanggung semuanya. Tiket pesawat, akomodasi tim medis, biaya rumah sakit. Dan akan mengundang dokter itu ke negara ini, khusus untuk istrimu. Kau tidak usah memikirkan biayanya. Satu rupiah pun kau tidak perlu keluar."
Tawaran itu terlalu sempurna. Terlalu besar untuk diterima tanpa curiga. Arhan mengernyit, firasat buruknya semakin kuat.
"Lalu? Setelah itu? Apa syaratnya, Yah? Katakan langsung," desak Arhan.
Veron, ayahnya Arhan berkata dengan suara datar, tanpa emosi, seolah syarat itu adalah hal yang paling wajar di dunia. "Jika dia sembuh. Kau harus meninggalkannya. Kau ceraikan dia baik-baik, Ayah beri dia kompensasi yang sangat layak, dan kau kembali ke rumah. Kembali ke perusahaan."
Waktu seolah berhenti.
Arhan meletakkan kembali amplop coklat itu di dekat ayahnya, di atas jok, dengan gerakan agak kasar. Seolah amplop itu adalah bara api.
"Aku sudah tau. Ayah pasti akan seperti itu, maaf aku menolaknya," kata Arhan. Suaranya kini jelas bergetar menahan marah.
Sorot mata Veron menatap tajam, kecewa. "Memangnya, bocah seperti mu bisa apa? Bahkan untuk sehari-hari saja kau meminjam uang kepada Ronald. Sopir pribadi Ayah."
Arhan menunduk, tertusuk. "Iya, kau benar Ayah. Aku meminjam uang kepada Ronald. Tapi aku belum menyerah merawat istriku, Anya."
Veron tertawa, tertawa yang merendahkan, tawa yang membuat dada Arhan sesak, tawa yang tidak ada kehangatan sama sekali. "Itu sama saja dengan membunuhnya secara perlahan, Arhan! Kau tidak mampu memberikan perawatan dokter terbaik. Itu sama saja kau membunuhnya pelan-pelan, membuatnya menderita untuk lebih lama!" ucap ayahnya. Kata-kata itu keluar begitu saja, kejam dan telak.
Ucapan itu terdengar menusuk. Menusuk lebih dalam dari pisau.
Arhan terdiam. Dia tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Kata-kata itu benar-benar masuk ke dalam dadanya, menghantam pertahanan terakhirnya. Ia menatap amplop coklat itu, menatap hujan di luar kaca mobil, menatap rumah kecilnya yang terlihat buram dari balik kaca yang berembun.
Di dalam mobil mewah yang dingin itu, Arhan duduk dengan kepalan tangan yang gemetar, di antara tawaran kesembuhan untuk Anya dan syarat yang menghancurkan hatinya.