Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 25
Khadafy mematung di depan rak deretan biji kopi premium. Pria itu berdiri kaku, tetapi tatapan matanya sama sekali tidak tertuju pada kemasan kopi di hadapannya. Manik mata pekatnya justru terpaku pada bayangan Zheana dari pantulan kaca rak.
Kata-kata Zheana tentang sabun, sampo, alergi kopi, hingga ketakutan gadis itu dianggap terlalu banyak bertanya, berputar liar di kepala Khadafy. Selama bertahun-tahun berhubungan dengan Niken, Khadafy adalah pihak yang selalu harus mengingat preferensi orang lain. Dia yang menyesuaikan diri, dia yang mengalah, dan dia yang dituntut memenuhi standar kemewahan Niken tanpa pernah ditanya hal-hal mendasar seperti apa yang disukainya.
Namun kini, seorang gadis staf junior di kantornya yang tiba-tiba menjadi istrinya, berdiri dengan cemas hanya karena takut membeli merek kopi yang salah untuknya.
Zheana yang panik melihat Khadafy terdiam makin merasa tak enak hati. Ia menunduk dalam-dalam, meremas tali tasnya seraya melangkah pelan mendekati Khadafy.
"Mas Khadafy..." cicit Zheana, suaranya nyaris tenggelam oleh musik latar supermarket.
"Maaf ya, Mas... Zhea kelewatan, ya? Harusnya Zhea nggak usah terlalu campur tangan sama urusan barang pribadi Mas Khadafy. Nanti biar Zhea..."
Sebelum Zheana selesai bicara, Khadafy mendadak memutar tubuhnya.
Greb.
Khadafy melangkah maju satu kali, memangkas jarak di antara mereka secara tiba-tiba. Karena reflek, Zheana mundur ke belakang hingga punggungnya bersentuhan halus dengan pinggiran rak kayu tempat deretan kopi tertata. Khadafy tidak berhenti; pria itu menumpukan tangan kanannya di rak kayu persis di samping kepala Zheana, mengurung tubuh mungil istrinya di antara lengan tegapnya dan rak kopi.
Napas Zheana seketika tertahan. Wajah Khadafy kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Aroma parfum maskulin yang berpadu dengan wangi kopi premium langsung menyeruak memenuhi indra penciumannya, membuat kepala Zheana makin pening dan jantungnya berdegup gila-gilaan.
"Mas Khadafy... ini di tempat umum..." bisik Zheana panik, matanya bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan, takut ada pengunjung lain atau lebih buruk lagi karyawan Mumtaz Group yang melintas di lorong sepi itu.
Khadafy menurunkan pandangannya, menatap lurus ke dalam manik mata Zheana yang bergetar. Sorot matanya yang biasa dingin dan kaku, kini memancarkan kehangatan yang amat tajam dan intens.
"Aku tidak diam karena risih, Zheana," bisik Khadafy dengan suara bariton yang dalam, membuat bulu kuduk Zheana meremang.
"Aku hanya... belum terbiasa ada seseorang yang begitu peduli pada hal-hal kecil tentang diriku."
Zheana berkedip lambat. "Maksud... Mas Khadafy?"
"Selama ini tidak ada yang pernah menanyakan apakah aku punya alergi, atau sampo apa yang aku pakai," tutur Khadafy tulus, jemari tangan kirinya terangkat perlahan, menyentuh tepi jilbab Zheana lalu menyelipkan helai kainnya dengan amat lembut di dekat telinga gadis itu.
"Jadi, teruslah bertanya. Bertanyalah sebanyak yang kamu mau. Aku suka mendengarmu cerewet tentang hal-hal seperti itu."
Pipi Zheana seketika merona merah padam, terasa sangat panas. Sentuhan jemari Khadafy di dekat lehernya memberi sensasi sengatan listrik yang membuat seluruh tubuhnya kaku.
"Zhea cuma... mau berusaha jadi istri yang baik buat Mas Khadafy... Walau mungkin hanya...," sahut Zheana lirih, nyaris kehabisan kata-kata karena terkunci oleh tatapan suaminya.
Khadafy mengumbar senyum tipis, sebuah senyuman langka yang sangat menawan, yang belum pernah dilihat oleh satu pun karyawan di kantor. Pria itu menurunkan tangannya dari rak, namun bukannya menjauh, ia justru meraih jemari Zheana yang bergetar dan menautkannya di sela-sela jemari kokohnya sendiri.
"Kalau begitu, sekarang giliranku," kata Khadafy seraya menarik pelan tangan Zheana untuk berjalan berdampingan menuju lorong berikutnya.
"Giliran... apa, Mas?" tanya Zheana bingung, berusaha menyeimbangi langkah kaki Khadafy yang panjang, seraya terus melirik tautan tangan mereka yang terasa begitu hangat dan pas.
Khadafy menghentikan langkah mereka di lorong perlengkapan mandi dan perawatan tubuh wanita. Pria itu mengambil satu troli kosong lain yang lewat dan menunjuk deretan produk perawatan kulit berkelas di hadapan mereka.
"Pilih semua barang pribadimu yang kamu butuhkan," perintah Khadafy tegas.
Zheana membelalak kaget. "Hah? Nggak usah, Mas! Sabun dan sampo Zhea di rumah masih ada kok. Kemarin waktu pindahan kan Zhea sudah bawa..."
"Aku tidak menerima penolakan, Zhea," potong Khadafy seraya menoleh, menatap istrinya dengan sebelah alis terangkat.
"Kamu ini istri dari CEO Mumtaz Group. Perlengkapanmu di apartemen harus lengkap. Ambil sabun, pembersih wajah, pelembab, atau apa pun yang biasa kamu pakai."
"Tapi Mas, Zhea bisa beli sendiri pakai gaji Zhea bulan ini..."
"Zheana Amanda Mumtaz," panggil Khadafy lagi dengan nada rendah yang penuh dominasi, membuat mulut Zheana seketika terkatup. Khadafy meremas pelan genggaman tangannya. Nama belakang yang di sebutkan oleh Khadafy membuat Zhea menatap ke arah suaminya.
"Nafkah barang pribadi adalah kewajiban suami. Kalau kamu menolak dan pakai uangmu sendiri, kamu membuatku merasa gagal menjadi suamimu. Simpan uang mungilmu itu untuk tabunganmu..."
"Aiissshhh! Mungil banget nggak itu kata-katanya, Mas!" Zhea mengerucutkan bibirnya tanpa sadar karena kesal mendengar ucapan suaminya, padahal kata-kata sebelumnya sangat menyentuh hati, tapi di akhir kata-kata Khadafy membuatnya gemas.
Khadafy yang melihat bibir Zheana mengerucut hanya mampu terkekeh pelan, tawa renyah yang rasanya tak pernah muncul selama bertahun-tahun dalam hidupnya. Pria itu menyenggol bahu istrinya dengan bahunya sendiri saat mereka melangkah menyusuri lorong perawatan tubuh.
"Memangnya gajimu di divisi marketing tidak mungil?" goda Khadafy seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Aku yang menandatangani slip gaji seluruh karyawan Mumtaz Group, Zhea. Aku tahu persis berapa angka di rekeningmu tiap tanggal dua puluh lima."
"Mas Khadafy!" sergah Zheana, pipinya kian memerah menahan malu.
"Nggak usah mempertegas status atasan dan bawahan di depan rak sabun begini! Nanti ada yang dengar!"
"Makanya, cepat ambil yang kamu butuhkan," titah Khadafy santai.
Zheana akhirnya mengalah. Dengan canggung dan diawasi langsung oleh CEO sekaligus suaminya, ia mengambil beberapa barang dasar: pembersih wajah, sabun mandi beraroma vanilla favoritnya, dan pelembap kulit. Setiap kali Zheana ragu-ragu memegang sebuah barang, Khadafy tanpa ragu langsung menyambar produk itu dan melemparnya ke dalam troli, hingga tumpukan barang belanjaan mereka membumbung tinggi.
Namun, siksaan tak tuntas di situ. Khadafy melangkah membawa troli ke lorong berikutnya, dan seketika langkah Zheana mematung total. Matanya membelalak lebar membaca plang di atas lorong: Perawatan Kewanitaan & Pembalut.
"Mas Khadafy! Kita mau ke mana?!" bisik Zheana panik, tangannya refleks menahan lengan kemeja Khadafy.
"Membeli kebutuhan bulananmu," jawab Khadafy santai tanpa beban, seolah-olah sedang membahas laporan keuangan kuartalan.