Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Waktu menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit saat langit kota mulai dihiasi kelap-kelip lampu gedung.
Restoran Bintang Harapan tampak sangat ramai oleh para pengunjung dari kalangan menengah ke atas.
Deretan mobil mewah dari berbagai pabrikan Eropa terparkir rapi di area halaman depan restoran.
Di area lobi tunggu yang ber-AC dingin, empat orang sedang duduk di sofa kulit dengan suasana yang agak kaku.
Siska duduk dengan gelisah mengenakan gaun selutut berwarna biru muda yang dipilihkan ibunya.
Di sebelahnya duduk ayah dan ibunya yang berpakaian sangat formal dan memancarkan aura orang tua kolot yang keras.
Tepat di seberang mereka, duduk seorang pria muda berkacamata dengan kemeja sutra rapi dan jam tangan bermerek.
Pria itu adalah Dokter Reyhan, calon kencan buta yang dijodohkan dengan Siska.
"Siska, kamu ini benar-benar membuat keluarga kita malu," bisik ibu Siska dengan nada tajam ke arah putrinya.
"Bisa-bisanya kamu membawa pacar tidak jelas ke acara pertemuan penting dengan keluarga Dokter Reyhan."
Ayah Siska ikut menatap tajam putrinya sambil mendengus pelan.
"Kalau pacarmu itu ternyata hanya pria pengangguran bermodal tampang, Ayah akan langsung menyuruhnya pulang."
Siska meremas tas kecilnya dengan kuat, merasa dadanya sesak karena tekanan keluarganya.
Dia mulai menyesali keputusannya melibatkan Bima dalam kekacauan ini.
Dokter Reyhan tersenyum penuh kemenangan melihat Siska terus dimarahi oleh orang tuanya.
"Tidak apa-apa, Om, Tante, anak muda zaman sekarang memang mudah tertipu oleh cinta monyet," ucap Reyhan dengan nada bijak yang dibuat-buat.
"Saya justru ingin melihat pria sehebat apa yang bisa merebut hati Siska dari saya."
Reyhan membenarkan letak kacamatanya sambil memamerkan kunci mobil sedan BMW miliknya di atas meja.
Dia sangat yakin pacar Siska pastilah hanya mahasiswa miskin atau pekerja lepas yang gajinya tidak seberapa.
Drrrtt.
Ponsel Siska bergetar memunculkan pesan singkat dari Bima.
"Aku sudah di depan, tunggu di lobi saja."
Siska menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberaniannya.
"Ma, Pa, dia sudah sampai di depan," ucap Siska pelan.
Ketiga orang itu serempak menoleh ke arah pintu masuk kaca restoran yang terbuka otomatis.
Dari balik pintu, melangkah masuk sosok pemuda bertubuh tinggi dengan postur yang sangat tegap.
Namun, penampilan pemuda itu langsung membuat senyum mengejek muncul di wajah Reyhan dan ibu Siska.
Bima datang dengan setelan andalannya.
Kemeja flanel pudar, kaus oblong, celana jins, dan sepatu kets yang terlihat sangat biasa.
Sama sekali tidak ada tanda-tanda kemewahan atau barang bermerek yang menempel di tubuhnya.
Bima berjalan santai mendekati sofa tempat mereka duduk tanpa ada raut kecanggungan sedikit pun.
Siska buru-buru berdiri dan menghampiri Bima, lalu mengaitkan lengannya ke lengan pemuda itu dengan gugup.
"Ma, Pa, kenalkan ini Bima," ucap Siska memperkenalkan pacar palsunya.
Ayah Siska menyilangkan kakinya dan menatap Bima dari ujung rambut sampai ujung sepatu dengan pandangan jijik.
"Duduklah, anak muda," perintah ayah Siska dengan nada otoriter tanpa membalas uluran tangan Bima.
Bima tersenyum tipis menarik kembali tangannya dan duduk di sebelah Siska dengan sangat rileks.
Dia sama sekali tidak merasa terhina oleh penolakan jabat tangan tersebut.
Ibu Siska melipat tangannya di dada dan mulai mengambil alih jalannya interogasi.
"Jadi namamu Bima."
"Siska bilang kamu ini seorang pengajar, di mana kamu mengajar dan apa gelarmu?"
Bima menyandarkan punggungnya ke sofa dengan sangat nyaman seolah sedang berada di ruang tamunya sendiri.
"Saya dosen pengganti di Universitas Nusantara, Tante," jawab Bima jujur.
Mendengar kata dosen pengganti, Reyhan langsung tertawa pelan hingga bahunya bergetar.
"Dosen pengganti? Bukan dosen tetap?" potong Reyhan dengan nada merendahkan.
"Itu artinya kamu cuma pekerja kontrak yang gajinya dibayar per jam kan?"
Ayah Siska menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sangat kecewa.
"Siska, Ayah benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu."
"Kamu menolak Dokter Reyhan yang masa depannya cerah sebagai direktur rumah sakit, demi seorang dosen kontrak musiman?"
Siska menundukkan wajahnya, tidak berani membantah ucapan ayahnya yang sangat menusuk itu.
Dia melirik ke arah Bima dengan perasaan bersalah, takut pria ini akan marah karena dihina habis-habisan.
Namun Bima justru terlihat sangat tenang dan sama sekali tidak terpancing emosi.
"Masa depan seseorang tidak ditentukan dari jabatannya di selembar kertas, Pak," jawab Bima dengan nada santai namun tegas.
"Ada banyak orang bergelar tinggi tapi hidupnya penuh hutang, dan ada orang biasa yang bisa membeli rumah sakit tempat dia bekerja."
Kalimat Bima itu meluncur dengan sangat mulus, langsung menyindir kesombongan Dokter Reyhan.
Reyhan merasa harga dirinya tersentil dan wajahnya sedikit memerah menahan kesal.
"Omong kosong macam apa itu," bantah Reyhan cepat.
"Orang miskin selalu menggunakan alasan filosofis untuk menutupi ketidakmampuan finansial mereka."
Reyhan mengambil kunci sedan BMW-nya dari atas meja dan memutarnya di sela-sela jarinya.
"Kamu ini laki-laki, Bima, harusnya kamu realistis memikirkan kebahagiaan Siska."
"Siska ini terbiasa hidup enak dan pergi ke mana-mana naik mobil yang nyaman."
Reyhan menunjuk ke arah jalanan di luar lobi restoran yang terlihat dari dinding kaca.
"Kamu menjemputnya malam ini pakai apa?"
"Jangan bilang kamu memintanya naik angkutan umum atau berpanas-panasan naik sepeda motor."
Ibu Siska langsung menyahut menyetujui ucapan calon menantu idamannya itu.
"Benar sekali, kalau kamu bahkan tidak punya mobil untuk mengantar putri kami, lebih baik kamu mundur saja."
Siska menggigit bibirnya semakin kuat, dia ingat Bima tadi sore bilang hanya punya mobil keluarga biasa.
Di mata keluarganya, mobil keluarga murah pun pasti akan tetap menjadi bahan hinaan.
"Bima punya mobil kok, Ma," bela Siska dengan suara pelan mencoba menyelamatkan muka pacar palsunya.
Ayah Siska mendengus meremehkan.
"Mobil apa? SUV keluarga cicilan tujuh tahun yang mesinnya sering mogok di jalan raya?"
Bima tertawa pelan mendengar tebakan ayah Siska yang penuh dengan asumsi liar tersebut.
Dia merogoh saku celana jinsnya dengan perlahan.
"Tebakan Bapak soal SUV memang benar," ucap Bima dengan wajah datar tanpa dosa.
"Saya memang membawa SUV kesayangan saya ke sini."
Reyhan kembali tertawa mengejek merasa tebakannya terbukti benar.
"Sudah kuduga, selera dosen kontrak paling mentok di mobil LCGC atau SUV keluarga murah."
"Mana mobilmu? Biar aku minta petugas valet memarkirkannya di belakang agar tidak merusak pemandangan di lobi depan."
Bima mengabaikan ejekan Reyhan dan menatap lurus ke arah jalan raya di depan restoran.
"Sepertinya tidak perlu dipindahkan, petugas valet sudah memarkirkannya tepat di depan pintu masuk utama."
Semua orang di sofa itu langsung mengerutkan kening kebingungan.
Area parkir tepat di depan pintu masuk utama restoran ini adalah area VIP yang hanya dikhususkan untuk tamu VVIP.
Bahkan sedan BMW milik Reyhan tadi disuruh parkir agak menyamping oleh petugas keamanan.
Ayah Siska, ibunya, Reyhan, dan Siska serempak menoleh ke arah luar kaca restoran.
Di sana, tidak ada satu pun mobil keluarga murah atau LCGC yang terparkir.
Satu-satunya mobil yang mendominasi tepat di tengah area VIP depan pintu masuk adalah sebuah monster besi berwarna hitam pekat.
Lekuk bodinya tajam, agresif, dan memancarkan aura kemewahan mutlak yang tidak bisa disangkal oleh siapa pun.
"Itu... bukankah itu Lamborghini Urus keluaran terbaru?" gumam Reyhan dengan mata membelalak lebar, wajahnya mendadak pucat.
Reyhan adalah penggemar otomotif, dia tahu persis bahwa harga mobil itu bisa mencapai puluhan miliar rupiah.
Ayah Siska yang juga mengerti soal mobil mewah langsung terdiam membatu.
"Siapa orang gila yang memarkirkan monster semahal itu di restoran ini?" tanya ayah Siska dengan suara bergetar kagum.
Bima tersenyum tipis dan meletakkan sebuah kunci hitam berlambang banteng emas ke atas meja kaca di depan mereka.
Trang.
Suara logam kunci yang berbenturan dengan meja kaca itu terdengar sangat nyaring di telinga mereka semua.
Semua mata langsung tertuju pada kunci di atas meja tersebut, lalu beralih menatap wajah Bima secara bergantian.
Suasana di lobi itu mendadak hening seketika, seolah waktu baru saja dihentikan paksa.
"Maaf kalau mobil keluarga saya ini merusak pemandangan kalian," ucap Bima memecah keheningan dengan nada suara yang sangat santai dan mematikan.