NovelToon NovelToon
Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang

Status: tamat
Genre:Fantasi / Idola sekolah / BTS / Tamat
Popularitas:322
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 — Malam yang Mengubah Segalanya

Hari itu Clara pulang telat.

Bukan karena ekskul. Bukan karena nongkrong.

Dia abis dari klinik. Sendirian. Gak bilang Mutiara.

Amplop lab kemarin akhirnya dia buka di toilet sekolah pas jam istirahat. Isinya dia gak ngerti semua, angka-angka sama tulisan Inggris. Tapi ada satu baris yang dia ngerti.

Disarankan segera konsultasi dengan dokter spesialis.

Abis baca itu tangannya dingin semua.

Dia gak mau panik di sekolah. Jadi dia izin pulang cepet, bilang ke piket mau ke dokter gigi. Padahal ke klinik deket rumah. Mau nanya artinya apa.

Dokternya bilang, "Kamu harus bawa orang tua ya, Dek. Jangan sendirian."

Lagi-lagi orang tua.

Clara pulang jalan kaki. Angkotnya gak ada. Udah jam setengah 7 malem. Langit udah item. Gang pintas ke rumahnya sepi. Lampu jalannya kedip-kedip. Satu nyala, dua mati.

Dia jalan sambil nunduk. Tas digendong depan. Isinya hasil lab.

Terus dia denger suara.

BRUK.

Kayak motor jatuh.

Clara berhenti. Jantungnya langsung deg-degan.

Dari tikungan gang depan, ada cahaya motor yang masih nyala tapi miring. Jatuh ke got kecil.

Dan ada orang duduk nyender di tembok. Kepalanya nunduk.

Clara mau balik badan. Sumpah dia penakut banget. Apalagi gang sepi gini.

Tapi orang itu... jaketnya familiar.

Jaket item. Ada tulisan di belakangnya yang udah agak pudar.

Clara pelan-pelan deketin. 3 langkah. Berhenti. 3 langkah lagi.

Pas udah agak deket, dia liat darah.

Di pelipis. Ngalir ke pipi.

"Anjir..."

Orang itu ngangkat kepala pelan.

Dan Clara langsung lemes.

Seokjin.

Muka yang tadi siang datar di lapangan, sekarang berantakan. Bibir pecah. Alis berdarah. Kaos putihnya ada bercak merah.

Motor gede di got itu motornya.

"Seokjin?" Suara Clara kecil banget. Hampir gak keluar.

Seokjin ngelirik. Matanya setengah kebuka. Kayak gak fokus.

"Lo... yang tadi siang..." suaranya serak. Pelan banget.

Clara panik. Asli panik.

Dia tuh fobia liat darah. Dari kecil kalau liat darah langsung pusing. Dan sekarang di depan dia ada orang yang berdarah lumayan banyak.

Otaknya bilang kabur aja, Ra, bukan urusan lo.

Tapi kakinya gak bisa gerak.

Karena tadi siang orang ini balikin diary-nya tanpa ngintip isinya. Orang ini yang nulis "jangan nangis di lapangan".

Clara jongkok. Jarak semeter. Tangannya gemeter.

"Lo abis berantem ya? Ya ampun banyak banget darahnya..."

Seokjin ketawa kecil. Ketawanya sakit.

"Biasa..."

Biasa palanya. Ini mah gak biasa.

Clara ngeliat sekeliling. Sepi. Gak ada orang lewat. Tukang warung di ujung gang udah tutup.

HP-nya dia keluarin. Tangan gemeter banget sampe hampir jatoh.

"Gue... gue panggilin ambulan ya? Atau gue panggil satpam?"

Seokjin langsung megang tangan Clara. Pelan, tapi kenceng.

"Jangan... jangan ambulan..."

"Terus gimana? Lo mau mati di sini?"

Clara bingung. Dia buka tasnya. Nyari tisu. Cuma ada tisu basah sisa tadi. Sama air minum yang udah tinggal setengah.

Dia sodorin air minum.

"Minum dulu dikit."

Seokjin gak ambil. Napasnya berat.

Clara ngeliat dompet item jatuh di deket motor. Kebuka. Isinya KTP pelajar sama kartu-kartu berantakan.

Dia ambil. Karena butuh tau alamat atau apa biar bisa minta tolong.

Kartu pelajarnya: Kim Seokjin - XII MIPA 2

Foto di kartunya masih rapi. Beda banget sama yang sekarang.

Clara spontan nyebut,

"Seokjin! Kim Seokjin】! Denger gue gak? Lo jangan merem dulu!"

Pas namanya dipanggil lengkap, mata Seokjin yang tadinya mau merem, kebuka lagi. Agak kaget.

Dia ngeliatin Clara. Lama.

"Lo tau nama gue..."

"Iya gue tau! Satu sekolah tau! Sekarang jangan pingsan dulu please!"

Clara udah nangis. Beneran nangis. Bukan nangis cantik. Nangis berantakan.

Dia pencet nomor Mutiara. Gak diangkat. Pencet Diana. Gak diangkat.

Ya udah, dia pencet nomor UGD yang ada di stiker di tiang listrik. Nomor yang dia apalin karena sering ke klinik.

"Halo! Tolong! Ada yang kecelakaan di Gang Mawar 3 deket jembatan! Berdarah! Tolong cepet!"

Suaranya cempreng. Orang UGD bilang 10 menit lagi dateng.

10 menit itu lama banget buat Clara.

Dia duduk di sebelah Seokjin. Jaga jarak dikit, tapi tetep di situ. Dia sobekin ujung rok dalemnya - untung pake celana pendek dalem - buat neken darah di pelipis Seokjin. Tangannya belepotan darah. Dia mual, tapi dia tahan.

"Lo tahan ya. Bentar lagi dateng. Jangan tidur."

Seokjin merem melek. Kepalanya nyender ke tembok. Tapi matanya masih ngarah ke Clara.

"Kenapa... lo masih di sini... orang lain kabur..."

Clara ngelap darahnya pelan. Tangannya gemeter.

"Gue gak tau. Gue takut sebenernya. Tapi kalau gue tinggalin lo di sini sendirian, gue yang ngerasa jahat."

Seokjin diem. Terus senyum tipis. Senyum pertama yang Clara liat. Bukan senyum dingin. Senyum capek.

"Diary biru..."

Clara kaget.

"Lo... lo baca?"

"Enggak. Cuma liat sampulnya doang. Biru... kayak yang punya..."

Sebelum Clara sempet jawab, suara sirine ambulan kedengeran dari jauh.

Tut wiu tut wiu.

Lampu senter satpam komplek juga dateng.

"Di sini Pak! Di sini!" Clara teriak sambil lambaian tangan. Suaranya abis.

Dua petugas dateng bawa tandu. Satpam dateng juga.

"Wah, ini anak geng motor itu ya? Berantem lagi dia," kata satpam.

Clara langsung nyaut, "Tolongin dulu Pak, jangan ngomongin geng dulu!"

Petugas ngangkat Seokjin ke tandu. Seokjin ngerang kesakitan. Pas diangkat, dompet sama kartu pelajarnya jatuh lagi.

Clara pungut. Masukkin ke tasnya biar gak ilang.

Pas tandu mau dimasukin ke ambulan, Seokjin tiba-tiba megang lengan Clara. Kenceng.

Matanya udah hampir merem total.

"Clara... Nagendra... ya?"

Clara bengong. Kok dia tau nama lengkap gue?

"Kartu lab lo... di tas gue... jatuh tadi..."

Clara langsung ngecek tasnya. Amplop labnya... gak ada. Ya ampun, tadi jatuh di lapangan bareng diary, yang diambil Seokjin.

Jadi dia tau.

"Balikin... besok..." bisik Seokjin. Suaranya udah hampir ilang.

Terus matanya merem. Pingsan.

Pintu ambulan ditutup. BRUK. Ambulan jalan.

Clara masih berdiri di gang. Sendirian. Tangan belepotan darah. Rok sobek. Tas berantakan.

Satpam ngeliatin dia.

"Neng kenal sama dia?"

Clara geleng cepet.

"Enggak! Gak kenal! Tadi cuma lewat!"

Dia takut. Takut kalau dibilang pacarnya geng motor. Takut digosipin lagi.

Dia jalan pulang. Lari malah. Sepanjang jalan nangis kejer. Bukan karena takut. Karena capek. Karena semua numpuk.

Sampai rumah, Nenek Kamila langsung kaget liat Clara.

"Ya Allah, Clara! Kamu kenapa? Darah siapa ini?"

Clara gak bisa jawab. Langsung meluk Nenek. Kenceng banget.

"Nek... tadi ada orang kecelakaan..."

Nenek gak nanya lagi. Langsung bawa Clara ke kamar mandi. Bersihin tangannya. Gantiin bajunya.

Di kamar, Clara buka tasnya. Kartu pelajar Seokjin ada di dalem. Masih ada bercak darah dikit.

Sama kertas fotokopian labnya yang tadi pagi ilang. Ternyata bener ada di Seokjin.

Clara ngeliatin kartu itu lama.

Kim Seokjin. Anak yang ditakutin satu sekolah.

Tadi dia manggil nama lengkap Clara sebelum pingsan.

Dan untuk pertama kalinya, ada orang selain Nenek sama Mutiara yang tau rahasia sakitnya.

Clara taruh kartu itu di bawah bantal. Sebelah diary biru.

HP-nya geter. Chat dari nomor gak dikenal.

Foto profilnya motor gede.

Isinya:

"Amplop lo ketinggalan di gue. Besok gue balikin. -J"

Clara langsung duduk tegak.

J? Jin?

Dia baru aja nolongin orang itu. Dan orang itu sekarang tau penyakitnya.

Besok di sekolah bakal jadi apa?

Dia belum sempet mikir lebih jauh.

Dari luar kamarnya, suara Papa Faizan ngomong kenceng sama Mama Vania.

"Besok Thea mau dirawat inap. Kamu siapin barang-barangnya. Clara suruh jagain rumah aja. Jangan ikut campur."

Clara ngeremas kartu pelajar di tangannya.

Malam yang ngubah segalanya, baru aja dimulai.

1
yonggi🐱
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!