NovelToon NovelToon
MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Setelah langkah kaki Hayden menghilang di ujung lorong yang remang, Aluna bersandar layu pada dinding beton dingin. Napasnya terengah, seolah seluruh oksigen di paru-parunya baru saja dikuras habis. Jemari tangannya mengepal erat, mencengkeram kunci perak berdingin besi yang baru saja ia terima dari Hayden.

​Ia tidak punya waktu untuk meratapi nasib atau menyesali keputusannya.

​Aluna terburu-buru masuk ke ruang ganti, melucuti gaun satin merah hati yang terasa membakar kulitnya itu, lalu menggantinya dengan celana jeans lusuh dan kaos oblong milik Romeo yang terlampau besar di tubuhnya. Riasan tebal di wajahnya ia hapus seadanya menggunakan tisu basah, meninggalkan garis hitam samar sisa maskara di bawah matanya.

​Tanpa menunggu amplop pembayaran dari panitia—karena ia tahu Hayden pasti akan menyelesaikan semuanya—Aluna berlari keluar dari gedung festival lukis, menembus dinginnya angin malam kota yang kian larut.

​Aroma karbol yang menyengat langsung menyambut Aluna begitu ia melangkah melewati pintu kaca otomatis Rumah Sakit Medika. Bunyi bip konstan dari monitor jantung di sepanjang lorong koridor melodi paling menakutkan yang pernah ia dengar dalam hidupnya.

​Aluna berjalan setengah berlari menuju lorong lantai tiga, ruang Intensive Care Unit (ICU). Di depan pintu kaca tebal berkode akses itu, langkahnya melambat. Tubuhnya gemetar.

​Melalui kaca transparan, Aluna bisa melihat sosok pria tangguh yang selama ini menjadi benteng hidupnya kini terbaring tak berdaya. Tubuh kekar Romeo dipenuhi selang-selang transparan. Sebuah tabung ventilator terpasang di mulutnya, membantu paru-parunya mengembang kempis secara mekanis. Perban putih tebal membungkus hampir seluruh bagian atas kepalanya, menutup luka akibat cedera otak berat yang dialaminya.

​"Kak Romeo..." bisik Aluna lirih. Dahinya menempel pada kaca dingin ruang ICU. Air mata yang berusaha ia tahan sejak tadi kembali menetes, membasahi kaca tebal tersebut.

​"Mbak Aluna?"

​Sebuah suara lembut memanggilnya dari belakang. Aluna berbalik dan mendapati Suster Maya, perawat senior yang menjaga ruang ICU malam itu, berjalan mendekatinya dengan papan catatan medis di tangan.

​"Suster..." Aluna mengusap pipinya cepat-cepat, berusaha menegakkan punggungnya. "Bagaimana kondisi Kak Romeo malam ini? Apakah... apakah ada perkembangan?"

​Suster Maya menatap Aluna dengan pandangan prihatin yang amat dalam. Ia tahu persis bagaimana gadis muda ini berjuang sendirian selama empat hari terakhir.

​"Tekanan darah Mas Romeo masih naik-turun, Mbak. Dokter spesialis saraf tadi baru saja melakukan pemeriksaan refleksi batang otak," jawab Suster Maya pelan, berusaha memilih kata-kata yang paling halus. "Pendarahan di otaknya masih menyebabkan tekanan intrakranial yang tinggi. Operasi kraniotomi harus segera dilakukan sebelum timbul komplikasi permanen atau penurunan fungsi organ lainnya."

​Kata-kata 'operasi' terasa seperti pukulan telak yang menghantam dada Aluna lagi.

​"Biayanya..." suara Aluna bergetar. "Apakah pihak admin rumah sakit sudah membatalkan penundaan operasinya?"

​Suster Maya mengangguk pelan. "Tadi sekitar setengah jam yang lalu, bagian keuangan memberi tahu kami bahwa seluruh uang muka operasi dan sewa ruang ICU untuk dua minggu ke depan sudah dilunasi."

​Aluna menghentikan napasnya sejenak. Hayden. Pria itu benar-benar bergerak cepat. Ia tidak main-main dengan ucapannya di lorong tadi.

​"Tapi, Mbak Aluna," lanjut Suster Maya, memutus lamunan Aluna. "Dokter membutuhkan persetujuan tindakan medis dari pihak keluarga terdekat sebelum mempersiapkan ruang operasi esok pagi pukul delapan. Mbak Aluna yang harus menandatangani berkas pertanggungjawabannya."

​"Saya siap, Suster. Saya yang akan tanda tangan," jawab Aluna tanpa ragu sedikit pun.

​Suster Maya tersenyum tipis, mengusap bahu Aluna yang terasa teramat kurus di balik kaos longgar itu. "Mbak Aluna boleh masuk sebentar untuk melihat Mas Romeo. Tapi hanya sepuluh menit, ya. Dan tolong pakai baju steril dulu."

​Langkah kaki Aluna terasa begitu berat saat melangkah mendekati ranjang ICU. Bau antiseptik dan getaran mesin medis mendominasi ruangan steril berukuran kecil itu.

​Aluna mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh jemari tangan kanan Romeo yang terpasang alat pengukur saturasi oksigen. Tangan yang biasanya begitu hangat, kasar oleh kapalan akibat kerja keras di pabrik, kini terasa dingin dan kaku.

​"Kak..." panggil Aluna pelan, suaranya tercekat di tenggorokan. "Aluna datang."

​Tidak ada jawaban. Hanya suara bip teratur dari monitor yang merespons sapaannya.

​Aluna menarik kursi plastik kecil di samping tempat tidur, lalu duduk memeluk lengan kakaknya. Ia menyandarkan pipinya di atas telapak tangan Romeo yang dingin, persis seperti yang selalu ia lakukan di dapur rumah mereka setiap pagi.

​"Maafkan Aluna, Kak... Maaf kalau Aluna terlambat," bisik Aluna dengan air mata yang menetes membasahi jemari Romeo. "Aluna tahu Kak Romeo pasti marah kalau tahu apa yang Aluna lakukan malam ini. Kakak pasti benci melihat Aluna mengenakan gaun seperti itu di depan orang-orang..."

​Aluna terisak pelan, bahunya berguncang. Namun, ia segera menggigit bibirnya, menahan agar suaranya tidak mengganggu heningnya ruang ICU.

​"Tapi Aluna tidak punya pilihan lain, Kak," lanjutnya dengan nada memohon, seolah-olah Romeo sedang mendengarkannya. "Aluna takut kehilangan Kakak. Aluna tidak siap berada di dunia ini sendirian. Siapa yang akan membuatkan Aluna sarapan? Siapa yang akan mengomeli Aluna kalau Aluna malas kuliah? Aluna belum bisa jadi gadis dewasa yang seperti Kakak harapkan..."

​Aluna meremas pelan jemari Romeo.

​"Besok pagi Kakak akan dioperasi. Kakak harus janji sama Aluna, Kakak harus bertahan. Kakak harus bangun," bisiknya penuh penekanan, menyuntikkan seluruh doa dan harapannya ke dalam genggaman tangan itu. "Soal biaya, Kakak tidak usah khawatir. Aluna sudah dapat pekerjaan. Aluna akan bekerja keras untuk melunasi semuanya. Jadi, Kakak cuma perlu fokus untuk membuka mata lagi, ya?"

​Saat Aluna sedang tertunduk menangis di samping ranjang, bunyi derak pintu bergeser memecah keheningan ruangan.

​Aluna dengan cepat menyapu air matanya dan menoleh. Di ambang pintu ruang ICU, berdiri Hayden Mahendra.

​Pria itu sudah pakaian steril. Wajahnya tetap datar dan dingin, tak memperlihatkan emosi apa pun saat melangkah masuk ke dalam ruangan.

​Aluna terkejut. "Hayden? Kenapa kau bisa masuk ke sini?"

​"Aku hanya ingin memastikan uangku tidak terbuang sia-sia untuk orang yang sudah mati," jawab Hayden tanpa perasaan, suaranya rendah namun tajam di tengah denting mesin medis.

​Aluna berdiri seketika, matanya berkilat marah atas ketidaksopanan kata-kata Hayden. "Jaga bicaramu! Kakakku masih hidup!"

​Hayden tidak membalas serangan Aluna. Matanya beralih menatap sosok Romeo yang terbaring kaku di ranjang. Ada kilatan kompleks di balik manik mata tajam pria itu—campuran antara rasa tak percaya dan amarah terselubung melihat sahabatnya yang biasanya paling tangguh kini tak berdaya disokong mesin.

​"Dia terlihat menyedihkan," gumam Hayden pelan, berdiri di sisi ranjang yang berseberangan dengan Aluna.

​"Dia bertarung untuk nyawanya!" tembak Aluna, menyilangkan tangan di dada untuk membentengi dirinya. "Terima kasih karena sudah mengurus administrasi operasionalnya. Tapi kalau kau ke sini hanya untuk menghina keadaan Kak Romeo, lebih baik kau keluar sekarang."

​Hayden perlahan menatap Aluna. Matanya mengamati wajah pucat gadis itu, lingkaran hitam di bawah matanya, serta tubuhnya yang kentara gemetaran karena kelelahan emosional.

​"Kertas persetujuan operasinya sudah di meja administrasi," kata Hayden, mengabaikan pengusiran Aluna. "Tanda tangani sekarang juga. Dokter bedah saraf paling senior di rumah sakit ini yang akan memimpin operasinya besok jam delapan pagi."

​Aluna menghembuskan napas panjang, meredakan emosinya yang membumbung. "Aku tahu. Aku akan menyelesaikannya setelah ini."

​"Dan satu hal lagi," Hayden memiringkan kepalanya sedikit, menatap Aluna penuh penekanan. "Operasi ini butuh waktu lima sampai enam jam. Setelah Romeo masuk ke ruang operasi besok pagi, tugasmu di sini selesai untuk sementara."

​Aluna mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu? Aku harus menunggu di sini sampai Kak Romeo keluar dari ruang operasi!"

​"Tidak," potong Hayden dingin dan pasti. "Jadwal pertama kita dimulai besok jam satu siang di studiopu. Kau sudah mengambil kuncinya, dan kau sudah sepakat dengan perjanjian kerja kita. Kau tidak lupa, bukan?"

​"Hayden! Kakakku sedang dioperasi!" seru Aluna, tak percaya dengan ketegaran pria di hadapannya. "Bagaimana mungkin kau memintaku menjadi model lukismu di saat kakakku sedang bertaruh nyawa di meja operasi?!"

​"Justru karena dia sedang bertaruh nyawa, kau harus mulai membayar utangmu," jawab Hayden tanpa kompromi. Tatapannya menembus langsung ke mata Aluna, tak memberikan celah sedikit pun untuk negosiasi. "Dokter yang bekerja di meja operasi, bukan kau. Berdiri di depan ruang operasi sambil menangis tidak akan membuat pembedahan otaknya berjalan lebih cepat. Kau ingin menyelamatkannya? Maka jalani bagianmu dari perjanjian ini."

​Aluna mengepalkan tangannya rapat-rapat. Harga dirinya berontak, emosinya membuncah, namun logika pahit yang dilontarkan Hayden tidak sepenuhnya salah. Uang ratusan juta yang dikeluarkan pria itu adalah satu-satunya alasan jantung Romeo masih berdetak malam ini.

​Aluna menatap Hayden dengan pandangan benci yang terselubung rasa keterpaksaan.

​"Baik," bisik Aluna dengan gigi terkatup. "Besok jam satu siang. Aku akan datang ke studio mu. Tapi jika terjadi sesuatu pada Kak Romeo saat operasi, aku tidak akan pernah memaafkanmu."

​Hayden hanya memberikan lirikan tipis, tak tersentuh oleh ancaman itu. "Pastikan kau datang tepat waktu, tuan Putri. Aku tidak suka menunggu."

​Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada Romeo maupun Aluna, Hayden memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari ruang ICU, meninggalkan Aluna yang berdiri gemetar dalam baluran keputusasaan dan dendam yang mulai membara.

*

*

*

1
diga pues
rome.. bawa adikmu pergi, jauh 🌚
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Mia Camelia
Hayden makin gak bisa melepaskan Aluna nih🤭
𝐀⃝🥀Weny
baru aja baca, udah disuguhin Bombay banyak sama othor😭
Mia Camelia
siap thor 😁penasaran nih visual ny gimana😂
diga pues
+21☻️☻️☻️
diga pues
☻️☻️☻️
diga pues
serigala☻️
diga pues
ugh☻️
Mia Camelia
hayden obsesif banget ini mah ke aluna🤭
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
diga pues
ugh🌚
Ita Putri
haduuhh
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna
Mia Camelia
lanjut thor😁
Mita Paramita
Thor nih novelnya sampai tamat kn? gak kayak novel kemarin yang dihapus? padahal lagi seru cerita ny
Mita Paramita: siap Thor 🔥🔥🔥🔥
semangat Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Mia Camelia
seru banget thor😁😁😁
MissSHalalalal: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!