Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.
Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!
Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.
Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. PASIEN MODUS
"Cukup untuk hari ini," gumamnya pada diri sendiri.
Dengan gerakan cekatan namun penuh kewaspadaan, ia mulai membereskan peralatan medisnya. Stetoskop ia masukkan kembali ke dalam tas, sementara tumpukan kertas resep yang berantakan di atas meja dirapikannya menjadi satu bagian kecil. Setiap kali terdengar bunyi ranting patah di luar, bahunya refleks menegang kaku.
Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, ia memegang pinggiran pintu besi garasi tersebut, bersiap menariknya turun ke bawah demi mengakhiri hari yang melelahkan ini—sekaligus bersiap untuk mengunci diri rapat-rapat di dalam vila sebelum kegelapan malam benar-benar jatuh dan hantu tanpa kepala kembali berpatroli.
Namun, baru saja pintu besi garasi itu turun setengah jalan, sebuah suara cempreng yang memekakkan telinga menghentikan gerakan tangan Rahsya.
"Maaf Om, udah mau tutup ya?" tanyanya tanpa dosa.
Seorang gadis tiba-tiba muncul dari balik pilar vila. Ia mengenakan hoodie hitam kedodoran dan celana training senada. Rambut hitam panjangnya dicepol asal-asalan ke atas, menampakkan wajah yang tertutup oleh masker medis. Tingginya yang hanya sebatas dada Rahsya memberikan kesan imut dan menggemaskan bagi orang awam.
Namun bagi Rahsya yang sedang dilanda bad mood akut akibat kurang tidur, gadis itu tidak lebih dari sebuah gangguan suara berfrekuensi tinggi.
Rahsya sontak berbalik. Ia memindai penampilan gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu menaikkan sebelah alisnya begitu tinggi—mungkin lebih tinggi dari ekspektasi orang tuanya terhadap karier kedokterannya di Jakarta. Satu hal yang pasti: Rahsya paling tidak bisa terima dipanggil 'Om'.
Dengan gerakan gusar, Rahsya menyentak lepas maskernya sendiri hingga ujung telinganya memerah. Ia berkacak pinggang, menatap tajam gadis di depannya.
"Om? Kamu pikir saya ini kakak dari bapak kamu?" semprot Rahsya ketus.
"Sorry ya, sudah tutup. Saya tidak menerima pasien lagi. Datang saja besok!"
Tanpa menunggu balasan, Rahsya membanting pintu besi garasi itu ke bawah hingga tertutup rapat, lalu memutar kunci dari dalam dengan bunyi klik yang tegas.
Gadis itu, Kamelia—atau biasa dipanggil Amel—justru terpaku di tempatnya berdiri. Matanya yang bulat mengerjap-ngerjap penuh binar. Saat Rahsya membuka masker tadi, Amel merasa baru saja melihat penampakan Jaemin NCT versi kearifan lokal yang tersesat di Desa Ci Sepi. Ia cengengesan sendiri di halaman, jari-jemarinya sibuk menyelipkan helaian rambut yang lolos dari cepolan ke belakang telinganya.
"Ngapain masih berdiri di situ? Permisi, saya mau lewat!" ketus Rahsya yang mendadak muncul dari pintu samping garasi sambil menyampirkan tas medisnya, bersiap melangkah menuju pintu utama vila.
"Ehem! Maaf, Kak... aku enggak tahu kalau kakak dokter ini ternyata masih sangat muda," ucap Amel buru-buru meralat panggilannya. Suaranya mendadak melunak, berusaha terdengar semanis mungkin.
Rahsya mendengus. Kakinya tetap melangkah lebar-lebar menaiki teras. "Saya memang masih muda. Terus kamu mau apa?"
"Aku cuma... maksud saya, saya mau berobat, Dok... eh, Kak," ujar Amel sambil membuntuti dari samping dengan langkah-langkah kecil. Ia tersenyum-senyum sendiri, merasakan jantungnya berdebar tidak karuan seperti sedang dikejar deadline skripsi.
Langkah Rahsya terhenti tepat di depan undakan teras utama. Ia berbalik, menatap Amel dengan raut wajah lelah yang sangat kentara.
"Maaf sekali lagi, tadi saya sudah bilang: besok. Sekarang sudah tutup. Lagipula sudah sore, enggak baik anak gadis keluyuran magrib-magrib begini di desa orang. Nanti diculik hantu baru tahu rasa kamu."
Bukannya takut, Amel justru terkekeh manja. Keberaniannya mendadak muncul karena terpesona oleh ketampanan sang dokter.
"Kalau diculiknya sama Kakak sih... aku mau-mau banget."
Rahsya memutar bola matanya begitu kuat hingga otot matanya terasa pegal. Baginya, gadis remaja yang sedang puber ini jauh lebih berbahaya daripada sapi Pak Udin yang mulas atau hantu penunggu telaga gabungan semalam. Tanpa berkata-kata lagi, Rahsya langsung 'nyelonong' masuk ke dalam rumah, meninggalkan Amel yang masih berdiri mematung di halaman.
"Eh, Kak! Mau ke mana? Ih, tega banget sih!" teriak Amel dengan nada yang sengaja dibuat-buat manja, bibirnya dikerucutkan hingga terdengar sangat menggelikan di telinga Rahsya.
"Aku tuh lagi sakit, butuh diobatin sekarang! Kakak tega banget sih sama aku yang lemah ini!"
Rahsya mempercepat langkahnya menutup pintu utama vila, lalu bergumam dalam hati bahwa besok pagi, ia harus memasang papan pengumuman besar di depan pagar: "Hanya Menerima Pasien Normal, Bukan Pasien Modus."
****
Rahsya mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang yang empuk, membiarkan punggungnya yang kaku beradu dengan kasur. Matanya terpejam rapat. Seharian ini ia merasa bukan seperti dokter, melainkan detektif medis yang menangani pasien dengan keluhan ajaib—mulai dari pantat korengan seluas lapangan futsal hingga gadis yang mengaku "sakit asmara".
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu kayu jati itu membuyarkan mimpinya yang baru saja akan dimulai. Rahsya mengerang pelan, meremas bantalnya dengan gemas sebelum akhirnya bangkit dengan rambut acak-acakan.
"Permisi, Den! Ini saya, Pak Mamat."
"Iya, sebentar!" sahut Rahsya dengan nada ketus yang sulit disembunyikan. Ia menyeret kakinya menuju pintu, lalu memutar kunci dengan sentakan kasar.
Begitu pintu terbuka, sosok Pak Mamat—pengurus vila yang selalu tampak sungkan—berdiri di sana sambil meremas-remas jemarinya.
"Ada apa lagi sih, Pak? Saya baru mau merem," tanya Rahsya sambil bersedekap, matanya menyipit karena kantuk yang tertahan.
"Begini, Den. Itu... di bawah ada tamu yang mau menyewa vila selama seminggu," ucap Pak Mamat dengan suara yang agak mengecil.
Rahsya menaikkan sebelah alisnya begitu tinggi, wajahnya tampak tidak percaya. "Nyewa? Pak, Bapak tahu sendiri kan ini vila pribadi keluarga saya? Tidak untuk disewakan kepada umum," tegasnya.
"Iya, saya tahu, Den. Sebenarnya bukan menyewa mungkin ya... lebih tepatnya tinggal sementara waktu di sini. Dia itu cucunya Pak Cahya sama Bu Imas. Kebetulan kakek-neneknya mendadak harus pergi ke luar kota dan menitipkannya ke sini," jelas Pak Mamat sambil mencoba tersenyum tenang.
Rahsya mendengus keras, tangannya bergerak memijat pangkal hidung yang terasa pening. "Memangnya ini tempat penitipan anak, apa? Bapak tahu sendiri kan kalau tujuan saya ke sini itu untuk menenangkan diri dari hiruk-pikuk kota. Saya mau sendiri, Pak! Pokoknya saya tidak mau ada tamu, entah itu cucu siapa... ah, sudahlah. Bapak suruh dia pulang saja sekarang juga!"
Pak Mamat tidak bergeming. Ia justru mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. "Tapi Den, Bapak sama Ibu Aden sudah memberi izin. Beliau sempat menelepon saya dan Pak Cahya tadi sore. Apa Aden tidak takut Bapak marah kalau tahu Aden menolak cucunya Pak Cahya? Asal Aden tahu, Pak Cahya itu teman lama sekaligus rekan penting Bapak."
Rahsya terdiam. Kata 'rekan penting' itu seperti alarm yang berbunyi kencang di otaknya. Ia mencoba mengingat-ingat nama tersebut.
Cahya... Cahya... Bukan judul lagu India yang dulu sempat viral dan sering diputar di radio desa ini, kan?
"Tunggu, Pak. Apa nama panjangnya Pak Cahya itu... Cahyanto?" tanya Rahsya, memastikan firasat buruknya.
Pak Mamat mengangguk cepat, wajahnya terlihat lega. "Betul sekali, Den. Pak Cahyanto yang punya rumah sakit besar itu."
Rahsya tertegun, tangannya yang tadi bersedekap kini jatuh lemas di samping tubuh. Ternyata benar, Cahyanto yang itu. Sosok pemegang saham utama di rumah sakit milik keluarganya sekaligus orang yang paling tidak boleh ia buat tersinggung jika ingin kariernya tetap mulus.
"Mampus saya..." gumam Rahsya lirih sambil menatap langit-langit plafon kamar dengan pasrah.
"Kalau begitu, di mana cucu Pak Cahya itu sekarang, Pak?" tanya Rahsya dengan nada mendesak.
"Ada di ruang tamu, Den," jawab Pak Mamat singkat.
Tanpa membuang waktu, Rahsya langsung melesat. Ia berlari menuruni anak tangga kayu dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi seseorang yang baru bangun tidur. Kaus oversize putih yang ia kenakan menggelembung ditiup angin, sementara kolor hitam pendeknya berkibar-kibar mengikuti gerak kakinya yang jenjang.
Di kepalanya, ia sudah membayangkan akan menjamu seorang bocah SD—mungkin anak kecil yang perlu ditemani bermain mobil-mobilan atau sekadar dibuatkan susu hangat agar tidak rewel.
Namun, begitu kakinya menginjak lantai marmer ruang tamu, Rahsya mengerem mendadak hingga telapak kakinya berdecit. Tubuhnya nyaris terjungkal ke depan.
Pandangannya membentur sosok yang duduk dengan sangat santai di sofa beludru. Bukannya bocah ingusan, ia justru mendapati gadis ber-hoodie hitam yang tadi sore ia usir dengan kasar dari garasi. Gadis itu—Amel—sedang asyik menaruh ponselnya di atas meja, melakukan gerakan tangan yang lincah mengikuti tren TikTok terbaru dengan irama musik yang berdentum nyaring.
"Lagi syantik... emang lagi syantik..." gumam Amel mengikuti lirik lagu, sambil pamer pose peace ke arah kamera.
Rahsya terpaku. Tangannya yang tadi bersiap untuk menyambut "tamu kehormatan" kini terkulai lemas di samping tubuh. Mulutnya sedikit menganga, menatap pemandangan absurd di depannya dengan tatapan tidak percaya.
"Ka-kamu?!" pekik Rahsya, suaranya naik satu oktav, memecah kebisingan musik dari ponsel Amel.
Amel sontak menghentikan gerakannya. Ia menoleh perlahan, lalu matanya yang bulat melebar sempurna. Senyum lebar langsung terukir di wajahnya saat melihat Rahsya yang berdiri dengan penampilan "acak-acakan" tapi tetap terlihat tampan di matanya.
"Eh, Kak Dokter Jaemin?!" seru Amel penuh semangat. Ia segera menyambar ponselnya dan berdiri tegak.
"Wah, gila sih! Ternyata dunia beneran sesempit telaga Ci Sepi ya, Kak?"