Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 25
Pikiran Arsyad sama sekali tak berada di dalam kabin mobilnya sepanjang perjalanan menuju kantor. Kalimat demi kalimat yang diucapkan Zemima, tentang Altamas Group, perjanjian awal soal perselingkuhan, hingga cemoohan dingin istrinya, terus berputar-putar seperti pita kaset rusak di kepalanya.
Setibanya di gedung anak perusahaan Altamas Group tempatnya bekerja, Arsyad melangkah lunglai melewati lorong berpendingin udara. Ia bahkan tak menyadari sapaan dari beberapa staf bawahannya.
Di dalam ruangan kerjanya, Arsyad hanya terduduk kaku di balik meja. Berkas-berkas laporan bulanan dan dokumen evaluasi promosi jabatan yang biasanya menjadi prioritas utamanya kini menumpuk tak tersentuh. Jemarinya sibuk mengetikkan nama "Zemima" dan "Altamas Group" di mesin pencari laptopnya, namun jajaran direksi utama konglomerasi itu begitu tertutup dan tak menampilkan jajaran komisaris secara gamblang di situs publik.
Srettt.
Pintu ruangan kerja Arsyad terdorong terbuka tanpa ketukan. Bayu, sahabat sekaligus rekan manajerialnya yang paling dekat, melangkah masuk membawa dua cangkir kopi panas dan beberapa berkas map merah.
"Syad, ini berkas pengajuan pimpinan cabang yang..." Kalimat Bayu terhenti seketika. Ia mengernyit kaku menatap penampilan Arsyad.
Kemeja kerja Arsyad tampak kusut di bagian lengan, dasinya agak miring, dan wajahnya pucat dengan lingkar hitam tebal di bawah mata. Matanya menatap kosong ke arah layar laptop dengan jemari yang gemetar tipis.
"Astaga, Syad! Kamu kenapa sih?" tegur Bayu heran seraya meletakkan cangkir kopi di sudut meja.
"Muka kamu kaya orang habis ketumpahan musibah. Ada masalah sama berkas promosi pimpinan cabang atau ada masalah di proyek kita yang di Surabaya? Atau kamu sakit?"
Arsyad menyentak kaku, terkejut oleh kedatangan sahabatnya. Ia buru-buru menutup jendela browser di layar laptopnya dan mencoba mengusap wajah secara kasar untuk menutupi rasa paniknya.
"Ngg... Nggak kok, Bay. Masuk angin aja dikit," ngeles Arsyad gagap, membetulkan letak dasinya dengan canggung.
"Gara-gara proyek Surabaya kemarin, capeknya baru berasa sekarang."
Bayu menarik kursi di hadapan Arsyad, lalu duduk seraya menyandarkan punggungnya. Ia menatap Arsyad dengan picik, sama sekali tak percaya pada alasan murahan itu.
"Halah, ngeles aja kamu! Wong kemarin pas baru balik dari Surabaya mukamu segar-segar aja," sahut Bayu tertawa kecil, sebelum raut wajahnya kembali serius.
"Lagian dari tadi aku perhatiin waktu rapat singkat sama divisi HRD, kamu bengong terus. Dipanggil Pak Direktur dua kali aja kamu nggak dengar. Kamu ada masalah sama Zemima?"
Mendengar nama istrinya disebut, Arsyad mendadak menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya yang mengering membuat suaranya terdengar sumbang.
"Bukan masalah gimana-gimana, Bay..." bisik Arsyad ragu-ragu. Ia menggeser duduknya, menatap Bayu dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang tak bisa lagi ia bendung.
"Bay... kamu kan sudah lima tahun kerja di sini, lebih lama dari aku. Kamu tahu banyak kan soal jajaran eksekutif atau orang-orang penting di Perusahaan Utama Altamas Group?"
Bayu menaikkan sebelah alisnya, heran dengan arah pembicaraan sahabatnya.
"Altamas Pusat? Ya tahu dikit-dikit lah. Kan tiap akhir tahun kita kirim laporan keuangan ke holding pusat. Kenapa emangnya? Kamu mau nyoba peruntungan pindah ke gedung pusat?"
"Nggak... bukan gitu," Arsyad memajukan tubuhnya, menatap Bayu intens.
"Kamu... pernah dengar nggak, ada nama Zemima di jajaran orang penting atau petinggi Altamas Pusat?"
Bayu tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan itu, mengira Arsyad sedang melontarkan lelucon konyol di pagi hari.
"Ya kali, Syad! Maksudmu Zemima istrimu itu?" Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menyesap kopi.
"Kamu ini ada-ada saja. Setahuku kan Zemima dari dulu cuma kerja di kantor swasta biasa. Ya nggak mungkinkah ada di Altamas Pusat! Masuk ke holding pusat itu seleksinya setengah mati, jangankan jadi petinggi, jadi staf biasa aja susah!"
Arsyad menyandarkan punggungnya ke kursi, sedikit bernapas lega mendengar jawaban Bayu. Bener kan... Zemi cuma gertak sambal. Bayu aja nggak pernah dengar namanya!
Namun, kelegaan Arsyad hanya bertahan beberapa detik sebelum Bayu kembali membuka mulutnya seraya mengetuk-ngetuk dagu, seolah baru teringat sesuatu.
"Tapi... tunggu deh," gumam Bayu, keningnya berkerut dalam.
"Sebentar... kalau nama 'Zemima' secara langsung sih aku nggak pernah dengar di rilis pers harian. Tapi... pendiri utama Vans Holding yang pegang saham mayoritas Altamas Group itu kan marganya Vans. Dan seingatku, anak tunggal almarhum pemilik dasarnya... namanya memang ada Zemimanya gitu. Tapi orangnya low profile banget, nggak pernah mau disorot media."
Deg!
Darah di tubuh Arsyad mendadak berhenti mengalir. Wajahnya yang semula agak segar kini kembali pucat pasi bagaikan kertas.
"Maksud kamu... gimana, Bay?!" cecar Arsyad, suaranya melengking tajam sampai membuat Bayu terkejut.
"Marga Vans?! Anak tunggal pemilik saham mayoritas?!"
"Woi! Biasa aja kali, nggak usah bentak-bentak!" potong Bayu kaget seraya menepuk meja.
"Ya aku cuma ingat samar-samar berkas kepemilikan saham waktu verifikasi promosi jabatan tahun lalu! Kenapa sih kamu mendadak panik banget gitu? Muka kamu kaya orang habis liat hantu!"
Arsyad tak mendengarkan omelan Bayu lagi. Kata-kata sahabatnya bagaikan petir yang menyambar tepat di atas kepalanya. Pria itu teringat nama lengkap istrinya yang tertera di dokumen pernikahan mereka lima tahun lalu, Zemima V.A.
Selama ini, Arsyad selalu mengira huruf 'V.A' di tengah dan akhir nama istrinya hanyalah singkatan nama biasa, dan Zemima hanyalah wanita yatim piatu yang ditinggali rumah sederhana serta tabungan pas-pasan. Tapi apa benar kalau Zemima adalah orang yang sama dengan pemiik holding ini?"
Tangan Arsyad mulai gemetar hebat di atas meja. Keringat dingin merembes keluar dari pori-pori dahinya.
"Syad... kamu beneran nggak apa-apa?" tanya Bayu cemas melihat sahabatnya mendadak membisu dengan mata melotot membentak layar.
"Kamu kok kaya ketakutan banget gitu? Jangan bilang... Zemima istrimu itu..."
"Bukan! Bukan apa-apa!" potong Arsyad histeris, berdiri mendadak dari kursinya hingga membuat cangkir kopi di meja sedikit tergoyang.
"Bay, aku... aku harus keluar sebentar. Ada urusan mendadak!"
Tanpa memedulikan tatapan kebingungan dari Bayu, Arsyad menyambar kunci mobilnya di atas meja dan setengah berlari keluar dari ruangan kerja, meninggalkan sahabatnya yang melongo tak paham di dalam ruangan.