NovelToon NovelToon
Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Di Balik Kaca Kantor

Hari penyerahan laporan akhir audit proyek cabang Bandung itu akhirnya tiba. Di kamar kos berukuran tiga kali tiga meter di Jalan Melati, Keira sempat merasakan sisa-sisa ketegangan yang terbawa oleh kepenatan Davin semalam. Namun, seiring bergesernya jarum jam menuju siang hari, atmosfer di dalam kamar kembali melunak ke dalam ritme yang lebih tenang.

Buku zine independen kiriman Rian dan amplop coklat berisi honor pertama Keira kini sudah tersimpan jauh di bagian paling dasar tumpukan diktat kuliah aman, tersembunyi, dan sepenuhnya menjadi rahasia kecil yang memperkuat batinnya.

Keira tidak lagi merasa cemas setiap kali ia menatap buku sketsanya. Ada keyakinan baru yang tumbuh subur di dalam kepalanya, sebuah rasa percaya diri yang tidak perlu diumumkan kepada siapa pun, cukup dirasakan sebagai denyut napas yang mandiri.

Pukul dua siang, ketika matahari Kota Bimantara bersinar terik membakar aspal jalanan, ponsel retak milik Keira tiba-tiba berdering pendek.

Bukan pesan dari Rian, dan bukan pula pesan dari Amara.

Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal mendarat di layar layaknya percikan api di sekam kering.

“Mbak Keira? Maaf mengganggu waktunya siang-siang gini. Saya Nadia, rekan kerja Davin di kantor. Kalau ada waktu luang sebentar, bolehkah kita bertemu di kafe dekat gedung kantor Jalan Sudirman sore ini sekitar jam empat? Ada hal penting terkait Davin yang ingin saya bicarakan langsung dengan Mbak.”

Jantung Keira seolah berhenti berdetak selama sepersekian detik.

Nama itu Nadia yang selama ini hanya ia dengar sebagai keluhan lelah dari mulut Davin, yang namanya terselip di dalam memo perjalanan dinas beberapa minggu lalu, kini tiba-tiba muncul di layar ponselnya, mengajak bertemu empat mata secara langsung.

Darah Keira berdesir dingin. Ponsel di dalam genggamannya terasa begitu panas. Segala ketenangan yang baru saja ia bangun selama beberapa minggu terakhir mendadak terguncang hebat oleh beberapa baris kalimat sederhana tersebut.

Kenapa Nadia ingin bertemu? Apakah ada hubungannya dengan proyek Bandung? Atau... apakah ada sesuatu tentang Davin yang selama ini tidak ia ketahui?

Berbagai macam pikiran buruk, kecurigaan lama, dan ketakutan yang sempat mereda seketika bangkit kembali menghantam rongga dadanya. Selama ini, Keira berusaha meyakinkan dirinya bahwa kemarahan Davin pada Nadia di kantor adalah bukti sahih bahwa hubungan mereka murni profesional.

Namun, ajakan pertemuan rahasia di luar jam kantor ini meruntuhkan logika tersebut dalam sekejap. Ada rahasia apa di balik hubungan kerja itu yang harus dibicarakan secara khusus dengan kekasih di rumah?

Jemarinya sempat gemetar hebat di atas papan tik ponsel. Keinginan untuk menolak, menghapus pesan itu, dan pura-pura tidak melihatnya berkelebat kuat di kepalanya.

Keira adalah perempuan yang terbiasa menghindari konflik, memilih diam, dan berlindung di balik kenyamanan semu kamar kosnya.

Namun, rasa penasaran yang bercampur dengan ketakutan yang teramat sangat menahan ibu jarinya. Bayangan tentang memo lembar pengeluaran hotel dan nama yang terus-berulang dalam lembar dokumen itu kembali terbayang jelas di pelupuk matanya.

Dengan tarikan napas yang berat dan dada yang bergemuruh kencang, Keira akhirnya mengetik balasan singkat dengan jari yang masih kaku:

“Baik, saya bisa. Kafe mana di Jalan Sudirman?”

Tidak sampai lima menit kemudian, balasan masuk menyebutkan sebuah nama kedai kopi kecil di seberang gedung perkantoran tempat Davin bekerja.

Sisa sore hari itu berjalan seperti dalam kabut bagi Keira. Ia mengganti kerudungnya dengan warna hitam yang lebih netral, merapikan penampilannya di depan cermin kecil dinding kos, dan melangkah keluar kamar dengan hati yang dipenuhi beban berat.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia melangkah meninggalkan Jalan Melati bukan untuk menemui Amara atau sekadar membeli keperluan warung, melainkan untuk menemui seseorang yang selama ini menjadi sumber bayangan paling gelap dalam hubungan asmaranya dengan Davin.

Kedai kopi di seberang Jalan Sudirman itu tampak cukup lengang di jam-jam sibuk menjelang sore. AC ruangan mendengung pelan, beradu dengan suara alunan musik instrumental yang lembut dari pengeras suara kafe.

Keira memilih meja di sudut ruangan, agak terhalang oleh tanaman hias pot besar agar tidak terlalu mencolok dari luar. Ia memesan segelas teh hangat yang sejak tadi hanya ia aduk-aduk tanpa pernah disentuh bibirnya.

Matanya terus menatap ke arah pintu masuk, menunggu sosok perempuan yang namanya telah menghantui pikirannya selama berbulan-bulan.

Tepat pukul empat lewat lima belas menit, lonceng kecil di atas pintu kafe berbunyi nyaring.

Seorang perempuan berbadan tegap, mengenakan blazer formal abu-abu tua dengan tas kerja tersampir di bahunya, melangkah masuk ke dalam ruangan.

Pandangannya menyapu seisi kafe sebelum akhirnya berhenti tepat di meja sudut tempat Keira duduk.

Nadia Paramita.

Perempuan itu tampak persis seperti bayangan yang ada di kepala Keira tegas, profesional, dengan potongan rambut sebahu yang rapi dan wajah yang menyiratkan kecerdasan sekaligus ketajaman berpikir. Tidak ada kesan perempuan genit atau urakan seperti dalam sinetron; Nadia memancarkan aura seorang profesional kantor yang terbiasa memegang kendali atas angka-angka dan laporan rumit.

Nadia melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di depan meja Keira. Senyuman tipis tersungging di bibirnya, meski sorot matanya tampak menyembunyikan kelelahan dan ketegangan yang pekat.

"Mbak Keira, ya?" sapa Nadia dengan suara yang tenang dan berwibawa. "Terima kasih banyak sudah mau meluangkan waktu datang ke sini."

Keira mendongak, merasakan tenggorokannya mendadak kering. Ia mengangguk kaku. "Iya, benar. Silakan duduk, Mbak Nadia."

Nadia menarik kursi di hadapan Keira, meletakkan tas kerjanya di samping, lalu memesan segelas air mineral kepada pelayan kafe yang datang menghampiri.

Selepas pelayan itu pergi, suasana di antara mereka sempat terdiam beberapa saat, diisi oleh suara dengungan AC dan denting cangkir dari meja sebelah.

Nadia menatap Keira lekat-lekat, seolah sedang menimbang-nimbang bagaimana harus memulai pembicaraan yang pelik ini.

Ada jeda yang cukup panjang sebelum perempuan itu akhirnya menarik napas dalam-dalam.

"Mungkin Mbak Keira kaget atau bahkan bertanya-tanya kenapa saya tiba-tiba ngajak ketemuan begini," ucap Nadia memulai pembicaraan, suaranya terdengar hati-hati namun tegas. "Jujur, keputusan buat nemui Mbak Keira secara langsung ini bukan hal yang gampang buat saya. Tapi saya merasa ada beberapa hal soal Davin dan proyek Bandung kemarin yang sebaiknya tidak ditutup-tutupi begitu saja."

Jantung Keira berdegup kencang mendengar nama Davin disebut di kalimat pertama. Ia menggenggam erat cangkir teh di hadapannya, berusaha mempertahankan ekspresi setenang mungkin di balik kerudung hitamnya.

"Ada apa dengan Davin dan proyek Bandung?" tanya Keira pelan, suaranya nyaris berbisik namun tajam.

Nadia menghela napas panjang, merapikan letak jarinya di atas meja. "Selama ini, di kantor, Davin mungkin sering cerita kalau saya adalah rekan kerja yang rewel, yang suka bikin pusing kepala, atau yang sering berbeda pendapat soal rekap data, kan?"

Pertanyaan itu menohok tepat di tengah dada Keira. Itulah persis cerita yang selalu dibawa pulang oleh Davin ke kamar kos setiap kali lelaki itu mengeluhkan pekerjaannya.

"Davin memang sering bilang kalau kalian sering tidak sejalan soal laporan keuangan," jawab Keira jujur.

Nadia tersenyum tipis, senyuman yang menyiratkan rasa frustrasi yang mendalam.

"Itu memang terjadi di kantor, Mbak Keira. Tapi ada alasan kenapa ketidak cocokan itu sengaja dibuat runcing. Selama persiapan audit cabang Bandung ini, ada beberapa bagian data laporan yang mendadak diminta oleh Davin untuk disesuaikan ulang diubah dari angka aslinya di lapangan."

Nadia merogoh tas kerjanya, lalu mengeluarkan sebuah map plastik bening tipis berisi beberapa lembar cetakan dokumen kantor. Ia mendorong map itu perlahan di atas meja ke arah Keira.

Keira menatap map tersebut dengan perasaan ngeri. Jemarinya ragu-ragu untuk menyentuhnya.

"Apa ini?" tanya Keira, suaranya mulai bergetar.

"Itu adalah salinan lembar perbandingan data rekapitulasi anggaran proyek cabang Bandung yang sempat saya pegang," kata Nadia dengan nada suara yang serius namun terjaga. "Mbak Keira tahu kenapa kemarin-kemarin saya sering adu argumen sama dia di ruang rapat? Bukan karena saya salah hitung atau ceroboh seperti yang mungkin diceritakan. Tapi karena ada beberapa pos pengeluaran dalam laporan itu yang tidak sinkron antara data pusat dan kondisi fisik di lapangan, dan Davin meminta saya untuk menyetujui penyesuaian angka tersebut agar laporan terlihat bersih."

Pernyataan itu meluncur bagaikan lemparan batu ke dalam air tenang, memicu riak-riak kecurigaan yang selama ini berusaha ditekan oleh Keira.

Keira tertegun, matanya membelalak menatap lembaran dokumen di dalam map transparan tersebut. Seluruh darahnya terasa surut ke kaki.

"Menyesuaikan... angka?" ulang Keira dengan suara terbata-bata. "Maksud Mbak Nadia, Davin sengaja mengubah data laporan keuangan?"

"Saya tidak bilang dia berniat melakukan kecurangan besar, Mbak Keira," potong Nadia cepat dengan nada penuh kehati-hatian.

"Saya tahu Davin adalah manajer yang punya reputasi bagus di perusahaan. Tapi dalam praktiknya, sebagai atasan langsung di proyek ini, dia punya wewenang penuh untuk merumuskan ulang laporan sebelum diserahkan ke pusat. Masalahnya, ketika saya menanyakan dasar perubahan beberapa angka yang janggal itu, Davin justru bersikap defensif, meminta saya tidak terlalu banyak bertanya, dan mulai menyudutkan saya di hadapan tim seolah-olah sayalah yang memperlambat pekerjaan."

Nadia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mata Keira dengan tatapan yang sarat akan peringatan dan rasa lelah.

"Proyek Bandung itu memang rumit, dan tekanan dari atasan besar pasti ada. Tapi cara Davin menangani perbedaan data di internal tim membuat saya merasa ada sesuatu yang sengaja ditutupi. Ketika saya mencoba mempertahankan prosedur pencatatan yang benar, dia mulai mendiskreditkan saya di depan rekan kerja lain."

Keira menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba merespons informasi yang datang bertubi-tubi itu. Pertahanan psikologis yang ia bangun selama berbulan-bulan bahwa dunia kerja Davin adalah wilayah asing yang keras namun terpisah dari hubungan mereka kini mulai terusik oleh bayangan-bayangan abu-abu yang belum memiliki bentuk pasti.

"Kenapa Mbak Nadia cerita ini ke saya?" tanya Keira dengan suara parau, keraguan menggelayut di benaknya. "Kalau memang ada selisih data atau masalah pekerjaan di kantor, kenapa tidak diselesaikan lewat jalur internal perusahaan? Kenapa harus melibatkan saya?"

Nadia bersandar kembali ke kursi, menghela napas panjang dengan pandangan menerawang ke luar jendela kafe yang mulai basah oleh rintik hujan sore.

"Karena saya sudah mencoba bicara dengannya berkali-kali secara baik-baik di kantor, Mbak, tapi dia selalu menutup ruang diskusi," jawab Nadia lirih. "Dan alasan kenapa saya menemui Mbak Keira hari ini... bukan cuma karena urusan laporan yang menggantung. Tapi karena saya ingin ada orang terdekatnya yang tahu bahwa situasi di kantor tidak sedang baik-baik saja, dan ada hal-hal terkait keputusan Davin yang membuat posisi tim keuangan berada dalam tekanan besar."

Kalimat Nadia menggantung di udara dingin kafe, meninggalkan keheningan yang tebal di antara deru suara mesin kopi.

Keira terdiam kaku di kursinya. Lembaran map transparan di atas meja itu tampak seperti teka-teki rumit yang belum ia ketahui ujung pangkalnya. Selama ini ia mengira masalah Davin hanyalah kelelahan fisik akibat kemacetan dan tumpukan berkas.

Hari ini, ia mendapati kenyataan bahwa di balik meja kerja kekasihnya, ada ketegangan profesional, perbedaan prinsip, dan manipulasi data yang membuat relasi di kantor berjalan penuh duri.

Hujan sore di luar kafe kini turun semakin deras, menghantam kaca jendela dan mengaburkan pemandangan jalanan di seberang sana, persis seperti kabut keraguan yang kini menyelimuti benak Keira sepulangnya dari pertemuan tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!