NovelToon NovelToon
MENG LIN DI ERA 1970 AN

MENG LIN DI ERA 1970 AN

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:16.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.

Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.

Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.

Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.

"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Perkelahian

Malam pertama berlalu dengan tidur yang tidak terlalu nyenyak. Suara roda kereta yang terus bergesekan dengan rel membuat sebagian besar penumpang hanya bisa tidur dalam keadaan setengah sadar.

Sesekali terdengar suara anak kecil menangis, suara orang batuk, atau bunyi barang yang bergeser ketika kereta melewati sambungan rel.

Meng Lin terbangun beberapa kali. Setiap kali membuka mata, ia hanya melihat bagian dalam gerbong yang remang-remang. Yan Rao tidur di sampingnya dengan kepala sedikit miring ke arah jendela. Keduanya bertukar tempat duduk.

Meng Lin tidak membangunkannya. Ia hanya menarik kembali selimut tipis sampai menutupi tubuh Yan Rao, lalu memejamkan mata lagi.

Pagi harinya, suasana gerbong mulai ramai.

Beberapa penumpang membuka bekal. Aroma ubi rebus, telur, roti kukus, dan acar memenuhi udara.

Yan Rao mengusap matanya sebelum duduk.

"Sudah pagi?"

"Sudah."

Yan Rao melihat ke luar jendela. Pemandangan kota sudah lama menghilang. Yang terlihat sekarang hanya hamparan sawah, rumah-rumah sederhana, dan beberapa bukit yang semakin sering muncul di kejauhan.

"Kita masih belum sampai?"

"Belum."

Yan Rao menghela napas panjang. "Perjalanan ini benar-benar lama."

Meng Lin hanya tersenyum tipis.

Di kursi depan mereka, Liu Fang dan Sun Qiao juga sudah bangun. Zhao Mei sedang merapikan rambutnya menggunakan cermin kecil.

Beberapa saat kemudian, Liu Fang bertanya "Kalian mau makan?" Ia mengangkat sebuah kantong kain kecil.

"Aku masih punya beberapa bakpao."

Yan Rao segera menggeleng. "Tidak perlu. Kami masih punya."

Liu Fang tersenyum. "Kalau begitu nanti saja."

Percakapan kecil itu segera berhenti. Tidak lama kemudian, kereta mulai memperlambat lajunya.

Seorang penumpang berdiri dan melihat keluar jendela. "Sepertinya sebentar lagi berhenti."

Benar saja. Beberapa menit kemudian kereta berhenti di sebuah stasiun kecil.

Pintu gerbong dibuka. Sebagian penumpang turun untuk membeli air atau sekadar menghirup udara segar. Beberapa orang baru naik membawa barang-barang mereka.

Meng Lin tetap duduk. Ia memperhatikan orang-orang yang masuk tanpa banyak minat.

Sampai sekelompok lelaki naik dari pintu gerbong sebelah. Jumlahnya sekitar lima orang.

Usia mereka rata-rata dua puluhan sampai tiga puluhan. Pakaian mereka sederhana, tetapi beberapa di antaranya tampak kotor seperti baru bekerja.

Mereka membawa tas kain besar. Salah satu dari mereka langsung melihat ke seluruh gerbong.

Tatapannya berhenti beberapa detik pada rak barang di atas kepala penumpang. Kemudian berpindah.

Meng Lin tidak mengatakan apa-apa. Lelaki itu akhirnya berjalan ke bagian tengah gerbong.

Salah seorang temannya melihat sebuah kursi kosong yang sebagian tertutup oleh tas milik seorang pemuda.

"Hei."

Pemuda itu menoleh.

"Geser barangmu."

Pemuda tersebut mengernyit. "Ini tempat saya."

Lelaki itu menunjuk kursi di sebelahnya. "Yang ini kosong."

"Teman saya turun membeli air."

"Kalau temanmu belum kembali, berarti kursinya kosong."

Pemuda itu tidak menjawab. Ia hanya menarik tasnya lebih dekat. Lelaki tersebut mendengus.

"Anak muda sekarang..."

Salah satu temannya tertawa kecil. "Sudahlah. Duduk saja di sana."

Namun lelaki pertama masih berdiri. Ia menatap pemuda itu beberapa saat sebelum akhirnya mengambil kursi di seberangnya.

Suasana menjadi sedikit canggung. Yan Rao mendekatkan tubuhnya ke Meng Lin. "Kelihatannya mereka bukan orang baik."

Meng Lin meliriknya. "Jangan terlalu diperhatikan."

Yan Rao mengangguk.

Kereta kembali bergerak. Beberapa menit pertama tidak terjadi apa-apa. Namun Meng Lin menyadari sesuatu.

Salah satu lelaki tadi beberapa kali melihat ke rak barang. Bukan sekadar melihat. Tatapannya berpindah dari satu tas ke tas lainnya.

Tas milik para pemuda terpelajar. Tas milik perempuan. Lalu kembali lagi ke rak.

Meng Lin tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menarik tas kain miliknya yang diletakkan di bawah kursi agar lebih dekat dengan kaki.

Yan Rao melihat gerakannya. "Kamu kenapa?"

"Barangku terlalu jauh."

"Oh." Yan Rao juga menarik barangnya sendiri.

Beberapa saat kemudian, seorang lelaki yang duduk di seberang berdiri. Ia berjalan melewati kursi Meng Lin.

Saat melewatinya, matanya sempat jatuh pada koper Meng Lin. Ia tidak menyentuhnya. Hanya melihat.

Meng Lin mengangkat wajah. Pandangan mereka bertemu. Lelaki itu langsung mengalihkan mata dan berjalan terus.

Tidak lama kemudian, terdengar suara gaduh dari bagian belakang.

"Hei! Jangan ambil barang orang." Seorang penumpang berdiri.

Lelaki yang tadi meminta kursi juga berdiri.

"Aku cuma lewat."

"Jangan bohong. Tanganmu tadi sudah menyentuh tas itu."

"Aku menyentuh tasmu?"

"Ya."

Beberapa penumpang mulai menoleh.

Salah satu lelaki dari kelompok itu tertawa.

"Barangmu hilang?"

"Belum."

"Kalau belum hilang, ribut untuk apa?"

Pemuda yang membawa tas tersebut terlihat marah. "Aku melihat sendiri tangannya."

Suasana mulai memanas. Salah satu teman lelaki itu mendorong bahu pemuda tersebut.

"Jangan menuduh sembarangan."

Pemuda itu mundur satu langkah. "Jangan dorong saya."

Dorongan kedua datang lebih keras. Kali ini pemuda tersebut membalas dengan mendorong dada lelaki itu.

Semuanya terjadi sangat cepat. Lelaki pertama langsung menarik kerah pemuda itu.

Kursi bergeser. Beberapa penumpang berteriak.

"Jangan berkelahi!"

Namun lelaki lain sudah ikut maju.

Gerbong yang sempit membuat keadaan semakin kacau.

Meng Lin langsung berdiri.

Yan Rao menarik lengannya. "Jangan ikut!"

"Aku tidak ikut." Meng Lin justru menarik Yan Rao sedikit menjauh dari keributan.

Tetapi salah satu lelaki yang mundur dalam perkelahian kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh ke arah mereka.

Yan Rao tersentak. Meng Lin refleks menarik bahunya ke samping. Lelaki itu menabrak sisi kursi. Koper di atas rak ikut bergeser dan hampir jatuh.

Meng Lin mengangkat tangan untuk menahannya. Koper itu jatuh tepat beberapa jengkal dari kepala Yan Rao.

"Ah...!"

Yan Rao pucat.

Meng Lin segera menariknya menjauh. "Jangan berdiri di sini."

Mereka berpindah ke sisi dekat jendela. Perkelahian akhirnya dihentikan oleh beberapa penumpang yang lebih tua. Seorang petugas kereta juga datang setelah mendengar keributan.

"Kalian mau membuat keributan sampai kapan?"

Semua orang akhirnya mundur.

Pemuda yang tadi dituduh masih terlihat kesal.

"Saya benar-benar melihat dia menyentuh tas saya."

Petugas memandang kelompok lelaki itu.

"Kalau tidak ada barang yang hilang, jangan membuat keributan."

Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya mengusap sudut bibirnya yang sedikit terluka.

Setelah petugas pergi, suasana perlahan kembali tenang. Namun tidak sepenuhnya.

Meng Lin kembali duduk.

Yan Rao masih terlihat gugup. "Tadi kalau kamu tidak menarikku..."

"Kamu tidak apa-apa." tanya Meng Lin.

Yan Rao mengangguk. "Aku baik-baik saja. "Ia kemudian memperhatikan Meng Lin. "Tanganmu terluka."

Meng Lin melihat telapak tangannya.w Ada goresan kecil akibat sisi koper. "Sedikit."

Yan Rao hendak mengambil saputangan.

"Tunggu, aku bersihkan."

Meng Lin membiarkannya. Dia menggerutu dalam hati, kenapa ada saja hal seperti itu.

Sementara itu, kelompok lelaki tadi kembali duduk. Tidak ada yang berbicara.

Namun Meng Lin memperhatikan satu hal.

Tas pemuda yang tadi dituduh disentuh ternyata sekarang sudah dipindahkan ke bawah kursinya.

Dan salah satu lelaki dari kelompok itu kembali melihat ke arah rak barang.

Kali ini Meng Lin tidak mengalihkan pandangan.

Lelaki tersebut juga menyadarinya. Mereka saling menatap selama beberapa detik.

Kemudian lelaki itu tersenyum tipis.

Meng Lin tidak membalas. Ia hanya menurunkan pandangan dan merapikan tali tasnya.

Ada sesuatu yang tidak beres. Bisa saja semua itu hanya kebetulan. Tetapi jika mereka memang sedang mencari kesempatan untuk mengambil barang milik penumpang, perkelahian tadi mungkin bukan sekadar masalah kursi.

Meng Lin menyimpan pikirannya sendiri.

Ia tidak berniat menjadi pahlawan. Yang penting adalah menjaga barang miliknya dan memastikan Yan Rao tidak terseret masalah.

Beberapa jam kemudian, salah satu lelaki itu turun di stasiun berikutnya.

Dua orang lainnya ikut turun.

Tinggal dua orang.

Sebelum turun, salah satu dari mereka sempat berbicara pelan kepada temannya.

Meng Lin tidak mendengar jelas. Tetapi setelah mereka pergi, lelaki yang tersisa langsung melihat ke arah rak barang.

Kali ini seorang pemuda terpelajar yang duduk di seberang menyadarinya juga.

Ia diam-diam memindahkan tasnya ke pangkuan.

Meng Lin melihat itu. Tanpa perlu berkata apa-apa, ia tahu pemuda itu juga sudah mulai waspada.

Perjalanan masih panjang.

.

.

.

.

1
Musdalifa Ifa
klo boleh request Thor tolong upnya dibanyakin🙏🤭🤭🤭
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
terus sehat n lanjut
Heni Setiyaningsih
tetap sehat dan semangat
next double up ya Thor 😁
Musdalifa Ifa
tambah up Thor 🙏
Kia Zahra
tes dulu
Fauziah Daud
lanjuttt
Heni Setiyaningsih
tolong tambah lagi upload nya kurang klo 1 bab
Andira Rahmawati
thorr knp up nya cuma satu eps aja..double up lagi dong thorrr👍👍🙏💪
Fauziah Daud
terus sehat
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
update nya kurang banyak Thor 😀👍
Kusii Yaati
kurang banyak Thor 🤗
Fii
maaf jarang update. kurang sehat 🙏🙏
Musdalifa Ifa: semoga cepat sembuh thor💪
total 1 replies
Fauziah Daud
trusemangattt
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat biar bisa update setiap hari 😍😀
Rochmanah Setyowati
ditunggu upnya thor 💪💪💪👍👍👍
Yani
lanjut Thorr
gift ☕ biar semangat 🥰🥰
Fauziah Daud
sehat selalu n lanjut
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat 😍💪
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!