Luna meninggal tepat di usianya yang masih tergolong muda, percintaan juga kehidupan yang tak pernah memihaknya membuatnya jatuh terperangkap semakin dalam pada dusta.
Tidak ada yang berjalan baik dalam kehidupannya, namun sebuah keajaiban membuatnya memiliki satu kesempatan untuk mengulang segala hal dan merubahnya menjadi lebih baik.
"Aku.... aku masih hidup?" ucap Luna dengan raut wajah yang tak percaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Rania...." jawab Lucas pada akhirnya.
Entah apa yang tengah dipikirkan oleh Lucas saat ini, namun mendadak hati kecilnya mengatakan jika ia bisa berbagi cerita ini dengan istrinya. Lucas yakin jika Angel akan tetap berada di pihaknya meski telah ia katakan yang sebenarnya tentang kebenaran dari seorang Rania.
"Memangnya ada apa dengan Rania? Apakah ada sesuatu? Atau mungkin keberadaan Rania sudah di temukan?" ucap Angel dengan penuh ke khawatiran.
"Sebenarnya selama ini....." ucap Lucas hendak mulai bercerita, hanya saja langsung terhenti begitu suara bariton Pria tua terdengar menggema menghentikan perkataannya.
"Lucas!" pekik Razan dengan nada yang tegas.
"Pa....pa" ucap Lucas dengan raut wajah yang terkejut.
"Papa ingin bicara dengan mu, ikut Papa sekarang juga!" ucap Razan dengan tegas sambil berlalu pergi dari hadapan keduanya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi? Mengapa wajah Papa begitu menyeramkan?" tanya Angel setelah kepergian Razan dari sana.
"Hanya masalah lama, aku pergi dulu ya..." ucap Lucas berusaha untuk bersikap wajar.
"Baiklah ...." ucap Angel pada akhirnya.
.
.
.
Ruang kerja Razan
Lucas mengambil langkah kaki perlahan memasuki area ruang kerja Razan, ada sedikit perasaan gugup dalam dirinya. Sepertinya Razan tahu, jika Lucas hendak bercerita masalah Rania pada Angel, hal tersebut mungkin saja mengundang amarah Razan kepada dirinya.
"Pa...." ucap Lucas kemudian yang lantas membuat Razan berbalik menghadap ke arahnya.
"Apa maksud ucapan mu kepada Angel ha? Apa kau ingin mengakui segalanya? Jangan bodoh Lucas! Meski Angel adalah istri mu, tapi dia tetaplah orang lain!" pekik Razan secara langsung yang lantas membuat Lucas terdiam seribu bahasa.
"Aku....aku hanya ingin berbagi beban berat yang aku tanggung selama ini Pa...aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi." ucap Lucas dengan nada yang terdengar lirih.
"Beban berat katamu? Semua ini terjadi karena ulah mu sendiri! Sekarang kau malah berbuat seolah-olah kau adalah korban, jangan pernah berulah lagi Lucas, sudah cukup apa yang ku lakukan untuk mu di masa lalu. Jika semua ini terbongkar dan naik ke permukaan tidak hanya kau yang akan mendekam di penjara, tapi aku dan juga perusahaan yang ku bangun sejak lama akan runtuh hanya karena ulah bodoh mu itu! Apa kau belum mengerti juga?" pekik Razan dengan nada yang kesal.
"Maafkan aku Pa.... Aku benar-benar tidak memperhitungkannya sampai ke sana." ucap Lucas menyesal yang lantas membuat helaan napas kasar terdengar dari Razan.
"Sudahlah, aku harap kamu bisa belajar dari kejadian ini!" ucap Razan pada akhirnya.
Ketegangan benar-benar terjadi di antara keduanya, hingga Razan maupun Lucas sama sekali tidak menyadari akan kehadiran Angel yang sedari tadi mendengarkan percakapan keduanya tepat di balik pintu ruangan tersebut.
Angel menutup mulutnya dengan rapat, entah apa yang sebenarnya terjadi tapi Angel yakin segala sesuatunya bukanlah hal yang baik.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepada Rania? Mengapa Papa terdengar begitu takut jika seseorang mengetahui kebenarannya?" ucap Angel dalam hati seakan berusaha menerka apa yang sebenarnya terjadi.
Sampai kemudian sebuah suara pintu yang terbuka dari dalam, lantas membuyarkan lamunan Angel saat itu.
Krietttttt....
"Angel.....apa yang kamu lakukan di sini? Kamu menguping?" ucap Lucas begitu ia keluar dari ruangan Razan dan malah mendapati Angel sudah berdiri tepat di depan pintu.
"Ti....tidak aku baru datang hendak mengetuk pintu, namun kamu malah muncul dan mengejutkan ku." ucap Angel berusaha untuk menghindar.
"Benarkah? Kamu tidak sedang menipuku kan?" tanya Lucas dengan tatapan tak percaya.
"Tentu saja, aku datang untuk memberitahu kalian berdua jika makanan sudah siap tidak lebih... Mengapa kamu malah mencurigai ku seperti ini? Sebenarnya apa yang kalian berdua bicarakan sampai kamu takut jika aku mendengarkannya?" ucap Angel kemudian memancing, yang lantas membuat Lucas terdiam.
"Tidak ada hal yang penting, sudahlah....." ucap Lucas kemudian berlalu pergi dari sana karena takut jika Angel akan kembali bertanya.
"Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres, aku akan cari tahu apa itu!" ucap Angel dalam hati sambil menatap kepergian Lucas dari pandangannya.
****
Sementara itu di sebuah mall yang masih terletak di Ibukota, terlihat Luna tengah melangkahkan kakinya mencari sesuatu untuk ulung tahun Sagara.
Dua hari lagi adalah ulang tahun Sagara, ini kali pertama Luna begitu antusias untuk merayakannya sekaligus mencari kado untuk Sagara.
Luna menyusuri setiap area pertokoan yang terletak di dalam mall, baik dari lantai pertama hingga lantai ketiga. Sampai kemudian langkah kakinya terhenti pada sebuah toko perhiasan sekaligus jam dengan merk ternama di mancanegara.
Luna melihat setiap set barang yang tertata di etalase, berharap ada satu buah barang yang akan menarik perhatiannya dan tentu saja cocok untuk Sagara.
"Bisa minta tolong yang ini..." ucap Luna dan sebuah suara seseorang yang hampir bersamaan, membuat keduanya langsung saling pandang satu sama lain.
"Kau...." pekik Luna dan juga seseorang yang ternyata adalah Elika.
Keduanya saling pandang satu sama lain, sepasang kancing dengan ukiran daun semanggi berlapis emas 24 karat dan beberapa aksen permata di atasnya, entah mengapa malah menjadi incaran keduanya. Mungkin hanya sebuah kebetulan atau memang keduanya memiliki selera yang sama, tapi hal tersebut membuat keduanya nampak kesal.
"Ternyata selera mu lumayan juga ya..." ucap Elika dengan nada yang akuh.
"Aku anggap itu sebuah pujian, namun sayangnya aku yang lebih dulu melihat sepasang kancing itu, aku harap kamu mau mengalah." jawab Luna dengan dingin, membuat Elika tentu saja tak suka ketika mendengarnya.
"Enak aja! Aku yang lebih dulu melihatnya lah... Jangan mengada-ngada." ucap Elika tak mau kalah.
"Aku benar-benar butuh kancing ini untuk seseorang, bukan hanya sekedar rasa ingin bertaruh padamu, jadi berhenti membuat semuanya jadi rumit." ucap Luna yang mengira Elika hanya ingin bersaing dengannya.
"Kau pikir aku anak kecil berebut barang hanya karena daya saing, menyebalkan! Aku juga membutuhkannya untuk seseorang, jadi jangan harap aku akan memberikannya kepadamu!" ucap Elika kembali dengan nada yang sengit.
"Terserah apa katamu..." ucap Luna dengan datar kemudian mengambil kartu atm miliknya. "Mbak saya mau bayar untuk ini..." ucap Luna dengan angkuhnya.
"Ba......" ucap kasir tersebut hendak menerima kartu Luna namun langsung dipotong oleh Elika.
"Gak bisa mbak, saya juga mau beli yang ini, tolong gesekkan sekarang juga." ucap Elika sambil ikut memberi kartu atm miliknya.
"Apaan sih, jangan mbak...saya saja..." ucap Luna tak mau kalah.
"Aku aja mbak..." ucap Elika kembali.
"Gak bisa begitu dong..." ucap Luna lagi.
"Gak, tetap harus aku..." ucap Elika lagi.
"Jadi siapa yang mau membayar barang ini?" tanya kasir dengan raut wajah yang bingung.
"Aku!" ucap keduanya secara bersamaan.
"Sebenarnya apa yang tengah kalian perebutkan?" ucap sebuah suara bariton yang tina-tiba terdengar dan membuyarkan perdebatan keduanya.
Bersambung