NovelToon NovelToon
Transmigrasi Jadi Karakter Villain Di Dalam Novel

Transmigrasi Jadi Karakter Villain Di Dalam Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Younglord

Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.

Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.

Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.

Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.

Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

"Kau yang meminta ini, bajingan!" teriak Adrian.

Ia menerjang maju. Kecepatannya meningkat drastis berkat dorongan aura. Leon berusaha menghindar, namun tekanan aura Adrian seolah mengunci pergerakannya. Ruang geraknya menyempit.

Adrian mengayunkan pedangnya dengan membabi buta. Sebuah tebasan vertikal meluncur, menciptakan efek slash yang melesat tajam ke arah Leon.

Leon tidak punya pilihan selain menahan serangan itu dengan pedang besi tumpulnya.

KRAKK!

Pedang besi itu hancur berkeping-keping. Kekuatan aura Adrian terlalu besar untuk ditahan senjata biasa.

"Kugh!"

Leon terhempas hebat. Tubuhnya terseret di lantai arena sebelum akhirnya terjungkal mengenaskan.

...[Peringatan!]...

...[HP: 95 / 253]...

Eiryn menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca melihat tuannya terkena serangan fatal. Sementara itu, di tribun, Julian tersenyum puas. Ia menyandarkan punggungnya, merasa tontonan ini akan segera berakhir.

Luna Valcrest, sang ibu, membusungkan dada dengan bangga. Ia menatap Leon dengan jijik. Ia percaya penuh pada kekuatan putranya; tidak mungkin Adrian dikalahkan oleh seorang anak haram seperti Leon.

"Uhuk!"

Leon terbatuk darah. Ia memegangi dadanya yang kini robek akibat serangan slash tadi. Rasa perih membakar kulitnya, namun matanya tetap menatap tajam ke depan.

Adrian berjalan pelan mendekat. Senyum meremehkan kembali menghiasi wajahnya.

"Mana keangkuhanmu tadi? Apa hanya segini kemampuanmu?" ejek Adrian. Ia berdiri di depan Leon yang masih terduduk. "Sekarang kau paham, kan? Seberapa penting aura bagi seorang ksatria? Tanpa itu, kau hanya sampah yang memegang besi karatan."

Leon berusaha bangkit. Gerakannya lambat dan berat, namun ia menolak untuk tetap di bawah.

Adrian melihat usaha itu dengan mata merendahkan. Saat Leon akhirnya berdiri dan memasang kuda-kuda bertarung dengan tangan kosong, Adrian justru tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha! Kau ingin melawanku dengan tangan kosong? Jangan bercanda!"

Julian dan Dante ikut tertawa dari kejauhan, menganggap Leon sudah kehilangan akal sehatnya.

Namun, berbeda dengan Darius. Sang Duke tetap diam dengan mata menyipit. Ia teringat serangan pertama Leon tadi, kecepatan itu bukan sesuatu yang bisa dikeluarkan oleh ksatria level rendah.

Leon menyeka sisa darah di sudut bibirnya. Otaknya berputar cepat seiring dengan sisa tenaga yang ia miliki.

Sisa Mana: 70, batin Leon tajam. Itu artinya ia hanya punya kesempatan menggunakan satu kali Shield dan satu kali Phantom Step. Jika ingin menang, ia tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun.

Mata Leon menyipit, mengaktifkan kembali Appraisal Eye untuk mencari titik lemah di tubuh Adrian. Pupil matanya bergerak-gerak hingga berhenti di satu titik: Perut.

Bekas tendangannya tadi menciptakan kerusakan internal yang parah di sana. Jika ia menghantam titik itu sekali lagi dengan kekuatan penuh, Adrian pasti tumbang.

"Kakak, jangan bermain-main lagi! Habisi dia sekarang!" teriak Dante dari pinggir arena, tidak sabar melihat Leon hancur.

"Aku baru saja akan melakukannya," balas Adrian dengan nada dingin.

Adrian memasang kuda-kuda rendah. Ia mengalirkan seluruh aura hitam-putihnya ke mata pedang hingga senjatanya bergetar hebat.

"Mati kau!!"

Adrian meluncur deras, menebaskan pedangnya berkali-kali ke arah Leon. Serangan slash beruntun itu menghantam posisi Leon hingga menimbulkan ledakan debu yang pekat. Suara dentuman keras bergema, menelan sosok Leon di balik tabir asap dan efek serangan aura.

Eiryn memucat. Ia mencengkeram jubah Leon yang dipegangnya dengan sangat erat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Adrian menyeringai puas, ia yakin lawannya sudah hancur berkeping-keping. Begitu pula dengan Luna dan Julian yang mulai memalingkan wajah, menganggap pertarungan ini sudah selesai dengan kemenangan mutlak Adrian.

"Belum berakhir," ucap Darius tiba-tiba dengan suara berat.

Luna dan Julian tersentak, mereka menoleh ke arah Duke dengan wajah bingung. "Apa maksud Anda, Duke?" tanya Luna heran.

Namun jawaban itu datang dari dalam asap.

Tepat saat rentetan serangan Adrian menghujam, Leon telah mengaktifkan Shield.

Cahaya transparan menyelimuti tubuhnya, meredam benturan mematikan yang tersembunyi di balik pekatnya asap dan debu.

Meski perisainya retak, Leon berhasil bertahan tanpa terlihat oleh orang luar.

"Phantom Step!"

WUSH!

Sesosok bayangan melesat keluar dari asap dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Senyuman di wajah Adrian luntur seketika.

Matanya membelalak lebar melihat Leon yang tiba-tiba sudah berada di dalam jangkauan jarak dekatnya.

BUGHH!

Satu tinju dengan kekuatan penuh menghujam telat ke ulu hati Adrian yang sudah terluka.

"Ugh...!"

Darah segar muncrat dari mulut Adrian. Tubuhnya terlempar ke belakang seperti peluru, menghantam dinding pembatas arena hingga tembok batu itu retak seribu.

Adrian merosot jatuh ke tanah. Matanya putih, ia kehilangan kesadaran seketika dengan penampilan yang sangat mengenaskan.

"Adrian!!" teriak Luna histeris dari tribun, wajahnya yang tadinya banggu kini berubah menjadi penuh horor.

...[Misi selesai]...

...+150 ^...

...<Reward tambahan akan diberikan saat pengguna memasuki Akademi Asterlyn>...

Leon berdiri di tengah arena. Tubuhnya sempoyongan, napasnya tersengal-sengal, dan dadanya naik turun dengan cepat. Ia perlahan menoleh ke arah Eiryn yang masih terpaku.

Leon mengangkat tangannya, lalu mengacungkan jempol ke arah Eiryn sambil memberikan senyuman tipis—senyuman kemenangan yang tulus.

Eiryn menutup mulutnya dengan tangan. Ia merasa haru sekaligus lega sampai ingin menangis. Namun, perasaan haru itu berubah menjadi panik dalam sekejap saat melihat lutut Leon lemas.

"Tuan Leon!"

Pandangan Leon meredup. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan sebelum Eiryn sempat berlari mendekat, Leon sudah ambruk tak sadarkan diri di tengah arena yang sunyi.

1
Mr. Wilhelm
Emm ... Keknya ini termasuk Plot armor gk sih? 🤔
Manstor
Nih aku kasih bintang 5 ya thor untuk ceritanya, aku harap novelnya bisa sampai tamat ya~ soalnya seru banget👍👍
SilentLore: Tentu aja pasti, Makasih banyak yaa🙏
total 1 replies
Manstor
waduh🙈
Manstor
Wah seru nih🤩👍
SilentLore: Maksih kaka🙏 udah tertarik baca
total 1 replies
Ryukia
ceritanya menarik
SilentLore: Terima kasih banyak!
Senang sekali kalau ceritanya bisa bikin kakak tertarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!