Setiap hari sebelum fajar menyingsing, dapur kecil itu sudah mengepulkan asap. Di sana, seorang ibu bergelut dengan tepung, mentega, dan panasnya oven tua untuk menciptakan ribuan keping kue. Bagi orang lain, itu hanyalah camilan manis, namun bagi sang ibu, setiap loyang adalah taruhan untuk masa depan anaknya.
tangan yang melepuh terkena minyak panas, punggung yang semakin membungkuk karena beban keranjang, dan jam tidur yang dikorbankan demi recehan rupiah. Melalui sudut pandang sang anak, kita diajak melihat bagaimana sebuah pengorbanan tanpa pamrih perlahan-lahan merajut mimpi yang mustahil menjadi nyata. Sebuah kisah melankolis tentang cinta yang dipanggang dalam kesabaran dan ketulusan yang tak bertepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mencari kerja
Ijazah SMA-ku yang terbungkus plastik mika sudah mulai lembap karena keringat dingin di telapak tanganku. Di depanku, sebuah ruko tinggi dengan pagar besi hitam tampak begitu angkuh. Ini adalah pintu kesepuluh yang kuketuk hari ini.
"Maaf, Dek. Kami cari yang minimal punya pengalaman dua tahun," kata seorang satpam sambil mengembalikan map cokelatku tanpa sekali pun melihat isinya.
Kalimat itu seperti kaset rusak yang kudengar sepanjang jalan dari Sudirman sampai ke pinggiran Jakarta Timur. Kakiku yang hanya beralas sepatu kain murah mulai terasa panas. Aspal Jakarta ternyata tidak ramah pada orang yang datang hanya membawa doa dan ijazah lusuh.
Aku duduk di bangku taman yang catnya sudah mengelupas, membuka botol air mineral yang isinya tinggal seperempat. Di depanku, orang-orang kantoran dengan kemeja rapi dan bau parfum mahal berjalan dengan langkah pasti. Mereka tampak sangat jauh dari duniaku—dunia yang berbau mentega dan asap dapur.
Aku merogoh saku, menyentuh koin terakhir untuk menelepon Ibu di wartel nanti sore. "Ibu, Jakarta ternyata nggak butuh orang yang jago bikin kue. Mereka butuh orang yang punya 'pengalaman'," bisikku perih.
Tiba-tiba, aku melihat sebuah warung makan kecil di pojok jalan yang sedang sibuk luar biasa. Pemiliknya, seorang pria paruh baya, tampak kewalahan melayani pesanan. Tanpa pikir panjang, aku berdiri. Aku tidak butuh ijazah untuk sekadar mencuci piring atau mengantar pesanan, pikirku.
Aku teringat tangan Ibu yang tak pernah berhenti bergerak dari jam tiga subuh. Kalau Ibu bisa bertahan puluhan tahun di depan kompor panas, masa aku kalah hanya karena berjalan kaki seharian?
Aku mendekat ke warung itu, mengatur napas, dan mencoba tersenyum seikhlas Ibu saat menawarkan kuenya di pasar. "Pak, butuh bantuan? Saya nggak minta gaji tinggi, asal bisa makan dan punya tempat berteduh hari ini."
Anak itu mulai menanggalkan gengsinya. Ia sadar bahwa di Jakarta, memulai dari bawah bukan berarti kalah, tapi sedang mengumpulkan "bahan" untuk adonan suksesnya sendiri.
**********
"Bisa apa kamu?" tanya pemilik warung itu, seorang pria dengan handuk kecil melingkar di leher dan wajah yang tampak selalu marah.
Aku terdiam sejenak. Aku ingin bilang aku lulusan terbaik di sekolahku, tapi di depan tumpukan piring kotor dan uap panas soto ini, nilai ijazahku tidak ada harganya.
"Saya bisa kerja keras, Pak. Saya biasa bangun jam tiga subuh bantu Ibu bikin kue. Saya tahan panas, saya nggak takut capek," jawabku dengan suara yang kucoba buat setegas mungkin, meski lututku gemetar karena lapar.
Laki-laki itu menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia melihat sepatu kainku yang sudah bolong di bagian jempol dan map cokelat yang sudah lecek di ketiakku. "Ijazahmu taruh situ. Sini, cuci piring-piring itu. Kalau bersih, kamu boleh makan. Kalau betah seminggu, baru kita bicara gaji."
Aku langsung menyingsingkan lengan baju. Aroma sabun cuci piring yang murah menyeruak, bercampur dengan bau sisa lemak daging. Di kampung, aku sering mengeluh kalau disuruh Ibu mencuci loyang yang lengket karena karamel.
Sekarang, tumpukan piring ini adalah satu-satunya jembatan agar aku tidak tidur dengan perut kosong di trotoar Jakarta.
Setiap kali tanganku menyentuh air dingin dan busa, aku teringat tangan Ibu. Ternyata begini rasanya mencari uang, Bu, pikirku pedih. Satu jam, dua jam, punggungku mulai terasa kaku.
Tapi aku tidak berani berhenti. Aku melihat orang-orang yang makan dengan lahap di depanku, mereka tidak tahu bahwa di balik sepiring nasi yang mereka santap, ada seorang perantau yang sedang mempertaruhkan harga dirinya di bak cuci piring.
Malamnya, saat warung tutup, pemiliknya memberikan aku sebungkus nasi sisa dan uang sepuluh ribu rupiah. "Buat ongkos besok. Datang lagi jam enam pagi," katanya pendek.
Aku berjalan pulang menuju kontrakan sempit yang kutinggali bersama lima orang lainnya. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, aku memandang uang sepuluh ribu itu. Rasanya lebih berat daripada emas. Inilah hasil keringat pertamaku di tanah rantau.
Aku duduk di emperan toko yang sudah tutup, membuka bungkus nasiku, dan air mataku jatuh tepat di atas nasi putih itu. "Bu, aku sudah mulai kerja. Aku belum jadi bos, tapi aku sudah mulai belajar cara Ibu bertahan hidup."
Hari pertama mencari kerja berakhir bukan di ruang AC yang dingin, melainkan di dapur pengap yang basah. Tapi baginya, aroma sabun cuci piring itu adalah awal dari wangi kesuksesan yang ia janjikan pada Ibunya.
******
"Kamu betah juga, ya," kata Pak Kumis, pemilik warung, sambil mengamati caraku mengelap meja yang keempat puluhnya hari itu.
Sudah tiga bulan aku di sini. Tanganku yang dulu halus kini mulai kasar, persis seperti tangan Ibu. Bedanya, tangan Ibu berbau mentega, tanganku berbau kuah soto dan sabun ekonomi. Tapi di balik bau itu, ada sesuatu yang membuatku bangga: selembar demi selembar uang sepuluh ribuan yang kukumpulkan di bawah kasur tipis kontrakanku.
Malam itu, aku pergi ke kantor pos. Dengan tangan gemetar, aku menyerahkan uang hasil jerih payahku selama sebulan. Tidak banyak, tapi cukup untuk membeli beberapa karung terigu dan gula agar Ibu tidak perlu berhutang lagi ke tengkulak pasar.
"Bu, ini dari Jakarta. Jangan buat beli obat dulu, buat modal kue saja," ucapku saat meneleponnya dari wartel pinggir jalan.
Suara Ibu di seberang sana terdiam lama. Aku bisa mendengar deru napasnya yang berat, lalu suara isak kecil yang coba ia sembunyikan. "Nak, Ibu nggak butuh uangnya. Ibu cuma mau kamu makan kenyang di sana. Jangan sampai kamu kurus karena mikirin Ibu."
"Aku kenyang, Bu. Di sini aku makan enak terus," bohongku, padahal tadi siang aku hanya makan nasi sisa kerak soto yang tidak habis terjual.
Setelah menutup telepon, aku berjalan menyusuri trotoar Jakarta yang masih bising meski sudah tengah malam. Lampu-lampu gedung tinggi itu tidak lagi terasa mengancam. Mereka sekarang terlihat seperti lilin-lilin kecil di atas kue ulang tahun yang sedang menungguku untuk meniupnya.
Aku sadar, mencari kerja di Jakarta bukan cuma soal ijazah atau koneksi. Ini soal siapa yang paling lama bertahan di depan "tungku api" kehidupan. Ibu sudah lulus ujian itu selama puluhan tahun, dan sekarang giliranku untuk membuktikan bahwa adonanku tidak akan bantat hanya karena panasnya ibu kota.
Kiriman uang pertama bukan sekadar nominal, tapi bukti bahwa janji kepada Ibu mulai terbayar. Perjuangan di Jakarta baru saja dimulai, dan ia belajar bahwa rasa syukur adalah bumbu paling sedap dalam kemiskinan.