"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JARING DAN RAHASIA DI PESISIR AETHELGARD
Matahari baru saja memecah cakrawala, menyebarkan warna jingga keemasan di atas permukaan laut yang tenang. Di dermaga kayu yang mulai lapuk dimakan usia, Riezky berdiri tegak di atas perahu kecilnya. Meskipun ia mengenakan pakaian nelayan dari rami kasar yang penuh dengan noda garam, ia tampak berbeda dari nelayan lainnya.
Wajahnya yang tegas dan tenang, serta sepasang mata heterochromia yang unik, sering kali membuat pelaut tua di dermaga berhenti sejenak hanya untuk sekadar memperhatikannya bekerja.
Riezky menarik napas dalam, membiarkan aroma amis laut dan angin pagi memenuhi paru-parunya. "Siap, Bu?" tanyanya tanpa menoleh.
Lyra mengangguk, ia sedang sibuk menyiapkan umpan di sudut perahu. Meski usianya sudah tidak muda lagi, tangannya masih sangat cekatan.
"Siap, Riez. Arus pagi ini sedang tenang, semoga ikan-ikan perak itu sedang berkumpul di balik karang utara."
Perahu kecil itu pun meluncur menjauh dari garis pantai. Keseharian mereka adalah rutinitas yang sunyi namun penuh kerja keras. Bagi Riezky, menarik jaring adalah cara terbaik untuk melatih kontrol atas kekuatannya yang liar.
Di balik tarikan otot lengannya yang kuat, ia harus terus menahan denyutan energi di telapak tangannya agar tidak merusak jaring yang sudah mulai rapuh.
"Kau melamun lagi, Riez," tegur Lyra dengan senyum lembut. "Hati-hati, tarikan jaring itu butuh perasaan, bukan hanya tenaga."
"Riezky hanya sedang memikirkan cara agar jaring ini tidak sering tersangkut, Bu," jawab Riezky berbohong. Kenyataannya, telapak tangannya terkadang mulai terasa panas jika ia terlalu fokus—sebuah pertanda bahwa energi di dalam dirinya selalu ingin meledak keluar.
Saat mereka sampai di wilayah karang tajam, Riezky berdiri di ujung perahu. Ia melemparkan jaring besarnya dengan presisi yang luar biasa. Selama beberapa jam, mereka bekerja dalam diam yang harmonis. Riezky yang menarik beban berat, dan Lyra yang memilah ikan-ikan yang layak jual.
"Tangkapan hari ini cukup bagus," ucap Lyra sambil mengusap keringat di dahinya. "Ini cukup untuk membeli beberapa butir gandum dan minyak lampu."
Namun, raut wajah Riezky berubah saat mereka mulai mendekat kembali ke daratan di sore hari.
Dari kejauhan, ia melihat tiga sosok pria dengan pakaian kulit lusuh sedang duduk di depan pondok mereka. Itulah The Razor Jaws, bandit lokal yang sering memeras warga Aethelgard yang dianggap lemah.
"Mereka lagi," gumam Riezky pelan.
Selama ini, Riezky selalu mencoba bersabar. Ia sering menjahili mereka dengan cara-cara yang halus untuk mengusir rasa bosannya.
Pernah suatu kali, saat salah satu dari mereka hendak menendang pintu pondoknya, Riezky diam-diam memanaskan pasir di bawah kaki bandit itu hingga ia melompat-lompat seperti sedang menari kegirangan, atau membuat tali bot mereka tiba-tiba terlepas saat sedang mengejar warga. Bagi Riezky, itu hanya hiburan kecil.
"Abaikan saja, Riz. Kita hanya perlu masuk ke rumah dan jangan memancing keributan," bisik Lyra, terlihat sedikit cemas. Sebagai ibu, ia hanya ingin hidup tenang.
Namun, sore itu para bandit tampak lebih agresif. Pemimpin mereka, Kael, berdiri tegak saat melihat perahu Riezky merapat. Ia memegang sebuah gada kayu dan menatap hasil tangkapan mereka dengan mata lapar.
"Upeti kalian naik hari ini, Nenek Tua!" teriak Kael sambil meludah ke pasir. "Kami dengar kau menyembunyikan beberapa koin tembaga di balik bantalmu. Serahkan, atau perahu ini akan kami jadikan kayu bakar!"
Riezky yang sedang mengikat tali perahu berhenti sejenak. Ia tidak langsung menoleh. Ia menatap telapak tangannya yang mulai bergetar halus—bukan karena takut, tapi karena amarah yang mulai sulit ia bendung.
Selama dua puluh tahun hidup di pesisir yang keras ini, Riezky sudah mencapai titik di mana rasa takutnya telah menguap, digantikan oleh rasa bosan yang mendalam terhadap drama yang sama setiap minggunya. Baginya, The Razor Jaws bukan lagi ancaman yang mengerikan, melainkan sekumpulan lalat pengganggu yang dengungannya mulai memekakkan telinga.
Ia sudah terlalu sering berinteraksi dengan mereka—mulai dari sekadar adu mulut di pasar ikan hingga momen di mana ia harus menyingkirkan tangan kotor mereka dari jaringnya.
Ketakutan yang dulu menyelimutinya saat masih remaja kini telah bermutasi menjadi sifat jail yang berbahaya. Riezky sering kali menganggap konfrontasi dengan para bandit ini sebagai panggung hiburan pribadinya untuk menguji kontrol kekuatannya tanpa harus membunuh siapa pun.
"Aduh, Kael... apa kau tidak punya hobi lain?" gumam Riezky pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru ombak, namun cukup tajam untuk didengar sang pemimpin bandit.
Riezky melompat turun dari perahu, mendarat di pasir basah dengan gerakan seringan kucing. Ia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang diancam. Sebaliknya, sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyum tipis yang tampak meremehkan.
Sifat ini bertolak belakang dengan Lyra. Wanita itu berdiri di belakang Riezky dengan tubuh yang gemetar hebat. Tangannya yang keriput mencengkeram erat lengan baju rami putranya, mencoba menariknya mundur. Bagi Lyra, setiap pertemuan dengan Razor Jaws adalah potensi bencana yang bisa mengungkap rahasia besar yang ia simpan di dalam peti kayu di rumahnya.
"Riez, sudah... biarkan saja. Ambil saja ikannya, Kael! Tolong jangan sakiti anakku!" seru Lyra dengan suara parau, matanya berkaca-kaca menatap gada kayu di tangan Kael.
"Ibu, tenanglah," Riezky menepuk tangan ibunya dengan lembut, namun matanya tetap terkunci pada Kael. "Ibu tahu kan, ikan-ikan ini sudah susah payah kita tangkap? Sayang kalau diberikan pada orang yang bahkan tidak tahu cara memegang kail."
Kael mendidih. Ia merasa harga dirinya sebagai penguasa pantai diinjak-injak oleh seorang pemuda nelayan yang bahkan tidak membawa senjata.
"Kau pikir ini lelucon, hah?! Serahkan koinnya atau aku akan membakar pondok busukmu ini!"
Kael melangkah maju, hendak mencengkeram kerah baju Riezky. Namun, tepat saat ujung jarinya hampir menyentuh kain rami itu, Riezky menjentikkan jarinya secara tersembunyi di balik saku celananya.
Zzap!
Sebuah percikan listrik statis yang sangat kecil namun sangat panas meloncat ke ujung jari Kael.
"ARGH! Sialan!" Kael menarik tangannya dengan cepat, meniup jarinya yang mendadak terasa seperti habis menyentuh bara api yang membara. "Apa itu tadi?! Kau membawa serangga beracun di bajumu?!"
Anak buah Kael saling pandang, bingung melihat pemimpin mereka kesakitan tanpa sebab yang jelas. Riezky hanya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga para bandit.
"Mungkin itu peringatan dari laut, Kael. Katanya, kau harus mandi lebih sering karena baumu membuat ikan-ikanku pusing," sahut Riezky santai.
Sambil berjalan melewati mereka seolah-olah mereka adalah tiang kayu yang tak berarti, Riezky diam-diam memusatkan pikirannya. Ia menatap bot kulit yang dipakai salah satu anak buah Kael.
Dengan satu kedipan mata yang dibarengi aliran energi mikro, ia membuat tali bot kulit itu mendadak mengeras dan mengkerut dengan sangat kencang.
"Aduh! Aduh! Kakiku! Kenapa sepatuku jadi sempit begini?!" bandit itu mulai melompat-lompat kesakitan karena jempol kakinya terjepit oleh kulit sepatu yang mendadak menyusut drastis.
Lyra yang melihat kejadian itu justru semakin ketakutan.
Ia tidak melihat keajaiban atau humor di sana; ia melihat bahaya. Ia tahu Riezky sedang bermain api, dan cepat atau lambat, keisengan putranya akan memicu ledakan yang tak bisa ia bendung lagi.
"Cukup, Riez! Berhenti!" Lyra memohon, suaranya bergetar antara cemas dan putus asa.
Kael yang merasa dipermainkan akhirnya kehilangan akal sehatnya. Ia mengangkat gadanya tinggi-tinggi, wajahnya merah padam karena malu dan marah. "Kau benar-benar minta mati, ya?! Hancurkan perahunya! Bakar semuanya!"
Para anak buahnya yang tadi sempat ragu kini mulai bergerak liar. Salah satu dari mereka meraih obor minyak yang tersampir di pinggang, sementara yang lain mengangkat kapak berkarat, bersiap menghantam lambung The Azure Shell. Lyra menjerit, ia mencoba berlari menghalangi mereka, namun kakinya lemas dan ia jatuh terduduk di atas pasir.
Riezky berdiri diam. Tatapannya kini tak lagi penuh keusilan. Udara di sekitarnya mulai berderak—bukan sekadar listrik statis, tapi sebuah tekanan yang membuat butiran pasir di bawah kakinya mulai bergetar hebat. Ia sudah siap untuk melepaskan satu hantaman gelombang panas yang akan melempar mereka semua ke laut.
Namun, tepat sebelum gada Kael menyentuh kayu perahu, sebuah suara siulan tajam membelah udara.
Syuuutt—Dhuarr!
Sebuah anak panah yang tidak terbuat dari kayu atau besi, melainkan dari bayangan hitam pekat yang beraura ungu gelap, melesat dari arah hutan bakau di belakang mereka. Panah itu menghantam tanah tepat di antara kaki Kael dan perahu Riezky, menciptakan ledakan Energi gelap yang dingin. Pasir pantai di sekitar titik hantaman mendadak membeku dan berubah menjadi hitam legam seolah-olah nyawanya baru saja dihisap paksa.
Kael terpelanting ke belakang. Gada kayunya hancur berkeping-keping seolah-olah telah lapuk selama seratus tahun dalam hitungan detik.
"A-apa itu?!" Kael mengerang, gemetar hebat saat ia melihat sisa-sisa senjatanya berubah menjadi abu hitam.
Keheningan yang mencekam menyelimuti pantai. Para bandit Razor Jaws membeku di tempat. Riezky pun mengurungkan niatnya, matanya menyipit tajam ke arah bayang-bayang pohon kelapa yang menjulang di tepi pantai. Instingnya yang selama ini terpendam berteriak nyaring: Bahaya.
Dari balik kegelapan dahan-dahan pohon, muncullah sebuah sosok. Ia tidak berjalan, melainkan melayang beberapa senti di atas tanah. Bentuknya tidak jelas, seolah-olah tubuhnya terbuat dari asap hitam yang terus bergolak dan berubah bentuk. Ia mengenakan jubah hitam legam yang ujungnya tampak menyatu dengan bayangan di bawahnya. Wajahnya tidak terlihat, hanya ada dua lubang gelap yang memancarkan aura dingin yang sangat menyesakkan.
Itulah Perintilan Malakor. Entitas kecil yang dua puluh tahun lalu ikut terhisap ke dalam teleportasi acak, kini telah menemukan apa yang selama ini dicarinya di pulau terpencil ini.
"Makhluk apa itu...?" bisik salah satu bandit dengan wajah sepucat mayat. Ia mencoba melarikan diri, namun saat ia berbalik, bayangan dari tubuhnya sendiri tiba-tiba memanjang dan mengikat kakinya dengan kuat, membuatnya tersungkur di atas pasir.
Makhluk asap itu tidak mengeluarkan suara manusia. Ia mengeluarkan bunyi desisan yang terdengar seperti ribuan serangga yang saling bergesekan. Matanya yang kosong kini terkunci pada Riezky. Aura kegelapan yang dipancarkannya begitu kuat hingga membuat Lyra sesak napas.
"Riez... lari..." suara Lyra nyaris tak terdengar, ia merasakan hawa kematian yang nyata dari sosok tersebut.
Riezky tidak lari. Sebaliknya, ia melangkah maju, berdiri tepat di depan ibunya sebagai perisai. Ia merasakan sesuatu di dalam darahnya—sebuah memori purba yang memanggil-manggil. Ia belum tahu siapa Malakor, tapi ia merasa bahwa entitas di depannya ini adalah musuh alami dari api dan petir yang ia miliki.
Makhluk hitam itu mengangkat tangan bayangannya yang panjang dan runcing.
Sebuah busur panah dari kegelapan murni terbentuk kembali di tangannya. Ia tidak peduli pada Kael atau bandit-bandit Razor Jaws lainnya; baginya, mereka hanya sampah yang menghalangi tugasnya untuk melenyapkan sang pewaris.
"Kalian semua," suara Riezky terdengar sangat berat dan penuh otoritas, ditujukan kepada para bandit yang masih gemetar. "Jika kalian masih ingin melihat matahari besok, menjauhlah dari pantai ini. Sekarang."
Kael, yang biasanya sangat sombong, kini bahkan tidak bisa membalas ucapan Riezky. Ia merangkak menjauh dengan wajah penuh teror, meninggalkan segala niat jahatnya. Kini, di pantai Aethelgard yang mulai gelap, hanya tersisa Riezky yang berdiri sendirian menghadapi utusan dari masa lalunya yang kelam.
Entitas bayangan Malakor itu tidak membuang waktu. Dengan desisan yang memilukan telinga, ia melepaskan tali busur kegelapannya.
Syuuutt! Syuuutt! Syuuutt!
Tiga panah bayangan melesat sekaligus, membelah udara pagi dengan kecepatan tak masuk akal. Targetnya bukan Riezky, melainkan Lyra yang masih terduduk lemas di pasir. Makhluk itu tahu cara tercepat untuk menghancurkan pertahanan sang waris: dengan mengancam satu-satunya hal yang ia cintai.
"IBU!" Riezky berteriak.
Dalam sekejap mata, kepanikan mengalahkan akal sehatnya. Kontrol mikro yang selama ini ia latih dengan susah payah saat menjahili bandit mendadak runtuh. Di dalam dadanya, Api Merah meledak tak terkendali, merespon ketakutan murninya.
Riezky melompat ke depan Lyra. Ia tidak punya waktu untuk memikirkan teknik; ia hanya mendorong kedua telapak tangannya ke depan dengan niat putus asa untuk melindungi.
BOOOM!
Bukan percikan api kecil yang keluar, melainkan gelombang Api Merah raksasa berbentuk setengah lingkaran yang meledak dari tubuh Riezky. Api itu begitu panas hingga pasir di bawah kakinya seketika berubah menjadi kaca bening (fulgurit). Gelombang api itu menghantam ketiga panah bayangan, menghancurkannya menjadi uap ungu yang mendesis sebelum sempat menyentuh Lyra.
Panas yang dihasilkan begitu ekstrim.
Udara di sekitar pantai mendadak distorsi, dan air laut di pinggir dermaga mulai meletup-letup mendidih.
"Argh... panas! Panas!" Kael dan anak buahnya, yang mengira Riezky hanyalah nelayan biasa, berteriak ketakutan. Kulit mereka mulai melepuh hanya karena terpapar hawa panas yang dipancarkan Riezky. Mereka merangkak mundur dengan liar, melupakan segala niat jahat mereka, mata mereka terbelalak melihat Riezky yang kini diselimuti aura api merah yang membara.
Makhluk asap Malakor itu tersentak mundur. Aura api merah Riezky adalah kebalikan murni dari kegelapan yang dikandungan tubuhnya. Ia mendesis marah, menyadari bahwa targetnya bukan lagi bayi yang tak berdaya. Tubuh asapnya bergolak, berusaha memadatkan diri untuk menahan panas.
Riezky terengah-engah. Napasnya memburu, dan dadanya terasa terbakar.
Ia bisa merasakan energi Api Merah terus berdenyut liar di dalam dirinya, memintanya untuk membakar segalanya. Mata kanannya kini sepenuhnya berwarna Merah Membara, sementara mata kirinya berkedip-kedip antara biru dan normal.
"Jauhi... ibuku!" desis Riezky, suaranya berat dan bergema.
Makhluk bayangan itu tidak mempedulikan peringatan Riezky. Ia melesat maju dengan kecepatan tinggi, tubuh asapnya memanjang membentuk tombak bayangan yang tajam, mengarah langsung ke jantung Riezky.
Riezky tidak bisa menghindar dengan lincah seperti biasanya; berat energinya sendiri membuatnya kaku. Ia hanya bisa mengandalkan insting. Ia mengepalkan tangan kanannya, memusatkan Api Merah di sana hingga tangannya terlihat seperti bara api yang membara.
Dhuarr!
Riezky menghantamkan tinju apinya tepat ke ujung tombak bayangan. Benturan kedua energi yang bertolak belakang itu menciptakan ledakan shockwave yang mementalkan perahu The Azure Shell hingga terbalik di atas pasir. Riezky terdorong mundur beberapa langkah, tangannya terasa kaku dan dingin, namun tombak bayangan itu hancur berantakan.
Melihat musuhnya melemah, makhluk asap itu mencoba taktik licik. Ia memecah tubuhnya menjadi belasan bayangan kecil yang mengelilingi Riezky dan Lyra dari segala arah. Mereka bergerak cepat, menciptakan kebingungan.
"Di mana kau?!" Riezky berteriak, matanya liar mencari musuh yang terus bergerak.
Tiba-tiba, dari bayangan di bawah kaki Lyra, sebuah tangan hitam runcing muncul, hendak mencengkeram leher wanita itu.
Riezky melihatnya. Pikirannya kosong, hanya ada satu dorongan: melindungi. Tanpa sadar, ia melepaskan kontrolnya sepenuhnya. Ia tidak lagi mengarahkan api; ia menjadi api itu sendiri.
FWOOSH!
Sebuah pilar Api Merah raksasa meledak dari tubuh Riezky, membubung tinggi ke langit, menelan Riezky dan Lyra dalam pelindung api yang tak tertembus. Panasnya begitu dahsyat hingga makhluk bayangan yang mendekat langsung mendesis kesakitan.
Riezky merasakan Api Merah merosot drastis dari tubuhnya, energinya terkuras habis dalam ledakan terakhir itu. Ia jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal, matanya perlahan kembali normal.
Pilar api itu pun meredup, menyisakan Riezky yang lemah di samping Lyra yang masih shock.
Di tengah pantai yang kini menghitam dan berasap, makhluk asap Malakor itu mengerang untuk terakhir kalinya. Panas dari pilar api Riezky telah menguapkan sebagian besar tubuh asapnya. Ia mencoba mengumpulkan sisa kegelapannya, namun pudar.
Dengan desisan kekalahan yang menyedihkan, entitas kegelapan itu akhirnya musnah, lenyap ditelan udara pagi yang perlahan mulai mendingin.
Kael dan Razor Jaws, yang menyaksikan seluruh kejadian itu dari kejauhan, berdiri mematung.
Wajah mereka pucat pasi, tubuh mereka bergetar hebat. Mereka tidak lagi melihat Riezky sebagai nelayan jail yang bisa dipermainkan. Mereka melihat seorang monster.
"K-kau... apa kau sebenarnya?" bisik Kael, suaranya bergetar antara ketakutan murni dan kebencian yang mendalam.
Meskipun takut setengah mati, Kael tidak ingin kehilangan mukanya sepenuhnya di depan anak buahnya. Ia mundur perlahan, gada kayunya yang sudah hancur ia lempar ke pasir.
"Jangan pikir ini selesai, Nelayan Terkutuk!" Kael mengancam dengan suara parau yang dipaksakan. "Laut tidak akan melupakan apa yang kau lakukan hari ini! Kau... kau akan membayar ini!"
Anak buah Kael segera menarik pemimpin mereka menjauh, berlari terbirit-birit meninggalkan pantai Aethelgard yang kini sunyi, hanya menyisakan bau hangus dan dua manusia yang takdirnya baru saja berubah selamanya.