Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alamatnya salah?
"Aku nggak tahu," geleng Aliya sebagai jawaban.
"Jadi, kamu masih ada perasaan sama dia?" tanya Aufar lagi.
Aliya menghela napas panjang. Soal perasaan... hal seperti itu sudah Aliya buang jauh-jauh sejak hari dimana dia dan Ibas bercerai.
"Nggak ada," jawab Aliya.
*****
Dua bulan kemudian....
Pada waktu yang tepat, Ibas akhirnya membuktikan kepada kedua orangtuanya bahwa dia mampu.
Kini, dia benar-benar sudah menjadi seseorang yang bisa diandalkan. Posisinya naik. Dari seorang asisten manager, kini sudah resmi menduduki posisi manager itu sendiri.
"Selamat ya, Bas! Saya bangga sama kamu," ujar Bu Inggar dengan ekspresi yang tampak menahan haru. Sebagai orang yang dipercaya oleh Pak Ikhsan untuk membimbing Ibas, tentu dia merasa sangat bangga dengan pencapaian Ibas saat ini.
"Terimakasih, Bu. Semuanya juga berkat bimbingan Ibu," sahut Ibas. "Ibu juga selamat! Selamat sudah jadi direktur pemasaran yang baru!"
Bu Inggar tertawa kecil. Dia mengangguk sambil menerima buket bunga yang disodorkan Ibas kepadanya.
"Terimakasih ya, Bas!" ucap Bu Inggar tulus. "Nanti, kamu harus kerja lebih keras! Jangan salah gunakan posisi kamu. Semakin tinggi jabatan kita, maka semakin banyak pula tanggung jawab yang harus kita emban. Mengerti?"
Ibas mengangkat tangannya, memberi hormat. "Siap, dimengerti Bu Direktur!"
"Kalau gitu, saya tinggal dulu ya, Bas! Saya mau ngobrol sama suami dah anak saya dulu."
"Silakan!" Ibas memberi jalan.
Setelah tak ada lagi yang mengajaknya berbicara, Ibas pun segera menghampiri orangtuanya. Wajahnya terlihat cerah. Hari ini, dia akan menagih janji pada sang Ibu.
"Bunda!" panggil Ibas.
Perempuan paruh baya itu menoleh. "Ibas," sapanya dengan senyuman teduh. Dipeluknya sang putra dengan bangga. Akhirnya, Ibas benar-benar sudah dewasa.
"Bun, aku berhasil," kata Ibas bersemangat.
"Ya, Bunda tahu," angguk Saraswati. "Kamu memang hebat!" pujinya dengan bangga.
"Gimana sama janji Bunda? Apa sekarang Bunda sudah bisa tepati janji itu?"
Sesaat, ekspresi wajah Saraswati berubah tegang. Namun, sepersekian detik berikutnya, dia tersenyum kecil kemudian mengangguk.
"Ya," angguk Saraswati. "Bunda akan kasih alamat Aliya ke kamu. Tapi, Bunda punya satu syarat lagi."
"Apa, Bun?" tanya Ibas.
"Kalau hati Aliya sudah berubah, jangan dipaksa untuk kembali seperti dulu!"
Degh!
Ada yang terasa sakit di dalam dada Ibas. Perkataan sang Ibu bagai sebuah isyarat bahwa Aliya mungkin sudah bersama yang lain.
Tapi... Itu tidak mungkin, kan? Tidak mungkin, Aliya bisa melupakannya secepat ini. Bukankah, Aliya mencintainya sejak SMA? Cinta selama bertahun-tahun itu, mana mungkin bisa hilang hanya dalam beberapa bulan.
"Bas, kamu dengar apa kata Bunda, kan?"
Pertanyaan Saraswati menyentak Ibas dari lamunan.
"I-iya, Bun," angguk Ibas sambil tersenyum simpul.
"Alamatnya Bunda kirim lewat WA aja, ya!"
"Iya."
Tak berselang lama, ponsel Ibas berbunyi. Layar pop-up menampilkan pesan dari nomor sang Ibu.
"Makasih, Bun."
Ibas pun pergi menjauh dari sang Ibu. Mungkin, saat ini dia memang belum bisa bertemu langsung dengan Aliya.
Jabatan baru, tak mungkin ia tinggalkan begitu saja. Dia harus bekerja keras dulu untuk mempelajari banyak hal, baru boleh mengambil cuti.
"Loh, alamat ini... bukannya alamat Aufar, ya? Nama kota sama jalannya sama."
Kening Ibas tampak berkerut heran. "Apa jangan-jangan... Bunda salah kirim alamat?" lanjutnya bermonolog.
Dia pun memutuskan untuk kembali mencari sang Ibu. Mungkin... benar-benar salah kirim alamat.
"Bun..."
"Loh, Bas? Ada apa?" tanya Saraswati heran.
Dia sedang menemani suaminya mengobrol dengan beberapa karyawan yang juga baru dilantik dengan jabatan baru.
"Bun, kayaknya Bunda salah kirim alamat, deh. Ini tuh alamatnya Aufar, Bun. Bukan alamat Aliya."
Ibas menyodorkan ponsel pintarnya. Ia memperlihatkan alamat yang baru saja dikirimkan oleh sang Ibu.
Sejenak, Saraswati menghela napas. Mau disembunyikan seperti apapun, pada akhirnya Ibas akan tahu juga.
"Alamatnya nggak salah. Itu memang alamatnya Aliya," jawab sang Ibu.
"Bukan, Bun. Ini tuh alamat Aufar. Aku yakin." Ibas bersikeras.
"Itu alamat Aliya. Perhatikan nama blok dan nomor rumahnya. Jelas berbeda sama alamat Aufar."
Degh!
Ibas tiba-tiba merasa syok. Ia tak percaya, hal kebetulan seperti ini bisa terjadi. Jadi... Selama ini, Aufar juga membohonginya?
Sang sepupu bilang dia tak pernah bertemu dengan Aliya. Tapi, pada kenyataannya, Aufar ternyata jauh lebih dekat dengan Aliya dibanding yang bisa diduga oleh Ibas.
"Jadi, selama ini Aufar dan Aliya tetanggaan?" tanya Ibas.
"Bisa dibilang begitu," jawab sang Ibu.
"Dan... Bunda tahu?"
"Iya," angguk Saraswati.
Hening sejenak. Otak Ibas masih berusaha mencerna semuanya.
"Jadi, kalian semua kerjasama buat bohongin aku? Gitu?"
"Maaf, Nak!" lirih Saraswati.
Ibas tersenyum getir. Sejahat itukah dirinya, sehingga orang-orang harus bekerja sama untuk menjauhkan Aliya darinya?
👍😮👍👍👍💪
Jangan sampai Aliya balikan sama Ibas.Seperti memperlakukan barang untuk uji coba, setelah dengan mantannya tidak enak mau coba istri yang telah dibuang dan dihina seperti barang dagangan dengan satu milyar, Alhamdulillah Aliya hanya mengambil 200 juta.
untung mantan istri cintanya tulus dan mulus jadi gampang rujuknya