Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20. MINTA MAAF
Aaron langsung menoleh untuk melihat Elara saat ia mendapati pergerakan dari jari-jari sang gadis.
Kelopak mata gadis itu perlahan terbuka.
Matanya sedikit buram. Lalu fokus pada sosok di depannya.
"Aaron?" ucap Elara dengan suara pelan.
Aaron langsung tersenyum lega. Ia mencium punggung tangan Elara.
"Hei, Putri Tidur," sapa Aaron. Suaranya selembut satin. "Akhirnya kau bangun juga. Kau membuatku sangat khawatir, Lala."
Elara hanya menatap Aaron.
Sedangkan pria itu menatap wajah Elara dengan khawatir dan bertanya, "Bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit?"
Elara mengedip beberapa kali.
Ingatan tentang duel tadi dengan pria bernama Leonhart perlahan kembali.
Mata Elara membulat. Ia menatap Aaron.
"Aku ... kalah duel?" tanya Elara santai.
Aaron menghela napas panjang. "Kau masih memikirkan duel saat keadaanmu babak belur seperti ini?" katanya.
Elara mengerutkan dahi.
Aaron menggeleng. "Seharusnya kau tidak melawan Leon. Dia itu Vanguard terkuat di akademi ini. Walau kau sudah berlatih sejak kecil, Leon tetap lawan yang tangguh, terlebih ketika dia bisa menggunakan sihir sejak kecil."
Elara merengut. "Dia melukai Senior Darius. Senior itu sudah mau berbaik hati mengajariku sihir sampai aku bisa menggunakannya untuk pertama kali. Bagaimana mungkin aku tidak marah?"
Aaron mengulurkan tangan. Ia mengelus dahi Elara dengan lembut.
"Terkadang jiwa kesatriamu yang terlalu besar itu membuatku bingung harus memujimu atau memarahimu. Karena kau selalu masuk ke zona bahaya secara spontan jika sudah menyangkut orang lain. Lain kali kau harus lebih memikirkan dirimu lebih dulu."
Elara tertawa kecil.
Namun tiba-tiba ... Ia meringis. Jantungnya berdetak keras. Energi sihir di tubuhnya tiba-tiba bergetar. Mana dalam tubuhnya meluap.
Aaron langsung menyadari itu semua. Ia segera mengangkat tangannya.
Cahaya penyembuhan lembut menyelimuti tubuh Elara. Sihir penetralisir mengalir perlahan.
Energi di tubuh Elara perlahan stabil kembali.
Elara menatap Aaron lama. Lalu berkata santai, "Aku tidak tahu kalau kau setampan ini saat menggunakan sihir."
Aaron langsung tersedak. Tangannya yang sedang fokus pada sihir langsung goyah.
"Lala," Aaron menatap gadis itu tak percaya. "Itu curang namanya kalau kau tiba-tiba memujiku seperti itu."
Elara tersenyum nakal. "Tapi memang benar. Kau tampan saat menggunakan sihir. Aku baru lihat kau menggunakan sihirmu."
Aaron mengangkat sebelah alisnya.
Elara tertawa kecil dan berkata, "Ketika kau tiba-tiba datang di tengah aku dan pria itu di lapangan tadi. Kau benar-benar keren."
Wajah Aaron memerah tipis. Ia memalingkan wajah.
"Hati-hati. Aku mungkin tidak bisa menahan diriku untuk tidak menyentuhmu ..."
Mata Aaron melirik Elara.
"... jika kau terus memujiku seperti itu. Kau tahu aku lemah terhadapmu dan kau sengaja memujiku seperti itu agar aku lengah?"
Elara tertawa. "Kau benar-benar konyol."
Aaron tersenyum kecil.
Setidaknya gadis ini baik-baik saja jika sudah seperti ini dan itu membuat Aaron lega.
Namun ...
Pintu ruang kesehatan tiba-tiba terbuka.
Seseorang masuk.
Langkahnya berat.
Aaron langsung menoleh. Matanya seketika berubah dingin saat tahu siapa yang datang.
Leonhart.
Aaron menyipitkan mata. "Apa yang mau kau lakukan di sini?" tututnya.
Elara menatap Leonhart juga.
Suara Aaron tajam. Jika kau masih ingin mengganggu Elara ..." Aura sihirnya sedikit muncul. "... kau akan berhadapan denganku."
Leonhart langsung panik. "Tidak! Tidak, Ketua!" Ia mengangkat tangan cepat. "Aku datang untuk minta maaf!"
Aaron memandang Leonhart tajam.
Leonhart berjalan ke arah Elara.
Lalu ...
Tubuh besar itu membungkuk dalam-dalam.
Pemandangan yang sangat aneh mengingat Elara melihat tubuh Leonhart yang sebesar beruang.
"Maafkan atas sikapku tadi, Elara Ravens. Aku sudah melewati batas!" ucap Leonhart tulus.
Elara menatap pria itu beberapa detik.
"Jujur, aku masih marah karena kau melukai Senior Darius. Tapi aku memaafkanmu. Karena kau sudah minta maaf. Dan akan lebih baik lagi kalau kau minta maaf pada Senior Darius dan yang lain," kata Elara tersenyum
Leonhart langsung tersenyum lebar. "Tentu saja akan kulakukan!"
Aaron menghela napas.
"Aku terbawa suasana saat aku dengar anak dari kesatria legendaris Aurelius ada di akademi. Kurasa darah memang tidak salah. Aku tidak pernah melihat tekad sekuat dirimu dari orang lain sebelumnya. Kau benar-benar kesatria sejati," ujar Leonhart tersenyum lebar.
Elara berkedip.
Ia tidak menyangka pria besar yang tadi tampak mengerikan sekarang justru seperti anak anjing yang jinak.
"Leon memang seperti itu. Dia berasal dari keluarga kesatria Oberyn." Aaron menunjuk kepala Leonhart. Isi otaknya hanya bertarung. Jika dia mengakui kau kesatria kuat, berarti dia benar-benar menghormatimu," jelasnya.
Elara tertawa. "Kesatria memang selalu seperti itu, kan."
Aaron menoleh ke Leonhart.
"Tapi," suara Aaron berubah dingin. "Jika kau menyakiti Elara seperti tadi lagi ..."
Mana sedikit muncul di tangan Aaron.
"... kau akan berduel denganku," lanjutnya.
Leonhart langsung pucat. "Tidak mau, Ketua!" Ia melambaikan tangan panik. "Aku akan mati jika berduel denganmu! Kau terlalu kuat!"
Aaron tersenyum kecil. "Bagus kalau kau masih waras. Jadi jangan lukai dia. Ingat itu."
Leonhart mengangguk cepat. Lalu ia menatap Elara. Kemudian Aaron.
Pria besar itu tersenyum nakal.
"Ini pertama kalinya Ketua sangat peduli pada seorang gadis. Biasanya kau bahkan tidak menatap mereka dan hanya tersenyum sopan. Apa karena keluargamu dan keluarganya sahabat lama? Atau karena kalian sudah saling kenal sejak lama?" duga Leon.
Aaron menjawab santai. "Salah satunya itu."
"Salah satu? Berarti ada alasan lain?" tanya Leon.
Aaron menoleh ke Elara. Lalu berkata tenang. "Dan juga karena dia tunanganku."
Ruangan langsung membeku.
Elara membeku.
Leonhart membeku.
Leonhart menatap Elara dengan wajah patah-patah. "K-kau tunangan Ketua? Aku beeduel dengan tunangan Ketua? Pantas dia mengamuk."
Elara langsung panik. "Bukan! Bukan! Aku dan Aaron hanya sahabat sejak kecil! "Kami tidak bertunangan!"
Aaron mengangkat alis. "Belum secara resmi."
Elara menatap tajam Aaron.
Aaron hanya tersenyum santai. "Tapi kau memang tunanganku sejak kecil. Kau ingat kan kalau dulu kau yang melam-"
Elara langsung bangkit. Ia menutup mulut Aaron dengan tangannya. Wajah gadis itu merah padam.
"DIAMLAH!" seru Elara.
Aaron tersenyum menggoda di balik tangan itu.
Elara menunjuk Aaron. "Jangan katakan hal aneh dan menyebar rumor di akademi! Kalau tidak aku akan membunuhmu!"
Aaron tertawa kecil. Matanya berkilat nakal. "Eh~ Aku jadi ingin melihat kau mencoba membunuhku."
Elara tahu tatapan itu.
Aaron sedang menggodanya.
Wajah Elara semakin merah.
Sementara itu Leonhart menatap mereka dengan ekspresi tercengang. Ia belum pernah melihat Aaron seperti ini.
Santai.
Hidup.
Bahkan menggoda seorang gadis.Padahal di akademi Aaron dikenal sebagai seseorang yang dihormati, disegani, dan ditakuti.
Leonhart tertawa kecil dan berkata, "Jika seperti ini kau terlihat seperti murid biasa, Ketua."
Aaron mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Leonhart mengangkat kedua tangan. "Aku pergi saja."
Leonhart berjalan menuju pintu.
"Aku akan bicara dengan Darius soal tadi." Leon melirik Elara. "Nikmati saja waktumu dengan tunanganmu."
Elara langsung berseru, "Aku bukan tunangannya!"
Leonhart tertawa. Ia membuka pintu..Lalu berkata sebelum keluar, "Ayo kita berduel lagi nanti! Aku akan mengajarimu teknik pedang dan sihir bersamaan."
Mata Elara langsung berbinar. "Baik!"
Aaron mendengus.
Yah, mereka semua tampak santai dan menikmati waktu sebagai murid di akademi.
Walau mereka tidak tahu, di luar ... di atas tebing beberapa orang berjubah hitam menatap akademi lalu mereka menghilang bersamaan dengan sihir hitam bagai bayangan.
tapi lucu banget, kebayang Lala ngejar" temen temennya
bukan nya takut malah tambah makin gemes 😜🤣🤣
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣