Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo nikah : 01
...----------------...
“Bu bidan, ayo nikah!” seru sebuah suara sedikit berisik.
Jemari yang sedang menulis di atas buku pasien, seketika terhenti. Netra indah beriris coklat gelap menatap jengah pada pria berambut gondrong, senyum jenaka minta dibungkam lakban.
“Taknya kau lihat jari manisku ini tersemat cincin?” dia enggan menutupi rasa tidak sukanya. Tangan kirinya terangkat memperlihatkan cincin indah.
“Sayangnya tak tampak oleh mataku, sebab permatanya hanya sebesar biji selasih.” Alisnya naik turun, senyum mengejek yang langsung ditanggapi geraman sang wanita mulai kesal luar biasa.
“Tuan Anggara Pangestu!” Intan Rasyid, menekankan intonasinya. “Bila kedatangan anda hanya mau merusuh, silahkan pergi! Masih banyak pasien hendak saya tangani!”
Yang dihardik menoleh ke kiri dan kanan, lalu belakang. "Apa kalian kesini hendak berobat?"
Otomatis para ibu-ibu tengah duduk rapi di kursi tunggu seraya menggendong anak mereka, serentak menggeleng.
"Kami cuma main saja disini, cari angin segar, sebab diluar panas sangat cuacanya," salah satu wanita muda sedang hamil besar memberikan alasan, padahal tangannya tengah menggenggam buku KIA merah muda.
Pria berkaos oblong, celana jeans, mengenakan sepatu boot, mengedipkan matanya ke sang bidan mulai geram. "Kau lihat, mereka hanya ingin menikmati fasilitas AC di puskesmas ini. Jadi, anggap saja seperti seekor Nyamuk di kegelapan. Tak tampak, namun terdengar suara kepakan sayapnya."
Belasan ibu-ibu menggendong anak mereka menunggu giliran imunisasi bagi si kecil, cuma menggelengkan kepala kala disamakan dengan hewan penghisap darah.
Wanita berkerudung kombinasi antara warna ungu dan merah tua (plum), menghasilkan nuansa anggun sekaligus misterius beranjak, menggeser meja agar tubuhnya bisa keluar dari jejeran meja. “Anda mau diperlakukan istimewa ternyata, ya?”
“Oh jelas!” rambut keriting sang pria ikut bergoyang seirama anggukan kepala. “Calon istriku, jangan sungkan-sungkan. Tak perlu malu-malu. Ayo sini periksa calon suamimu, mulai dari atas – aku mendesah. Jika dari bawah, langsung ku pasrah."
Anggara Pangestu memicingkan mata, melihat ke belakang. “Ingat ya, apapun yang nanti kalian lihat, simpan dalam hati. Di larang membayangkan, ini rahasia kita bersama. Paham?!”
“Paham juragan muda!” seru serempak ibu-ibu, tidak berani mencibir. Suami mereka bekerja di perkebunan kelapa sawit milik pria aneh yang sayangnya berkuasa, berharta, membuat ratusan kepala keluarga bergantung kepadanya.
Setiap langkah lebar itu diiringi helaan napas kasar. Intan berusaha sabar walaupun ingin sekali dia menghajar pria tengil ini. Kala sudah berdiri berhadapan, membelakangi para wanita dewasa bergelar ibu, Intan bersedekap tangan, menatap sekilas dengan sorot mata jengah.
“Tolong perbaiki kosa kata anda, Tuan. Kalimatmu itu bisa disalahartikan, memiliki makna seolah-olah kita ini sepasang kekasih. Saya sudah bertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan. Berhentilah menggoda wanita hampir dimiliki!”
“Masih hampir, kan? Belum tentu jadi. Ibarat kata, jika dalam perlombaan … status kalian baru mau mencapai garis finish. Semua hal masih bisa terjadi,” balasnya dengan senyum jenaka.
“Bisa jadi calon suamimu tersesat di pertengahan jalan. Entah tak tahu arah jalan pulang, atau singgah di tikungan yang menawarkan suguhan hangat, dan minuman pelepas dahaga," ucapnya penuh maksud.
Intan menarik sudut bibir menghasilkan senyum miring, dia mendongak, menatap berani pria yang seharusnya tidak boleh dipandangi lama-lama. "Calon imamku adalah insan setia."
"Intan Rasyid, jangan terlalu menaruh rasa percaya kepada manusia tempatnya salah, jika dia setia dan benar-benar menginginkan kau menjadi istrinya, tak mungkin membiarkan hubungan kalian seperti jalan di tempat. Dua tahun berstatus tunangan, bukanlah sesuatu patut dibanggakan oleh seorang wanita. Tanpa kujelaskan, kau lebih dari paham," lagi dan lagi, Anggara dapat membalas telak.
“Tahu apa anda, kau hanyalah orang luar. Jangan berspekulasi liar macam itu!" Intan bersedekap tangan, dan hal tersebut membuat senyum si pria bertambah lebar.
"Aku memang tak tahu banyak, tapi dari gesture tubuh, sorot mata bergetar, menandakan bila kau sendiri pun meragukan hubungan kalian."
"Percaya diri itu bagus. Namun, bila berlebihan tak lagi benar. Bisa jadi anda malah hadir sebagai tamu undangan di pernikahan kami nanti ….” Intan Rasyid memutus adegan saling pandang.
Bukan Anggara Pangestu namanya jika tidak membalas, dan membuat sang bidan desa kesal. “Segala upaya akan aku lakukan demi merebutmu dari dia!”
“Keluar dari sini! Besok-besok jangan datang lagi!” Jari telunjuk lentiknya menunjuk pintu terbuka lebar. Tiba-tiba Intan mengusir, entah apa penyebabnya, yang jelas dia tidak ingin berlama-lama dengan pria ini.
“Calon istri Abang galak betul, tapi Abang suka … macam mana lah tu?” Gigi atasnya menggigit bibir bawah, raut wajah meringis seperti Kuda jantan di musim kawin.
“Astaghfirullah … dah macam bencong kutengok kau! Paok betul memang (bodoh/ gila)” hilang sudah nada formal, keluar juga aksen bahasa sehari-hari desa Subulussalam, wilayah perbatasan Sumatera Utara. Tempat dia mengabdikan diri sebagai bidan desa selama setahun ini.
Kedua tangan Anggara terulur, jari-jarinya seperti hendak mencakar sesuatu, dia gemas sekali mau menerkam gadis yang sudah dua bulan lebih dikejarnya secara ugal-ugalan.
Intan otomatis mundur, berseru lantang sampai rekan sejawatnya mendengar kalimatnya. “Jauhkan tanganmu! Cepat balik kandang sana!”
“Tak mau pulang maunya digoyang!” Rambut Anggara mengikuti gelengan kepala.
Para ibu-ibu terkikik geli, ada yang mengulum senyum takut kelepasan tertawa.
Tiga perawat puskesmas, dan dua bidan desa yang duduk pada kursi lipat, menutupi wajah mereka menggunakan buku pasien.
Intan Rasyid sudah kepalang emosi, melepaskan sepatu flat shoes putih, hendak dilemparkan ke pria menyebalkan sekali.
Namun, ketika dia berdiri lagi setelah membungkuk dan merunduk, sosok pria yang dia sendiri tidak tahu latar belakangnya, apa statusnya, sudah lari tunggang langgang, cuma terlihat punggung dan rambut keritingnya bergoyang ke kanan kiri.
“Karenanya aku tak lagi suka rambut keriting!” gerutunya sambil memakai lagi sepatu putih.
Suasana tegang sekaligus lucu tadi pun mulai mencair, dan imunisasi dapat kembali dilaksanakan.
***
“Kenapa kau tak mendampingiku?!”
Sang asisten mengenakan kaos bahan katun, celana panjang dan sepatu boot, menunduk dalam. “Maaf, Tuan ….”
“Sudah berapa kali ku peringati, jangan panggil tuan, tapi juragan muda, biar serasi dengan sebutan bu bidan desa!” protesnya sembari menguncir rambut menggunakan karet bekas bungkus nasi Padang.
Sarwanto menjawab, "Maaf juragan muda, tadi saya sakit perut _”
“Alasan! Pasti cuma akal-akalanmu agar terhindar dari timpukan sepatu permata hatiku, kan?” tebakannya seratus persen benar.
‘Bukan cuma itu, aku malu. Sampai rasanya ingin sekali memakai topeng,’ bosnya bila sudah berurusan dengan bu bidan muda, urat malunya seketika terputus, malah jadi malu-maluin.
“Macam mana tugas yang kuberikan? Siapa sosok tunangannya calon istriku itu?”
.
.
Bersambung.
tetap semangat ya💪🏻💪🏻💪🏻
luv sekebon Juragan MemamahByak❤
Agam Sidiq : sayang Aku punya kebon lebih besar dr Bang By lo
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Intan : Mama Jumiiiiiiiiiiiiiii., hhuuaaaaaaaaaaaaa
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣