NovelToon NovelToon
Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Amirur Rijal

Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanita yang Tidak Pernah Ia Pahami

Hujan belum berhenti ketika Adrian keluar dari restoran kecil itu.

Udara malam terasa dingin, dan jalanan kota berkilau karena pantulan lampu dari air yang menggenang.

Ia berjalan menuju mobilnya sambil memegang map tipis yang diberikan oleh Bima.

Laporan itu terasa jauh lebih berat daripada sekadar beberapa lembar kertas.

Adrian masuk ke mobil lalu menutup pintu.

Beberapa detik ia hanya duduk diam.

Mesin mobil belum dinyalakan.

Suara hujan yang mengenai kaca mobil menciptakan irama yang monoton.

Tangannya membuka map itu lagi.

Angka-angka yang ada di dalam laporan itu jelas.

Sangat jelas.

Jika proyek dengan Hartono Group benar-benar dijalankan tanpa perubahan besar…

Perusahaan Adrian memang bisa berada dalam bahaya besar.

Pasar properti yang tidak stabil.

Investasi yang terlalu besar.

Risiko kerugian yang bisa menghancurkan arus kas perusahaan.

Namun yang paling mengganggu pikirannya bukanlah angka-angka itu.

Melainkan satu fakta sederhana.

Rania mengetahui semuanya.

Dan dia memilih untuk menolak proyek itu tanpa mengungkapkan alasan sebenarnya.

Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Tiga tahun lalu ia selalu berpikir bahwa Rania adalah wanita yang terlalu lemah untuk dunia yang keras.

Wanita yang tidak mampu bertahan di tengah tekanan.

Wanita yang akhirnya pergi begitu saja dari hidupnya.

Namun sekarang…

Semakin ia mengetahui lebih banyak hal, semakin ia merasa bahwa ia tidak pernah benar-benar mengenal wanita itu.

Adrian akhirnya menyalakan mesin mobil.

Lampu mobil menyala, memotong hujan yang jatuh di depan kaca.

Ia tidak langsung pulang.

Sebaliknya, mobilnya bergerak menuju satu tempat yang tidak ia rencanakan sebelumnya.

Di gedung Hartono Group, sebagian besar lampu sudah dimatikan.

Hanya beberapa lantai yang masih menyala.

Rania masih berada di ruang kerjanya.

Ia sedang menandatangani beberapa dokumen terakhir sebelum pulang.

Pekerjaan biasanya membantu mengalihkan pikirannya.

Namun malam ini…

Entah kenapa pikirannya terus kembali pada satu orang.

Adrian.

Ia tidak tahu apakah pria itu akan mencoba menghubunginya lagi setelah keputusan proyek dibatalkan.

Namun satu hal yang ia tahu dengan pasti.

Jika Adrian mengetahui laporan sebenarnya…

Semua bisa menjadi jauh lebih rumit.

Rania menutup map dokumen terakhir lalu berdiri dari kursinya.

Ia berjalan menuju jendela besar di ruangannya.

Kota terlihat basah oleh hujan.

Lampu-lampu kendaraan bergerak seperti aliran cahaya di jalan.

Ia menyilangkan tangan.

Beberapa kenangan lama muncul tanpa ia inginkan.

Rumah besar yang dulu pernah ia tinggali bersama Adrian.

Makan malam yang selalu terasa sunyi.

Tatapan dingin pria itu setiap kali ia mencoba berbicara.

Dan hari ketika ia akhirnya meninggalkan rumah itu dengan satu koper kecil.

Rania menghela napas pelan.

Sudah tiga tahun.

Namun beberapa kenangan masih terasa terlalu jelas.

Pintu ruangannya tiba-tiba diketuk.

Rania sedikit terkejut.

“Masuk.”

Pintu terbuka.

Namun bukan sekretarisnya yang masuk.

Adrian berdiri di sana.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Hujan yang terdengar dari luar jendela seolah menjadi satu-satunya suara di ruangan itu.

Rania akhirnya berkata dengan nada tenang.

“Kantor sudah hampir tutup.”

Adrian menutup pintu di belakangnya.

“Aku tahu.”

Ia berjalan masuk beberapa langkah.

Rania memperhatikannya.

“Kau datang untuk apa?”

Adrian tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, ia meletakkan map yang dibawanya di atas meja.

“Aku baru saja bertemu seseorang.”

Rania menatap map itu.

Ekspresinya sedikit berubah.

Namun hanya sebentar.

“Dan?”

Adrian membuka map itu lalu mengeluarkan laporan yang ada di dalamnya.

Ia meletakkan lembar pertama di meja.

Rania melihat sekilas angka-angka itu.

Ia langsung tahu dokumen apa itu.

Beberapa detik ruangan kembali sunyi.

Adrian berkata pelan.

“Ini laporan yang sebenarnya, bukan?”

Rania tidak menyangkal.

Namun ia juga tidak menjawab.

Adrian menatapnya.

“Kenapa kau tidak menunjukkannya pada direksi?”

Rania berjalan mendekati meja.

Ia melihat laporan itu sebentar.

Lalu berkata dengan nada yang sangat tenang.

“Karena itu tidak perlu.”

Adrian mengerutkan kening.

“Tidak perlu?”

Rania menatapnya.

“Jika laporan itu dipresentasikan secara lengkap…”

Ia berhenti sebentar.

“…banyak investor lain akan melihat perusahaanmu sebagai investasi yang terlalu berbahaya.”

Adrian terdiam.

Ia sudah memikirkan kemungkinan itu sejak membaca laporan tadi.

Namun mendengarnya langsung dari Rania terasa berbeda.

Adrian berkata pelan,

“Jadi kau sengaja menolak proyek itu.”

Rania tidak menjawab.

Adrian melanjutkan,

“Dan membuat semua orang berpikir kau hanya mengambil keputusan bisnis biasa.”

Rania menatap jendela di samping meja.

Hujan masih turun.

Beberapa detik kemudian ia berkata,

“Keputusan itu memang keputusan bisnis.”

Adrian tertawa kecil.

“Tapi bukan hanya itu.”

Rania tidak membantah.

Namun ia juga tidak menjelaskan lebih jauh.

Adrian menatapnya dengan lebih serius sekarang.

“Kenapa?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Namun maknanya jauh lebih dalam.

Kenapa ia mengambil risiko besar untuk melindungi perusahaan Adrian.

Kenapa ia menyembunyikan laporan itu dari direksi.

Kenapa ia memilih menjadi orang yang disalahkan.

Rania menghela napas pelan.

“Ada banyak alasan.”

Adrian menunggu.

Namun Rania tidak melanjutkan kalimatnya.

Akhirnya Adrian berkata,

“Apakah ini karena masa lalu kita?”

Rania langsung menggeleng.

“Tidak.”

Jawabannya cepat.

Hampir terlalu cepat.

Adrian memperhatikan ekspresinya.

“Kalau begitu kenapa?”

Rania menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata dengan suara yang lebih pelan.

“Karena aku tidak ingin melihat seseorang kehilangan segalanya.”

Kalimat itu membuat Adrian terdiam.

Rania melanjutkan,

“Aku tahu bagaimana rasanya.”

Ruangan kembali sunyi.

Adrian tidak pernah mendengar Rania berbicara seperti ini sebelumnya.

Selama pernikahan mereka, wanita itu jarang sekali membuka perasaannya.

Sekarang ia mulai menyadari satu hal.

Mungkin bukan Rania yang tidak pernah berbicara.

Mungkin dia yang tidak pernah benar-benar mendengarkan.

Adrian akhirnya berkata,

“Kenapa kau tidak memberitahuku saja?”

Rania tersenyum samar.

“Saat kita masih menikah… kau tidak pernah benar-benar ingin mendengar apa pun dariku.”

Kata-kata itu terasa seperti pukulan yang tenang tapi tepat.

Adrian tidak bisa langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu sebelum ia berkata,

“Aku berbeda sekarang.”

Rania menatapnya.

“Semua orang selalu mengatakan itu.”

Adrian menghela napas.

“Aku serius.”

Rania tidak menjawab.

Ia hanya berjalan kembali ke mejanya lalu menutup laporan itu.

“Proyek itu sudah selesai.”

Ia berkata dengan nada profesional lagi.

“Perusahaanmu masih punya kesempatan mencari investasi lain.”

Adrian menatapnya.

“Ini belum selesai.”

Rania mengangkat alis sedikit.

“Maksudmu?”

Adrian berkata dengan tenang,

“Aku tidak akan membiarkanmu mengambil semua risiko sendirian.”

Rania sedikit mengerutkan kening.

“Risiko apa?”

Adrian menunjuk laporan di meja.

“Jika direksi mengetahui kau menyembunyikan data ini…”

Rania tersenyum tipis.

“Itu masalahku.”

Adrian berkata dengan tegas,

“Tidak lagi.”

Beberapa detik mereka saling menatap.

Akhirnya Rania berkata pelan,

“Adrian…”

Namun sebelum ia melanjutkan kalimatnya, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka.

Arsen masuk dengan ekspresi serius.

“Sepertinya aku datang di waktu yang… menarik.”

Ia melihat Adrian dan laporan di meja.

Senyumnya perlahan menghilang.

“Direksi baru saja mengetahui sesuatu.”

Rania menoleh.

“Apa?”

Arsen berkata dengan nada serius.

“Mereka mengetahui bahwa ada laporan analisis lain yang tidak pernah dipresentasikan.”

Ruangan langsung terasa lebih dingin.

Arsen melanjutkan.

“Dan mereka ingin bertemu denganmu sekarang.”

Rania terdiam.

Adrian menatapnya.

Untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai…

Situasi benar-benar berada di luar kendali mereka.

Dan keputusan yang Rania buat untuk melindungi perusahaan Adrian…

Mungkin akan menghancurkan posisinya sendiri di Hartono Group.

1
Amirur Rijal
siap, makasih
Lena mula
Semangat terus nulisnya ya kak💪🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!