NovelToon NovelToon
Batas Jarak Dan Baktimu

Batas Jarak Dan Baktimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
​Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan di Persimpangan

​Jakarta yang sibuk masih terasa seperti ruang hampa bagi Arya. Di kantin markas besar, kepulan asap kopi dan aroma gorengan menyatu dengan hiruk-pikuk suara para prajurit yang sedang melepas penat. Namun, di salah satu sudut meja kayu, Kapten Pradipta Arya duduk mematung. Matanya yang merah menatap kosong ke dalam cangkir kopi hitam yang sudah dingin. Seragamnya yang selalu rapi kini tampak sedikit kebesaran di tubuhnya yang kian menyusut.

​"Wajahmu itu, Ya... lebih mirip orang habis kalah perang sepuluh tahun daripada pengantin baru yang seharusnya masih manis-manisnya," suara bariton itu memecah lamunan Arya.

​Dimas, teman seleting Arya sejak di Akmil, duduk di hadapannya sambil meletakkan sepiring nasi rames. Dimas adalah salah satu sahabat yang tahu sedikit banyak tentang sejarah Arya di asrama dulu, namun ia tidak tahu sedalam apa luka yang sedang menganga sekarang.

​"Kurang tidur saja, Dim. Banyak laporan operasi yang harus dikejar," sahut Arya datar, suaranya serak dan tak bertenaga.

​Dimas menghentikan suapannya, ia menatap Arya dengan intens. Sebagai sesama perwira, ia memiliki insting yang tajam untuk membaca kondisi mental bawahannya, apalagi sahabatnya sendiri. "Jangan bohong padaku. Kita ini sudah melewati lumpur dan hujan bersama di lembah Tidar. Aku tahu bedanya lelah karena tugas dan lelah karena... hancur di dalam."

​Arya menghela napas panjang, ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras. Ia tidak ingin mengeluh, namun rasanya dadanya sudah terlalu penuh.

​"Pernahkah kamu merasa, Dim... kamu memakai seragam ini untuk melindungi negara, tapi kamu sendiri tidak bisa melindungi rumahmu dari api yang kamu nyalakan sendiri?" tanya Arya tersirat.

​Dimas tertegun. Ia meletakkan sendoknya. Ia tahu arah pembicaraan ini bukan lagi soal administrasi militer, tapi soal Maura dan pernikahan megah yang baru saja berlangsung beberapa bulan lalu.

​"Kalau rumah itu dibangun di atas fondasi yang salah, memang sulit memadamkan apinya, Ya," jawab Dimas pelan. "Tapi ingat satu hal. Kamu itu abdi negara. Di pundakmu ada pangkat, di kepalamu ada baret. Posisi kita tidak mudah. Kita tidak hanya milik diri sendiri atau keluarga, tapi milik institusi. Jangan sampai masalah pribadimu membuatmu melakukan tindakan konyol yang bisa merusak karier yang sudah kamu bangun dengan darah."

​Arya hanya tersenyum pahit. Karier. Nama besar keluarga. Itulah yang selalu menjadi penjara baginya. "Aku tahu, Dim. Aku tetap menjalankan tugasku. Aku tidak akan membiarkan negaraku kecewa, meski aku sendiri sudah merasa gagal menjadi manusia."

​Dimas menepuk bahu Arya dengan keras, mencoba menyalurkan sedikit kekuatan. "Pulanglah lebih awal hari ini. Temui Maura, bicara baik-baik. Sebagai teman, aku iba melihatmu begini. Kamu seperti mayat hidup yang dipaksa memakai seragam."

​Arya hanya mengangguk kecil, meski ia tahu bahwa pulang ke Menteng adalah bentuk siksaan lain yang harus ia jalani setiap hari

***

​Sementara itu, di Amsterdam, musim dingin mulai melunak berganti dengan aroma musim semi yang samar. Bunga-bunga tulip di pinggiran kanal Prinsengracht mulai menunjukkan kuncupnya. Malam itu, Julian mengajak Nina makan malam di sebuah restoran kecil yang sangat privat, jauh dari hiruk-pikuk pusat turis.

​Julian tampak lebih rapi dari biasanya. Kemeja birunya selaras dengan matanya yang jernih. Sepanjang makan malam, pria Belanda itu tidak banyak bicara soal proyek arsitektur panggungnya, ia justru lebih banyak mendengarkan Nina bercerita tentang filosofi tarian Jawa yang penuh dengan makna ketenangan.

​Setelah makan malam selesai, mereka berjalan menyusuri kanal yang airnya memantulkan cahaya lampu kota yang kekuningan. Udara masih cukup dingin, membuat Nina merapatkan syalnya.

​"Nina," Julian berhenti melangkah di atas sebuah jembatan lengkung yang ikonik.

​Nina ikut berhenti, menatap Julian dengan bingung. "Ya, Julian?"

​Pria itu meraih kedua tangan Nina. Genggamannya hangat, namun ada sedikit getaran yang menandakan ia juga gugup. "Aku sudah memikirkan ini sejak lama. Mungkin sejak pertama kali aku melihatmu menari di panggung itu, saat aku merasa ada sesuatu yang sangat dalam dan terluka di balik gerakanmu."

​Nina menahan napas. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini, namun hatinya mendadak berdebar dengan ritme yang tidak menentu.

​"Aku mencintaimu, Nina. Bukan hanya sebagai penari hebat yang aku kagumi, tapi sebagai wanita yang ingin aku lindungi," Julian berkata dengan kejujuran yang telanjang. "Aku tahu ada masa lalu yang besar di belakangmu. Aku tahu ada bayangan pria lain yang terkadang masih membuat matamu meredup di tengah latihan. Tapi aku ingin menawarkan masa depan. Aku ingin menjadi alasanmu untuk tersenyum tanpa perlu mengingat luka di Jakarta."

​Nina terpaku. Pernyataan Julian begitu resmi, begitu dewasa, dan begitu tulus. Tidak ada drama militer, tidak ada paksaan orang tua, hanya ada dua manusia di bawah langit Amsterdam.

​"Julian... aku..." Nina terbata.

​"Jangan jawab sekarang kalau kamu belum siap," potong Julian lembut. "Aku hanya ingin kamu tahu posisiku. Aku ingin bersamamu, bukan sebagai teman kerja, tapi sebagai pasanganmu. Ambillah waktumu."

​Malam itu, Nina pulang ke apartemen dengan pikiran yang sangat kalut. Ia duduk di kamarnya, menatap ke arah jendela yang basah oleh embun.

*

​Nina tenggelam dalam dilema yang menyiksa. Di satu sisi, Julian adalah segala yang ia butuhkan saat ini. Julian adalah stabilitas. Julian adalah dukungan tanpa syarat. Julian adalah pintu menuju kehidupan normal tanpa perlu merasa rendah karena status sosial atau kasta militer.

​Jika aku menerimanya, apakah aku bisa benar-benar mencintainya? batin Nina.

​Pikirannya kembali pada Arya. Meski ia sudah tidak pernah membalas pesan Arya, bayangan pria berpakaian seragam itu tetap menjadi hantu dalam memorinya. Ia teringat bagaimana Arya menjaganya saat ayahnya meninggal. Ia teringat rasa aman saat berada di dekapan Arya. Masalahnya adalah, setiap kali ia mencoba membuka hati untuk Julian, wajah Arya selalu muncul sebagai pembanding. Ia merasa bersalah jika ia menerima Julian namun hatinya masih menyimpan serpihan nama lain. Itu tidak adil bagi Julian.

​Namun, di sisi lain, Nina merasa takut. Ia sudah tidak muda lagi. Kesuksesannya di Belanda memang gemilang, namun kesuksesan profesional tidak bisa mengisi kekosongan bantal di sampingnya saat malam tiba. Julian adalah pria terbaik yang pernah mendekatinya sejauh ini.

​Jika aku menolaknya, apakah kesempatan seperti ini akan datang dua kali? Apakah aku akan berakhir menua sendirian di negeri orang, hanya ditemani oleh kenangan pahit dari masa lalu yang tidak akan pernah kembali?

​Nina memegang liontin kalungnya. Ia teringat nasehat ibunya di saat terakhir: Pilihlah kebahagiaanmu sendiri, Nin. Jangan merusak martabatmu demi sesuatu yang sudah mati.

​Nina menyadari bahwa menggantungkan hidup pada bayang-bayang Arya adalah bentuk penghianatan pada dirinya sendiri. Arya sudah memilih baktinya pada maminya. Arya sudah memilih jalannya bersama Maura. Terus meratapi Arya sama saja dengan membiarkan dirinya terkunci di dalam penjara yang kuncinya sudah dibuang oleh orang lain.

​Namun, mencintai Julian juga bukan hal yang mudah. Mencintai Julian berarti ia harus benar-benar membunuh "Nina yang dulu", Nina si putri bintara yang mencintai putra Jenderal.

​***

​Di Jakarta, Arya baru saja sampai di rumahnya yang dingin. Ia melihat Maura sudah tidur, atau mungkin pura-pura tidur di ranjang besar mereka. Arya duduk di sofa ruang tengah, kembali membuka ponselnya. Ia mengirimkan satu pesan lagi ke Nina, pesan yang sudah menjadi rutinitas menyakitkan baginya.

​Arya: Nin, temanku bilang aku seperti mayat hidup. Mungkin dia benar. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membuatmu membalas pesanku. Aku hancur, Nin. Benar-benar hancur.

​Pesan itu tetap tidak dibaca. Arya melempar ponselnya ke lantai karpet. Ia membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Depresinya mencapai titik puncak malam itu. Ia merasa menjadi sampah. Ia merasa telah mengkhianati Nina, namun ia juga merasa telah mengkhianati istrinya sendiri dengan tidak memberikan kasih sayang yang seharusnya. Ia terjepit di antara dua wanita yang keduanya ia lukai dengan caranya masing-masing.

​Arya mulai merasakan sesak di dadanya, sebuah serangan kecemasan yang sering datang belakangan ini. Ia merasa dunia ini begitu sempit. Baginya, pangkat di pundaknya sekarang terasa seperti beban berton-ton yang siap meremukkan tulang-tulangnya.

​*

​Keesokan paginya, Nina bangun dengan mata sembab. Ia sudah mengambil keputusan. Bukan sebuah keputusan yang sempurna, namun sebuah keputusan untuk bertahan hidup.

​Saat ia berangkat ke studio, ia bertemu dengan Julian yang sudah menunggunya di depan gedung dengan dua cup kopi hangat.

​"Nina," sapa Julian dengan senyum tenang, tidak menuntut jawaban segera.

​Nina berhenti di depan Julian. Ia menatap mata biru pria itu lama. "Julian... aku tidak bisa menjanjikan bahwa bayang-bayang masa laluku akan hilang dalam semalam. Aku masih memiliki luka yang terkadang masih berdarah."

​Wajah Julian sedikit berubah, namun ia tetap mendengarkan.

​"Tapi," lanjut Nina dengan suara yang lebih mantap. "Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku ingin mencoba. Aku ingin belajar mencintaimu dan meninggalkan masa lalu itu di belakang. Jika kamu bersedia bersabar denganku, aku ingin kita menjalani ini bersama."

​Senyum Julian merekah luas. Ia tidak keberatan dengan syarat itu. Ia menarik Nina ke dalam pelukannya di tengah trotoar Amsterdam yang mulai ramai. "Aku punya seluruh waktu di dunia untuk menunggumu benar-benar sembuh, Nina. Terima kasih sudah memberi kita kesempatan."

​Nina memejamkan mata dalam pelukan Julian. Rasanya hangat, namun ada sedikit rasa hampa yang masih tertinggal. Ia tahu, ia baru saja melangkah keluar dari satu babak hidupnya. Ia mulai belajar untuk tidak lagi menoleh ke belakang, ke arah Jakarta yang penuh dengan duka dan seragam militer yang menyesakkan.

​Di saat yang bersamaan di Jakarta, Arya sedang berdiri di lapangan upacara, memberikan hormat pada bendera merah putih di bawah terik matahari. Air matanya mengalir di balik kacamata hitamnya. Secara insting, ia merasa bahwa di suatu tempat yang jauh, Nina baru saja benar-benar melepaskan genggamannya. Dan bagi Arya, itu adalah kematian yang paling nyata daripada gugur di medan laga.

1
falea sezi
kapok. jd cowok. kok. lemah ibumu. cm akting
falea sezi
ma emak nya aja kalah laki plin. plan pengecut makan itu karir
Erlina Candra
kereen karyanya Thor..semakin penasaran
Boa: Terima kasih banyak kak, semoga suka ya 🙏☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!