Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Senin pagi yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan tempur bagi Ziva. Di depan cermin, ia menatap pantulan dirinya yang mengenakan seragam resmi Bhayangkari—setelan berwarna merah muda yang khas. Rambutnya disanggul rapi namun minimalis, sesuai instruksi Mama Baskara yang meneleponnya berkali-kali sejak subuh tadi.
Ziva menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal saat ia melangkah turun ke ruang tamu. Di sana, Baskara sudah menunggu dengan seragam dinas lengkapnya yang gagah. Pria itu tampak sedang memeriksa jam tangannya, namun tatapannya langsung terpaku saat melihat Ziva turun.
"Ngapain sih, Kak, gue harus ikut ginian? Mending di rumah nonton drakor tahu nggak! Episode terakhirnya baru keluar semalam, gue belum sempat liat!" gerutu Ziva sambil mencoba membenarkan kerah seragamnya yang terasa mencekik.
Baskara berdiri, ia melangkah mendekat dan secara alami tangannya bergerak merapikan kerah Ziva yang sedikit melipat. "Ini pertemuan rutin, Ziva. Sebagai istri perwira, kehadiran kamu itu formalitas yang penting. Cuma sebentar, setelah ini aku janji bakal beliin cemilan apa pun yang kamu mau buat nemenin nonton drakor itu."
Ziva mendengus, namun ia tidak menepis tangan Baskara. "Bener ya? Awas kalau bohong. Gue mau es krim literan yang rasa cokelat chip."
"Iya, janji. Ayo berangkat, kita nggak boleh telat. Ibu Kapolres sangat disiplin soal waktu," ucap Baskara sambil membimbing Ziva menuju mobil.
Aula yang Mengintimidasi
Sesampainya di aula pertemuan, Ziva merasa seperti ikan yang dilempar ke daratan. Ratusan wanita berbaju merah muda memenuhi ruangan. Suara obrolan tentang program kerja, arisan, hingga tips mendampingi suami yang sedang bertugas memenuhi udara. Ziva merasa asing. Ia lebih terbiasa dengan lingkungan kampus ekonomi yang dinamis atau meja kerjanya saat menulis cerita di NovelToon.
Baskara harus meninggalkannya di pintu masuk karena ia ada tugas pengamanan internal di sisi lain gedung. "Jangan jauh-jauh. Nanti aku jemput di sini," bisik Baskara sebelum berlalu.
Ziva berdiri mematung di sudut aula, memegang gelas air mineralnya dengan canggung. Ia merasa diperhatikan oleh beberapa senior yang tampak berbisik-bisik—mungkin mereka adalah teman-teman dari ibu-ibu minimarket kemarin.
"Permisi... Mbak Ziva, ya? Istrinya Inspektur Baskara?"
Ziva menoleh. Seorang perempuan berdiri di hadapannya. Perempuan itu mengenakan seragam yang sama, namun pembawaannya sangat tenang dan anggun. Wajahnya mungil dengan senyum yang sangat tulus.
"Iya, saya Ziva," jawab Ziva pendek, masih dengan mode pertahanannya.
"Kenalkan, saya Nisa. Suami saya rekan satu tim Mas Baskara di lapangan," perempuan itu mengulurkan tangan.
Ziva menyambut jabatan tangan itu. Saat kulit mereka bersentuhan, Ziva merasa ada getaran aneh. Ia menatap Nisa lebih dalam. Cara Nisa tersenyum, cara matanya menyipit saat tertawa kecil, bahkan tinggi badannya... semuanya sangat familiar.
"Usia Mbak Nisa berapa?" tanya Ziva tiba-tiba, melupakan sopan santun sejenak karena rasa penasarannya yang membuncah.
Nisa sedikit terkejut namun tetap tersenyum manis. "Saya dua puluh lima tahun. Kenapa, Mbak? Kelihatan lebih tua ya?" candanya.
Dua puluh lima tahun.
Jantung Ziva berdegup kencang. Itu adalah usia yang persis sama dengan Kak Kirana jika kakaknya masih hidup sekarang. Nisa adalah proyeksi sempurna dari apa yang seharusnya menjadi masa depan Kirana. Seorang istri polisi yang anggun, yang berdiri di aula ini dengan bangga, yang mungkin akan menjadi sahabat karib Ziva.
"Enggak... cuma, mirip seseorang yang saya kenal," bisik Ziva lemas.
"Oh ya? Wah, jangan-jangan kita saudara jauh," Nisa terkekeh, lalu ia menarik kursi di sampingnya. "Duduk di sini saja, Mbak Ziva. Jangan berdiri sendirian di pojok. Mas Baskara itu orangnya kaku banget, pasti dia belum sempat ngenalin Mbak ke siapa-siapa, kan?"
Ziva duduk dengan ragu. "Iya. Dia emang... kaku banget. Kayak robot."
Nisa tertawa lepas, sebuah tawa yang terdengar sangat merdu dan menenangkan. "Tapi dia sangat protektif, Mbak. Suami saya cerita, di kantor Mas Baskara sering banget cek HP cuma buat mastiin kabar Mbak Ziva. Dia itu sebenernya sayang, cuma cara nyampeinnya aja yang lewat jalur formalitas."
Ziva terdiam. Ia memperhatikan Nisa yang sedang bercerita tentang pengalamannya pertama kali bergabung di Bhayangkari. Setiap gerak-gerik Nisa mengingatkannya pada Kirana. Cara Nisa membenarkan letak jilbabnya, cara dia bicara yang sangat sopan... Ziva merasa seolah Kak Kirana sedang duduk di sampingnya, memberikan semangat untuk bertahan di lingkungan ini.
"Mbak Ziva, saya tahu ini nggak mudah buat Mbak. Menikah mendadak dan langsung masuk ke lingkungan yang penuh aturan begini," ucap Nisa lembut, seolah bisa membaca pikiran Ziva. "Tapi kalau Mbak butuh teman curhat atau sekadar teman buat kabur dari acara formal begini, telepon saya saja ya. Ini nomor saya."
Ziva menerima secarik kertas kecil berisi nomor telepon Nisa. Ia merasa ada beban yang sedikit terangkat dari pundaknya. Kehadiran Nisa seperti sebuah oase di tengah padang pasir yang membosankan.
"Makasih, Mbak Nisa. Jujur, tadi saya hampir mau lari pulang," aku Ziva jujur.
"Hahaha, jangan! Nanti Mas Baskara bisa kena tegur pimpinan. Tahan sebentar ya, habis ini kita makan siang bareng di meja sana," ajak Nisa.
Sepanjang acara, Nisa terus berada di samping Ziva, memperkenalkannya kepada anggota lain dengan cara yang sangat elegan, sehingga tidak ada yang berani memberikan tatapan sinis seperti di minimarket kemarin. Ziva merasa dilindungi oleh "bayangan" kakaknya sendiri melalui sosok Nisa.
Saat acara selesai dan Baskara datang menjemputnya di lobi, ia mendapati Ziva sedang tertawa kecil bersama Nisa. Baskara sempat tertegun, matanya sedikit membelalak melihat Ziva bisa seakrab itu dengan orang baru.
"Sudah selesai?" tanya Baskara sambil menghampiri mereka.
"Sudah, Mas. Istrinya saya pinjam sebentar ya tadi, biar nggak bosen," ucap Nisa sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Ziva.
Baskara mengangguk sopan pada Nisa. "Terima kasih, Nis. Sudah bantu Ziva."
Di dalam mobil saat perjalanan pulang, Ziva lebih banyak diam, namun kali ini diamnya bukan karena marah. Ia menatap ke luar jendela dengan perasaan yang lebih tenang.
"Gimana pertemuannya? Membosankan?" tanya Baskara hati-hati.
"Lumayan. Tapi untung ada Mbak Nisa. Dia... baik banget," jawab Ziva pelan.
"Nisa itu orang baik. Dia memang paling pinter ngerangkul anggota baru," Baskara melirik Ziva. "Kenapa? Kamu kayak lagi mikirin sesuatu."
"Dia seumur sama Kak Kirana, Kak," ucap Ziva tiba-tiba.
Baskara terdiam. Ia memegang kemudi lebih erat. Ia sekarang paham mengapa Ziva bisa langsung akrab dengan Nisa. Ternyata, luka itu masih menjadi kompas yang mengarahkan setiap langkah Ziva, bahkan saat mencari teman sekalipun.
"Iya. Aku tahu," balas Baskara lirih. "Makanya aku senang kamu ketemu dia."
Sore itu, Senin yang tadinya dibenci Ziva berubah menjadi hari di mana ia menemukan satu lagi alasan untuk tetap bertahan. Bukan karena seragam merah mudanya, tapi karena ia menyadari bahwa di dunia ini, Tuhan masih mengirimkan orang-orang seperti Nisa untuk membantunya berdamai dengan masa lalu—dan mungkin, berdamai dengan pria di sampingnya.