Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 - Pinjaman Cepat
Ge terlihat santai saat memergoki Tantri merokok. Dia bahkan merasa miris melihatnya. Apalagi rokok yang dibuang cewek itu belum dimatikan dan tidak dibuang ke tempat sampah.
"Gue mau bersihin toilet ini. Lagian kan tadi gue udah sempat tanya apa ada orang di dalam atau nggak. Harusnya lu jawab!" tukas Ge.
"Gue nggak dengar!" Tantri memperlihatkan headset yang terpasang di telinga. Setelah itu, dia hendak beranjak pergi.
Tantri sebenarnya heran pada Ge. Cowok itu terkesan biasa saja kepadanya. Padahal kebanyakan cowok saat berhadapan dengannya selalu tertarik bahkan ada yang langsung merayu. Mengingat Tantri punya paras sangat cantik.
"Woy! Jangan langsung pergi gitu aja. Buang dong rokok bekas lu itu ke tempat sampah!" tegur Ge.
Tantri semakin dibuat terperangah. "Eh, bukannya lu mau bersihin nih toilet? Ya elu lah yang bersihin!" balasnya.
"Bersihin atau lu mau gue laporin ke guru kalau tadi lu merokok?" ancam Ge.
Tantri seketika ciut. Dengan terpaksa dia buang rokok bekasnya ke bak sampah.
"Jangan lupa kalau mau buang rokok itu matikan dulu apinya!" kata Ge.
Tantri menurut dengan terpaksa. Di akhir, dia acungkan jari tengah ke wajah Ge.
Ge menggelengkan kepala. Dia heran kenapa cewek seperti Tantri bisa jadi primadona sekolah.
Setelah hampir dua jam membersihkan toilet, Ge akhirnya selesai. Dia segera menemui Bimo dan Taufik yang masih menunggu di parkiran.
"Lama banget sih lu! Udah jamuran kami nunggunya," keluh Taufik.
"Dih! Baru juga lima menit, udah jamuran," tanggap Ge santai.
Plak!
Ge langsung kena geplak di kepala oleh Bimo. "Lima menit pala lu!"
Ge terkekeh. Dia dan dua sahabatnya itu segera pergi ke tempat nongkrong seperti biasa. Mereka berkumpul di sebuah gedung terbengkalai untuk mencoba hal yang membuat mereka penasaran.
"Tada! Lihat guys!" ujar Bimo sambil memperlihatkan lem oplosan yang dibawanya.
"Anjir! Cepat pasang-pasang! Biar cepat terbang kita," sahut Taufik tak sabar.
"Kita ngapain sih gini-gini? Sebenarnya nggak ada gunanya loh," imbuh Ge.
"Terus lu nggak mau?" tanya Bimo.
"Enak aja. Mau lah!" jawab Ge langsung.
"Kampret! Sok-sokan ngingetin. Padahal dia yang paling parah di antara kita," ucap Taufik. Dia, Bimo, dan Ge langsung menghirup lem oplosan sambil duduk menyandar di dinding yang tampak penuh dengan coretan grafiti. Dalam sekejap, mereka mulai melayang.
"Ge... Fik... Kalian sadar nggak sih kalau ketek Elina itu bau?" celetuk Taufik. Dia mulai meracau. Tapi yang dibahasnya adalah fakta.
"Semua orang sadar kali... Tapi Elina-nya aja kayaknya belum sadar," sahut Bimo.
Ge tersenyum lebar dengan wajah mabuknya. "Sumpah ya, pas presentasi kemarin, gue rasanya ada di lembah ketek karena itu ketek Elina bau banget. Jengkol aja kayaknya nggak sebau itu..." racaunya. Bimo, Taufik, dan Ge lalu tertawa bersama.
"Harus ada sih seseorang yang kasih tahu Elina tentang bau keteknya," ungkap Taufik.
"Tapi kayaknya nggak ada yang tega deh, Fik. Elina kan cewek baik-baik. Terus dia pintar juga kan ya," kata Bimo.
"Gue punya ide!" cetus Ge. Taufik dan Bimo lantas menatap ke arahnya.
"Kalian tahu lagu Project Pop nggak? Yang lagunya gini, 'bau, bau, bau lu bau ketek. Bau, bau, bau lu bau ketek...' gitu," ujar Ge sambil bernyanyi.
"Terus? Lu mau suruh Elina dengar lagu itu?" tanya Bimo.
"Kalau bisa begitu." Ge mengangguk.
"Cih! Paling cuma bacot aja lu!" timpal Taufik.
"Lihat aja ya besok. Gue akan kasih lagu itu buat dia," sahut Ge.
Bimo dan Taufik tergelak bersama. Keduanya tahu betul kalau Ge tak pernah main-main dengan ucapannya. Bahkan saat sedang ngelem.
"Gue jadi nggak sabar nunggu besok," komentar Taufik.
"Anjing banget emang punya temen kayak lu, Ge!" tambah Bimo.
"Begitulah Ge. Preman sekolah yang suka bikin sekolah meledak sama kelakuannya," balas Taufik.
Reputasi Ge di sekolah memang sudah legendaris. Beberapa catatan pelanggarannya seperti, pernah membawa ayam ke kelas biologi, pernah mengganti suara bel sekolah dengan suara ayam, pernah jual gorengan di kelas saat ulangan, dan yang paling aneh, dia pernah debat sama guru sejarah satu jam soal strategi perang pakai lempar sandal.
Anehnya lagi, Ge sebenarnya lumayan pintar. Nilainya cukup untuk naik kelas. Cuma kelakuannya seperti tidak pernah ingin hidup damai.
Sore hari, Ge pulang dengan motor tuanya yang suaranya seperti petasan.
BRRAAAKKK!
Motor berhenti di depan rumah sederhana yang juga jadi tempat usaha.
Di depan rumah ada papan kecil, PINJAMAN CEPAT – TANPA RIBET.
Ge turun dari motor. Belum sempat masuk, seorang wanita paruh baya berbadan gemuk keluar dengan wajah kesal.
“GE!”
Ge langsung nyengir. “Kenapa, Mak?" tanggapnya.
“Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak?! Dasar anak kurang ajar!”
Ge menggaruk kepala. “Cuma pinjam.”
“PINJAM APANYA?!”
“Lah, kan Mamak kerjaannya kasih pinjaman, masa sama anak sendiri nggak dikasih pinjam?”
Mamaknya langsung mau melempar sandal. “BALIKIN Nggak?!”
Ge sudah menyalakan motor kembali. “Nanti aku bayar, Mak! Sekalian sama bunganya juga," balasnya.
“GE!”
Ge tertawa keras. “Makasih, Mak! Love yuhh!”
Motor langsung melaju.
BRRRRAAAAK!
Mamaknya berdiri sambil memegang sandal. “ANAK SETAN!”
Tetangga hanya menggeleng. Semua orang di lingkungan itu tahu Ge. Anak yang dibesarkan pasangan rentenir. Temannya preman. Kerjaannya bikin masalah.