NovelToon NovelToon
Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:161
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.

Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.

Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.

Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.

Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Podium, Penghianatan, dan Pilihan Sulit

Pagi itu, suasana di ruang rapat utama Adiguna Group terasa sepekat kopi hitam tanpa gula. Para pemegang saham duduk dengan wajah tegang, saling berbisik sambil melirik ke arah Devan yang duduk di ujung meja. Devan tampak sangat tenang, mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang menyembunyikan plester beruang kutub di bahunya, namun matanya yang tajam terus mengawasi pintu masuk.

Rendy masuk dengan gaya kemenangan, menenteng tas kerja yang ia yakini berisi dokumen kehancuran Devan. Di sampingnya, Pak Batubara berjalan dengan dagu terangkat, seolah-olah ia sudah menjadi pemilik sah gedung ini.

"Mari kita mulai," ucap Rendy dengan senyum miring. "Saya rasa tidak perlu banyak basa-basi. Kami punya bukti bahwa manajemen Adiguna Group telah melakukan kelalaian besar dalam proyek Bali, dan kami menawarkan proposal akuisisi yang jauh lebih menguntungkan bagi para pemegang saham."

Tepat saat Rendy hendak membuka presentasinya, pintu ruang rapat terbuka lebar.

Nika melangkah masuk dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja memenangkan perang. Tidak ada lagi seragam Mpok Siti. Ia mengenakan gaun "Reborn" miliknya yang berkilauan dengan payet perak, rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya memancarkan otoritas yang membuat ruangan itu mendadak sunyi.

"Tunggu dulu," suara Nika bergema tenang namun tegas. "Sebelum kita membicarakan masa depan perusahaan ini, mari kita bicarakan tentang kejujuran."

Nika berjalan menuju podium, mengabaikan tatapan tajam ayahnya. Ia mencolokkan flashdisk merah yang ia curi kemarin ke laptop pusat. Layar besar di belakangnya tidak menampilkan data proyek, melainkan rekaman percakapan rahasia antara Rendy dan salah satu oknum preman di lokasi proyek, serta bukti aliran dana dari rekening pribadi Pak Batubara untuk menyabotase gudang material Adiguna.

"Apa-apaan ini?!" Pak Batubara berdiri, wajahnya merah padam. "Nika! Berhenti mempermalukan keluargamu sendiri!"

Nika menatap ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca namun tidak goyah. "Papa... yang Papa permalukan adalah dirimu sendiri saat Papa mencoba menjatuhkan menantumu hanya demi ego bisnis. Papa menjualku untuk menyelamatkan perusahaan, dan sekarang Papa ingin menghancurkan pria yang menyelamatkan kita?"

Rendy mencoba memotong, "Ini fitnah! Data itu pasti palsu!"

"Palsu?" Nika tersenyum sinis. "Lihatlah pojok kanan atas layar itu, Rendy. Kamu lupa kalau aku menggambar kumis di wajahmu di foto meja kerjamu? Itu bukti aku sendiri yang mengambil data ini dari laci rahasiamu yang kodenya masih tanggal jadian kita. Sangat klise, kan?"

Beberapa pemegang saham mulai tertawa kecil, sementara Rendy hanya bisa mematung karena malu yang luar biasa.

Suasana berubah mencekam saat Pak Batubara melangkah mendekati Nika. Ia tidak terlihat menyesal, justru terlihat sangat terpojok. "Nika, dengarkan Papa. Jika kamu meneruskan ini, perusahaan Papa akan benar-benar hancur. Semua aset akan disita. Kamu akan membuat orang tuamu menjadi gelandangan!"

Pak Batubara menoleh ke arah Devan, suaranya berubah menjadi permohonan yang licik. "Devan, hentikan istrimu. Jika kamu membiarkannya bicara lebih lanjut, aku akan mencabut seluruh dukungan hukum atas namamu di kasus sengketa tanah Bali. Kamu akan masuk penjara, Devan. Pilih sekarang: selamatkan aku, atau kamu masuk penjara dan Nika kehilangan suaminya."

Nika terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh ke arah Devan. Pilihan itu sangat pahit: membongkar kejahatan ayahnya dan membiarkan ayahnya hancur, atau diam dan membiarkan Devan yang dikorbankan.

Devan berdiri perlahan. Ia tidak menatap mertuanya, melainkan menatap Nika dengan tatapan paling hangat yang pernah ia berikan. "Ni... lakukan apa yang menurutmu benar. Jangan pikirkan aku. Aku lebih baik di penjara dengan nama baik yang bersih, daripada hidup bebas di atas kebohongan."

Nika menggigit bibir bawahnya. Ia melihat ayahnya yang menunggu dengan penuh harap, lalu melihat Devan yang berdiri dengan bangga meski bahunya terluka.

Nika menarik napas panjang, lalu ia menekan tombol play pada rekaman audio berikutnya yang berisi rencana Pak Batubara untuk melarikan diri ke luar negeri dengan membawa sisa dana investor.

"Maafkan aku, Pa," bisik Nika. "Tapi Mas Devan mengajarkanku bahwa fondasi yang kuat tidak dibangun di atas pasir hisap. Aku memilih kebenaran."

Gedung itu mendadak gaduh. Petugas keamanan yang sudah dipanggil Devan sebelumnya masuk bersama polisi untuk mengamankan Rendy dan Pak Batubara. Suasana rapat menjadi kacau, namun Devan segera maju dan memeluk Nika di depan semua orang.

"Kamu berani, Ni. Sangat berani," bisik Devan sambil mendekap Nika yang mulai menangis dalam diam.

Sore harinya, di kantor Devan yang kini sudah sepi. Mereka duduk di lantai beralaskan karpet tebal, kelelahan setelah berjam-jam memberikan keterangan pada polisi.

"Jadi... sekarang aku benar-benar yatim piatu dalam hal dukungan keluarga ya, Mas?" tanya Nika pelan sambil memainkan ujung jas Devan.

Devan menarik Nika ke pangkuannya, sebuah gerakan yang sangat posesif namun lembut. "Kamu punya aku, Ni. Dan kamu punya Mama Sofia. Kita akan membangun keluarga yang tidak membutuhkan jaminan utang untuk tetap bersatu."

Nika mendongak, mencoba menceriakan suasana. "Tapi Mas, kalau nanti kita jatuh miskin karena kasus ini, kamu mau tidak jadi model butikku? Tadi di kantor polisi, aku lihat beberapa polwan menatapmu terus. Kamu laku kalau pakai baju ketat."

Devan tertawa kecil, mencubit pipi Nika dengan gemas. "Baru saja kita hampir masuk penjara, pikiranmu sudah kembali ke bisnis dan baju ketat? Benar-benar random."

"Habisnya, aku harus punya rencana cadangan! Oh, dan satu lagi," Nika merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah plester baru, kali ini bergambar anak ayam kuning. "Plester beruang kutubmu sudah lepas saat kamu berkelahi dengan emosi tadi. Sini, suster pasang yang baru."

Devan pasrah saat Nika menempelkan plester anak ayam itu di bahunya. "Nika... kalau besok media memotretku dengan plester ayam ini, aku akan bilang ini adalah tren terbaru hasil desain istrimu."

"Tentu saja! Namanya 'The Resilience Chicken'. Simbol kekuatan di balik keimutan!" Nika tertawa, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Devan.

Meskipun hari itu sangat berat dan penuh drama keluarga, mereka tahu bahwa mereka telah melewati ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Mereka tidak lagi hanya sekadar "pasangan perjodohan", melainkan rekan seperjuangan yang siap menghadapi dunia, satu plester lucu dalam satu waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!