Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Keputusan
Pagi itu terasa berbeda bagi Nina.
Alarm berbunyi pukul enam pagi, dan seperti biasa ia langsung bangun tanpa menunda. Namun hari ini langkahnya terasa lebih lambat dari biasanya.
Di meja kecil dekat jendela apartemennya tergeletak sebuah map.
Di dalam map itu ada dokumen yang bisa mengubah hidupnya.
Kontrak kerja di Singapura.
Promosi besar.
Gaji lebih tinggi.
Karier internasional.
Semua yang dulu ia impikan.
Nina berdiri di depan jendela sambil memegang map itu.
Kota di bawah terlihat mulai ramai. Mobil-mobil bergerak seperti garis cahaya di jalan.
“Ini yang selalu aku inginkan,” gumamnya pelan.
Namun anehnya, pikirannya tidak dipenuhi oleh bayangan kantor baru atau gedung-gedung tinggi di Singapura.
Yang muncul justru wajah seseorang yang sering datang terlambat ke kafe.
Raka.
Dengan rambut sedikit berantakan.
Dengan senyum santai.
Dengan kalimat khasnya.
Ya mungkin besok.
Nina menghela napas panjang.
“Hidup ini benar-benar aneh…”
Di sisi lain kota, Raka juga bangun pagi.
Tapi bukan karena alarm.
Ia bahkan hampir tidak tidur semalaman.
Di meja apartemennya masih terbuka buku catatan kecil berisi rencana hidup yang ia tulis kemarin.
Halaman itu masih sama.
Rencana Raka (versi tidak menunda):
Bangun pagi lebih sering
Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
Tidak membiarkan kopi dingin
Mengatakan perasaan dengan jelas
Tidak kehilangan Nina
Raka menatap poin terakhir cukup lama.
Ia menghela napas.
“Ya mungkin aku terlalu optimis.”
Ia menutup buku itu perlahan.
Hari ini Nina akan memberi keputusan tentang Singapura.
Dan mungkin juga… tentang mereka.
Siang hari.
Kantor Nina terlihat sibuk seperti biasa.
Namun di ruang kerja Nina, suasana terasa jauh lebih sunyi.
Bosnya berdiri di depan mejanya sambil membawa pulpen.
“Nina, kantor pusat butuh jawaban hari ini.”
Nina mengangguk pelan.
“Aku tahu.”
Bosnya tersenyum.
“Kamu adalah kandidat terbaik yang pernah kami kirim ke kantor Singapura.”
Nina menatap kontrak itu.
Beberapa detik ia hanya diam.
Lalu bosnya bertanya,
“Apakah ada sesuatu yang membuatmu ragu?”
Nina berpikir sebentar.
Kemudian ia menjawab jujur.
“Ada seseorang.”
Bosnya tertawa kecil.
“Ah… selalu begitu.”
Nina tersenyum tipis.
Bosnya berkata lagi,
“Tapi ingat, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.”
Kalimat itu menggantung di ruangan.
Sore hari.
Kafe Kopi dan Tawa seperti biasa dipenuhi aroma kopi.
Raka duduk di meja yang sama seperti biasanya.
Namun kali ini ia tidak memesan tiga kopi.
Hanya satu.
Dan kopi itu masih panas.
Barista mendekat.
“Hari ini hari penentuan?”
Raka mengangguk.
“Iya.”
Barista melihat ekspresi Raka.
“Kamu terlihat seperti orang yang menunggu hasil ujian.”
Raka tersenyum kecil.
“Kurang lebih begitu.”
Barista menepuk bahunya.
“Apapun yang terjadi… setidaknya kamu tidak menunda mengatakan perasaanmu.”
Raka mengangguk.
“Itu kemajuan besar.”
Beberapa menit kemudian pintu kafe terbuka.
Raka langsung menoleh.
Nina masuk.
Ia masih memakai pakaian kantor.
Di tangannya ada map yang sama dari pagi tadi.
Ketika melihat Raka, langkahnya sedikit melambat.
Raka berdiri.
“Hai.”
Nina tersenyum kecil.
“Hai.”
Ia duduk di kursi seberang Raka.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Akhirnya Raka berkata,
“Jadi…”
Nina mengangguk.
“Ya.”
Raka mencoba terdengar santai.
“Keputusan besar?”
“Keputusan besar.”
Raka menarik napas.
“Singapura?”
Nina membuka map itu perlahan.
Ia mengeluarkan kontrak kerja.
Raka menatap kertas itu seperti seseorang yang sedang melihat hasil pertandingan hidupnya.
Nina berkata pelan,
“Aku sudah membuat keputusan.”
Raka menunggu.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Nina menatapnya.
Lalu berkata,
“Aku menolak tawaran itu.”
Raka membeku.
“...Apa?”
Nina tersenyum kecil.
“Aku tidak jadi pergi ke Singapura.”
Raka masih terlihat tidak percaya.
“Kenapa?”
Nina menatap cangkir kopi di meja.
Kemudian menatap Raka lagi.
“Aku mengejar karier selama bertahun-tahun.”
Raka tidak berkata apa-apa.
Nina melanjutkan,
“Dan aku sadar sesuatu.”
“Apa?”
Nina tersenyum lembut.
“Bahwa hidup tidak selalu tentang mengejar sesuatu yang jauh.”
Raka menatapnya dengan bingung.
Nina berkata pelan,
“Kadang… kebahagiaan ada di tempat yang tidak kita rencanakan.”
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Raka akhirnya berkata dengan suara kecil,
“Apakah… itu berarti…”
Nina memotong kalimatnya.
“Ya mungkin.”
Raka tertawa pelan.
“Kamu mulai menggunakan kalimatku.”
Nina mengangguk.
“Mungkin aku mulai terpengaruh.”
Matahari sore mulai masuk melalui jendela kafe.
Suasana terasa hangat.
Untuk pertama kalinya…
Masa depan mereka terasa sedikit lebih jelas.
Dan Raka akhirnya berkata,
“Jadi… apa rencana kita sekarang?”
Nina tersenyum.
“Kita lihat saja.”
Raka mengangguk.
“Ya mungkin besok.”
Nina tertawa.