Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Langkah kaki Felysha Anindhita menghasilkan ketukan yang hampa saat menyentuh permukaan trotoar batu di daerah Passy. Ia merapatkan kerah mantel hitamnya, menarik kain wol itu hingga benar-benar menutupi dagu agar embusan angin malam tidak langsung menusuk lehernya. Di saku mantel, jemarinya terkepal kuat, mencoba mencari kehangatan di balik lapisan kain yang tipis. Ia terus berjalan lurus, menjauh dari cahaya lampu lobi apartemennya yang kini terasa seperti mercu suar penjaga yang ia tinggalkan secara sembunyi-sembunyi.
Di atas kepala, kabel-kabel listrik yang melintang di antara bangunan apartemen bergaya klasik tampak seperti coretan tinta hitam di atas langit yang berwarna biru pekat. Felysha mendongak sejenak, memperhatikan uap putih yang keluar dari mulutnya setiap kali ia mengembuskan napas. Uap itu menghilang dengan cepat, terbawa angin yang berbau sisa hujan dan aroma arang dari pemanas ruangan gedung-gedung tua. Ia berbelok di sebuah persimpangan kecil, memilih jalan yang lebih sempit namun diterangi oleh lampu-lampu jalan bercahaya kuning temaram yang terpasang di dinding bangunan.
Sepasang sepatu bot kulitnya yang berwarna cokelat tua sesekali terperosok ke dalam genangan air tipis di sela-sela batu jalanan. Bunyi kecipak air yang pelan itu menjadi satu-satunya suara yang menemaninya, selain deru mesin mobil yang terdengar jauh dari arah jalan besar. Felysha berhenti di depan sebuah toko bunga yang sudah tutup. Di balik jendela kaca yang berembun, ia bisa melihat siluet ember-ember plastik berisi sisa mawar dan lili yang tidak terjual hari itu. Ia menempelkan telapak tangannya pada kaca jendela tersebut, merasakan dingin yang merambat cepat ke ujung jemarinya sebelum akhirnya ia menarik tangannya kembali.
Ia melanjutkan langkahnya, menyusuri deretan butik kecil yang memajang manekin-manekin tanpa kepala di balik etalase. Felysha memperhatikan detail jahitan pada gaun yang dikenakan salah satu manekin itu—sebuah desain sederhana dengan potongan asimetris. Tanpa sadar, tangannya bergerak di dalam saku mantel, seolah sedang memegang pensil sketsa dan menggambar ulang garis gaun tersebut di dalam kepalanya. Di momen seperti ini, ia merasa sedikit lebih hidup. Tidak ada suara Julian yang mengomentari apakah desain itu terlalu terbuka atau tidak. Hanya ada dia dan pengamatannya sendiri.
Jalanan mulai sedikit menanjak saat ia mendekati arah Trocadéro. Felysha merasakan otot kakinya sedikit menegang, namun ia tidak berniat berhenti. Ia justru mempercepat langkahnya, menikmati sensasi letih yang mulai merayap di betis. Baginya, rasa capek fisik ini jauh lebih baik daripada rasa sesak yang menghimpit dadanya setiap kali ia duduk diam di ruang tamu apartemen mewah pemberian Julian. Ia melewati seorang pria paruh baya yang sedang menuntun anjing poodle putihnya. Pria itu memberikan anggukan kecil yang sopan, dan Felysha membalasnya dengan senyum tipis yang tulus—senyum yang tidak perlu ia paksakan untuk kamera ponsel.
Saat sampai di ujung jalan yang berbatasan dengan taman, Felysha berhenti. Ia menyandarkan punggungnya pada tiang lampu besi yang terasa sangat dingin menembus mantelnya. Dari posisinya berdiri, ia bisa melihat puncak Menara Eiffel yang menyembul di balik pepohonan taman yang mulai menggugurkan daunnya. Cahaya keemasan dari menara itu tampak bergetar di matanya. Ia merogoh saku mantelnya, mengambil botol air mineral kecil yang ia bawa, lalu meminumnya dalam tegukan pendek. Air dingin itu terasa menusuk kerongkongannya, namun memberikan kesegaran yang ia butuhkan.
Ia kembali berjalan, kali ini mengikuti arah jalan yang lebih landai. Felysha melewati sebuah kafe yang masih buka setengah jalan. Suara denting piring dan tawa rendah dari dalam sana terdengar sangat akrab. Ia berhenti sejenak di depan pintu masuk kafe tersebut, menghirup dalam-dalam aroma kopi panggang dan mentega yang keluar dari ventilasi udara. Ia ingin masuk, memesan secangkir cokelat panas dan duduk di pojok ruangan, namun ia segera mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin mengambil risiko terlalu lama di tempat umum. Tujuan utamanya malam ini hanya untuk berjalan, untuk merasakan bahwa kakinya masih bisa melangkah tanpa arahan siapa pun.
Langkah kaki Felysha membawanya menuju sebuah gang yang lebih gelap, di mana dinding-dinding bangunannya ditutupi oleh tanaman rambat yang sudah mengering. Ia menyentuh dedaunan kering itu dengan ujung jarinya, mendengarkan bunyi gemerisik yang dihasilkan. Setiap tekstur yang ia sentuh seolah sedang berbicara padanya tentang kehidupan Paris yang sebenarnya—yang tidak selalu berkilau, yang memiliki sudut-sudut kusam dan sepi. Ia merasa seperti sedang menjelajahi sebuah rahasia besar yang selama ini Julian sembunyikan darinya melalui fasilitas-fasilitas mewah yang memanjakannya.
Di sebuah sudut jalan, ia melihat sebuah bangku taman kayu yang permukaannya sudah agak mengelupas catnya. Felysha duduk di sana, membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak. Ia menyilangkan kaki, menatap ujung sepatunya yang kini kotor oleh debu jalanan. Ia tidak peduli. Ia justru merasa kotoran itu adalah bukti bahwa ia benar-benar telah menyentuh tanah Paris, bukan hanya menapak di atas karpet mahal apartemennya. Ia memejamkan mata, membiarkan suara angin dan deru kota yang menjauh menjadi satu-satunya hal yang ia dengar.
Ponsel di saku mantelnya bergetar sekali. Felysha tersentak, jantungnya berdegup kencang hingga ia bisa merasakannya di ujung lidah. Ia mengeluarkan ponsel itu dengan gerakan gemetar, takut itu adalah panggilan video mendadak dari Julian. Namun, ternyata itu hanya notifikasi aplikasi cuaca yang memberitahukan suhu akan turun dua derajat dalam satu jam ke depan. Ia menghela napas lega, namun getaran singkat itu cukup untuk merusak sisa ketenangan yang ia miliki. Ia menatap layar ponselnya sejenak, melihat angka jam yang menunjukkan pukul 22.15.
Ia harus segera kembali sebelum penjaga gedung menyadari absennya atau sebelum Julian kembali memeriksa lokasi GPS-nya. Felysha berdiri, merapikan mantelnya, dan mulai berjalan balik. Namun, kali ini ia mengambil rute yang berbeda. Ia ingin melihat satu lagi sudut jalan yang belum pernah ia lewati. Ia memasuki sebuah jalan kecil yang dipenuhi oleh toko-toko buku bekas yang sudah tutup. Tumpukan buku di balik jendela kaca toko-toko itu tampak seperti menara kecil yang menanti untuk dibaca.
Felysha berhenti sejenak di depan salah satu toko buku. Di sana ada sebuah poster pameran seni yang sudah agak sobek di bagian pinggirnya. Ia memperhatikan gambar sketsa di poster itu—garis-garisnya berani dan tidak beraturan. Ia merasa ada kesamaan antara garis sketsa itu dengan perasaannya saat ini; berantakan namun mencoba untuk tetap berdiri. Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan langkahnya. Punggungnya mulai terasa pegal, dan angin terasa semakin kencang, menggoyang-goyangkan ranting pohon di pinggir jalan hingga menimbulkan suara gesekan yang menyeramkan.
Ia mempercepat langkahnya saat melewati sebuah lorong gelap di bawah jembatan penyeberangan. Bunyi langkah kakinya kini terdengar lebih cepat, menciptakan gema yang beradu di dinding beton. Felysha tidak menoleh ke belakang, meskipun ia merasa ada bayangan yang bergerak di sudut matanya. Ia tahu itu hanya imajinasinya yang dipicu oleh rasa takut yang kembali muncul. Ia terus berjalan, memfokuskan pandangannya pada lampu-lampu jalan di depannya.
Saat gedung apartemennya mulai terlihat di kejauhan, Felysha melambatkan langkahnya. Ia melihat ke arah balkon unitnya di lantai lima. Lampunya masih mati, persis seperti saat ia tinggalkan tadi. Ia berjalan menuju pintu samping gedung, meraba kunci cadangan di sakunya. Sebelum masuk, ia menatap langit Paris sekali lagi. Bintang tidak terlihat malam ini, tertutup oleh awan tebal yang membawa dingin.
Felysha mendorong pintu besi itu perlahan, masuk ke dalam koridor tangga darurat yang sunyi. Ia menaiki anak tangga satu per satu, tangannya memegang pegangan tangga besi yang kaku. Setiap lantai yang ia lalui terasa seperti langkah mundur menuju sangkar emasnya. Sesampainya di depan pintu unitnya, ia terdiam sejenak, mendengarkan suasana di dalam. Sepi. Ia memutar kunci, masuk, dan segera mengunci pintu kembali.
Ia bersandar pada pintu, memejamkan mata dalam kegelapan. Napasnya masih terdengar memburu. Ia melepaskan sepatu botnya, meletakkannya dengan rapi di dekat pintu, lalu berjalan tanpa suara menuju kamar tidurnya. Di sana, ia mengaktifkan kembali fitur lokasi di ponselnya, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur tanpa mengganti pakaian. Ia merasakan detak jantungnya yang perlahan mulai stabil, namun rasa dingin dari aspal Paris seolah-olah masih menempel di telapak kakinya, mengingatkannya bahwa malam ini, untuk beberapa jam, ia pernah benar-benar merasa bebas.