dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Hari-hari setelah kejadian itu, suasana hatiku benar-benar tidak baik. Rasa kecewa dan sakit hati karena pengkhianatan Budenya terus menghantuiku. Aku menjadi lebih pendiam dari biasanya, bahkan di sekolah. Wajahku yang sering kali datar kini terlihat lebih murung, dengan lingkaran hitam mulai muncul di bawah mataku karena kurang tidur dan seringnya terbangun dengan pikiran yang kacau.
Raka, yang selalu memperhatikanku dengan saksama, segera menyadari perubahan itu. Dia tidak langsung menuntut jawaban, tapi perhatiannya semakin terasa. Dia sering menatapku dengan tatapan khawatir saat jam pelajaran, dan saat istirahat, dia tidak lagi banyak mengobrol, melainkan hanya duduk di sebelahku sambil menemaniku makan atau membaca, memberiku ruang tapi tetap membuatku merasa tidak sendirian.
Suatu sore, setelah kegiatan sekolah selesai, hujan turun cukup deras. Raka mengajakku berteduh di sebuah warung kecil di dekat gerbang sekolah sambil menunggu hujan reda. Warung itu cukup sepi, hanya ada kami berdua dan suara hujan yang memukul atap seng.
Raka menatapku lama, lalu akhirnya membuka suara dengan nada lembut dan penuh perhatian. "Laras... aku perhatikan beberapa hari ini kamu terlihat berbeda. Wajahmu sering murung, dan kamu jadi lebih diam dari biasanya. Apa ada sesuatu yang terjadi? Kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita sama aku, lho. Aku di sini buat mendengarkan."
Aku menunduk, memainkan ujung jilbabku yang basah sedikit oleh percikan air hujan. Rasanya berat untuk menceritakannya, tapi di saat yang sama, rasanya juga lega jika bisa meluapkan apa yang aku rasakan. Aku menatap wajah Raka yang tulus dan penuh perhatian, dan akhirnya, pertahananku runtuh.
Aku menarik napas panjang, lalu mulai bercerita. Aku menceritakan tentang Budenya yang dulu selalu menghinaku, tentang permintaan maafnya dan permintaannya untuk bekerja, tentang bagaimana aku memberinya kesempatan karena rasa kasihan dan harapan agar dia berubah, hingga akhirnya aku memergokinya mencuri bahan baku dan kebohongannya yang terbongkar.
Air mataku mulai menetes saat menceritakan rasa kecewaku. "Aku sudah berusaha memaafkan masa lalunya, Raka. Aku sudah memberinya kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Tapi kenapa dia malah berbuat begitu? Rasanya sakit sekali tahu kalau dia tidak pernah benar-benar berubah, dan semua sikap baiknya cuma sandiwara buat mengambil keuntungan dariku. Aku merasa bodoh karena sudah mempercayainya," ucapku dengan suara bergetar.
Raka tidak menyela. Dia mendengarkan dengan saksama, dan saat aku selesai bercerita, dia mengulurkan tangannya dan dengan lembut menyeka air mata di pipiku.
"Laras, dengar aku," katanya lembut tapi tegas. "Kamu tidak bodoh. Kamu cuma punya hati yang terlalu baik dan pemaaf. Itu bukan kelemahan, itu kekuatan yang luar biasa. Banyak orang yang tidak bisa melakukan apa yang kamu lakukan—memberi kesempatan kedua pada orang yang pernah menyakiti mereka. Jadi, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri atas kesalahan orang lain."
Dia menatapku dalam-dalam. "Yang dilakukan Budemu itu salah, dan itu tanggung jawabnya, bukan tanggung jawabmu. Kamu sudah melakukan bagianmu dengan sangat baik. Kecewa itu wajar, Laras. Itu tandanya kamu peduli dan kamu punya perasaan. Tapi jangan biarkan kekecewaan ini membuatmu menutup diri atau kehilangan kepercayaan pada orang lain sepenuhnya. Masih banyak orang di luar sana yang tulus padamu, seperti aku, seperti Pak Budi, dan banyak lagi yang lainnya."
Mendengar kata-kata Raka, rasanya seperti ada beban berat yang terangkat dari pundakku. Dia benar. Aku tidak boleh membiarkan satu orang yang jahat merusak pandanganku terhadap dunia. Raka ada di sini, dia mendukungku, dan itu memberiku kekuatan baru.
Aku mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski masih ada sisa air mata di wajahku. "Terima kasih, Raka. Terima kasih sudah mendengarkan dan mengerti. Rasanya jauh lebih lega setelah cerita sama kamu."
Raka tersenyum hangat, senyum yang selalu bisa membuat hatiku merasa tenang. "Sama-sama, Laras. Ingat, kamu tidak perlu menanggung semuanya sendirian. Aku akan selalu ada di sini buat kamu, kapan pun kamu butuh."
Hujan di luar mulai reda, dan sinar matahari mulai menembus awan. Seperti cuaca yang berubah, hatiku pun mulai merasa lebih cerah. Dengan dukungan Raka, aku tahu aku bisa melewati masa sulit ini dan bangkit kembali, lebih kuat dari sebelumnya.