NovelToon NovelToon
Tak Setara

Tak Setara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Harga Diri Dan Impian

"Kamu benar, Aluna." Jempol Arka mengusap bibir Aluna, "bukan tidak bisa, hanya tidak suka."

***

Kakinya melangkah dengan tergesa, tubuhnya terhuyung, ia berusaha menahannya agar tidak terjatuh. Sesampainya di lobby parkir, tangannya melambai kearah taksi yang berada tak jauh darinya. Di dalam mobil ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya.

Tangannya mengepal disela duduknya, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.

Aluna masih tidak percaya dengan kejadian yang baru dia alami. "Apakah dunia kerja memang seperti ini?" Gumamnya.

Hal yang paling menyakitkan baginya adalah, melihat sisi yang berbeda dari atasannya. Orang yang terlihat mengagumkan, berwibawa dan gentleman—Ternyata menyimpan sisi gelap dari dalam dirinya.

Pria yang membuat semua orang berpikir bahwa ia adalah laki-laki sempurna, ternyata tidak lebih dari sekedar penjahat.

Menyadarinya seorang diri, adalah hal yang paling menyakitkan bagi Aluna.

"Kita sudah sampai mbak." Suara supir taksi mengagetkan lamunannya.

Aluna segera merapikan dirinya sebelum mengetuk pintu rumahnya.

Berusaha terlihat baik-baik saja agar suaminya tidak khawatir.

"Aku pulang," suaranya terdengar bergetar namun ia berusaha menahannya.

Tidak ada jawaban.

Aluna meletakkan barang-barangnya diatas meja, mencari sosok Gavin di kamarnya.

Namun ia tak menemukannya, ia berjalan menuju dapur. Disanalah ia melihat Gavin tengah terduduk di kursi makan, kepalanya merebah diatas meja makan—ia tertidur.

Diatas meja ada nasi yang belum tersentuh, ada lauk pauk yang sudah dingin.

Sepertinya suaminya sudah menunggunya untuk makan malam bersama.

Melihat pemandangan itu, Aluna menutup mulutnya, air matanya jatuh tidak terasa. Pikirannya kembali pada kejadian di hotel, lalu merasa kasihan pada Gavin karena Aluna merasa telah mengkhianatinya.

"Sayang, kamu sudah pulang."

Gavin terbangun dari tidurnya.

Aluna segera mengusap air matanya, "kenapa kamu tidur disini?"

"Aku menunggu mu, kan tadi kamu bilang akan makan malam bersama dirumah."

Gavin mulai memperhatikan istrinya, ia melihat Aluna sedang tidak baik-baik saja.

"Kamu bisa makan duluan." Ia menarik kursi kemudian duduk.

"Aluna, kamu kenapa? Mata mu sembab, habis nangis?"

Gavin mulai curiga.

Aluna berpikir sesaat, "iya," katanya.

Gavin menggeser kursinya mendekati Aluna, "kamu nangis kenapa?" Tangannya mengelus pundak Aluna.

Aluna menunduk, "tadi habis dimarahin atasan."

Berusaha terdengar meyakinkan.

"Ya ampun... Cuma begitu doang. Kirain kenapa."

Gevin terlihat lega. "Itu kan hal biasa dalam bekerja."

Gavin mengangkat tangannya, mengelus rambut istrinya dengan lembut. "Memangnya kamu berbuat kesalahan apa?"

"Mungkin aku kurang baik saat presentasi."

"Sudah, jangan dipikirin. Sekarang kamu makan ya. Pasti lapar."

Mereka makan bersama, Aluna menyantap masakan Gavin dengan lahap. Seolah tidak pernah terjadi apapun padanya.

Baginya terlihat baik-baik didepan suaminya adalah suatu pencapaian, karena hal yang tidak ia sukai adalah ketika Gavin merasa cemas padanya.

Aluna sudah berjanji padanya, ia bisa menjaga diri selama bekerja, ia berjanji akan lebih baik dan tidak akan mengecewakan suaminya.

Bagi Aluna, meminta izin untuk bekerja bukan sesuatu yang mudah, ia sudah susah payah mendapatkan izin suaminya.

Jika ada hal yang membuat suaminya kecewa, Aluna hanya tidak ingin disalahkan karena keputusannya. Ia hanya tidak ingin memulai pertengkaran dengan Gavin.

Karena ketika emosi Gavin tidak stabil, Aluna akan menjadi sasaran dari amarahnya yang tidak terkontrol.

Jarum jam dinding itu menunjukkan pukul dua belas. Aluna menatap langit-langit kamarnya, ia masih terjaga bukan karena suara dengkuran Gavin di sampingnya.

Kejadian beberapa jam lalu terus berputar di kepalanya. Semakin ia ingin melupakan—semakin jelas ingatan itu kembali.

***

Cahaya matahari pagi menyentuh wajahnya yang tertidur. Hangatnya perlahan merayap di pipi dan kelopak mata yang terpejam. Ia sedikit mengernyit, seperti seseorang yang sedang mencoba bersembunyi dari terang.

Tangannya mengelus seprai disampingnya, seolah mencari sesuatu yang tak ia temukan.

Gavin tidak berada ditempat tidur.

Aluna bangkit dari ranjangnya, meregangkan otot leher yang terasa kaku.

"Sayang."

Panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Aluna berjalan ke ruang tengah, tak menemukan Gavin. Melihat ke arah dapur, hanya ada tumpukan piring kotor di wastafel.

Ia pun bingung, tidak biasanya Gavin pergi tanpa berpamitan, apalagi di hari Minggu yang seharusnya adalah momen untuk mereka quality time.

Aluna meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja, ia hendak menghubungi suaminya.

Alisnya mengerut ketika melihat notifikasi dari Gavin.

"Sayang... Aku pergi ke rumah orang tuaku. Maaf tidak sempat berpamitan karena mendadak."

Aluna terdiam sesaat, dia mencoba untuk berpikir positif. Mungkin ada sesuatu yang penting dan mengharuskan Gavin datang, gumamnya.

Aluna mengambil susu kotak didalam kulkas, membawanya ke halaman belakang. Ia duduk diatas ember bekas cucian baju, sinar matahari menyorot seluruh tubuhnya, hangatnya merasuk kedalam kulit putihnya.

Ia teringat kembali kejadian semalam, kejadian yang membuatnya merasa trauma.

Setelah begadang semalaman untuk memutuskan sebuah pilihan. Namun raut wajahnya tidak benar-benar mantap, ada keraguan dalam dirinya.

Apakah keputusan itu, tepat.

Atau justru akan membuatnya menyesal.

Dia mencengkram kuat kotak susu yang telah habis, wajahnya terlihat kesal.

"Arka Mahendra," ucapnya lirih. "Aku tidak akan melihat mu lagi."

Ia bangkit dari duduknya, melempar bekas susu kotak ditangannya, dan menendang ember yang tadi dia duduki hingga terlempar cukup jauh.

***

Senin pagi di kantor.

Aluna kembali menatap amplop cokelat di tangannya. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, sementara keringat dingin merayap di pelipisnya.

Jemarinya menggenggam amplop itu sedikit lebih erat, seolah benda tipis itu memiliki berat yang tidak mampu ia pikul sendirian.

Di dalamnya hanya ada selembar kertas.

Surat pengunduran diri.

Ia sudah menulisnya sejak dua malam lalu—berkali-kali menghapus kalimat, menggantinya dengan kata yang lebih rapi, lebih profesional, seolah semuanya hanya keputusan biasa.

Padahal tidak.

Aluna tahu betul alasan sebenarnya.

Kantor itu tidak lagi terasa seperti tempat bekerja.

Lorong-lorong yang dulu ia lalui setiap pagi kini terasa sempit, seakan menyimpan bayangan yang ingin ia lupakan.

Tangannya sempat bergetar saat membaca kembali namanya yang tercetak rapi di bagian bawah surat itu.

Aluna Pramesti.

Hanya tinggal satu langkah lagi, menaruh amplop itu di meja Arka.

Namun langkah kecil itu terasa jauh lebih sulit daripada semua lembur, revisi, dan tekanan yang pernah ia jalani selama ini.

Tapi kemudian ia membayangkan kejadian malam itu. Tangannya mengepal, dadanya sesak. Kini keraguannya berubah menjadi rasa benci yang membara.

Langkahnya mantap berjalan ke arah ruang manager, "Selamat pagi Pak Damar," sapanya.

"Pagi Aluna."

Sahut pria paruh baya dari dalam.

"Boleh saya masuk, Pak?"

"Silahkan Aluna."

Aluna memasuki ruang manager, duduk di kursi berhadapan dengan Damar.

"Ada perlu apa?" tanya Damar.

Aluna terdiam sesaat mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya.

"Saya ingin mengundurkan diri."

Tangannya menyodorkan amplop coklat.

Sontak Damar terkejut, "saya tidak salah dengar, Aluna?" tanyanya tak percaya.

"Saya sudah memikirkan ini baik-baik. Dan keputusan saya sudah bulat, untuk resign dari pekerjaan saya."

Suaranya lembut seolah ada rasa takut didalam dirinya.

Damar menatapnya dengan heran, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Memangnya ada masalah apa sampai kamu ingin resign, Aluna?"

Aluna tertunduk, "saya ada masalah keluarga yang mengharuskan saya untuk tinggal dirumah."

Sebuah kalimat yang menjadi pilihan terakhir dari banyaknya daftar alasan yang sudah ia susun di kepalanya.

Damar menghela nafas, "padahal dulu waktu kita tidak sengaja bertemu, saya melihat ada kegigihan dalam dirimu."

"Namun sekarang kamu harus meninggalkan pekerjaan mu setelah susah payah mendapatkannya," Lanjutnya.

Mendengar itu, air mata Aluna mengalir begitu saja tanpa ia minta. Ia cepat-cepat menyekanya.

Melihat itu, Damar merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan. Laki-laki itu melihat ada keterpaksaan dalam diri Aluna. Namun ia hanya seorang manager yang tidak bisa mengatur segalanya.

"Saya harap kamu bisa memikirkan ulang keputusan mu, Aluna," ujarnya. "Baiklah nanti saya akan antar surat kamu ke CEO." Lanjutnya.

"Kalau begitu saya permisi, Pak."

Punggung Aluna menghilangkan dibalik pintu kaca.

Setelah merapikan barang-barang di meja kerjanya, ia menatap tembok kaca di sampingnya—tembok kaca yang selalu menjadi penghibur ketika lelah oleh tumpukan berkas. Di baliknya, langit senja membentang dengan warna jingga yang perlahan larut ke dalam ungu kebiruan. Cahaya terakhir matahari memantul di gedung-gedung tinggi, membuat kota tampak hangat sejenak sebelum akhirnya tenggelam dalam malam.

Tiba-tiba Aluna teringat Helena dan Revan.

Dua orang yang menjadi rekan terbaik selama ia bekerja. Tapi ia tidak ingin membuat mereka merasa sedih. Dan Aluna tidak siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan mereka tanyakan padanya.

Akhirnya Aluna pergi tanpa berpamitan pada Revan dan Helena.

***

Mobil Arka meluncur masuk ke parkiran basement gedung. Ia menghentikan mobilnya di petak parkir khusus bertuliskan CEO, tepat di dekat lift eksekutif yang hanya bisa diakses dengan kartu khusus.

Langkahnya mantap menuju ujung koridor kantor yang mulai sepi.

Setelah bertemu dengan beberapa klien di luar kota, Arka mampir ke kantor untuk mengecek beberapa dokumen.

Rasa lelahnya tidak pernah menjadi alasan untuk menunda pekerjaan. Baginya, bisnis tidak mengenal kata istirahat.

Matanya tertuju pada meja kerja Aluna—Kosong.

Alisnya mengerut, namun ia mengabaikannya dan berlalu menuju ruangan pribadinya.

Mengetahui Arka sudah berada di ruangannya, Damar bergegas menyusul.

Tok tok.

Ketukan pintu terdengar dari luar.

"Masuk," sahut Arka.

Damar masuk dengan amplop coklat ditangannya.

"Pak. Ini ada surat pengunduran diri dari salah satu karyawan." Meletakkan amplop di meja Arka.

"Siapa?" tanyanya datar.

"Content writer."

Arka tercekat, tangannya yang sedari tadi membolak-balik dokumen kini berhenti.

Ia menatap wajah sekretarisnya sesaat, kemudian pandangannya jatuh pada amplop coklat yang bertuliskan sebuah nama—Aluna Pramesti.

Ia menghela nafas, kemudian menyuruh Damar keluar.

Tangannya gemetar membuka amplop itu, matanya perlahan menyusuri setiap tulisan disana.

"Urusan keluarga".

Adalah kalimat janggal yang membuatnya terkekeh kecil.

Ia tahu itu hanyalah alasan agar terdengar sopan. Padahal ia tahu bahwa dirinyalah yang menjadi alasan untuk Aluna mengundurkan diri.

Ia menyobek kertas putih itu, menggulungnya menjadi bagian kecil kemudian melemparnya.

Arka tidak menyangka kalimat Aluna malam itu bukan hanya sekedar omong belaka.

"Ternyata wanita itu benar-benar mempertahankan harga dirinya," gumamnya.

Arka memijat pelipisnya, seolah ada sesal dan kesal yang beradu dalam kepalanya.

Arka memanggil kembali sekretarisnya.

"Ada apa, Pak?" Damar bertanya dengan rasa penasaran.

"Saya ingin kamu mengerjakan sesuatu." Perintahnya.

"Tolong cari tahu tentang kehidupan Aluna."

Damar merasa bingung, "Aluna Pramesti si content writer?"

"Iya. Cari tahu tentang suaminya, pekerjaannya, apapun yang menyangkut soal Aluna."

Arka menatap serius sekretaris itu.

Setelah mengerti dan mengangguk, Damar pergi meninggalkan atasannya.

Di hari yang sama di waktu senja.

Aluna berlari kecil dari dapurnya menuju pintu depan, setelah mendengar beberapa ketukan.

"Hah... Kak Revan, Helena?"

Matanya terbelalak melihat kedua rekannya sudah berada di rumahnya.

Sepertinya berita pengunduran dirinya terlalu cepat menyebar.

Aluna meletakkan dua gelas kopi di atas meja.

"Seharusnya kalian tidak usah repot-repot datang kesini."

"Kak.. kenapa mendadak begini?" tanya Helena dengan wajah panik.

Aluna terdiam.

"Bahkan kamu tidak bilang jika ingin resign." Revan menatapnya kesal.

"Maaf guys. Aku cuma belum siap untuk pertanyaan yang akan kalian berikan."

Mereka berdua terdiam saling menatap.

"Memangnya ada masalah apa, kak?" tanya Helena

Aluna mengepal tangannya, "aku hanya...," kalimatnya terhenti.

"Its oke, Aluna. Kalau kamu belum siap cerita, jangan dipaksakan." Revan mengelus pundak Aluna.

"Cuma masalah keluarga. Suamiku ada sedikit perubahan kerja, jadi dia minta aku untuk tetap dirumah."

Aluna berusaha terdengar meyakinkan.

"Terus, Pak Arka gimana? Di ACC?" tanya Helena.

Mendengar nama itu disebut, dada Aluna berdegup kencang, keringat dingin mengalir dari pelipis.

Tangannya yang mengepal terus meremas satu sama lain. Seolah ada rasa takut yang tiba-tiba muncul.

"Aku belum tahu."

"Semoga Pak Arka tidak menyetujui pengunduran dirimu." Ada harap yang diam-diam mulai muncul ke permukaan.

Justru disisi lain, kalimat itu adalah petaka baginya.

***

Di malam yang sunyi setelah akhirnya Arka bisa merebahkan tubuhnya di sofa empuk di kamarnya. Tangannya membuka dokumen yang beberapa jam lalu diberikan oleh Damar.

Halaman demi halaman ia baca, sorot matanya terlihat tajam, sesekali sudut bibirnya terangkat—Bukan sebuah senyuman hangat.

"Gavin Pratama—buruh pabrik dengan pendapatan yang bahkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar."

Gumamnya.

"Belum memiliki anak." Arka terkekeh kecil.

"Tanggungan yang begitu banyak."

"Ternyata, kamu bukan siapa-siapa. Aluna."

Arka menutup map ditangannya.

Kepalanya bertumpu pada satu tangannya, pandangannya menatap langit-langit kamar.

Kini Arka merasa hidup Aluna ada dibawah kuasanya.

"Memberi makan seekor kucing liar. Akan membuat kucing itu datang lagi dan menjadi jinak pada tuannya."

Setelah mengucapkan kalimat itu ia tertawa licik.

1
Gira Hurary
sukaaaa alurnya... author ini berani beda, tetep semangat ya thor
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Gira Hurary
semangaaaat
Rini
Lanjut thor🤭
Rini
Baru diawal bagus bgt, setiap kata-katanya tersusun rapi mudah dipahami😍 semangat thor💪
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Annida Annida
lanjut tor
Dian
lumayan bagus
Lass96: Terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Senang sekali kalau ceritanya bisa kamu nikmati.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!