NovelToon NovelToon
Bayang Rembulan

Bayang Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 - ZIARAH KE KOTA TAKHTA LANGIT

Tujuh hari telah berlalu sejak badai es di Benteng Sayap Hitam. Luka di bahu Kaelan kini telah menutup, meninggalkan bekas luka putih keperakan yang berkilau seperti sisik ular. Sari Rembulan yang dimurnikan Rian bekerja lebih dari sekadar penawar; cairan itu menyatu dengan Qi es Kaelan, membuat aliran energinya terasa lebih tenang namun jauh lebih padat.

"Kita berangkat hari ini," ucap Kaelan sambil mengencangkan pelindung lengannya.

Elara menatap ke arah selatan, ke puncak-puncak gunung yang menembus awan. "Kota Takhta Langit bukan sekadar kota, Kaelan. Itu adalah pusat gravitasi dunia persilatan. Aliansi Langit Merah memiliki akar yang sangat dalam di sana. Jika kau masuk dengan identitas pembunuh Gerhana Biru, kau akan diserbu sebelum sempat melewati gerbang utama."

Kaelan mengambil jubah abu-abu lebar dari tumpukan barang yang dibawa Elara. Ia menarik tudungnya, menutupi rambut putih dan mata merahnya yang mencolok. "Aku tidak akan masuk sebagai pembunuh. Aku akan masuk sebagai pengawal medis."

Ia melirik ke arah Rian yang kini mengenakan pakaian sarjana pengembara yang rapi, membawa kotak obat besar di punggungnya. Rian akan menjadi penyamaran utama mereka; seorang tabib muda yang mencari tanaman langka, dikawal oleh seorang pendekar pendiam dan seorang tentara bayaran wanita.

Perjalanan melintasi Lembah Kematian menuju dataran tinggi memakan waktu dua minggu. Semakin tinggi mereka mendaki, udara semakin tipis dan dingin, namun bagi Kaelan, ini adalah lingkungan alaminya. Qi Bulan Dingin miliknya beresonansi dengan salju abadi yang menyelimuti jalur pendakian.

"Lihat itu!" Rian menunjuk ke depan.

Di balik kabut awan yang terbelah, berdirilah Kota Takhta Langit. Kota itu dibangun di atas dataran tinggi yang dikelilingi oleh jurang tak berdasar di tiga sisinya. Menara-menara putih menjulang tinggi, dihubungkan oleh jembatan gantung yang rumit. Di puncaknya, sebuah istana megah yang terbuat dari marmer putih tampak seolah-olah mengapung di atas awan—Istana Rembulan Abadi, markas pusat Aliansi Langit Merah.

"Indah sekali... tapi berbau darah," bisik Elara sambil mencengkeram tombaknya yang disembunyikan dalam buntalan kain.

Saat mereka mendekati gerbang utama yang disebut Gerbang Awan, Domain Kesunyian Kaelan menangkap ribuan getaran. Kota ini adalah sarang lebah yang sangat aktif. Ia mendeteksi setidaknya sepuluh pendekar tingkat tinggi yang menjaga gerbang, masing-masing memiliki Qi yang setara dengan Penatua Bayang.

"Tahan napasmu, Rian," bisik Kaelan saat mereka mengantre di pos pemeriksaan.

Seorang perwira tinggi Aliansi dengan seragam merah marun yang mewah menghentikan mereka. Matanya yang tajam menyapu sosok Rian, lalu beralih ke Kaelan yang berdiri menunduk di belakangnya.

"Tabib dari wilayah pinggiran?" tanya perwira itu, suaranya penuh penghinaan. "Apa yang kau bawa dalam kotak itu?"

"Hanya akar ginseng salju dan beberapa ekstrak bunga hitam untuk penelitian, Tuan," jawab Rian dengan nada yang sangat meyakinkan. Aktingnya sebagai budak selama bertahun-tahun membuatnya sangat ahli dalam merendahkan diri tanpa terlihat mencurigakan.

Perwira itu mendekati Kaelan, mencoba mengintip di balik tudungnya. "Dan pengawalmu ini... dia terlihat terlalu tenang untuk seorang pengembara."

Tangan Kaelan yang berada di balik jubah sudah membentuk simpul Sutra Rembulan. Jika perwira ini menyentuh tudungnya, Gerbang Awan akan berubah menjadi lautan darah dalam hitungan detik.

Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, sebuah kereta kuda mewah dengan lambang Klan Bayangan Jatuh melintas. Jendelanya terbuka sedikit, memperlihatkan Hanzo yang sedang duduk santai sambil memutar koin peraknya.

"Dia bersamaku, Perwira," ucap Hanzo dengan suara keras yang berwibawa. "Mereka adalah tabib khusus yang kupanggil untuk mengobati luka dalamku."

Perwira itu segera membungkuk hormat. "Maafkan saya, Tuan Hanzo. Silakan lewat."

Kaelan, Rian, dan Elara mengikuti kereta Hanzo memasuki kota. Setelah berada di tempat yang cukup sepi, Hanzo turun dari keretanya dan menghampiri Kaelan.

"Kau benar-benar gila, Nak. Datang ke sini dengan wajah itu?" Hanzo terkekeh, namun matanya tetap waspada. "Istana di atas sana sedang mengadakan perayaan besar. Para petinggi Aliansi berkumpul untuk merayakan penemuan 'Kunci Gerbang Rembulan'. Jika kau ingin menyerang, malam ini adalah kesempatan terbaikmu—atau malam kematianmu."

Kaelan menatap Istana Rembulan Abadi yang bersinar di bawah cahaya bulan. "Aku tidak datang untuk perayaan. Aku datang untuk pemakaman mereka."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!