Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Cahaya lampu ruang perawatan yang temaram menjadi saksi bisu sebuah kesepakatan besar yang akan menjungkirbalikkan takdir.
Rizal menatap langit-langit kamar rumah sakit cukup lama, mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Aisyah.
Dendam, kehormatan, dan masa depan kini bertaruh di satu titik yang sama.
Perlahan, Rizal menolehkan kepalanya dan menatap Aisyah yang masih setia menggenggam tangannya.
"Aku setuju, Ma," bisik Rizal dengan suara yang mulai terdengar mantap, meski masih ada sisa luka di matanya.
Namun, Rizal segera melanjutkan dengan keraguan yang tersisa.
"Tapi, ada satu syarat, Ma. Aku belum bisa melakukan hubungan intim dengan Mama. Hatiku masih terlalu luka, dan tubuhku juga sedang tidak berdaya. Tolong beri aku waktu, Ma."
Aisyah tidak tersinggung sedikit pun. Sebaliknya, ia justru tersenyum tipis ke arah Rizal.
Ia tahu bahwa Rizal bukan pria yang memanfaatkan keadaan; pria ini jujur dengan perasaannya.
Aisyah menganggukkan kepalanya dengan lembut.
"Aku mengerti, Rizal. Aku menikahimu bukan karena nafsu, tapi karena harga diri. Kamu adalah sekutu terbaikku. Aku akan menunggumu sampai kamu siap, secara fisik maupun hati."
Tanpa membuang waktu lebih lama, Aisyah melepaskan tangan Rizal.
Ia berdiri dengan sikap penuh otoritas yang kembali menyelimuti dirinya.
Ia merogoh ponsel dari saku blazernya dan menghubungi sekretarisnya.
"Halo, Pak Wijaya?" suara Aisyah terdengar tegas, nada bicara seorang pemimpin yang tak bisa dibantah.
"Iya, Ibu Aisyah. Ada yang bisa saya bantu di jam segini?" tanya Pak Wijaya, sekretaris kepercayaan keluarga Baskoro dari ujung telepon.
"Batalkan semua jadwalku pagi ini. Saya ingin Anda segera datang ke Rumah Sakit Medika. Bawa penghulu, dua orang saksi yang bisa tutup mulut, dan siapkan berkas pernikahan sederhana."
Di seberang sana, Pak Wijaya sempat terdiam sejenak, terkejut dengan permintaan yang tidak masuk akal itu.
"Maaf, Bu? Pernikahan untuk siapa?"
"Untukku, Pak Wijaya. Aku akan menikah dengan Rizal Permana Putra pagi ini juga. Lakukan dengan cepat, rapi, dan jangan sampai ada media atau pihak keluarga yang tahu sebelum saya yang mengumumkannya sendiri."
Aisyah menutup teleponnya bahkan sebelum Pak Wijaya sempat bertanya lebih lanjut.
Ia kembali menatap Rizal yang tampak tertegun melihat betapa cepatnya segalanya bergerak.
"Istirahatlah sebentar lagi, Rizal. Dalam dua jam, statusmu akan berubah," ucap Aisyah sambil mengusap kening Rizal.
"Besok, saat Intan bangun dari tidurnya di apartemen Hadi, dia tidak akan pernah menyangka bahwa pria yang dia injak semalam kini telah menjadi kepala keluarga di rumahnya sendiri."
Rizal memejamkan mata, merasakan desiran aneh di dadanya.
Bukan lagi rasa cinta yang buta, melainkan sebuah tekad dingin.
Ia akan sembuh, dan akan menunjukkan pada dunia bahwa kehormatan tidak bisa dibeli dengan uang, tapi bisa direbut kembali dengan kekuasaan yang elegan.
Dua jam berlalu dalam ketegangan yang sunyi dimana ruang perawatan kelas VIP itu mendadak berubah fungsi.
Bau antiseptik bercampur dengan aroma buku nikah yang masih baru.
Pak Wijaya datang dengan efisiensi tinggi, membawa serta seorang penghulu dan dua saksi yang tampak tenang namun waspada.
Rizal masih terbaring di ranjang rumah sakit dengan sandaran yang ditinggikan.
Meski kepalanya masih dibebat perban dan kakinya kaku terbungkus gips, binar matanya tidak lagi sama.
Ada sisa-sisa kehancuran, namun dilapisi oleh tekad yang membeku.
Aisyah berdiri di sisi ranjang, mengenakan hijab putih bersih yang baru saja dibelikan oleh asistennya.
Ia tampak tenang, seolah semua ini memang sudah tertulis dalam takdirnya.
Karena Aisyah sudah tidak memiliki wali laki-laki yang sedarah, seorang Wali Hakim telah disiapkan untuk menggantikan posisinya.
Penghulu menjabat tangan Rizal yang masih terasa dingin.
"Saudara Rizal Permana Putra, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Aisyah binti Almarhum Rianto dengan wali hakim dan mas kawin uang tunai sebesar lima ratus ribu rupiah, dibayar tunai."
Rizal menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa energinya untuk mengucapkan kalimat yang akan mengikat hidupnya selamanya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah binti Almarhum Rianto dengan mas kawin lima ratus ribu rupiah, dibayar tunai!"
Suaranya bergema tegas di ruangan kecil itu. Tidak ada keraguan.
"Sah?" tanya penghulu kepada para saksi.
"Sah!" jawab Pak Wijaya dan para saksi serempak.
"Alhamdulillah..."
Suasana sakral itu ditutup dengan doa yang khidmat.
Setelah semua berkas ditandatangani, penghulu dan rombongan pamit undur diri atas instruksi Pak Wijaya yang ingin menjaga privasi majikannya.
Kini, hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Pak Wijaya berdiri di luar pintu, menjaga agar tidak ada satu pun orang yang mengganggu.
Aisyah mendekat, menundukkan wajahnya ke arah Rizal.
Rizal perlahan meraih bahu wanita itu. Dengan penuh rasa hormat dan getaran emosi yang sulit dijelaskan, Rizal mendaratkan sebuah kecupan di kening Aisyah.
Wanita yang dulu ia panggil 'Mama', wanita yang menjadi satu-satunya pelindung saat ia dihina, kini secara resmi telah menjadi istrinya.
"Mulai hari ini," bisik Aisyah tepat di depan wajah Rizal, "kamu bukan lagi pria yang bisa mereka remehkan. Kamu adalah suamiku, pemilik sah dari apa yang aku miliki."
Rizal menatap mata Aisyah, lalu beralih melihat cincin kawin sederhana yang kini melingkar di jarinya.
"Terima kasih, Istriku."
Aisyah mengusap lengan Rizal dengan lembut, merapikan selimut yang menutupi dada suaminya yang masih bengkak. Ia bisa merasakan sisa-sisa kegelisahan dalam diri pria itu.
"Istirahatlah lagi, Rizal. Tubuhmu butuh waktu untuk pulih sebelum kita memulai segalanya," ucap Aisyah pelan.
Rizal menatap jemari Aisyah yang kini telah sah menjadi istrinya, lalu beralih menatap jari manisnya sendiri yang kosong.
"Maaf, Aku bahkan belum bisa membelikan cincin pernikahan untuk kita, Ma— maksudku, Aisyah. Cincin yang lama sudah hancur diinjak mereka."
Aisyah tersenyum tenang, sebuah senyum yang meredam kegundahan Rizal.
"Aku tidak butuh perhiasan untuk merasa menjadi istrimu, Rizal. Harga dirimu yang kembali berdiri tegak itu jauh lebih berharga daripada sebongkah emas mana pun. Sekarang, fokuslah pada kesembuhanmu."
Percakapan mereka terhenti saat pintu kamar rawat terbuka perlahan.
Dua orang perawat masuk dengan seragam putih yang rapi.
Salah satu perawat membawa tensi meter dan termometer untuk memeriksa tanda-tanda vital Rizal pasca-operasi kecil pada kakinya.
"Permisi, Bapak Rizal. Kami periksa dulu tensi dan suhunya, ya," ujar perawat itu dengan ramah.
Sementara itu, perawat lainnya mendorong meja dorong kecil ke samping tempat tidur.
Di atas nampan plastik itu, tersedia semangkuk bubur ayam hangat yang uapnya masih mengepul, ditemani segelas air mineral dan beberapa butir obat yang harus dikonsumsi Rizal.
"Waktunya sarapan, Pak. Harus dihabiskan ya, supaya obatnya bisa bekerja maksimal," tambah perawat tersebut sambil menyiapkan sandaran tempat tidur agar Rizal bisa duduk lebih nyaman.
Aisyah segera mengambil alih nampan tersebut setelah perawat selesai melakukan pemeriksaan medis.
Ia menarik kursi lebih dekat ke ranjang, mengaduk bubur itu perlahan agar panasnya berkurang.
"Biarkan aku yang menyuapimu," ujar Aisyah tanpa menunggu jawaban Rizal.
Rizal hanya bisa terdiam, merasakan perhatian yang begitu besar dari wanita yang kini menjadi pelindungnya.
Di setiap suapan bubur hambar itu, Rizal berjanji dalam hati: ia akan segera pulih.
Ia tidak akan membiarkan kebaikan Aisyah sia-sia, dan ia tidak akan membiarkan Intan serta Hadi merasa tenang lebih lama lagi.