NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Beberapa hari setelah pertemuan terbuka itu, suasana di fasilitas tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada keputusan dramatis.

Tapi ada sesuatu yang menggantung di udara — semacam ketegangan halus yang tidak diucapkan secara langsung.

Forum publik pertama dijadwalkan seminggu lagi.

Dan sejak pengumuman itu disebarkan, opini kota terbelah semakin jelas.

Sebagian memuji langkah tersebut sebagai sesuatu yang berani dan dewasa.

Sebagian lagi menganggapnya sebagai kelemahan yang dibungkus idealisme.

Pagi itu, ruang kendali tidak dipenuhi alarm, melainkan grafik sentimen publik yang bergerak naik turun seperti detak jantung yang tidak stabil.

Lucian berdiri di depan layar besar, kedua tangannya bertumpu di meja, memperhatikan data yang terus diperbarui secara real time.

“Lihat ini,” katanya akhirnya, tanpa menoleh terlebih dahulu. “Setiap kali Arsen berbicara di platform independen, dukungan terhadap forum meningkat. Tapi di saat yang sama, kelompok yang lebih keras mulai bermunculan di pinggiran diskusi.”

Lyra mendekat perlahan dan ikut memperhatikan layar.

“Apa maksudmu dengan kelompok lebih keras?” tanyanya dengan nada serius, bukan panik.

Lucian menghela napas pelan sebelum menjawab.

“Mereka tidak tertarik pada diskusi atau transparansi. Mereka mulai membicarakan ‘pengambilalihan ruang publik’ dan ‘mendesak perubahan secara langsung’. Itu bukan bahasa orang yang ingin duduk dan berdialog.”

Kael yang sejak tadi diam akhirnya berbicara dengan suara rendah namun tegas.

“Artinya pendekatan kita membuka dua pintu sekaligus. Satu untuk percakapan. Satu lagi untuk radikalisasi.”

Aidan menoleh cepat ke arahnya.

“Radikalisasi tidak muncul karena pintu dibuka,” katanya dengan nada yang lebih hangat tetapi tetap jelas. “Radikalisasi muncul karena orang merasa tidak pernah diberi ruang sama sekali.”

Lucian memutar tubuhnya dan menatap Aidan langsung.

“Aku tidak sedang menyalahkan forum,” katanya pelan namun tegas. “Aku hanya mengatakan bahwa kita harus realistis bahwa tidak semua orang akan memilih cara damai.”

Hening turun perlahan, bukan karena tidak ada jawaban, melainkan karena semua orang tahu bahwa pernyataan itu benar.

Damian akhirnya berbicara, suaranya tenang namun tidak ringan.

“Tidak semua orang akan memilih cara damai,” katanya perlahan, memastikan setiap kata terdengar jelas. “Tapi kita tetap harus memilih cara yang kita yakini benar, selama cara itu belum membahayakan orang lain.”

Lyra menoleh kepadanya, memperhatikan ekspresi wajahnya yang tidak lagi hanya pemimpin, melainkan seseorang yang sedang menanggung beban pilihan.

“Dan kalau forum itu menjadi panggung untuk memperbesar suara yang lebih ekstrem?” tanyanya dengan nada serius, bukan menantang, melainkan benar-benar ingin memastikan.

Damian tidak langsung menjawab. Ia berjalan beberapa langkah sebelum berhenti di dekat jendela besar yang menghadap kota.

“Kalau kita takut pada kemungkinan itu lalu membatalkannya,” katanya perlahan sambil menatap gedung-gedung di luar, “maka kita sudah memberi pesan bahwa kita hanya percaya pada suara yang sejalan dengan kita.”

Lucian mengangkat alisnya sedikit.

“Dan kau yakin publik akan memahami perbedaan itu?” tanyanya.

Damian menoleh kembali ke arah timnya.

“Aku tidak yakin publik akan langsung memahami,” jawabnya jujur. “Tapi aku yakin kita harus konsisten dengan nilai yang kita pilih, bahkan ketika itu membuat posisi kita tidak nyaman.”

Kata-kata itu menggantung di ruangan lebih lama dari biasanya.

---

Malam itu, Lyra tidak langsung menuju balkon seperti kebiasaannya.

Ia duduk di ruang makan kecil dengan secangkir teh yang sudah hampir dingin, pikirannya berjalan lebih cepat daripada detak jam di dinding.

Damian masuk beberapa menit kemudian dan berhenti sejenak ketika melihatnya diam menatap meja.

“Kau terlihat seperti seseorang yang sedang berdebat dengan pikirannya sendiri,” katanya pelan sambil menarik kursi di depannya.

Lyra tersenyum tipis tanpa mengangkat kepala.

“Aku memang sedang berdebat,” jawabnya jujur. “Aku sedang mencoba memastikan bahwa kita tidak sedang membiarkan sesuatu tumbuh yang nanti tidak bisa kita kendalikan.”

Damian menyandarkan punggungnya perlahan.

“Kita tidak pernah benar-benar mengendalikan semuanya,” katanya pelan. “Kita hanya mengelola risiko sebaik mungkin.”

Lyra akhirnya menatapnya.

“Aku tahu itu,” katanya dengan suara lebih lembut. “Tapi kadang aku merasa keputusan kita sekarang bukan hanya tentang kota. Ini tentang arah hidup kita sendiri. Tentang bagaimana kita akan dikenang nanti.”

Damian terdiam beberapa detik sebelum menjawab.

“Kau takut kita akan dikenang sebagai orang yang terlalu lunak?” tanyanya.

Lyra menggeleng pelan.

“Aku takut kita akan dikenang sebagai orang yang tahu risikonya tapi tetap membiarkannya terjadi.”

Kalimat itu tidak terdengar menuduh.

Terdengar lelah.

Damian menatapnya lama sebelum berbicara lagi.

“Kalau suatu hari nanti semuanya salah,” katanya perlahan dan jujur, “aku ingin salah karena mencoba memberi ruang pada orang untuk memilih lebih baik, bukan karena aku menutup semua pintu karena takut.”

Lyra menghela napas panjang.

“Kau selalu bisa membuatnya terdengar masuk akal,” katanya pelan.

Damian tersenyum tipis.

“Itu bukan karena aku selalu yakin,” jawabnya pelan. “Itu karena aku tidak ingin membuat keputusan yang hanya didorong oleh ketakutan.”

Hening yang muncul setelah itu terasa lebih dalam, tetapi juga lebih hangat.

Lyra bangkit perlahan dan berjalan mendekat, berdiri di sampingnya, bukan berhadapan.

“Aku tidak ingin kau menanggung semuanya sendirian,” katanya dengan suara yang lebih lembut daripada sebelumnya. “Kalau forum ini nanti meledak jadi sesuatu yang tidak kita inginkan, itu bukan hanya tanggung jawabmu.”

Damian menoleh sedikit.

“Aku tahu,” jawabnya pelan. “Tapi sebagai pemimpin, aku tetap harus berdiri di depan.”

Lyra menatapnya dengan tatapan yang tidak hanya penuh keyakinan, tetapi juga kejujuran.

“Kalau begitu berdirilah di depan,” katanya perlahan. “Tapi jangan pernah berpikir kau berdiri sendirian.”

Kata-kata itu tidak dramatis.

Tidak berlebihan.

Tapi cukup untuk membuat Damian terdiam beberapa detik lebih lama dari biasanya.

---

Sementara itu, di sisi lain kota, Arsen duduk di sebuah ruangan kecil bersama seseorang yang tidak pernah ia perkenalkan secara publik.

Pria itu lebih tua, lebih tenang, dan tidak banyak bicara selama Arsen berbicara tentang forum yang akan datang.

“Kau yakin mereka tulus?” pria itu akhirnya bertanya dengan suara rendah.

Arsen menghela napas sebelum menjawab.

“Aku tidak tahu apakah mereka tulus sepenuhnya,” katanya pelan. “Tapi mereka tidak menyerang kita saat mereka bisa. Itu berarti sesuatu.”

Pria itu tersenyum tipis, bukan karena setuju, tetapi karena ia sudah melihat pola seperti ini sebelumnya.

“Kadang memberi ruang adalah cara paling halus untuk mempertahankan kontrol,” katanya pelan.

Arsen terdiam.

Benih keraguan yang sebelumnya kecil kini mulai tumbuh lagi.

Dan di sinilah cerita tidak lagi sederhana.

Karena kepercayaan yang dibangun dengan susah payah bisa goyah hanya dengan satu bisikan yang tepat.

---

1
Cicih Sophiana
Lyra👍👍👍
Cicih Sophiana
Lara dan Damian seperti nya nanti berjodoh
Cicih Sophiana
apa Damian mafia?
Cicih Sophiana
cerita nya seru...cewek yg keren
Cicih Sophiana
Lyra cewek keren...👍
Cicih Sophiana
hadir ach thor...
seperti seru nih...
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
cape aku thor.. kayak aku yang berlari, sembunyi .. hampir kehilangan nyawa😭 kapan giliran dia yang dburu🤣🤣
adisty aulia
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
jebakan demi jebakan kapan mereka yang di depan
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
deg² an thorr
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
keren cerita nya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!