Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di Halaman Kediaman Zian
Angin menderu kencang di telinga Zian. Dalam hitungan detik, dia sudah sampai di depan gerbang utama rumahnya yang hancur berantakan.
Halaman rumah leluhurnya berubah jadi lautan api. Asap hitam mengepul tebal membuat mata perih. Puluhan penjaga berseragam merah dari Sekte Api Emas mengepung sisa-sisa anggota Keluarga Zian dengan senjata terhunus.
Di tengah kepungan itu, Zian Hao berdiri terhuyung. Darah segar menetes dari dahi dan sudut bibirnya. Dia memegang pedang keluarga dengan tangan gemetar, berusaha keras menutupi Mei Yin yang sedang memeluk erat Zian Yan. Gadis kecil itu menangis ketakutan di pelukan ibunya.
"Serahkan rumah ini, Zian Hao! Tuan Muda Tian Ao sudah berbaik hati hanya membakar rumahmu, bukan membantai kalian semua!" teriak seorang pria bertubuh kekar. Dia adalah Kapten Penjaga Sekte Api Emas yang dikirim untuk membersihkan sisa keluarga Zian.
"Langkahi dulu mayatku, anjing Sekte Api Emas!" raung Zian Hao. Suaranya serak kehabisan tenaga. "Kalian sudah merenggut putraku, sekarang kalian mau mengambil rumah leluhur kami?!"
Kapten itu tertawa keras meludah ke tanah. "Putramu yang cacat itu memang pantas mati! Dia merusak pemandangan Nona Lin Yue. Kalian keluarga sampah harusnya sadar diri. Sekarang, rasakan ini!"
Kapten itu melesat ke depan. Pedang besarnya dilapisi energi kultivasi elemen api yang sangat panas. Dia mengayunkan pedang itu dengan niat memenggal leher Zian Hao.
Zian Hao sudah kehabisan tenaga, dia hanya bisa menutup mata rapat-rapat menunggu ajal.
"Ayah, awas!" jerit Zian Yan histeris.
Brak!
Suara ledakan dahsyat menggetarkan seluruh halaman. Angin kencang berhembus kencang seketika, menyapu debu dan kobaran api di sekitarnya hingga padam sebagian.
Zian Hao perlahan membuka matanya. Dia tidak mati. Pedang berapi itu tidak pernah menyentuh lehernya.
Di depannya, sesosok punggung lebar dan kokoh berdiri tegak seperti gunung baja. Tangan kiri sosok itu mencengkeram wajah Kapten Penjaga dengan sangat santai. Laju serangan pedang berapi itu berhenti total.
"Z-Zian...?" Zian Hao bergumam tidak percaya. Kakinya sampai lemas melihat putranya berdiri di sana. Bajunya robek dan berlumuran darah, tapi auranya menekan napas semua orang di halaman itu.
"Kakak!" Zian Yan berteriak girang, air matanya pecah seketika.
Mei Yin menutup mulutnya sambil menangis tersedu-sedu melihat putranya kembali dari kematian. "Astaga... anakku masih hidup."
Zian sedikit menoleh ke belakang. Tatapan matanya yang tadi buas, seketika berubah sangat lembut saat melihat keluarganya. "Ayah, Ibu, Yan-er. Maaf aku datang terlambat. Duduklah di belakangku. Biar aku yang mengurus tumpukan sampah ini."
Kapten Penjaga meronta-ronta panik. Tangannya memukul-mukul lengan Zian, tapi rasanya seperti memukul tiang besi pejal. "L-lepaskan aku! B-bagaimana kau bisa hidup?! Kau seharusnya sudah dibuang ke hutan!"
"Kau bilang aku pantas mati?" Zian kembali menatap Kapten itu. Kali ini matanya sehitam malam tanpa bintang. Niat membunuhnya menembus tulang. "Kau menyentuh ayahku. Kau membuat ibu dan adikku menangis."
Zian mengeratkan cengkeraman jarinya di wajah Kapten itu.
"T-tidak! Tolong am—"
Krak!
Kepala Kapten Penjaga itu amblas ke dalam. Tulang tengkoraknya hancur berkeping-keping hanya dalam satu remasan tangan kosong Zian. Tubuh besar kapten itu langsung lemas dan jatuh berdebum ke tanah bagai karung goni.
Keheningan mati menyelimuti halaman rumah itu. Puluhan penjaga Sekte Api Emas membelalakkan mata tidak percaya. Kapten mereka, seorang petarung kuat di tingkat Perwira, mati diremas seperti tahu lembek oleh pemuda cacat yang kemarin ditendang setengah mati oleh majikan mereka.
"Kapten mati! B-bagaimana mungkin?!" teriak salah satu penjaga yang berdiri paling depan dengan suara gemetar.
"Dia pasti pakai sihir kutukan atau jimat iblis! Jangan takut, kita ada puluhan orang! Serang dia bersamaan! Kepalanya dihargai sangat mahal oleh Tuan Muda!" teriak penjaga lainnya mencoba memompa keberanian kawan-kawannya.
"Bagus. Majulah kalian semua," Zian merentangkan kedua tangannya. Otot-otot leher dan lengannya mengembang. Urat-urat menyembul di balik kulitnya yang mengeras seperti baja. "Tulangku masih gatal. Darah satu orang tidak cukup untuk memadamkan api di rumahku."
Puluhan penjaga itu langsung menerjang serentak. Mereka berteriak liar sambil mengeluarkan berbagai sihir dan senjata pusaka. Halaman itu seketika penuh dengan tebasan pedang angin, bola api, dan panah es yang melesat ke arah Zian.
Zian sama sekali tidak menghindar. Dia malah berlari kencang menyongsong badai serangan sihir itu.
Trang! Trang! Bum!
Semua sihir yang mengenai tubuh Zian hancur berantakan menjadi debu cahaya. Bola api meledak di dadanya tanpa membakar sehelai pun benang bajunya. Panah es hancur berkeping-keping saat menabrak bahunya. Kulit keras Tulang Asura menangkis sabetan pedang baja bertubi-tubi hingga pedang-pedang itu bengkok dan patah dua.
Zian masuk ke tengah kerumunan penjaga seperti serigala buas yang masuk ke kandang kelinci.
Dia melayangkan pukulan lurus ke dada seorang penjaga.
Brak!
Dada penjaga itu langsung berlubang. Zian memutar badannya dan menendang lutut penjaga lain di sebelahnya.
Krak!
Kaki penjaga itu putus terlipat ke belakang. Jeritan kesakitan pecah di udara. Zian lalu menangkap kerah baju dua penjaga dari kiri dan kanan, mengangkat mereka, lalu membenturkan kepala mereka dengan sangat keras.
Splat!
Keduanya mati seketika dengan tengkorak retak.
Jeritan permohonan ampun mulai bergema bersahut-sahutan di tengah lautan api. Tidak ada gaya bela diri indah atau gerakan elegan dari Zian. Dia murni menggunakan kepalan tangan, sikut, lutut, dan bahunya yang sekeras baja. Setiap kali lengannya berayun, ada tulang musuh yang remuk. Setiap kali kakinya melangkah, ada nyawa yang dicabut. Darah memercik deras mewarnai sisa-sisa dinding rumah leluhurnya.
Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, halaman rumah Keluarga Zian benar-benar berubah menjadi rumah jagal.
Puluhan mayat penjaga berseragam merah tergelimpang tak bernyawa dengan tubuh hancur lebur. Genangan darah mengalir deras bercampur dengan debu sisa kebakaran.
Zian berdiri tegak di tengah tumpukan mayat itu. Napasnya teratur. Dia bahkan tidak berkeringat sedikit pun. Kekuatan Tulang Asura benar-benar di luar nalar dunia kultivasi biasa.
Di sudut halaman, dekat puing-puing tembok yang roboh, masih tersisa satu orang penjaga. Pemuda itu meringkuk bersembunyi di balik pot bunga raksasa yang sudah pecah. Dia mengompol di celananya. Tubuhnya bergetar hebat saat melihat Zian berjalan pelan mendekatinya.
"K-kau iblis... kau bukan manusia..." bisik penjaga itu sambil merangkak mundur ketakutan. Air mata dan ingusnya bercampur di wajahnya yang pucat.
Zian berhenti tepat di depan penjaga itu. Tatapannya menembus langsung ke dasar jiwa si pemuda.
"Aku membiarkanmu hidup karena aku butuh anjing kurir untuk mengirim pesan," ucap Zian sangat dingin.
"P-pesan apa, Tuan Zian? A-aku janji akan menyampaikannya persis seperti kata-kata Tuan!" penjaga itu bersujud mencium tanah berulang kali tanpa henti.
"Pulang ke penginapan. Beri tahu Tian Ao dan Lin Yue," Zian menunjuk tumpukan mayat anak buah sekte mereka dengan dagunya. "Katakan pada mereka, sampah cacat ini sudah merangkak kembali dari neraka. Dan aku akan segera datang menagih nyawa mereka sebentar lagi. Suruh mereka cuci leher bersih-bersih."
Penjaga itu mengangguk panik. "B-baik, Tuan! Aku mengerti!" Dia langsung bangkit tersandung-sandung dan berlari terbirit-birit keluar gerbang halaman sambil menangis histeris.
Zian tidak mempedulikan pelarian penjaga itu. Dia membalikkan badan dan berjalan kembali ke arah keluarganya.
Zian Hao, Mei Yin, dan Zian Yan masih membeku melihat pembantaian mengerikan tadi. Mereka tidak menyangka pemuda yang bertarung seganas monster itu adalah Zian. Namun, saat Zian tersenyum lembut ke arah mereka, semua keraguan dan ketakutan itu sirna.
"Zian... anakku," Mei Yin langsung berlari memeluk Zian erat-erat. Dia tidak peduli baju putranya penuh darah. Dia meraba-raba wajah dan lengan putranya sambil menangis bersyukur. "Kau masih hidup... tubuhmu... kau sudah benar-benar sembuh?"
Zian membalas pelukan ibunya dengan hangat. "Aku sudah sembuh total, Ibu. Jangan menangis lagi. Tidak akan ada lagi orang di kota ini yang berani menyebutku cacat."
Zian Hao berjalan perlahan mendekati putranya. Sebagai petarung veteran yang sudah banyak makan asam garam, matanya yang tajam menatap Zian lekat-lekat. Dia bisa merasakan betapa padat dan mengerikannya fisik Zian saat ini. Tidak ada fluktuasi energi kultivasi sekecil debu pun, tapi tubuh putranya ini memancarkan aura maut yang terasa lebih kuat dari naga darat.
"Kau mendapat keajaiban di kuil leluhur semalam, Zian?" tanya Zian Hao dengan suara parau bercampur bangga.
"Ceritanya lumayan panjang, Ayah. Yang jelas, aku sekarang sudah membangunkan warisan darah keluarga kita. Aku punya kekuatan untuk melindungi kalian semua," jawab Zian mantap. Dia melirik lengan ayahnya yang terluka. "Mari kita padamkan sisa api ini dan masuk ke dalam. Luka Ayah harus segera kubalut."
Ketiga anggota keluarga itu mengangguk lega. Mereka mulai sibuk menimba air dari sumur belakang rumah untuk menyiram sisa-sisa kobaran api di tiang kayu utama.
Namun, kelegaan dan kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Baru saja percikan api terakhir padam di halaman, terdengar suara derap langkah kaki kuda yang sangat riuh dari luar gerbang rumah. Suaranya serentak dan mengancam.
Ratusan prajurit berseragam hitam lapis baja mengepung kediaman Keluarga Zian dalam formasi tempur. Ujung tombak mereka berkilat di bawah sinar matahari pagi. Di barisan paling depan, seorang pria paruh baya bertubuh tegap menunggangi kuda perang hitam raksasa. Jubahnya bersulam naga perak berkilauan.
Zian Hao seketika memucat. Tangannya refleks kembali menggenggam pedangnya erat-erat. "Itu... Utusan Resmi Kota Daun! Pasukan Penegak Hukum Kota!"
Pria penunggang kuda itu menatap tumpukan puluhan mayat berseragam Sekte Api Emas di halaman dengan wajah terkejut, sebelum akhirnya matanya menatap tajam dan bengis ke arah Zian.
"Zian Hao!" teriak Utusan Kota itu dengan suara menggelegar yang dilapisi energi kultivasi tinggi, membuat gendang telinga warga di sekitar jalan berdesing. "Putramu baru saja melakukan pembantaian masal terhadap tamu kehormatan kota ini! Berani sekali kalian membantai murid Sekte Api Emas!"
Utusan itu menunjuk Zian dengan cambuk besinya. "Atas nama hukum mutlak Kota Daun, serahkan putramu untuk dihukum mati sekarang juga! Atau aku sendiri yang akan meratakan seluruh sisa keluargamu dengan tanah!"
Mendengar ancaman itu, Zian melangkah maju menutupi ayah, ibu, dan adiknya. Dia mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat hingga berbunyi gemeretak patahan tulang. Niat membunuhnya yang sempat reda kini meledak kembali, kali ini jauh lebih buas dan pekat dari sebelumnya.
"Meratakan keluargaku?" Zian menyeringai sangat lebar. Matanya menatap utusan kota yang sombong itu seperti melihat mayat berjalan. "Coba saja maju kalau kau ingin kepalamu dan kudamu kuremukkan jadi satu malam ini juga."
cuma tinju asal ajaaa