Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Malam Berdarah di Desa Awan Hijau
Malam Ketika Langit Menangis Darah
Puluhan tahun silam, dunia persilatan berdiri dalam keseimbangan yang nyaris sempurna.
Nama Sembilan Master Naga adalah hukum tak tertulis. Mereka bukan penguasa kerajaan, bukan pula kaisar yang duduk di singgasana emas. Namun satu ucapan mereka mampu menghentikan perang, satu langkah mereka mampu meredam sekte sesat yang bangkit. Di bawah bayangan mereka, golongan hitam tak berani menampakkan diri.
Selama tiga dekade, tidak ada pembantaian besar. Tidak ada sekte iblis yang berani mengibarkan panji.
Hingga malam itu tiba.
Di lembah yang sunyi dan hijau, berdirilah Desa Awan Hijau. Sawah menguning, sungai jernih membelah desa, dan gunung di kejauhan menjadi penjaga alami. Penduduknya sederhana, jauh dari intrik dunia persilatan.
Wang Long lahir dan tumbuh di sana.
Pemuda tujuh belas tahun itu memiliki bahu lebar dan tatapan jernih. Setiap pagi ia membantu ayahnya menebang kayu di hutan, dan sore hari ia berlatih dasar bela diri yang diajarkan sang ayah—bukan teknik tinggi, hanya pukulan dan kuda-kuda untuk menjaga diri dari perampok biasa.
Ibunya penenun kain terbaik di desa. Adiknya, Mei Lin kecil, selalu menunggu di depan rumah setiap kali ia pulang.
Malam itu terasa berbeda.
Angin bertiup lebih dingin.
Anjing-anjing desa menggonggong tanpa henti.
Wang Long yang sedang mengangkat kayu bakar tiba-tiba berhenti. Ada getaran halus di tanah. Bukan gempa. Lebih seperti… langkah.
Banyak langkah.
Lalu terdengar jeritan.
Penduduk yang berlari dari arah gerbang desa berteriak panik, “Mereka datang! Partai Tengkorak Hitam!”
Api menyala seperti lidah neraka yang menjilat atap-atap rumah.
Puluhan pria berjubah hitam menerobos masuk. Topeng tengkorak besi mereka berkilat merah oleh pantulan api. Di dada mereka terukir simbol tengkorak dengan dua naga saling melilit.
Tanpa aba-aba.
Tanpa peringatan.
Pedang pertama terayun.
Seorang pria tua yang mencoba melindungi cucunya terbelah dari bahu ke pinggang. Darah menyembur seperti hujan.
Wanita-wanita berteriak. Anak-anak berlarian.
Namun para penyerang bukan manusia biasa.
Gerakan mereka ringan seperti bayangan. Setiap ayunan pedang mengandung tenaga dalam. Udara bergetar tiap kali senjata mereka bergerak.
“Ayah!” Wang Long berlari.
Ayahnya, Wang Jian, sudah memegang kapak kayu besar. Wajah pria paruh baya itu pucat, namun matanya tegas.
“Bawa ibumu dan adikmu ke hutan belakang! Cepat!”
Wang Long menggenggam tangan Mei Lin. Ibunya menyusul dengan napas terengah.
Mereka berlari ke arah jalur kecil menuju hutan.
Namun tiga bayangan hitam mendarat di depan mereka.
Tanpa suara.
Tanpa jejak.
Salah satu dari mereka menggerakkan lehernya perlahan, seperti binatang yang menemukan mangsa.
“Tak seorang pun boleh hidup.”
Ayah Wang Long datang dari belakang dengan teriakan penuh amarah. Kapaknya mengayun lurus ke leher salah satu penyerang.
Dentang!
Kapak itu tertahan dua jari.
Dua jari.
Pria berjubah hitam itu tersenyum di balik topengnya.
Lalu pedangnya bergerak seperti kilat.
Cahaya dingin membelah udara.
Tubuh Wang Jian terbelah dua.
Darah hangat memercik ke wajah Wang Long.
Waktu terasa melambat.
Ibunya menjerit, memeluk tubuh suaminya yang terpisah.
Pedang kedua turun.
Kepala ibunya terlepas dan berguling di tanah berdebu.
“Ayah… Ibu…”
Suara Wang Long pecah.
Mei Lin menjerit histeris.
Salah satu penyerang mencengkeram rambut gadis kecil itu.
“Lepaskan dia!” Wang Long menerjang.
Ia memukul dengan seluruh tenaga.
Namun pria itu hanya mengibaskan tangannya.
Sebuah gelombang tenaga dalam menghantam dada Wang Long.
Tubuhnya terpental, menghantam batang pohon besar hingga kayunya retak.
Ia merasakan tulang rusuknya patah. Nafasnya tersendat. Darah mengalir dari sudut bibirnya.
Dalam pandangan kabur, ia melihat pedang terangkat tinggi di atas kepala adiknya.
Langit tiba-tiba bergemuruh.
Sinar keemasan menyambar turun seperti naga dari surga.
Ledakan besar mengguncang tanah.
Debu dan api terhempas.
Tiga pria berjubah hitam terpental puluhan langkah, tubuh mereka menghantam tanah keras.
Di antara asap dan kobaran api, berdiri seorang lelaki tua berjubah abu-abu.
Rambut putihnya terurai panjang. Jubahnya berkibar meski angin telah berhenti. Di sekeliling tubuhnya berputar aura samar berbentuk naga.
Tatapannya tajam seperti pedang.
“Sudah lama aku tidak melihat sekte busuk ini keluar dari sarangnya,” suaranya berat, namun mengandung tekanan dahsyat.
Salah satu anggota Partai Tengkorak Hitam bangkit dengan susah payah.
“Kau… salah satu dari mereka…”
Lelaki tua itu tidak menjawab.
Ia melangkah.
Satu langkah saja.
Tanah retak.
Aura naga di sekelilingnya berubah menjadi pusaran angin.
Tiga penyerang menyerang bersamaan.
Pedang mereka berkilat dari tiga arah berbeda—atas, kiri, kanan—teknik pembunuhan tingkat tinggi.
Namun lelaki tua itu hanya mengangkat tangannya.
“Teknik Naga Menggetarkan Langit.”
Udara meledak.
Gelombang energi tak terlihat menghantam ketiga pedang sekaligus.
Dentang keras menggema.
Pedang-pedang itu hancur menjadi serpihan.
Sebelum ketiganya sempat mundur, lelaki tua itu menggerakkan dua jarinya.
Gerakannya sederhana.
Namun tiga garis cahaya tipis melesat.
Dalam satu tarikan napas—
Tiga kepala terlepas dari tubuhnya.
Darah menyembur tinggi.
Tubuh tanpa kepala itu roboh bersamaan.
Sisa anggota Partai Tengkorak Hitam yang masih membantai desa terhenti. Mereka menoleh ke arah lelaki tua itu.
Seorang pria dengan jubah lebih mewah melangkah maju.
“Master Naga… ternyata masih ada yang hidup.”
Aura hitam menguar dari tubuhnya.
“Tarik mundur!” teriaknya.
Para penyerang melompat menjauh, menghilang ke dalam malam seperti bayangan yang ditelan kegelapan.
Desa Awan Hijau telah menjadi lautan api.
Jeritan berubah menjadi rintihan.
Rintihan berubah menjadi sunyi.
Wang Long merangkak mendekati tubuh ayah dan ibunya.
Ia menyentuh tangan ayahnya yang masih hangat.
“Bangun… Ayah…”
Tidak ada jawaban.
Ia mencari Mei Lin.
Namun yang tersisa hanya jejak darah kecil di tanah.
Dunia runtuh.
Ia memukul tanah dengan tangan berdarah.
“Mengapa… mengapa kalian membunuh rakyat biasa?!”
Lelaki tua itu berdiri di belakangnya.
“Karena mereka mencari sesuatu.”
Wang Long menoleh dengan mata merah.
“Mencari apa?!”
“Warisan Naga.”
Angin malam membawa bau darah dan kayu terbakar.
Lelaki tua itu berlutut di depan Wang Long.
Dua jarinya menyentuh titik di dada pemuda itu.
Energi hangat mengalir.
Rasa sakit di tulang rusuknya mereda perlahan.
Namun yang lebih aneh—
Di dalam dadanya, sesuatu berdenyut.
Seperti naga kecil yang tertidur.
Lelaki tua itu mengerutkan kening.
“Aliran darahmu… berbeda.”
Wang Long terengah.
“Apa maksud Anda?”
“Dalam tubuhmu ada sisa aura naga kuno. Sangat tipis… namun murni.”
Wang Long tertegun.
Ia hanyalah pemuda desa biasa.
“Aku salah satu dari Sembilan Master Naga,” kata lelaki tua itu pelan.
Jantung Wang Long berdegup keras.
“Bukankah kalian sudah menghilang?”
“Kami membuat kesalahan besar di masa lalu. Kesalahan itu melahirkan Partai Tengkorak Hitam.”
Kata-kata itu seperti petir.
“Ajari saya,” suara Wang Long bergetar namun penuh tekad.
“Balas dendam hanya akan melahap hatimu.”
“Saya tidak peduli!” Wang Long berteriak, air mata bercampur darah di wajahnya. “Jika dunia ini membiarkan kejahatan seperti ini… maka saya akan menjadi pedang yang memotongnya!”
Lelaki tua itu menatapnya lama.
Di balik kobaran api, bayangan naga samar terlihat di mata Wang Long.
“Baik,” akhirnya ia berkata pelan. “Jika takdir memilihmu… maka kau harus siap kehilangan lebih banyak lagi.”
Fajar mulai menyingsing.
Asap tipis membubung dari sisa-sisa desa.
Lelaki tua itu berdiri.
“Mulai hari ini, kau meninggalkan nama lamamu sebagai pemuda desa.”
Wang Long mengangkat wajahnya.
“Siapa saya?”
Lelaki tua itu menatap cakrawala yang memerah.
“Kau mungkin… adalah Naga Kesepuluh.”
Di atas puing dan darah.
Di bawah langit yang masih berbau kematian.
Sebuah legenda baru lahir.
Dan malam itu, dunia persilatan kembali bergerak… menuju badai yang jauh lebih besar.
Bersambung...