"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Ledakan itu menggetarkan tanah di bawah kaki Alya. Mansion Dirgantara, yang selama ini menjadi penjara emas sekaligus saksi bisu kegilaan Rangga, kini berubah menjadi bola api raksasa di tengah kegelapan malam. Alya terlempar ke depan, mendarat di atas pasir dermaga belakang yang dingin. Telinganya berdenging hebat, dan di matanya hanya ada bayangan merah api yang melahap segalanya.
"Rangga..." bisik Alya. Suaranya hilang tertelan deru helikopter dan suara sirine yang menjauh.
Alya menoleh ke arah mansion. Pintu rahasia tempat ia keluar tadi kini tertutup oleh reruntuhan beton. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ia teringat tatapan terakhir Rangga—tatapan yang memohon maaf, tatapan yang menunjukkan bahwa pria itu lebih memilih hancur bersama masa lalunya daripada membiarkan Alya terus hidup dalam bayang-bayang Baskara.
Namun, Alya tidak punya waktu untuk berduka. Di kejauhan, ia melihat lampu senter bergerak menuju dermaga. Anak buah Baskara atau petugas Interpol? Ia tidak tahu. Dengan sisa tenaga yang ada, Alya merangkak menuju kapal kecil yang disebutkan Rangga. Ia menghidupkan mesinnya, memotong tali penambat dengan pisau kecil yang masih ia genggam, dan memacu kapal itu menjauh ke tengah laut lepas.
...****************...
Tiga hari setelah ledakan besar itu.
Dunia digemparkan oleh berita hancurnya dinasti Dirgantara. Media massa menyebutnya sebagai "Tragedi Pembersihan Diri". Jasad Baskara Dirgantara ditemukan di antara puing-puing ruang kerja, teridentifikasi melalui catatan gigi. Rendi ditemukan tewas mengenaskan karena tertimbun reruntuhan saat mencoba melarikan diri. Namun, satu nama tidak ada dalam daftar mayat yang ditemukan: Rangga Dirgantara.
Polisi menemukan jejak darah yang mengarah ke luar mansion, namun jejak itu terputus di tepi tebing yang menghadap ke laut. Spekulasi bermunculan. Sebagian menganggap Rangga hancur menjadi abu, sebagian lagi percaya sang predator berhasil lolos dari maut sekali lagi.
Sementara itu, di sebuah kota kecil di pesisir utara jawa, Alya duduk di sebuah kedai kopi pinggir jalan. Ia mengenakan pakaian sederhana, kerudung kain untuk menutupi wajahnya, dan kacamata hitam. Ia kini hidup dengan nama samaran "Maya". Uang tunai yang sempat Rangga selipkan di tas daruratnya cukup untuk membuatnya bertahan selama beberapa bulan.
Alya menatap layar televisi di kedai tersebut yang menyiarkan berita tentang aset Dirgantara Group yang kini disita negara. Tiba-tiba, jantungnya berdegup kencang saat melihat sesosok pria di latar belakang rekaman amatir saat kejadian ledakan. Pria itu memakai jaket hoodie hitam, berdiri di antara kerumunan warga yang menonton kebakaran, namun tatapannya tidak ke arah api.
Tatapan pria itu mengarah ke kamera. Meski wajahnya tertutup masker medis, matanya... mata itu adalah mata yang menghantuinya setiap malam.
"Dia masih hidup," bisik Alya. Tangannya gemetar hingga kopinya tumpah ke meja.
Alya kembali ke rumah kontrakan kecilnya yang terpencil. Namun, saat ia membuka pintu, ia langsung merasakan aroma yang sangat familiar. Bau sandalwood yang bercampur dengan aroma obat antiseptik yang tajam.
"Aku sudah bilang padamu untuk tidak berhenti berlari, Alya."
Suara itu datang dari pojok ruangan yang gelap. Alya membeku. Ia tidak berbalik, air mata mulai mengalir di pipinya. "Kenapa kamu tidak membiarkan aku bebas, Rangga?"
Rangga muncul dari kegelapan. Penampilannya jauh dari kesan CEO yang dulu. Bahunya dibebat perban kasar, wajahnya memiliki bekas luka bakar baru di sisi kiri, dan ia berjalan sedikit pincang. Namun, aura dominasi dan posesif itu tidak pernah hilang.
"Aku mencoba," ucap Rangga dengan suara parau. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Alya, namun tidak menyentuhnya. "Aku mencoba membiarkanmu pergi. Tapi dunia ini terlalu berbahaya untukmu tanpa aku. Ayahku... dia punya jaringan yang lebih besar dari yang kau kira. Meski dia sudah mati, orang-orangnya masih mencarimu. Mereka berpikir kau memegang kunci brankas rahasia keluarga."
Alya berbalik, menatap wajah Rangga yang kini tampak seperti malaikat yang jatuh ke neraka. "Lalu sekarang apa? Kamu akan mengurungku lagi? Di mana? Rumah ini? Atau di lubang bawah tanah yang lain?"
Rangga menatap Alya dengan pandangan yang dalam, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ada rasa lelah yang sangat besar di matanya. "Tidak. Aku datang untuk memberimu pilihan."
Rangga meletakkan sebuah paspor dan tiket pesawat ke Swiss di atas meja. "Pergilah. Gunakan identitas ini. Di sana ada sebuah panti rehabilitasi mental yang sangat privat. Mereka mengenalku. Pergilah ke sana, bukan sebagai tawananku, tapi sebagai saksi atas kesembuhanku. Aku akan menyerahkan diriku secara sukarela ke otoritas internasional di sana jika kau setuju untuk tetap tinggal di dekatku."
Alya tertegun. "Kamu... menyerahkan diri?"
"Aku tidak bisa sembuh sendirian, Alya. Dan aku tidak ingin menjadi monster yang kau takuti selamanya. Aku ingin kau melihatku sebagai pria yang pantas kau cintai, bukan pria yang harus kau takuti," ucap Rangga. Untuk pertama kalinya, Rangga berlutut di depan Alya, menundukkan kepalanya yang angkuh. "Bantu aku, Alya. Jadilah jangkarku di dunia yang gila ini."
Alya bimbang. Ini adalah tawaran paling jujur yang pernah keluar dari mulut Rangga. Namun, tepat saat ia hendak menjawab, pintu rumah kontrakan itu didobrak dengan keras.
BRAKK!
Tiga orang pria bersenjata masuk. Mereka bukan polisi. Mereka memakai seragam tentara bayaran hitam tanpa lambang.
"Tuan Besar Baskara memang sudah mati, tapi kontrak kami belum berakhir," ucap pemimpin mereka. "Kami diperintahkan untuk membawa kalian berdua kembali, hidup atau mati."
Rangga segera berdiri, mendorong Alya ke belakang tubuhnya. Sisi psikopatnya kembali bangkit dalam sekejap. Ia menyambar sebilah pisau dapur dari atas meja. "Kau melakukan kesalahan besar masuk ke rumah ini."
Pertempuran pecah di ruang sempit itu. Rangga bertarung seperti singa yang terluka. Meskipun fisiknya belum pulih, insting membunuhnya tetap tajam. Ia menghujamkan pisau itu ke leher salah satu penyerang, merebut senjatanya, dan menembak dua lainnya dengan presisi yang mematikan.
Darah kembali membasahi lantai. Alya menjerit, menutup telinganya.
Rangga berdiri di tengah mayat-mayat itu, napasnya memburu. Ia menoleh ke arah Alya, wajahnya kembali bersimbah darah. "Lihat, Alya? Mereka tidak akan pernah membiarkan kita tenang. Dunia tidak menginginkan kita bebas."
"Lalu siapa mereka, Rangga?! Bukankah ayahmu sudah mati?!"
Rangga memeriksa ponsel salah satu mayat tersebut. Matanya membelalak saat melihat panggilan masuk dari sebuah nomor yang seharusnya sudah tidak aktif.
"Rendi..." desis Rangga. "Dia masih hidup."
Ternyata, mayat yang ditemukan di mansion bukan Rendi. Rendi telah menyiapkan mayat pengganti—seorang pengawal yang memiliki postur tubuh serupa—dan menggunakan ledakan itu untuk memalsukan kematiannya sendiri. Kini, dengan Baskara yang sudah tiada, Rendi bergerak di bawah tanah, mengambil alih sisa-sisa pasukan Baskara untuk membalas dendam pada Rangga dan mengambil Alya.
Rangga menarik tangan Alya dengan kasar. "Kita harus pergi sekarang! Rendi tidak akan berhenti sampai dia melihat kita berdua hancur!"
"Tapi ke mana, Rangga? Ke mana kita bisa lari dari orang gila sepertinya?!"
Rangga menatap Alya dengan tatapan yang tajam namun penuh tekad. "Kita tidak akan lari lagi, Alya. Jika dia ingin bermain di kegelapan, aku akan menunjukkan padanya siapa raja kegelapan yang sesungguhnya. Kita akan memancingnya keluar."
...****************...
Satu minggu kemudian.
Rangga dan Alya tiba di sebuah resor terpencil di pegunungan Alpen, Swiss. Ini adalah umpan. Rangga sengaja menyebarkan jejak keberadaan mereka agar Rendi mengejar mereka ke sana.
Alya berdiri di balkon hotel yang menghadap ke lembah bersalju. Ia merasa seperti berada di dalam mimpi buruk yang berulang. Rangga duduk di dalam kamar, sedang merakit sesuatu di atas meja. Ia tampak sangat fokus, sangat tenang—ketenangan yang selalu muncul sebelum badai kematian datang.
"Mas..." panggil Alya.
Rangga menoleh. "Jangan takut, Alya. Ini adalah babak terakhir. Setelah malam ini, tidak akan ada lagi Rendi, tidak akan ada lagi Dirgantara. Hanya akan ada kita."
"Atau tidak ada apa-apa sama sekali," sahut Alya sedih.
Rangga mendekati Alya, memeluknya dari belakang, merasakan dinginnya salju yang mulai turun. "Jika aku harus mati untuk mengakhiri ini, aku akan melakukannya. Tapi aku akan memastikan Rendi pergi lebih dulu ke neraka."
Malam itu, di tengah badai salju yang dahsyat, sesosok bayangan terlihat bergerak di lereng bukit menuju hotel. Rendi, yang kini menggunakan kaki prostetik canggih dan didukung oleh sisa-sisa tentara bayaran Baskara, tiba dengan amarah yang meluap.
"Rangga! Keluar kau! Aku tahu kau di dalam!" suara Rendi menggema melalui pengeras suara, memecah kesunyian Alpen.
Rangga keluar ke balkon, berdiri dengan angkuh di bawah siraman lampu sorot helikopter Rendi yang berputar di atas. "Kau masih saja merangkak seperti tikus, Rendi. Kenapa tidak kau hadapi aku sebagai laki-laki?"
"Aku sudah melewati neraka karena perbuatanmu, Rangga! Sekarang, aku akan membawamu ke sana!"
Rendi memberikan perintah untuk menembak, namun sebelum peluru pertama dilepaskan, seluruh area hotel itu meledak dengan cahaya putih yang menyilaukan. Bukan ledakan api, melainkan ranjau EMP (elektromagnetik) yang telah disiapkan Rangga. Semua alat elektronik, helikopter, dan kaki prostetik Rendi mendadak lumpuh.
Helikopter Rendi kehilangan kendali dan jatuh terhempas ke lereng bersalju. Rendi terlempar keluar, merangkak di atas salju yang membeku.
Rangga turun dari hotel, berjalan perlahan di atas salju menuju Rendi. Di tangannya, ia memegang pisau bedah yang sama yang ia gunakan malam itu di apartemen.
"Kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan teknologi ayahku?" Rangga berdiri di depan Rendi yang kini tak berdaya. "Kau lupa satu hal, Rendi. Kekuatanku tidak datang dari uang atau senjata. Kekuatanku datang dari kegilaan yang kau sendiri takkan pernah pahami."
Rendi menatap Rangga dengan ketakutan yang murni. "Jangan... Rangga... tolong..."
"Tolong?" Rangga tertawa, tawa yang memantul di dinding-dinding gunung es. "Alya memintaku untuk menjadi orang baik. Dan aku mencoba. Tapi kau... kau terus-menerus menarik monster itu keluar."
Rangga mengangkat pisaunya. Namun, tiba-tiba, sebuah tangan lembut menahan lengannya.
"Cukup, Rangga."
Alya berdiri di sana, di tengah badai salju, dengan wajah yang penuh ketegasan. "Jika kau membunuhnya sekarang, di depan mataku, maka semua perjuangan kita selama ini sia-sia. Biarkan dia hidup dalam kehinaan. Biarkan polisi membawanya. Bukankah kau bilang kau ingin aku melihatmu sebagai pria yang pantas dicintai?"
Rangga menatap Alya, lalu menatap Rendi yang gemetar. Terjadi pergulatan hebat di dalam batinnya. Sisi psikopatnya berteriak untuk menghabisi Rendi, namun cinta di matanya untuk Alya menahan tangannya.
Setelah keheningan yang lama, Rangga menurunkan pisaunya. Ia meludah ke arah Rendi. "Kau beruntung Alya ada di sini. Jika tidak, kepalamu sudah tertancap di puncak gunung ini."
Tak lama kemudian, pasukan polisi Swiss yang telah dihubungi Alya secara diam-diam tiba di lokasi. Rendi ditangkap, kali ini tanpa ada jalan keluar lagi. Pengkhianatannya terhadap Interpol dan keterlibatannya dalam terorisme internasional memastikan dia akan membusuk di penjara paling ketat di dunia seumur hidupnya.
...****************...
Enam bulan kemudian.
Sebuah pondok kecil di pinggiran Zurich, Swiss. Alya sedang duduk di beranda, membaca buku, menikmati kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dari dalam rumah, Rangga keluar membawa dua cangkir cokelat panas.
Rangga sudah menjalani terapi rutin selama berbulan-bulan. Ia tidak lagi memiliki akses ke perusahaan, tidak lagi memiliki senjata. Ia adalah orang biasa dengan nama baru. Meski terkadang kilatan di matanya masih menunjukkan sisi gelapnya, ia belajar untuk mengendalikannya.
"Apa yang kau baca?" tanya Rangga sambil menyerahkan cangkir itu.
"Sebuah cerita tentang seorang pria yang menemukan jalannya kembali dari kegelapan," jawab Alya sambil tersenyum.
Rangga duduk di sampingnya, menggenggam tangan Alya. "Apakah pria itu mendapatkan akhir yang bahagia?"
Bersambung.....
- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/