NovelToon NovelToon
WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Curhat ke Friska

Sultan menghembuskan napasnya dengan kasar setelah kepergian Aluna. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, merasakan sakit kepala yang menusuk. Ia mengakui, sejak awal menikah  Ayahnya selalu membantu keuangan keluarganya. Selama itu pula ia tidak pernah terlilit utang besar. Namun, dasarnya saja istrinya, Annisa yang boros. Selama Ayahnya membantu, mereka sama sekali tidak menabung malah banyak membeli hal-hal yang tidak berguna.

Ia meraih ponsel dan membuka kalkulator, mencoba menghitung ulang kekacauan finansialnya.

“Uang hasil jual gelang Ibu masih ada enam juta. Kalau aku transfer semuanya ke Aluna, sepuluh hari ke depan mau makan apa?” gerutu Sultan, mengacak rambut. “Uang sisa gajiku habis semua lagi. Sisa uang ini saja. Hufttt… kenapa aku punya banyak utang, sih?”

Utang di Pak Karto memang sudah lunas. Namun, Sultan masih punya utang di mertuanya sebesar 15 Juta yang dibayarkan per bulan. Ia juga memiliki cicilan di bank setiap bulan karena pernah meminjam uang sebesar 100 juta dalam jangka waktu dua tahun untuk modal usaha pakaian Annisa. Namun, toko itu hanya berjalan enam bulan sebelum bangkrut karena Annisa tidak pandai berdagang dan lebih banyak memakai baju-baju dagangan itu ketimbang menjualnya.

“Untuk bayar dua itu semua, sisa gajiku tersisa sangat sedikit. Sisa 300 ribu. 300 ribu mau makan apa dalam sebulan? Belum uang bensin, uang makan, bayar listrik, air, jajan anak-anak… aarrggghhh, pusing aku.” gerutu Sultan, membanting ponselnya ke sofa. Ia terperangkap dalam lingkaran utang yang ia ciptakan sendiri tanpa jalan keluar.

**

Sementara itu, Aluna tidak langsung menuju rumah Friska. Ia mengendarai motornya menuju taman kota, sebuah ruang terbuka yang biasanya sepi di siang hari. Ia duduk di bangku taman seorang diri, mencoba meredam gejolak di hatinya. Beberapa kali ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya dengan kasar. Letupan kesal dan kecewa masih sangat terasa.

Tak lama, rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Orang-orang yang berada di taman berlarian menghindari guyuran air. Tapi Aluna… ia tetap berada di tempatnya. Menikmati aroma tanah basah dan guyuran air hujan. Ia merasa kekesalan dan kekecewaannya meluap begitu saja ketika air mengenai tubuhnya.

Ia menunduk, bahunya mulai bergetar. Tak lama, suara isakan pilu terdengar dari dirinya. Aluna menangis. Ia memukul-mukul dadanya yang begitu sesak. Untung saja keadaan sepi sehingga ia tidak menjadi tontonan.

“Ayah… hiks… Ayah… Ayah… hiks hiks hiks… Ayah…” Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Aluna, memanggil sosok yang menjadi tumpuan terakhir harapannya.

Satu jam berlalu, hujan perlahan reda. Aluna pun merasa sedikit lebih baik, seolah hujan telah membersihkan sebagian lukanya. Ia beranjak dari tempat duduknya dan mengendarai motornya menuju rumah Friska, tubuhnya basah kuyup.

**

Friska yang baru bangun tidur, melihat kondisi sahabatnya itu dan langsung panik. “A… Aluna… Kamu kenapa? Astaga, kamu basah kuyup.  Ayo masuk dulu."

Ia masuk ke kamarnya dan mengambilkan handuk. “Kamu kenapa sih, Lun, main hujan-hujanan? Kalau kamu sakit, gimana?” omel Friska, dan kemudian menyadari mata Aluna yang bengkak dan merah. “Kamu habis nangis? Kenapa lagi?”

Aluna masih diam, enggan bercerita.

“Ya sudah, kamu mandi air hangat dulu sebelum masuk angin. Nanti kamu harus cerita sama aku setelah mandi."  kata Friska lembut.

Aluna mengangguk dan menuju kamar mandi.

Dua puluh menit berlalu, Aluna belum juga keluar. Friska jadi khawatir. Ia mengetuk-ngetuk pintu. “Lun… Aluna… Lama banget sih? Kamu belum selesai mandi?” teriak Friska tapi tidak ada sahutan.

“Ya ampun, itu anak bikin aku khawatir aja. Dia mandi atau apa sih di dalam?” gerutu Friska cemas. “Alunaaa… kamu dengar enggak sih? Kamu enggak aneh-aneh kan di dalam? Jangan bikin aku khawatir deh Lun. Alunaaaa!” teriak Friska lagi, suaranya mengandung nada panik.

Tiba-tiba, suara pintu terbuka.

“Ya ampun, Lun. Kamu tuh bikin aku khawatir aja, tahu enggak.” omel Friska, mencubit lengan Aluna saking kesalnya.

“Aduh, Fris. Sakit tahu.” kata Aluna yang sudah jauh lebih baik, wajahnya bersih dari sisa air mata.

“Habisnya kamu dipanggil dari tadi enggak nyaut. Aku pikir kamu bunuh diri di kamar mandi aku. Kan bisa berabe urusannya.” balas Friska.

“Isstt, sembarangan banget sih mulutnya."  Kali ini Aluna yang balas menggeplak Friska.

“Ya sudah, kamu pakaian dulu. Habis itu makan, terus kamu cerita sama aku sebenarnya ada apa."  ajak Friska.

Mereka berdua makan dengan tenang. Setelah selesai, mereka duduk di depan TV. “Sekarang cerita, ada apa?” tanya Friska, tatapannya penuh keseriusan.

Aluna menghembuskan napasnya dengan kasar. “Aku habis bertengkar besar sama Kak Sultan dan Mbak Nisa di rumahnya.”

Aluna menceritakan semuanya, mulai dari barang belanjaan baru, rencana membeli emas, pengakuannya tentang 11 juta  utang lama, hingga kalimat menyakitkan Sultan yang memintanya berbakti dan membiayai semuanya.

“Gila… kenapa Mbak Nisa jadi gitu, ya? Kan dari ceritamu Mbak Nisa itu baik banget waktu Ayahmu masih ada.” komentar Friska, terkejut.

“Mungkin karena kami sudah jatuh miskin jadi sifatnya sudah berubah karena enggak ada lagi yang bantu perekonomian keluarganya tiap bulan. Kan kamu tahu sendiri Fris tiap bulan Ayah juga kasih jatah ke Kak Sultan dan keluarganya,” terang Aluna.

“Huuuffttt… sorry to say ya  Lun, tapi salah Ayah kamu juga sih sebenarnya karena terlalu memanjakan Kak Sultan dan istrinya. Seharusnya Ayah kamu dulu membiarkan Kak Sultan mandiri bersama keluarganya agar Kak Sultan tahu tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.” kata Friska jujur.

“Kamu benar. Itu yang aku sesalkan, Fris. Ayah terlalu memanjakan kami, terutama keluarga Kak Sultan. Jadi, mereka tidak terbiasa hidup pas-pasan, makanya berutang sana-sini.” kata Aluna.

“Huffttt… susah juga kalau enggak bisa menyesuaikan isi dompet. Tapi aku kesal banget loh  sama Mbak Nisa. Isstt, jadi Ipar enggak pengertian banget. Kamu yang pontang-panting cari uang, tapi mereka yang menikmati dan enggak mau bayar lagi. Astaga, Ipar kamu memang rada-rada. Kak Sultan juga kayaknya takut sama istrinya itu. Ck…” kesal Friska.

“Aku benar-benar pusing, Fris, harus bagaimana. Aku juga sebenarnya kecewa sama Ibu.” kata Aluna mengacak rambutnya.

“Hmmm… Ibu juga sebenarnya bikin aku kesal, tapi namanya orang tua juga pasti enggak tega melihat anaknya kesusahan. Tapi arrggg, greget aku Lun sama Ibu.” kata Friska, tidak melanjutkan kalimatny ia tahu bahwa mengkritik Ibu Aluna adalah hal sensitif.

“Itulah, Fris. Aku kecewa karena Ibu selalu perhatian kepada Kak Sultan padahal kita sendiri kesusahan. Ibu sama sekali tidak melihat perjuanganku selama ini untuk menghidupinya dan Alika. Seolah aku ini tidak ada apa-apanya dibanding Kak Sultan. Padahal kamu tahu sendiri, kan, bagaimana kerjaku selama ini untuk menghasilkan uang. Tapi Ibu… Ibu dengan mudahnya memberikan gelang itu ke Kak Sultan. Padahal itu adalah gelang satu-satunya peninggalan Ayah. Aku rasa Ibu pilih kasih, Fris, padahal aku yang selama ini berbakti padanya, bukan Kak Sultan… hiks hiks…” kata Aluna, kembali menangis.

Friska sedih dan matanya berkaca-kaca. Walau tidak terjadi padanya, dia tahu betul bagaimana penderitaan Aluna selama ini. Ia membawa tubuh Aluna masuk ke dalam pelukannya. Ia menepuk-nepuk bahunya. “Sabar, ya, Lun… Aku kagum sama kamu. Kamu anak dan kakak yang sangat baik dan peduli keluarga. Kamu benar-benar orang yang baik. Semoga suatu saat nanti kamu dipertemukan dengan lelaki baik juga yang sangat mencintai kamu.” harap Friska tulus.

Aluna tak menjawab karena masih terisak dalam pelukan. Friska membiarkannya begitu saja. Ia tahu Aluna terlalu lama memendamnya sendiri.

Tak terasa, Aluna tertidur dalam pelukan Friska. Friska mengelus kepala Aluna, kemudian membaringkan tubuh Aluna di sofa. Ia mengambil selimut dan menutupi tubuh Aluna. Baru jam dua siang, masih ada waktu tiga jam lagi untuk bersiap berangkat ke klub.

“Istirahatlah, Lun.” gumam Friska, kemudian menuju dapur. Dia berencana akan membuat brownies kesukaan Aluna. Ia harap setelah memakan browniesnya nanti, suasana hati Aluna menjadi lebih baik. Ia mengeluarkan bahan-bahan dari kulkasnya dan mulai membuat brownies itu dengan cinta, seperti seorang kakak kepada adiknya. Karena Friska juga tinggal sendirian di kota. Setelah orang tuanya meninggal, ia merantau. Awalnya ia melamar ke beberapa perusahaan, tetapi selalu ditolak. Akhirnya, ia memilih bekerja di bar.

1
Ariany Sudjana
Aluna itu adik kamu sultan, dan Aluna itu keluarga inti, yang bukan keluarga itu si pelacur murahan Anisa, kamu bodoh percaya semua omongan si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
sabar yah Aluna, sultan ini bodoh,punya istri tapi pelacur murahan, dan masih percaya dengan semua omongan pelacur murahan itu
Boa
nama karakternya kok beda ya sama yg di sinopsis, apa aku yg salah baca? 🙏
Boa: semangat Thor, mana udah 14 episode 💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!