"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adek Baru
Tiga ratus enam puluh lima hari berlalu. Harusnya hari ini Aluna memakai kebaya atau seragam sekolah yang rapi, merayakan kelulusan bersama teman-teman sebayanya. Namun, gadis itu masih tertidur lelap dalam dunianya yang gelap.
Azeus bukan lagi pemuda narsis yang hanya peduli pada deru mesin motor. Setahun hidup susah di Basecamp bersama keempat sahabatnya telah mengubahnya. Ia belajar cara menambal ban, membantu teman-temannya bekerja serabutan untuk makan, dan setiap minggu, tanpa absen, ia akan duduk di samping ranjang Aluna—membacakan buku yang dulu dibaca gadis itu saat kecelakaan terjadi.
Siang itu, saat Azeus sedang membersihkan oli di tangannya, ponselnya bergetar.
"Papa"
Jantung Azeus seolah berhenti berdetak. Ini adalah panggilan pertama setelah satu tahun keheningan yang menyiksa.
"Halo?" suara Azeus bergetar.
"Ke rumah sakit. Sekarang," hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Ayahnya. Dingin, tanpa nada, namun terasa seperti petir yang menyambar di siang bolong.
"Pah... apa... apa dia..." Azeus tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Pikirannya langsung melayang ke kemungkinan terburuk: Apakah Aluna sudah menyerah? Apakah ini hari terakhirnya?
Azeus berlari di koridor rumah sakit tanpa peduli dengan kakinya yang sesekali masih terasa nyeri jika dipaksa bergerak ekstrem. Teman-temannya menyusul di belakang dengan wajah yang sama pucatnya.
Di depan ruang perawatan, Ayah Azeus berdiri tegak dengan tangan bersedekap. Tatapannya masih tajam, namun ada sesuatu yang berbeda di sana.
"Masuk!!" ucap Ayahnya singkat.
Dengan tangan gemetar, Azeus mendorong pintu perlahan. Ia sudah menyiapkan diri untuk melihat ranjang kosong atau tubuh yang ditutup kain putih. Namun, pemandangan di depannya justru membuat kakinya lemas hingga ia nyaris jatuh berlutut.
Aluna tidak lagi memakai masker oksigen yang menutupi wajahnya. Gadis itu sedang bersandar di bantal, matanya yang jernih terbuka lebar, menatap ke arah jendela. Meski wajahnya terlihat sangat pucat dan tubuhnya kurus, ia sudah sadar.
"Kamu?" bisik Azeus nyaris tak terdengar.
Gadis itu menoleh pelan. Ia menatap Azeus dengan bingung, seolah mencoba mengingat-ingat siapa pria di depannya. Ayah Azeus melangkah masuk, berdiri di belakang putranya.
"Dia sudah sadar sejak dua jam yang lalu," ucap Ayah Azeus.
"Dan dia udah ceritakan semuanya sama papa. Tentang bagaimana setiap minggu kamu datang dan membacakan buku untuknya saat dia tidak bisa melihatmu."
Azeus terpaku. Air mata yang selama setahun ini ia tahan, akhirnya luruh. Segala kepahitan hidup di basecamp, rasa bersalah yang mencekik, dan ketakutan akan kehilangan nyawa seseorang, seolah menguap begitu saja melihat mata Aluna yang berkedip.
Aluna mencoba tersenyum tipis, sebuah senyum yang dulu hanya dilihat Azeus di kartu identitasnya.
"Makasi ya.. udah bacakan bab terakhir bukunya buat aku," suara Aluna parau dan lemah, namun bagi Azeus, itu adalah musik terindah yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya.
Azeus berdiri kaku di samping ranjang. Tangannya yang biasa lincah megang stang motor, sekarang cuma bisa masuk keluar saku celana, bingung mau ditaruh di mana. Ayahnya berdiri di sudut ruangan, memperhatikan mereka berdua.
"Aluna... kenalin, ini Azeus. Anak saya yang... ya, yang nabrak kamu setahun lalu," suara Ayah Azeus terdengar lebih tenang.
Azeus berdeham, suaranya agak serak.
"Halo.... Gue... eh, saya... anu... Gue Azeus. Maaf ya, gara-gara gue, lo jadi harus 'tidur' kelamaan di sini."
Aluna yang masih lemas hanya bisa menyandarkan kepala di bantal. Senyumnya terukir tipis, matanya yang sayu menatap Azeus dengan teduh.
"Nggak apa-apa, Kak. Namanya juga musibah. Jangan terlalu dipikirin, aku udah bangun kan sekarang."
Azeus makin salah tingkah. Dia nggak nyangka bakal dimaafin segampang itu.
"Tapi tetep aja. Gue ngerasa berdosa banget. k-kamu jadi ketinggalan sekolah, jadi sakit begini... Gue beneran minta maaf."
Aluna terkekeh pelan, melihat kecanggungan Azeus. suara Aluna masih agak parau.
"Kakak nggak capek ya minta maaf terus? Tadi Om ini juga udah minta maaf. Aku beneran nggak apa-apa. Di panti dulu aku diajarin, kalau ada yang salah ya dimaafin, biar hatinya lega."
Azeus tertegun. Gila, batinnya. Ini cewek hatinya terbuat dari apa? Dia baru aja kehilangan satu tahun hidupnya, tapi masih bisa senyum secerah ini.
...
Sementara itu, di balik pintu, kondisi jauh dari kata puitis. Raka sama Dion udah nempel di daun pintu kayak cicak.
"Woi,! Geser dikit, kuping gue kejepit nih!" bisik Dion setengah emosi.
"Diem lo, Yon! Ini lagi seru. Si Azeus kok kaku banget kayak kanebo kering sih? Biasanya narsisnya minta ampun," balas Raka sambil merem-melek dengerin percakapan di dalem.
Gathan yang biasanya cool cuma bisa geleng-geleng kepala sambil nyender di tembok seberang pintu.
"Kalian itu malu-maluin banget sih. Kalau ketahuan Om Rama habis kita."
"Duh, Gath! Lo nggak penasaran apa?" Raka balik nanya.
"Azeus itu kan kalau sama cewek biasanya jago banget gombal. Ini kok malah 'gue-saya-gue-saya'. Kasihan amat temen kita."
"Kalau Aluna marah gimana ya?" celetuk Dion tiba-tiba melow.
"Gue takut mereka lagi berantem di dalem, tapi suaranya pelan banget."
"Nggak mungkin, bego! Aluna itu mukanya kayak malaikat gitu, masa mau jambak Azeus yang lagi pincang?" Raka sewot.
Tiba-tiba pintu terbuka. Ayah Azeus keluar duluan, membuat Raka dan Dion hampir tersungkur ke depan karena kehilangan tumpuan.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Ayah Azeus datar, menatap tajam ke arah mereka.
"Eh... ini Om... Raka katanya tadi nemu koin jatuh di bawah pintu, jadi kita cari bareng-bareng. Hehe," jawab Dion ngasal sambil pura-pura nunduk ke lantai.
Azeus muncul dari belakang ayahnya dengan wajah yang campur aduk antara lega dan malu.
"Udah udah! Bubar! Malu-maluin gue aja lo semua!"
Dion langsung ngerangkul Azeus.
"Ciee, yang udah dimaafin bidadari. Gimana? Udah tukeran nomor WhatsApp belum?"
Ayah Azeus Berdiri menatap ke 3 teman teman Azeus
Raka, Dion, dan Gathan otomatis berdiri tegak kayak prajurit mau apel pagi.
Ayah Azeus merogoh saku jasnya, lalu melempar sebuah kunci motor berlogo mewah yang masih baru mengkilap. Azeus menangkapnya dengan refleks cepat, meski matanya melongo.
"Itu motor baru buat kamu. Tapi jangan senang dulu," suara Ayahnya berat dan penuh wibawa.
"Ada tiga syarat kalau kamu nggak mau saya buang lagi ke jalanan."
Azeus menelan ludah.
"Apa itu Pah?"
"Satu, begitu kamu lulus kuliah tahun depan, nggak ada alasan lagi. Kamu harus masuk dan pegang salah satu perusahaan cabang Ayah. Belajar jadi laki-laki yang bertanggung jawab," Ayahnya mengangkat satu jari.
Azeus mengangguk mantap.
"Siap, Pah."
"Dua," Ayahnya melirik ke arah pintu kamar Aluna yang tertutup.
"Jagain Aluna. Papa udah bicara dengan pihak panti dan rumah sakit tadi pagi. Papa berniat mengangkat dia jadi anak Papa. Dia gadis baik, dan dia juga nggak punya siapa-siapa. Kamu harus jadi kakak yang bisa diandalkan buat dia."
Azeus tertegun, Azeus tau, dulu Ayahnya menginginkan anak perempuan, namun terlanjur pisah.
"Jadi... Aluna bakal jadi adek gue, Pah?"
"Tergantung kamu manggilnya apa nanti. Yang jelas, satu lecet saja di tubuh dia karena keteledoranmu, motor itu saya sita selamanya," lanjut Ayahnya tajam.
"Dan yang ketiga... Nggak ada lagi balapan liar. Kalau mau balap, masuk sirkuit resmi. Ngerti?"
"Ngerti, Pah! Sumpah, Zeus bakal tobat balapan liar!" seru Azeus girang, hampir mau meluk ayahnya kalau nggak ingat beliau tipe yang kaku.
Begitu Ayah Azeus melenggang pergi dengan langkah berwibawa, suasana langsung pecah. Raka sama Dion langsung menyerbu Azeus kayak laler ketemu sirup.
"Wuidih! Motor baru nih bos! Senggol dong!" Raka langsung nyomot kunci motor dari tangan Azeus, nyiumin logonya seolah itu emas batangan.
"Ze, ini moge yang keluaran terbaru itu kan? Yang suaranya kalau digas bisa bikin mantan auto nyesel?"
"Eh, denger nggak tadi? Aluna mau jadi adek angkat!" Dion nyenggol bahu Azeus kencang sampai Azeus hampir oleng.
"Jiahh, niatnya mau modusin bidadari, malah dapet adek. Sabar ya, Ze. Brotherzone itu lebih perih daripada rem blong!"
Azeus ngeplak tangan Dion.
"Berisik lo! Mau adek, mau apa, yang penting dia sehat dulu. Lagian siapa tau nanti statusnya berubah dari adek angkat jadi... adek-adekan?" Azeus menyugar rambut nya ke belakang dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
"Dih, narsisnya kumat!" Gathan nyaut sambil geleng-geleng, tapi senyum tipis terukir di wajahnya yang cool.
"Tapi bener kata bokap lo, Ze. Jaga dia. Dia udah terlalu banyak menderita sendirian."
Raka tiba-tiba masang muka serius, tapi malah kelihatan makin lawak.
"Tenang Ze, kita berempat bakal jadi bodyguard Aluna. Kalau ada cowok lain yang deketin, bakal kita kepung pakai knalpot brong!"
"Goblok! Yang ada dia koma lagi gara-gara budek denger knalpot lo!" teriak Azeus sambil ketawa.
Di balik pintu kamar, Aluna yang belum benar-benar tidur, mendengar tawa receh mereka dari luar. Ia tersenyum kecil, merasa bahwa meski ia kehilangan satu tahun, ia baru saja mendapatkan sebuah keluarga yang sangat berisik.