Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Drama Dahlia
"Jadi kalian berdua sekongkol ya, di belakang, kakak? Jawab, Dik?" desak Melodi, setelah beberapa saat lalu ia mencerna ucapan adiknya.
"Maaf, Kak. Vian nggak sekongkol kok, tapi kerjasama saling menguntungkan, itu kata Pak Dokter." Alvian menjawab dengan entengnya. Namanya juga anak-anak.
"Lagian, Vian nggak keberatan kok, kalau Pak Dokter jadi kakak ipar. Malah seneng, soalnya, Pak Dokter orang yang baik hati dan nggak sombong juga rajin menabung," tambahnya sambil tersenyum ceria.
Melodi tidak bisa menahan tawanya, mendengar jawaban polos adiknya. Ia mengusap kepala kecil itu dengan gemas.
"Dari mana kamu tahu Pak Dokter rajin menabung?"
"Vian pernah lihat uangnya sangat banyak warna merah." Alvian menjawab dengan antusias. "Memangnya kalau jadi dokter uangnya banyak ya, Kak?" tanyanya selanjutnya.
"Mungkin... kakak juga nggak tahu, Dik."
Melodi menarik napas panjang, mencoba melepaskan kegalauan hatinya. Dengan cepat akhirnya ia menyantap sarapannya hingga ludes. Ia membawa piring bekas makannya dan Alvian ke belakang lalu mencucinya.
"Kak Mel, berangkat kerja, ya," pamitnya pada sang adik. "Kamu hati-hati ya, di rumah."
"Iya, Kak." Alvian segera menutup pintu dan menguncinya begitu Melodi keluar dari rumah.
.
Melodi menaiki sepedanya menyusuri jalan desa. Sepeda itu pemberian Davin, biar couple katanya. Awalnya Melodi merasa sungkan menerimanya, karena Davin sudah sangat baik hati padanya juga adiknya. Namun, Davin memaksa dengan alasan tak baik menolak rejeki.
Tin
Tin
Tin
Melodi langsung berhenti. Kejadian waktu itu di mana ia terjatuh di parit, masih membekas dalam ingatannya.
"Kenapa kamu berhenti? Takut ya, sepeda barunya rusak gegara nyungsep di parit?" ejek Dahlia sambil tertawa remeh.
"Sepeda kayak gitu mah, murah. Siapapun bisa membelinya," lanjutnya seraya menjentikkan jari kelingkingnya.
Melodi hanya diam tidak menanggapi. Ia hanya melihat saja tingkah bidan desa yang menurutnya sangat minus itu.
"Heh...! Kenapa kamu nggak jawab? Kamu tuli ya, hahhh!" Dahlia terpancing emosi karena Melodi hanya diam.
Namun, tiba-tiba saja Dahlia merobohkan motornya sendiri lalu duduk berselonjoran di jalanan, bajunya di lumuri pasir, sehingga tampak kotor.
Melodi terkesiap melihat apa yang Dahlia lakukan. Namun, sedikitpun ia tak beranjak, tangannya bahkan masih memegang stang sepedanya dengan erat. Sesaat ia mengedarkan pandangannya melihat sekeliling, baru kemudian dirinya paham drama yang dilakukan Dahlia.
"Oh, begitu rupanya cara mainnya," gumam Melodi dalam hati. "Mari kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya."
Sementara itu, dari kejauhan tampak Davin mengayuh sepedanya dengan cepat lalu berhenti di belakang Melodi.
"Loh, Mbak Mel. Ada apa, Mbak Mel nggak kenapa-napa, kan?" tanyanya, wajahnya terlihat cemas. Pandangannya menelisik memastikan tidak terjadi sesuatu dengan Melodi.
Baru Dahlia hendak bicara, Melodi lebih dulu menjawab, "Saya nggak pa-pa, Pak Dokter," Tapi, nggak tahu ini, tiba-tiba Bidan Dahlia menjatuhkan dirinya sendiri di jalanan. Sepertinya ayan-nya kumat, Dok."
Selesai berkata Melodi melipat bibirnya berusaha menyembunyikan senyumnya.
Mendengar ucapan Melodi, Davin tampak mengernyit bingung. Sementara Dahlia, matanya langsung mendelik ke arah Melodi, tak percaya gadis itu bisa berkata di luar nalar.
"Hahhh... a-yan? Apa itu, Mbak Mel?" tanya Davin seraya menaikkan sebelah alisnya.
Sebelum Melodi menjawab, Dahlia langsung menyerobot.
"Awww...tolong bantu saya berdiri, Dok," pintanya dengan tatapan memohon.
"Sepertinya kaki saya yang terkilir kemarin kambuh lagi." Dahlia memegangi pergelangan kakinya sambil meringis seolah benar-benar kesakitan.
Davin dan Melodi saling pandang seakan tengah melakukan telepati satu sama lain.
Dahlia mendengus geram melihatnya. "Si*alan...! Mereka malah ngapain sih, pakai pandang-pandangan segala," umpatnya kesal.
"Harus bagaimana coba, caraku menarik perhatiannya!" Dahlia ngedumel sendiri.
Davin melihat jam di tangannya, sebelah kakinya siap mengayuh sepeda. "Mbak Mel, tolong dibantu Bidan Dahlia, ya."
"Lagipula kalau saya yang menolongnya, takut timbul fitnah." Davin berkata seraya mengedipkan matanya sebelah.
Dahlia yang melihatnya mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Melodi menstandarkan sepedanya, lalu mendekati Dahlia seraya mengulurkan tangannya.
"Mari saya bantu, Bu Bidan." Melodi berkata dengan suara yang lembut.
"Ck, aku nggak butuh bantuan kamu. Najis!" ucap Dahlia ketus, sambil menepis uluran tangan Melodi dan memilih berdiri sendiri.
"Ya sudah, kalau nggak mau." Melodi menepuk-nepukkan telapak tangannya.
"Capek, kan? Sudah berpura-pura jatuh, eh... malah nggak di-notice." Melodi terkekeh kecil. "Kasihan..."
Melodi langsung beranjak menaiki sepedanya. Mengayuhnya dengan cepat meninggalkan Dahlia yang masih sibuk membersihkan pakaiannya yang kotor terkena pasir.
"Aah, kurang ajar sekali mereka!" marah Dahlia, matanya melotot tajam ke arah Melodi yang semakin menjauh.
"Awas aja...! Aku nggak akan membiarkan mereka senang di atas penderitaanku," ujarnya penuh dendam.
.
Sampai di Puskesmas Pembantu, rupanya Davin sudah ditunggu oleh beberapa warga yang ingin berobat. Dia segera masuk ke dalam kursi kerjanya, kemudian melayani mereka dengan sabar dan telaten.
"Sudah berapa hari batuknya, Pak?" tanyanya sembari memeriksa bagian dada menggunakan stetoskop.
"Sudah seminggu nggak sembuh-sembuh, Dok."
"Tarik napas, lalu embuskan ya, Pak." Si bapak mengikuti intruksi dari Davin.
"Oke, cukup. Silakan duduk kembali."
Davin kemudian meresepkan obat kepada bapak tersebut. "Jangan lupa diminum obatnya, tiga kali sehari sesudah makan ya, Pak." ucapnya seraya menyerahkan resep obat.
"Terima kasih, Dok."
"Sama-sama, Pak. Semoga lekas sembuh."
Hingga menjelang siang, Davin terus sibuk menangani pasien yang datang silih berganti membuatnya tak ada waktu untuk bersantai.
Sementara di sudut ruangan, Dahlia menatap ambigu ke arah Davin. "Dia bahkan nggak noleh padaku," desisnya pelan.
"Ck...nggak ada pedulinya sama sekali. Punya empati dikit, kek!" gumamnya menahan kekesalan.
"Sama Melodi bisa bersikap lembut, kenapa sama aku nggak? Apa istimewanya coba, babu itu?" tanyanya pada diri sendiri.
Dahlia sepertinya perlu membawa cermin HD untuk berkaca. Memang dirinya siapa, saudara bukan, pacar apalagi, tetapi berharap pengin diperhatikan. Apa ia waras?