NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Dosen Killer

Istri Rahasia Dosen Killer

Status: tamat
Genre:Dosen / Nikahmuda / Aliansi Pernikahan / Pernikahan Kilat / Beda Usia / Tamat
Popularitas:28.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Desy Puspita

Niat hati mengejar nilai A, Nadine Halwatunissa nekat mendatangi kediaman dosennya. Sama sekali tidak dia duga jika malam itu akan menjadi awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.

Cita-cita yang telah dia tata dan janjikan pada orang tuanya terancam patah. Alih-alih mendapatkan nilai A, Nadin harus menjadi menjadi istri rahasia dosen killer yang telah merenggut kesuciannya secara paksa, Zain Abraham.

......

"Hamil atau tidak hamil, kamu tetap tanggung jawabku, Nadin." - Zain Abraham

----

Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 - Putuskan

Mengatasnamakan ustadz, Zain berhasil mengecup sang istri tanpa rasa bersalah. Auranya sangat berbeda saat ini, terlihat lebih ramah hingga mahasiswa yang kali ini ikut kelasnya salah paham dan mengira bahwa senyum Zain untuk mereka, padahal bukan sama sekali.

Tidak lain dan tidak bukan, yang menjadi penyebab senyum Zain adalah Nadin. Dia tengah membayangkan posisinya fokus belajar di perpustakaan bagaimana, beberapa kali pria itu melihat pergelangan tangan kirinya.

Sejak awal masuk kelas, sebenarnya pikiran Zain sudah terbagi menjadi dua arah. Akan tetapi, demi professional kerja mana mungkin dia sampai meninggalkan kelas walau sebenarnya sangat ingin segera ke perpustakaan juga.

"Dia sendirian, apa tidak bosan di perpustakaan?"

Zain benar-benar kepikiran, padahal jauh dari dugaannya Nadin sama sekali tidak kesepian, tapi sebaliknya. Kepala Nadin seolah akan pecah berkat kedatangan kakak tingkat super posesif yang merasa sangat khawatir dengan keadaannya, Azkara.

"Jihan bilang kamu sakit, sudah sembuh?"

Nadin mengangguk, tatapannya kembali tertuju pada seikat mawar merah pemberian Azkara. "Sudah, Kak."

"Syukurlah, tapi kenapa nomor teleponmu belum bisa dihubungi sampai sekarang? Ganti atau kenapa?"

"Ah, itu ... ponselku hilang kak Azka," jawab Nadin berbohong, mana mungkin dia berani mengakui jika sesuatu telah terjadi padanya.

Respon Nadin masih sama, sangat amat seadanya sejak awal Azka nekat berkenalan enam bulan lalu. Bahkan, cenderung kurang menerima, tapi hal itu tidak membuat Azkara lelah sedikit saja.

"Nad."

"Iya, Kak?" Nadin mendongak, sejak tadi dia terlihat tidak begitu nyaman dengan kehadiran Azkara, dan jelas saja sangat kentara.

"Nikah yuk."

Mata Nadin membola, entah kenapa akhir-akhir ini banyak sekali yang mengajak menikah. Bahkan setelah dia resmi jadi istri orang sekalipun masih saja ada yang melamarnya. "Aku sudah hapal surah An-Naba," tambahnya lagi dengan begitu percaya diri hingga Nadin mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

"Ni-nikah?" Nadin khawatir salah dengar, karena itu dia memberanikan diri untuk bertanya lagi demi memastikan kebenarannya.

"Hm, katanya tidak mau pacaran ... kalau nikah gimana? Tetep tidak mau juga?"

"Ma-maaf, Kak, tap_"

"Shuut, jangan dijawab kalau cuma menolak ... jawab jika nanti kamu sudah siap jadi istriku," ucap Azkara seraya mengedipkan mata sebelum kemudian berlalu pergi meninggalkan Nadin yang kini memijat pangkal hidungnya.

Tidak di kost, tidak di kampus dia terus saja dipertemukan dengan orang-orang aneh yang kerap kali memaksakan kehendak. Nadin tidak mengerti kenapa para lelaki yang dia temui begini, apa mungkin semuanya begitu? Tapi, jika benar iya, Onad yang merupakan sahabatnya tidak begitu.

Dia belum selesai menjelaskan, sebenarnya bingung juga. Hendak jujur jika sudah punya suami, maka sama halnya bunuh diri. Namun, jika tidak, Azkara mungkin akan terus-terusan berharap padanya.

Sejak enam bulan lalu, pemuda kaya yang dia ketahui sebagai putra konglomerat itu mendekatinya. Tanpa basa-basi, pemuda itu mengatakan jika suka dan Nadin sudah menolaknya. Namun, Azkara tidak menyerah, beruntung saja caranya mendekati sedikit lebih sopan dan tidak membuat Nadin merasa terganggu.

Tepat hari ini, Azkara tiba-tiba datang dengan seikat bunga dan mengajaknya menikah dengan semudah itu, persis ngajak makan. Nadin yang berada di posisi serba salah, tiba-tiba terperanjat begitu sadar Zain justru sudah berada di hadapannya.

"Mas? Ngapain ke sini?" desis Nadin yang kini mendadak panik. Paniknya melebihi sewaktu Azkara datang, karena seperti yang Nadin ketahui perpusatakaan mulai ramai dan besar kemungkinan aksi nekat Zain justru menimbulkan masalah.

"Siapa yang kasih?"

Alih-alih menjawab, Zain justru mempertanyakan hal lain kala menyadari seikat mawar merah di atas meja. Memang tidak sedang Nadin peluk, tapi dia tahu jika bunga mawar itu sudah pasti untuk istrinya.

"Kak Azka ... hadiah karena sudah sem_"

"Coklat ini juga?"

Nadin mengangguk lagi, seketika itu juga Zain menghela napas panjang dan menatapnya datar. Nadin yang sudah ketakutan jika sang suami akan marah, segera mencari jalan tengah yang sekiranya paling aman untuk saat ini. "Nanti aku kasih Onad, dia suka yang manis-manis."

"Teruskan belajarmu, aku cuma memastikan, kebetulan masih banyak pekerjaan."

Pertemuan mereka hanya sebatas itu, Zain berlalu pergi menyisakan bingung dan rasa bersalah dalam diri Nadin. Ingin Nadin kejar dan segera menyelesaikan masalah, tapi mengingat kelasnya sudah hampir dimulai dan Nadin tidak ingin pengalaman buruknya di mata kuliah Zain juga terjadi di dosen yang lain.

.

.

Kesalahpahaman itu berlangsung lama, hingga menjelang sore tepatnya. Zain masih tetap menjemputnya, kali ini dia mengalah karena Nadin mengatakan tidak mau pulang jika tindakan mereka membahayakan.

Kembali seperti setelan awal, wajah datar khas dirinya kembali terlihat nyata di mata Nadin. Sudah pasti permasalahannya akibat bunga yang dia ketakui pemberian seseorang untuk istrinya. Sedikit lebih baik, Zain tidak terlalu marah begitu sadar jika Nadin tidak membawa pulang bunga pemberian Azka, bahkan karena hal itu Zain sampai berani bicara pada sang istri.

"Putuskan."

"Heh?" Tiada angin tiada hujan, tiba-tiba Zain bicara seperti itu. Jelas saja Nadin mengerutkan dahi karena bingung kemana arah yang dibicarakan sang suami.

"Apanya putuskan, Mas?"

"Hubunganmu," ucap Zain lesu, dia menatap lurus ke depan tanpa memerhatikan sang istri tengah menunggu kelanjutan ceritanya. "Dengan siapapun itu," lanjut Zain lagi.

Nadin yang merasa tidak memiliki hubungan dengan siapapun jelas saja menepis ucapan Zain. "Tunggu, maksudnya apa? Aku tidak merasa menjalin hubungan dengan siapapun, kenapa harus disuruh putus?"

"Lalu Azka?"

"Tidak ada yang spesial, hanya teman biasa."

"Teman tidak ada yang sampai ngajak nikah," celetuk Zain yang kemudian berhasil membuat Nadin tidak bisa berkata-kata.

Entah sebanyak apa yang Zain dengar, tapi besar kemungkinan hampir seluruhnya. Pria itu terus fokus mengemudi, dengan tatapan tak terbaca yang kemudian tiba-tiba menepi dan berhenti tepat di depan toko bunga.

"Mau ngapain? Kenapa berhenti di sini?"

"Tanggal lahirmu berapa?"

"Masih lama ulang tahunnya, delapan bulan lag_"

"Katakan saja tanggal lahirmu berapa, Nadin."

"27," jawab Nadin singkat, sendirinya saja bertanya tidak jelas, jadi wajar saja Nadin bingung.

Setelah bertanya juga dia turun tanpa mengucapkan apa-apa. Nadin yang tidak mengerti enggan memusingkan hal tersebut dan memilih untuk fokus dengan layar gawainya, wanita itu terkekeh membaca ucapan terima kasih Onad yang telah diberi modal untuk membujuk Jihan yang ngambek padanya.

Sebenarnya Nadin merasa bersalah, tapi demi menghargai kedudukan sang suami, dia tidak punya pilihan lain dan memberikan bunga serta coklat yang Azka kasih pada Onad, sahabatnya.

"Maafin aku, Kak Azka ... suatu saat aku akan bicara."

Baru saja Nadin menghela napas lega, dia kembali dibuat menganga lantaran Zain masuk dan membawa seikat mawar putih segar di tangannya. Tak hanya itu, tanpa banyak basa-basi Zain memberikan bunga tersebut pada sang istri.

"Mulai detik ini, jangan pernah terima pemberian dari pria lain, apapun alasannya."

"Termasuk hadiah?"

"Iya, semua itu tanggung jawabku, jadi tidak perlu mengharapkan apapun dari orang lain, aku masih mampu membahagiakanmu."

.

.

- To Be Continued -

1
Nizar Ayesha
ya Allah, ngekek terus dari tadi 🤣🤣
Marlina Prasasty
A++
Marlina Prasasty
aduh mau menghindar mala tdk bisa🤦
Maya Ratnasari
hepi aku Baca novel ini, semua straight to the point, mengedepankan kejujuran dengan lugas, meski kadang memalukan, hehehee. masalah juga segera diurai satu persatu. keren lah Thor, bisa memberikan insight buat kita pembacanya.
Maya Ratnasari
qiqiqii, pilih Salah satu aja kak: have a nice day, atau have a good day. kalo have a nice good day jadi salfok menikmati kopi good day
Nurul Aisyah
nah loh ditagih kan wkwkwk 🤣
Zaara
aska bikin bengek mulu🤣🤣🤣
Zaara
serius q bacanya ngakak ga jdi sedih 🤣🤣🤣
Nurul Aisyah
cie cie wkwkwk
Bucinnya Baekhyun🐶
bener bener sih zain 🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙡𝙞𝙢 𝙩𝙥 𝙣𝙜𝙪𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙝𝙚𝙬𝙖𝙣 𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖𝙝𝙞𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙡𝙖𝙜...
mira maryati
kerennnn musibah membawa berkah 🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙥𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙜 𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙚𝙩 𝙩𝙥 𝙨𝙚𝙜𝙖𝙡𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙖𝙡𝙞𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙤𝙫𝙚𝙧 𝙠𝙚𝙥𝙤𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙜𝙖 𝙪𝙨𝙖𝙝 𝙩𝙧𝙨2𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙣𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙜𝙖 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙗.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙮𝙪𝙠𝙪𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙡𝙜 𝙝𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙗𝙡𝙤𝙠𝙞𝙧 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙝 𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖𝙞𝙣𝙨𝙝 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙤 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙚𝙙𝙨𝙤𝙨𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙖𝙢𝙖2 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝, 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣𝙝 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙣2 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙢𝙖𝙚𝙣 𝙟𝙖𝙢𝙗𝙖𝙠 𝙩𝙧𝙨 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞𝙗𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙠𝙧𝙣 𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙗𝙚𝙙𝙖 𝙟𝙜𝙣 𝙖𝙥𝙖2 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙡𝙚 𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨/𝙣𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙞𝙟𝙖𝙠 𝙣𝙮𝙞𝙠𝙖𝙥𝙞 𝙥𝙙 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙤𝙬𝙝 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙥𝙬𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙝 𝙣𝙖𝙙.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙚𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙞 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙙𝙜𝙣 𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙖𝙬𝙖 𝙙𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙡𝙚𝙡𝙪𝙘𝙤𝙣 𝙖𝙥𝙖, 𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖 𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙖𝙪𝙩𝙤 𝙣𝙜𝙖𝙢𝙪𝙠 𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙥𝙖𝙠 𝙖𝙥𝙖... 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙧𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙪𝙩𝙢𝙪 𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙧𝙩𝙖 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙙𝙪𝙠𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙙𝙤𝙨𝙚𝙣 𝙜𝙖 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙖𝙠𝙝𝙡𝙖𝙠𝙢𝙪.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙗𝙞𝙖𝙧𝙥𝙪𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙩𝙥 𝙪𝙩𝙠 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙜𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙭 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙫𝙖𝙨𝙞.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠 𝙗𝙤𝙘𝙖𝙝 𝙮𝙜 𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙙𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙞𝙞𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙬𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙘𝙤𝙠𝙡𝙖𝙩 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙚𝙣𝙜𝙚𝙠𝙣𝙮𝙖.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙪𝙝𝙝𝙝 𝙨𝙚𝙧𝙚𝙢 𝙖𝙢𝙚𝙩 𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖.😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!