Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.
Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.
"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."
Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBEBASAN YANG PAHIT
melayang di antara awan putih yang dingin. Suara sirine ambulans yang meraung-raung di telinganya perlahan menjauh, digantikan oleh kesunyian yang ganjil.
Di dalam ketidaksadarannya, ia hanya menggenggam satu hal. Buku catatan kecil dari Zahra yang kini sedikit ternoda bercak darah dari rahangnya yang pecah.
Bau karbol dan antiseptik menyeruak masuk ke indra penciuman Hafiz. Kelopak matanya terasa sangat berat.
"Mas... Mas Hafiz bisa dengar suara saya?"
Suara itu lembut, bergetar karena cemas. Hafiz mengerang pelan, mencoba membuka mata meski cahaya lampu neon di langit-langit terasa menusuk pupilnya.
Wajah Zahra muncul dalam pandangannya yang kabur. Gadis itu mengenakan kerudung biru muda, matanya sembab, dan tangannya sedang memegang tasbih kayu.
"Zahra..." suara Hafiz parau, nyaris seperti bisikan hantu.
"Alhamdulillah! Ayah, Mas Hafiz sudah sadar!" Zahra berseru pelan ke arah belakang.
Kyai Abdullah melangkah mendekat, wajah tuanya tampak sangat lega. Beliau menepuk punggung tangan Hafiz yang tidak terpasang infus.
"Kamu sudah melewati ujian 'api' itu, Hafiz. Sekarang, tinggal menunggu abu itu terbang tertiup angin," ucap Kyai dengan senyum teduhnya.
"Preman itu... mereka mau bunuh saya, Kyai," gumam Hafiz pahit.
"Mereka sudah ditahan, Mas. Pak Aris juga sudah menemukan dalangnya," Zahra menyela sembari menyodorkan segelas air dengan sedotan.
Hafiz meminum air itu perlahan, membiarkan rasa segar membasahi tenggorokannya yang kering. Di sudut ruangan, Aris tampak berdiri dengan seragam dinasnya, wajahnya terlihat lebih cerah dari kemarin.
"Ada kabar besar untuk Anda, Mas Hafiz," ujar Aris sembari mendekat.
Hafiz menatap Aris dengan skeptis. "Kabar apa? Apa ada surat perintah penahanan baru lagi?"
Aris tertawa kecil, ia mengeluarkan sebuah map cokelat yang tersegel resmi. "Kebalikannya. Tim siber kami berhasil membongkar server cadangan milik Robi yang dia sembunyikan di luar negeri."
Hafiz menahan napas. "Maksudnya?"
"Semua transaksi ilegal, pemalsuan tanda tangan, hingga rekaman suara Robi saat merencanakan fitnah terhadap Anda... semuanya ada di sana," jelas Aris mantap.
"Pagi ini, Kejaksaan telah mencabut status tersangka Anda. Anda dinyatakan tidak bersalah secara mutlak."
Hafiz tertegun. Kata-kata itu terasa tidak nyata, seperti mimpi di siang bolong.
"Saya... bebas?" tanya Hafiz tak percaya.
"Bebas murni, Mas. Nama baik Mas sedang dibersihkan di semua media sekarang juga," Zahra menambahkan dengan binar mata yang penuh syukur.
Hafiz menyandarkan kepalanya di bantal rumah sakit yang keras. Air mata tiba-tiba mengalir deras dari sudut matanya, membasahi kain penutup bantal.
Ini adalah tangis pertama yang bukan karena rasa sakit fisik atau keputusasaan. Ini adalah tangis karena merasa beban raksasa yang selama ini meremukkan pundaknya telah diangkat oleh Tuhan.
"Tapi ada satu hal, Mas Hafiz," Aris melanjutkan dengan nada yang sedikit menurun.
"Aset Anda yang dikuasai Robi sebagian besar sudah ludes untuk judi dan foya-foya di luar negeri. Sisanya disita negara karena tercampur dengan aliran dana ilegal."
"Artinya, Anda memang bersih dari kasus hukum... tapi Anda tetap kembali ke titik nol. Anda tidak punya sisa harta sepeser pun," Aris menatap Hafiz dengan perasaan tidak enak.
Hafiz justru tergelak pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus meski harus menahan sakit di rahangnya.
"Titik nol ya? Itu justru yang saya minta, Pak Aris," sahut Hafiz mantap.
Kyai Abdullah mengangguk setuju. "Allah sedang melakukan 'reset' pada hidupmu, Hafiz. Dia mengambil semua hartamu agar kamu tahu bahwa tanpa harta pun, kamu masih punya Dia."
Dua hari kemudian, Hafiz sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Ia menolak dijemput dengan mobil mewah yang ditawarkan oleh mantan kolega bisnisnya yang tiba-tiba "peduli" setelah namanya bersih.
"Saya pulang bareng Kyai saja," ucap Hafiz tegas.
Ia lebih memilih duduk di bangku belakang mobil tua Kyai Abdullah yang joknya sudah agak sobek. Baginya, mobil tua ini jauh lebih nyaman daripada sedan mewah seharga miliaran.
Saat mobil memasuki gerbang desa, suasana sudah berubah drastis. Tidak ada lagi bisikan sinis atau telunjuk yang menuduh.
Beberapa warga yang dulu mencaci-makinya kini justru menunduk malu saat mobil Kyai lewat. Tapi, Hafiz tahu, di balik tundukan itu, masih ada keraguan karena kini ia hanyalah seorang pengangguran miskin.
Hafiz kembali ke kamarnya yang sempit di samping gudang masjid. Ia meletakkan buku catatan kecil dari Zahra di atas meja kayu dengan sangat hati-hati.
Ia menatap cermin kusam di pojok ruangan. Wajahnya masih lebam, namun tatapan matanya berbeda. Ada cahaya kedamaian yang belum pernah ia miliki saat masih menjadi CEO.
"Gue miskin harta, tapi gue ngerasa paling kaya sekarang," gumamnya pada bayangannya sendiri.
Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Insting bisnisnya yang tajam sebagai mantan pemimpin perusahaan besar tidak lantas hilang begitu saja.
Ia melihat ke arah belakang masjid, di mana terdapat lahan kosong yang lembap dan penuh kayu lapuk. "Lahan itu... kalau cuma didiamkan akan jadi sarang nyamuk. Tapi kalau dikelola..."
Siang harinya, saat Hafiz sedang menyapu pelataran masjid dengan tangan yang masih diperban, sebuah mobil sedan putih mengkilap berhenti di depan gerbang.
Seorang pemuda turun dengan gaya yang sangat elegan. Ia mengenakan baju koko sutra warna gading, sarung yang terlihat sangat mahal, dan peci hitam yang terpasang sempurna.
Wajahnya tampan, bersih, dan memancarkan wibawa seorang terpelajar. Beberapa ibu-ibu yang sedang lewat langsung berbisik heboh.
"Masya Allah, itu kan Gus Farid! Anak pemilik pesantren besar di kota sebelah!"
Hafiz menghentikan gerakan sapunya. Ia melihat pemuda bernama Farid itu melangkah menuju rumah Kyai Abdullah dengan senyum yang sangat "terlatih".
"Assalamualaikum, Kyai," suara Farid terdengar jernih dan penuh sopan santun.
Kyai Abdullah keluar menyambutnya dengan hangat. "Waalaikumussalam, Farid! Masuk, masuk! Sudah lama sekali kamu tidak main ke sini."
Zahra keluar membawa nampan berisi teh. Saat itulah, Hafiz melihat Farid menatap Zahra dengan tatapan yang sangat dalam tatapan penuh kepemilikan yang membuat dada Hafiz berdenyut aneh.
"Zahra, apa kabar? Ini ada sedikit oleh-oleh dari Mesir untukmu," Farid menyodorkan sebuah kotak kecil yang dibungkus kain beludru.
Zahra menunduk, tampak sungkan. "Terima kasih, Gus. Seharusnya tidak usah repot-repot."
Hafiz mencengkeram gagang sapu lidinya hingga buku jarinya memutih. Ia merasa seperti debu di bawah ban mobil mewah Farid.
Tiba-tiba Farid menoleh ke arah Hafiz yang berdiri kaku di pelataran. Ia tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. Senyum seorang pemenang yang menatap pecundang.
"Oh, ini marbot baru yang di berita itu ya, Kyai?" tanya Farid dengan nada meremehkan yang sangat halus.
"Betul, ini Hafiz. Dia sedang belajar mengaji di sini," jawab Kyai tulus.
Farid mendekat ke arah Hafiz, aroma parfum kayu cendana mahalnya mengalahkan bau debu masjid. "Semangat ya, Mas Hafiz. Belajar Alif-Ba-Ta memang sulit di usia segini, tapi tidak ada kata terlambat untuk bertaubat."
Hafiz hanya diam, menatap mata Farid yang berkilat sombong. Ia merasakan serangan mental yang jauh lebih menyakitkan daripada pukulan preman di penjara semalam.
Farid kembali menoleh ke arah Kyai dan Zahra dengan gaya berwibawa. "Kyai, sebenarnya kedatangan saya ke sini juga ingin membicarakan bantuan dana untuk renovasi masjid ini. Saya dengar atapnya sudah banyak yang bocor."
Wajah Kyai berbinar. "Masya Allah, terima kasih sekali, Farid."
Farid melirik Zahra, lalu kembali menatap Hafiz dengan senyum kemenangan. "Saya ingin masjid ini jadi yang termegah di desa ini. Agar Zahra juga nyaman kalau mengajar di sini nanti."
Hafiz memutar tubuhnya, kembali menyapu dengan gerakan yang lebih kuat. Pikirannya berputar cepat. Ia tahu, Farid tidak hanya ingin merenovasi masjid, tapi juga ingin "membeli" restu untuk mendapatkan Zahra.
Gue nggak punya uang sepeser pun sekarang, batin Hafiz sembari mengumpulkan tumpukan daun kering.
Tapi gue punya otak. Dan gue nggak akan biarkan masjid ini atau Zahra jadi barang dagangan orang sombong kayak dia.
Hafiz menatap ke arah gudang kayu di belakang masjid. Ia teringat riset kecilnya dulu tentang budidaya ulat kandang yang permintaannya sangat tinggi untuk pakan burung kicau.
Satu kilogram harganya lumayan, dan modalnya hampir nol jika memanfaatkan limbah organik desa. Ia mulai menyusun strategi bisnis di kepalanya, persis seperti saat ia membangun perusahaan startup-nya dulu.
Hafiz mendongak, menatap Farid yang masih asyik berbincang hangat dengan keluarga Kyai di teras.
Tak lama Zahra berjalan mendekat ke arah sumur, melewati tempat Hafiz menyapu. Langkahnya terhenti sejenak.
Zahra menatap wajah Hafiz yang masih lebam, lalu beralih ke sapu lidi di tangannya. Matanya memancarkan rasa bersalah sekaligus harapan.
Hafiz terdiam, tangannya berhenti menyapu. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan.
"Mas Hafiz..." bisik Zahra pelan, nyaris tak terdengar oleh orang di teras.
Zahra tidak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya memberikan sebuah tatapan yang membuat jantung Hafiz berdegup kencang, sebelum akhirnya ia bergegas masuk ke dalam rumah.
Hafiz menoleh ke arah teras. Di sana, Farid sedang menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh peringatan. Seolah-olah sedang menandai wilayah kekuasaannya.
Pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan kali ini, musuhnya bukan lagi hukum atau preman, melainkan seorang pria yang memiliki segalanya yang tidak dimiliki Hafiz: Harta, Ilmu, dan Restu.
Apakah Hafiz mampu membangun bisnis dari nol di tengah hinaan warga dan persaingan dengan Farid?
Dan apa sebenarnya maksud tatapan Zahra kepada Hafiz barusan?