Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.
Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.
Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.
Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.
Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.
bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Udara di sekitar gubuk bambu Xue Xiao terasa lebih padat dari biasanya, seolah atmosfer itu sendiri sedang menahan napas. Sejak penemuan benda terbang mekanis, di puncak gunung beberapa hari yang lalu, Xue Xiao merasakan urgensi yang tidak biasa merayap di tengkuknya. Ketentraman lembahnya yang telah terjaga selama lima tahun kini berada di ambang gangguan. Ia tahu, peradaban yang menciptakan "serangga logam" itu tidak akan berhenti hanya dengan mengirim satu pengintai.
Untuk menghadapi ketidakpastian dunia luar yang mulai mengetuk pintunya, Xue Xiao memutuskan untuk melakukan langkah terakhir dan paling berbahaya dalam kultivasi tubuh fisiknya, yaitu Pemurnian Sumsum Tulang (Bone Marrow Cleansing).
...
Di dalam tungku tanah liat raksasa yang kini telah diperkuat dengan campuran bubuk batu meteorit hitam, Xue Xiao menyiapkan bahan-bahan yang paling berharga. Akar Kuning Keemasan yang telah berusia lima tahun dan menyerap sari pati bumi menjadi inti ramuan, ditambah dengan kelopak Bunga Ungu yang kini telah berevolusi menjadi "Bunga Pembius Jiwa".
"Proses ini akan menguji batas kewarasanku," gumam Xue Xiao sambil menatap cairan kental berwarna emas gelap yang mendidih di dalam tungku. Aroma yang keluar bukan lagi sekadar wangi herbal, melainkan aroma yang menyengat, tajam, hampir seperti bau logam yang ditempa panas.
Tanpa adanya energi spiritual (Qi) yang melimpah untuk menciptakan api sihir, Xue Xiao menggunakan teknik gesekan molekuler yang ia kembangkan sendiri. Ia menempelkan kedua telapak tangannya pada dinding tungku. Dengan getaran otot frekuensi tinggi yang ia salurkan melalui sistem sarafnya, suhu tungku meningkat drastis. Cairan di dalamnya mulai bergolak, membentuk pusaran kecil yang memancarkan cahaya keemasan redup.
Setelah tiga jam pemurnian yang menguras fokus, cairan itu menyusut menjadi tiga butir pil kecil. Pil itu berwarna hitam mengkilap dengan urat-urat emas yang berdenyut pelan, seolah memiliki detak jantung sendiri. Inilah Pil Pemurni Sumsum Tingkat Bumi, puncak pencapaian alkimianya selama di hutan ini.
Tanpa ragu, Xue Xiao menelan satu pil tersebut. Saat pil memasuki tenggorokan nya, pil itu meleleh menjadi cairan murni yang mengalir ke perutnya. Seketika, ia merasa seolah-olah ia telah menelan lava cair yang sedang mencari jalan keluar. Panas itu menjalar dari kerongkongannya, menembus dinding perut, dan langsung menghantam pusat sumsum tulang belakangnya.
"Ugh...!" Xue Xiao mengerang, suaranya tertahan di tenggorokan.
Ia segera duduk dalam posisi lotus. Sensasi ribuan jarum panas yang menusuk setiap inci tulangnya mulai terasa. Tanpa bantuan Qi untuk meredam rasa sakit, ia hanya memiliki kehendak baja. Suara berderak dari tulang-tulangnya terdengar jelas di dalam gubuk yang sunyi, tulang-tulangnya sedang dihancurkan di tingkat sel dan disusun kembali menjadi struktur yang lebih padat dari baja manapun.
Cairan hitam kental berbau amis menyengat, kotoran sisa kemanusiaan fana mulai dipaksa keluar melalui pori-pori kulitnya. Proses ini berlangsung sepanjang malam, hingga fajar menyingsing dan Xue Xiao berdiri dengan raga yang baru. Kulitnya kini tampak jernih seperti giok putih, namun memiliki ketangguhan yang mampu mematahkan belati tanpa meninggalkan bekas.
...
Sementara Xue Xiao sedang membersihkan diri di danau, di sisi lain hutan, sekitar tiga kilometer dari lembah tempat ia tinggal, kesunyian pecah oleh suara geraman manusia.
"Sialan! Kompas kita mati lagi! Semua instrumen digital di tempat ini kacau total!"
Kapten Arga, pria berotot dengan seragam taktis yang kotor oleh lumpur, membanting kompasnya ke telapak tangan. Di belakangnya, enam personel pasukan khusus "Garda Bayangan" tampak bersiaga dengan senapan serbu di tangan.
"Tenang, Arga. Hemat energimu," suara dingin namun tegas terdengar dari tengah barisan.
Lin Qingyan, pemimpin misi tersebut, maju ke depan. Rambut hitamnya diikat ekor kuda yang praktis, matanya tajam menembus kabut tebal. Ia memimpin misi rahasia untuk mencari "Bunga Embun Surga" tanaman legendaris yang kabarnya bisa menyembuhkan segala jenis racun di dunia. Bunga ini sangat penting untuk mendetoksifikasi racun yang sedang menggerogoti nyawa kakeknya, kepala keluarga Lin yang sangat berpengaruh.
"Nona Lin, GPS kita tidak berfungsi sejak kita melewati air terjun," lapor Doni, sang teknisi, sambil menatap tablet militernya yang hanya menampilkan layar statis. "Bahkan drone pengintai kita hilang kontak di koordinat ini dua hari lalu. Seolah-olah ada 'lubang hitam' yang menelan semua sinyal radio."
"Hutan ini sangat aneh," bisik Lin Qingyan, menyentuh batang pohon yang tertutup lumut tebal. "Rasanya... seolah-olah tempat ini sedang menolak kehadiran kita."
"Mungkin kita hanya tersesat di Shennongjia, Nona," sahut Rio, prajurit termuda, meski tangannya gemetar memegang senapannya. "Legenda bilang tempat ini dihuni oleh makhluk purba."
Arga mendengus. "Makhluk purba tidak akan mengacaukan frekuensi enkripsi militer kita, Rio. Ada sesuatu yang tidak masuk akal di hutan ini."
Saat kelompok itu bergerak maju, mereka tidak menyadari bahwa mereka baru saja melewati batas luar pertahanan Xue Xiao.
Tiba-tiba, suara lengkingan nyaring dari seekor rusa terdengar menggema di seluruh hutan, memberikan peringatan pada tuannya.
"Suara apa itu?" Arga mengangkat senjatanya. "Formasi tempur! Lindungi Nona Lin!"
Namun, ancaman itu tidak datang dalam bentuk fisik. Kabut di sekitar mereka perlahan berubah menjadi warna ungu pucat yang indah. Bau harum yang sangat manis, seperti campuran mawar dan madu yang memabukkan, menyebar memenuhi udara.
"Tunggu... kepalaku..." Rio tiba-tiba menjatuhkan senjatanya. Matanya kosong. "Lihat! Ada istana di sana! Ayah... kau kembali?" Ia mulai berjalan sempoyongan menuju tebing curam.
"Rio! Sadar!" teriak Lin Qingyan. Ia mencoba menarik prajuritnya, namun ia sendiri mulai merasakan dunianya berputar. Pepohonan di sekelilingnya tampak berubah menjadi monster raksasa dengan tangan-tangan panjang yang hendak meremas jantungnya.
Ini adalah efek dari Jamur Halusinasi dan Bunga Pembius Jiwa yang ditanam Xue Xiao. Ditambah dengan tata letak pohon yang diatur sedemikian rupa untuk membingungkan indra, kelompok itu kini terjebak dalam labirin yang mematikan.
Dari dahan pohon ek raksasa, Xue Xiao mengamati mereka. Ia mendengarkan dialog mereka dengan indra pendengaran supernya. Ia bingung mendengar kata "GPS" atau "Sinyal", namun ia mengerti satu hal, mereka mencari obat untuk menyelamatkan nyawa seseorang.
Ia menatap Lin Qingyan yang kini berlutut, mencoba mempertahankan kesadarannya dengan menusukkan belati ke telapak tangannya sendiri agar rasa sakit menjaganya tetap terjaga. Kegigihan wanita itu menyentuh secercah memori di hati Xue Xiao, memori tentang dirinya yang dulu juga pernah berjuang demi orang lain sebelum akhirnya dikhianati.
"Seorang wanita yang kuat di tengah kelompok pengecut," gumam Xue Xiao.
Dengan satu gerakan secepat kilat yang bahkan tak bisa ditangkap mata manusia, Xue Xiao meluncur turun. Ia mendarat tepat di tengah kepulan asap ungu tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Lin Qingyan, yang pandangannya mulai kabur, hanya sempat melihat sosok pemuda tinggi dengan rambut hitam panjang berkibar, kulit yang seolah memancarkan cahaya giok, dan sepasang mata keemasan yang menatapnya dengan kedinginan yang mutlak.
"Siapa... kau? Malaikat maut?" bisik Lin Qingyan sebelum tubuhnya terjatuh lemas.
Xue Xiao menangkap tubuh wanita itu sebelum jatuh ke tanah. Ia merasakan denyut jantungnya yang lemah akibat racun. Dengan satu jentikan jari, Xue Xiao menciptakan gelombang tekanan udara kinetik yang menyapu bersih seluruh kabut ungu di area tersebut dalam radius lima puluh meter.
Ia menatap kelompok prajurit yang pingsan bergelimpangan di sekitarnya. "Kalian membawa bau dunia luar yang bising ke rumahku," ucapnya dengan suara berat yang berwibawa.
Awalnya ia ingin membuang mereka kembali ke luar batas hutan, namun rasa penasaran yang besar terhadap "teknologi" yang mereka bawa membuatnya berubah pikiran. Xue Xiao memutuskan untuk membawa Lin Qingyan dan rekan-rekannya ke area terbuka di depan gubuknya, area yang ia sebut sebagai "Lembah kehidupan" untuk mengetahui lebih lanjut siapa mereka dan dunia macam apa yang ada di luar hutan berkabut ini.