Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Arsitektur Kebohongan
Dunia Maya—bukan nama wartawan itu, melainkan dunia informasi yang dia geluti—berubah menjadi medan tempur yang jauh lebih brutal daripada baku tembak di gang sempit.
Di kantor pusat media Global News, Linda Rajendra berdiri di balik jendela besar yang menghadap cakrawala Jakarta. Ruangan itu dingin, diset pada suhu yang tepat untuk menekan emosi. Di layar monitor raksasa di depannya, wajah Arga terampang dengan efek visual yang membuatnya tampak seperti iblis: warna kulitnya dibuat pucat, matanya diberi efek merah menyala, dan setiap gerakan di Dermaga 4 diedit sedemikian rupa hingga terlihat seperti aksi pembantaian brutal.
"Sempurna," bisik Linda. Ia tidak perlu membunuh Arga dengan peluru. Ia akan membunuhnya dengan opini publik. Jika seluruh negeri percaya bahwa Arga adalah monster, maka tidak akan ada satu pun rumah sakit, toko, atau pelabuhan yang berani menampungnya. Arga akan terisolasi di kotanya sendiri.
Namun, Linda tidak tahu bahwa di sebuah server tersembunyi yang terkoneksi melalui jaringan VPN lapis tujuh, Arga—didampingi oleh Maya—sedang memantau setiap baris kode yang Linda kirimkan ke stasiun pemancar nasional.
"Dia menyuntikkan narasi palsu melalui node utama," bisik Maya. Tangannya menari lincah di atas keyboard mekanik. Matanya yang lelah menatap layar dengan intensitas yang mengerikan. "Jika aku memblokirnya, dia akan tahu. Tapi jika kita memanipulasinya sedikit saja... kita bisa mengubah frekuensi siarannya."
Arga berdiri di belakang Maya, memperhatikan layar itu. Mustika di dadanya berdenyut pelan, seirama dengan detak jantungnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus menghancurkan mesin itu dengan tangannya. Ia belajar bahwa dalam dunia elit, informasi adalah peluru yang paling mematikan.
"Jangan blokir," suara Arga berat, membelah keheningan ruangan gudang yang lembap. "Biarkan mereka menayangkan beritanya. Tapi ganti rekaman suaranya dengan file yang kau curi dari brankas Wijaya Holdings minggu lalu."
Maya menoleh, alisnya terangkat. "File tentang aliran dana suap ke menteri energi? Jika kita menyiarkan itu di tengah liputan terorisme, negara ini akan gempar."
"Itulah rencananya," jawab Arga.
Arga menatap tangannya sendiri. Ia masih bisa merasakan sisa energi emas yang memudar. Ia tahu, setiap kali ia menggunakan Mustika untuk mempercepat proses berpikirnya, ia sedang memperpendek sisa umurnya. Namun, ia tidak lagi peduli. Ia sadar bahwa kehancuran Keluarga Wijaya hanyalah pintu gerbang. Ada sesuatu yang lebih busuk di balik keluarga Rajendra, sesuatu yang melibatkan pejabat tinggi negara yang selama ini dianggap suci.
Di layar, Linda Rajendra mulai berbicara dalam siaran live. Dia tampak anggun, seolah-olah dia adalah penegak keadilan yang paling peduli pada keamanan nasional.
“Masyarakat yang terhormat, teroris yang kita kenal sebagai Arga Satria tidak hanya mengancam keselamatan kita, tapi dia juga memiliki motif untuk menghancurkan stabilitas negara demi kepentingan pribadi...”
"Sekarang, Maya," perintah Arga.
Maya menekan tombol Enter.
Di ribuan layar televisi di seluruh Indonesia, suara Linda yang elegan tiba-tiba terputus. Bukan dengan suara statis, melainkan dengan suara Linda sendiri yang sedang menelepon seseorang di malam hari.
“...Pastikan dana itu ditransfer ke rekening luar negeri Rajendra sebelum audit dilakukan. Jika ada saksi yang bicara, pastikan mereka hilang sebelum matahari terbit. Rakyat tidak akan tahu siapa yang sebenarnya membakar kota ini selama kita mengendalikan narasi.”
Suasana di kantor Linda seketika berubah menjadi kekacauan. Para staf berlarian, berteriak, sementara Linda membeku di depan kamera yang masih menyala. Wajahnya yang semula penuh percaya diri berubah menjadi topeng ketakutan yang pucat pasi.
Arga melihat semuanya melalui monitor. Ia tidak tersenyum. Ia hanya merasakan kehampaan yang aneh. Menghancurkan reputasi seseorang ternyata jauh lebih memuaskan daripada mematahkan tulang mereka.
"Kau baru saja membuat musuh yang jauh lebih berbahaya dari sekadar 'Pengejar'," ujar Maya, suaranya bergetar karena adrenalin. "Mereka tidak akan memburumu dengan tim SWAT lagi. Mereka akan memburumu dengan seluruh kekuatan negara."
Arga mengenakan jaketnya dan melangkah keluar dari gudang. Hujan di luar sudah berhenti, menyisakan udara yang dingin dan menyesakkan. Ia tahu, setelah ini, setiap langkahnya akan diawasi oleh ribuan mata. Ia tidak bisa lagi bersembunyi.
"Biar mereka datang," kata Arga, suaranya terdengar seperti janji sebuah badai. "Aku sudah lelah bersembunyi. Jika mereka ingin bermain kotor, maka aku akan mengajari mereka apa itu neraka yang sebenarnya."
Arga melangkah ke jalanan, menghilang ke dalam kerumunan orang yang mulai menunjuk ke arah televisi di toko-toko elektronik, berteriak karena kebenaran yang baru saja meledak di depan mata mereka.
Ia tahu, di suatu tempat di utara Jakarta, Dharmendra Rajendra pasti sedang membanting sesuatu. Dan Arga akan ada di sana untuk melihatnya.