Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Napas Naga yang Terbangun
Keheningan di ruang tamu pecah setelah pintu kamar Arya di lantai atas tertutup dengan bunyi debuman pelan.
"Hah! Apa-apaan itu tadi?!" Rina akhirnya menemukan suaranya kembali, wajahnya memerah karena geram. "Nadia, kau lihat? Si benalu itu sudah mulai berani mengancam tamu kita! Berani-beraninya dia bicara begitu pada Tuan Muda Bima!"
Bima, yang tadi sempat membeku, kini tertawa hambar untuk menutupi rasa malunya. Jantungnya masih berdegup kencang, sebuah reaksi insting yang tidak ia pahami. "Tante, sepertinya Arya terlalu banyak menonton film aksi. Mengancam Grup Mahendra? Lucu sekali. Dia bahkan tidak punya uang untuk membeli sepatu baru."
Nadia tidak menanggapi. Matanya masih tertuju pada tangga tempat Arya baru saja menghilang. Ada sesuatu yang berbeda. Punggung Arya yang biasanya bungkuk dan penuh beban, tadi terlihat tegak lurus seperti sebilah pedang yang tertancap di bumi.
"Bima, lupakan dia," ucap Nadia dingin, meski pikirannya kacau. "Mari bahas investasimu. Perusahaanku butuh suntikan dana lima puluh miliar dalam tiga hari, atau proyek dermaga itu akan disita bank."
Di dalam kamar kecil di sudut paling gelap rumah itu, Arya duduk bersila di atas lantai kayu yang dingin.
Ia memejamkan mata. Di dalam lautan kesadarannya, ia melihat reruntuhan megah dari istana jiwanya yang hancur. Namun, di tengah reruntuhan itu, sebuah benih cahaya keemasan redup mulai berdenyut.
Teknik Kultivasi Sembilan Transformasi Naga Langit.
Inilah teknik yang membuatnya menjadi kaisar di dunia sebelumnya, dan juga alasan mengapa ia dikhianati. Teknik ini mampu mengubah energi apa pun—bahkan polusi dan emosi negatif—menjadi energi spiritual yang murni.
"Bumi ini... energinya sangat tipis," bisik Arya, merasakan udara di sekitarnya. "Tapi cukup untuk membangun kembali fondasi dasar."
Arya mulai mengatur napasnya. Setiap tarikan napas menarik partikel cahaya mikroskopis dari udara ke dalam pori-porinya. Rasa panas mulai merambat dari tulang ekornya, naik ke tulang belakang, dan meledak di titik Dantian (pusat energi) di perut bawahnya.
Crak!
Suara halus terdengar dari dalam tubuhnya. Keringat hitam berbau busuk mulai keluar dari kulitnya—itu adalah kotoran dan racun yang telah menumpuk di tubuh lemah ini selama bertahun-tahun.
Satu jam... dua jam...
Tiba-tiba, mata Arya terbuka. Kilatan cahaya keemasan melintas di pupil matanya sebelum menghilang.
Tingkat satu Pembersihan Tubuh, selesai.
Luka di jarinya yang terinjak tadi telah menutup sempurna tanpa bekas. Otot-ototnya yang dulu lemas kini terasa padat dan berisi energi. Meskipun penampilannya masih terlihat kurus, ia kini memiliki kekuatan fisik yang setara dengan atlet profesional kelas dunia.
"Dengan kekuatan ini, aku setidaknya bisa melindungi diri," gumamnya.
Tiba-tiba, ponsel tua Arya yang layarnya retak bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal:
"Tuan, apakah itu Anda? Sinyal energi spiritual 'Vajra' baru saja terdeteksi di Kota Emerald. Hamba, Pak Tua Han, telah menunggu tiga tahun di sini. Mohon instruksi."
Arya menatap pesan itu dengan alis bertaut. Pak Tua Han? Ah, pelayan setia dari sekte medisku di masa lalu yang aku kirim ke dunia ini sebagai perintis sebelum aku jatuh.
Ternyata, ia tidak sendirian di dunia ini.
Malam semakin larut. Nadia masuk ke kamarnya dengan wajah lesu. Pertemuannya dengan Bima tidak membuahkan hasil; Bima meminta syarat yang merendahkan—Nadia harus menceraikan Arya dan menikah dengannya jika ingin dana itu cair.
Saat melewati kamar Arya, ia mencium bau aneh yang menyengat. Dengan ragu, ia membuka pintu.
"Arya, bau apa ini? Kau..."
Nadia terhenti. Ia melihat Arya sedang berdiri di dekat jendela yang terbuka, bertelanjang dada. Di bawah cahaya bulan, kulit Arya tampak bersinar seperti porselen, dan garis-garis otot perutnya terlihat sempurna, tidak seperti pria lemah yang ia kenal.
Yang paling mengejutkan adalah auranya. Arya yang dulu selalu menunduk menghindarinya, kini berbalik dan menatapnya dengan senyum tipis yang tenang.
"Nadia, kau tampak lelah," ucap Arya suaranya berat dan menenangkan. "Tentang masalah lima puluh miliar itu... jangan khawatir. Besok pagi, masalah itu akan selesai."
Nadia terpaku. "Apa yang kau bicarakan? Kau tahu dari mana tentang angka itu? Dan bagaimana mungkin kau bisa menyelesaikannya?"
"Anggap saja itu hadiah karena kau telah membiarkanku tinggal di sini selama tiga tahun," jawab Arya santai sambil mengenakan kaosnya kembali. "Tidurlah. Besok, seluruh kota akan tahu siapa suamimu yang sebenarnya."
Nadia ingin marah dan menganggapnya gila, tapi entah mengapa, ada keyakinan mutlak dalam suara Arya yang membuatnya tidak mampu membantah.
Keesokan paginya, di depan gedung pusat Emerald Bank, bank terbesar di kota itu.
Sebuah mobil Rolls-Royce hitam berhenti. Seorang pria tua berambut putih dengan setelan jas seharga ratusan juta turun dengan tergesa-gesa. Dia adalah Han Shixiong, orang terkaya nomor tiga di negara ini yang dikenal sebagai "Dewa Medis".
Ia berdiri di pinggir jalan, menunggu dengan sangat gelisah, hingga sebuah sosok pemuda dengan kaos murah dan celana jins usang berjalan mendekat.
Melihat pemuda itu, Han Shixiong yang agung langsung membungkuk sembilan puluh derajat di depan kerumunan orang yang melintas.
"Hamba Han Shixiong, memberi hormat kepada Guru Besar Vajra! Maafkan keterlambatan hamba menjemput Anda!"
Orang-orang di sekitar ternganga. Dewa Medis Han... bersujud pada seorang pemuda gelandangan?
Arya mengangguk pelan. "Bangunlah, Han. Aku butuh lima puluh miliar sekarang juga. Bisakah kau mengaturnya?"
"Lima puluh miliar?" Han Shixiong gemetar. "Guru, bagi hamba itu hanya uang saku. Jangankan lima puluh miliar, jika Anda menginginkan seluruh bank ini, hamba akan memberikannya sekarang juga!"
Arya tersenyum dingin. "Bagus. Mari kita mulai pembersihan di kota ini."