NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: RUMAH YANG BERUBAH

Begitu pintu rumah tertutup, Datuk Sulaiman menanggalkan wajahnya—dan kebencian tumpah ke ruang keluarga tanpa sisa.

Pintu rumah besar itu tertutup rapat dengan bunyi berdebum. Daun jendela digeser satu per satu, mengunci malam di luar. Lampu-lampu minyak di ruang tamu menyala temaram, menerangi wajah Sulaiman yang merah padam—campuran antara amarah, malu, dan sesuatu yang lebih dalam: kekalahan.

Di depannya, Siti duduk di kursi kayu jati. Wajahnya tegang menunggu, kedua tangannya menggenggam erat ujung kain. Zubaidah berdiri di samping, tangan memegang pundak Siti, matanya penuh tanya. Hanya mereka berdua dan Halimah—putri sulungnya yang baru genap tujuh belas tahun—yang ada di sana. Dua adik laki-lakinya, Usman dan Hasan, sudah tertidur nyenyak di kamarnya setelah Zubaidah mengajak mereka beristirahat lebih awal. Halimah bersandar di ambang pintu ruang belakang, matanya tajam menyipit memandang ayahnya.

"Ayah," bisik Halimah memecah keheningan, "apa yang terjadi?"

Sulaiman menoleh. Matanya merah memerah, urat di lehernya menegang seperti tali yang akan putus. Selama ini ia dikenal sebagai pejabat VOC yang disegani, tapi di depan istri-istrinya dan anak-anaknya, ia selalu berusaha jadi sosok yang tegas namun penuh kasih.

Malam ini berbeda.

Malam ini, ia pulang dengan rasa malu yang membakar dada.

 

"Dia... Maringgih..." Sulaiman mulai bicara, suaranya serak seperti kerikil yang digosok. "Aku tidak bisa mempercayainya. Dia menghinaku di depan semua orang di gudangnya."

Siti bangkit mendekat, langkahnya pelan hati-hati. "Abang, apa yang sebenarnya terjadi? Datuk Maringgih tidak pernah seperti itu selama ini."

"Datuk?" Sulaiman tertawa pahit, tawanya menusuk seperti kaca pecah. "Jangan panggil dia Datuk lagi, Siti! Dia bukan pemimpin yang layak disegani—dia hanyalah bajingan yang suka merendahkan orang lain!"

Zubaidah mendekat duduk di sandaran kursi, wajahnya penuh kekhawatiran. "Musuh kita, Abang? Maksudmu seperti itu?"

Sulaiman menjatuhkan diri di kursi, tubuhnya terasa berat seperti batu besar. Tangannya mengepal sampai buku jarinya memutih.

"Aku datang ke sana sebagai utusan VOC—dengan surat resmi dari Batavia, dengan wewenang penuh dari Van der Berg sendiri!" Suaranya naik tinggi, menggelegar di ruangan. "Tapi dia... dia duduk di kursinya seperti raja yang sombong, tidak mau berdiri bahkan sebentar untuk menyambutku!"

Ia memukul sandaran kursi dengan keras. "Dia berkata, 'Apa ini? Seorang pejabat VOC yang tidak tahu diri? Atau hanya lelaki yang terjebak hutang dan mau menjual diri kepada orang asing?'"

Siti menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya memucat. "Dia benar-benar berkata itu?"

"Belum ada apa-apanya!" Sulaiman berdiri, berjalan mondar-mandir di atas lantai kayu. Sepatu botnya menghentak keras setiap langkah. "Dia berkata aku tidak punya martabat—kata dia, aku hanyalah 'anjing yang menggonggong sesuai perintah majikannya.' Dia bilang aku tidak layak menjadi kepala keluarga, tidak layak mendapatkan rasa hormat dari siapapun!"

Zubaidah menangis pelan, menepuk pundak Siti yang juga sudah berkaca-kaca. "Betapa kejamnya dia, Abang! Bagaimana bisa dia berkata begitu padamu?"

"Belum lagi yang paling menyakitkan!" Sulaiman berhenti di tengah ruangan, matanya penuh air mata amarah. "Dia menertawakan kita semua—kamu, Siti. Kamu, Zubaidah. Dan bahkan anak-anak kita! Dia berkata, 'Anak-anakmu akan tumbuh dengan baik, tapi sayangnya mereka punya ayah yang tidak tahu malu.' Dia berkata keluarga kita hanyalah lembaga yang penuh dengan kebohongan dan keserakahan!"

 

Siti menangis terbuka, menyandar kepalanya di bahu Zubaidah. "Bagaimana bisa dia menghina kita seperti ini, Abang? Kita tidak pernah menyakitinya! Usman dan Hasan masih kecil, mereka tidak tahu apa-apa!"

Sulaiman menatap arah Halimah, yang selama ini berdiri diam tanpa mengeluarkan suara. "Nak, kamu dengar semua itu kan? Dia bahkan menghina adik-adikmu yang sudah tidur sana. Kamu harus mengerti kenapa kita harus memusuhinya!"

Halimah tidak langsung menjawab. Ia melihat ayahnya yang marah besar, melihat kedua ibunya yang sedang menangis. Tapi di benaknya, kilas balik datang satu demi satu—kenangan ketika ia masih kecil, ketika kedua keluarga masih akrab.

Ia ingat bagaimana Datuk Maringgih sering membawa permen untuk dirinya, Usman, dan Hasan. Bagaimana dia mengajak mereka berjalan-jalan ke kebun rempah, bagaimana dia selalu berkata bahwa ketiganya akan tumbuh menjadi orang-orang yang bijak dan penuh perhatian kepada orang lain.

Ia juga ingat beberapa waktu lalu, ketika dia mengikuti ayahnya ke gudang VOC. Ia melihat bagaimana petani-petani diperlakukan dengan tidak adil—dipaksa menjual rempah dengan harga murah, dikucilkan kalau tidak mau menuruti, bahkan beberapa di antaranya mendapat kekerasan. Saat itu, hati kecilnya merasa tidak nyaman. Ketika kabar datang bahwa Datuk Maringgih meminta syarat agar rempah dibeli dengan harga VOC, Halimah merasa lega. Akhirnya ada orang yang berani berdiri untuk mereka—untuk masa depan Usman dan Hasan juga.

Sekarang, mendengar kata-kata ayahnya, ia tidak bisa langsung mempercayainya. Ada celah di hati yang mengatakan bahwa cerita ayahnya mungkin tidak sepenuhnya benar.

"Ayah..." ujarnya pelan, tanpa melihat wajah ayahnya. "Aku dengar semua yang kamu katakan. Aku juga khawatir kalau adik-adikku tahu tentang hal ini."

"Kalau begitu kamu harus mengerti kenapa kita harus memusuhinya!" tegas Sulaiman. "Dia telah menghina nama baik keluarga kita dan merendahkan semua orang yang kita cintai!"

Halimah tetap diam. Ia tidak bisa membantah ayahnya di depan kedua ibunya yang sedang sedih. Tapi juga tidak bisa membenarkan apa yang dikatakan ayah tentang Datuk Maringgih.

"Aku tidak punya komentar tentang apa yang terjadi antara Ayah dan Datuk Maringgih," katanya dengan suara tenang. "Aku hanya tahu bahwa Ayah mencintai kita semua—saya, Usman, Hasan—dan Datuk Maringgih juga pernah berbuat baik kepada kita dahulu, terutama kepada adik-adikku."

Siti dan Zubaidah terkejut mendengar kata-kata putrinya. Sulaiman juga terpana sejenak sebelum kemarahan kembali muncul di wajahnya.

"Kamu masih membela dia?" tanya Sulaiman dengan nada tajam.

"Tidak, Ayah," jawab Halimah lembut. "Aku tidak membela siapapun. Aku hanya berpikir, mungkin ada dua sisi dari setiap cerita. Dan aku tidak ingin menilai sebelum tahu semua yang terjadi."

Ia mengambil napas dalam. Di dalam hati, ia sudah membuat keputusan: Lebih baik saya tanya langsung ke Datuk Maringgih nanti. Hanya dia yang bisa memberi saya jawaban yang sebenarnya—jawaban yang mungkin akan berpengaruh pada masa depan Usman dan Hasan juga.

 

Malam semakin larut. Lampu-lampu mulai diredupkan satu per satu.

Zubaidah membimbing Siti yang masih menangis ke kamar tidur. Sulaiman duduk sendirian di kursi, wajahnya penuh rasa kecewa terhadap putrinya.

Halimah berdiri di dekat jendela, melihat kegelapan di luar. Ingatan masa kecilnya bersama Datuk Maringgih dan dua adiknya kembali menghampiri—betapa baiknya dia, betapa ia selalu menghargai setiap orang tanpa memandang kedudukan, betapa dia pernah berjanji akan selalu melindungi anak-anak dari segala kesusahan.

Ia merenungkan bagaimana hubungan kedua keluarga bisa berubah seperti ini. Dan dalam hatinya, ia semakin yakin bahwa perlu ada percakapan langsung dengan Datuk Maringgih. Hanya dengan begitu, dia bisa tahu mana yang benar dan mana yang salah—untuk dirinya sendiri, dan untuk kebaikan Usman serta Hasan.

Di luar, angin malam berdesir, membawa aroma tanah basah dan bunga rempah dari kejauhan. Seolah alam juga mengingatkannya akan hubungan lama yang pernah ada antara dua keluarga itu, dan bagaimana masa depan anak-anak mereka terjalin erat dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Malam itu, hati Halimah penuh dengan keraguan dan tekad. Ia mencintai ayahnya dengan sepenuh hati, mencintai adik-adiknya lebih dari apa pun, tapi juga tidak bisa melupakan kebaikan yang pernah diterima keluarganya dari Datuk Maringgih. Dan hanya satu cara untuk menemukan jawaban—bertemu langsung dengannya.

 

[Bersambung...]

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!