NovelToon NovelToon
My Girl

My Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor

Elvan Bagaskara

CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.

Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .

Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 4

Langit siang itu kelabu, cocok banget sama mood Dira yang lagi naik turun. Sepatu kanvasnya nendang kerikil kecil di lantai koridor sekolah. Kepalanya panas. Hari ini bukan harinya dia.

“Eh, Dira.”

Suara itu bikin langkahnya berhenti.

Dira muter badan pelan, alisnya naik.

Vina berdiri di ujung lorong, senyum tipis yang nggak pernah tulus. Di belakangnya ada dua temennya—satu sibuk mainin rambut, satu lagi melipat tangan kayak bodyguard nggak jelas.

“Apa lagi sih ?” Dira nyengir miring. “Kangen?”

Vina mendengus. “Sok jago amat sih. Dikiranya siapa.”

Dira nyengir makin lebar. “Yang penting bukan kamu .”

Ucapan itu kayak nyiram bensin ke api.

Vina maju selangkah, mukanya merah.

“Ngomong sama aku tuh dijaga. Kamu pikir aman terus di sekolah ini?”

Dira nggak mundur. Matanya malah makin tajam.

“Aku nggak pernah minta aman. Santai aja, Vin.”

Satu dari temen Vina tiba-tiba nyamber lengan Dira.

Refleks, Dira hampir ngasih sikut. Tapi keburu dua orang narik dia dari kanan kiri.

“Heh! Lepasin!”

Dira berontak, kakinya nendang ke udara, bahunya disentak.

“Bawa aja. Biar kapok,” kata Vina datar.

Mereka nyeret Dira ke arah gudang lama di ujung lorong—tempat yang udah jarang dipakai, pintunya sering kebuka dikit, lampunya mati setengah.

Jantung Dira deg-degan, tapi gengsinya lebih kenceng.

“Berani ramean doang, ya? Kalau satu lawan satu, kamu ciut.”

Vina cuma senyum kecil. “Berisik.”

Pintu gudang kebuka. Bau debu sama kayu lembap nyergap.

Dira didorong masuk. Punggungnya kena rak besi. Bunyi klek pintu ditarik nutup setengah.

“Ngapain sih monyet ?” Dira nyengir, tapi napasnya mulai berat. “Main kasar sekarang?”

Vina mendekat. “Berani kamu ngatain aku . Inget, di sini ada batasnya.”

Tiba-tiba—

“Berhenti.”

Satu suara cowok, datar, dingin, tapi jelas.

Semua kepala otomatis noleh ke arah pintu.

Albian berdiri di sana.

Tas ransel satu selempang, wajahnya tenang, mata hitamnya ngeliat tajam ke arah mereka.

“Kalian ngapain?” tanya dingin Albian pelan.

Vina kaget, tapi sok santai. “Urusan cewek. Nggak usah ikut campur.”

Albian maju satu langkah.

“Kalau ramean, itu bukan urusan cewek. Itu pengecut.”

Suasana langsung beku.

Satu temen Vina nyeletuk, “Sok jago., Siapa kamu?”

Albian nggak senyum, nggak marah. Nada suaranya tetap datar.

" Aku temannya " jawab albian “Lepasin dia. Sekarang.”

" Eh sejak kapan kita teman" Bantah dira spontan

" Mulai sekarang " balas albian

Dira ngeliat punggung Albian dari belakang .

Vina ragu sesaat. Gengsi ketarik, tapi tatapan Albian bikin dia mikir dua kali.

Akhirnya, dengan dengusan kesal, dia dorong bahu Dira.

“Udah. Ayo,” kata Vina ke temennya.

Mereka pergi sambil bisik-bisik.

Pintu gudang kebuka lebar, ninggalin Dira yang masih berdiri kaku.

Beberapa detik hening.

“Kamu nggak apa-apa?”

Albian nengok ke Dira.

Dira ngusap lengannya, nyengir setengah.

“Aman. Cuma kesel aja.”

Albian ngangguk kecil. “Lain kali… jangan sendirian.”

Dira ketawa kecil. “Dengar itu kayak nasihat bapak-bapak, tapi… makasih.”

Dira mau pergi, tapi Albian manggil,

“Eh. Nama kamu dira kan?”

“Iya.”

“Albian ”

Dira melirik sebentar. “Aku tau.”

Albian keangkat alis. “Serius? Dari mana?”

“Tadi pagi , dikelas .”

Albian tersenyum . “Oke, dingin juga kamu ”

" Yaelah , gak sedingin kamu kali " timpal dira

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Albian naik dikit.

Cuma dikit. Tapi cukup bikin jantung Dira aneh.

Dari kejadian di gudang itu,

Dira dan Albian mulai dekat

Lama-lama… mereka duduk bareng di kantin.

Dira nggak nyangka,

cowok sedingin Albian bisa jadi orang pertama yang berdiri di pihaknya.

Bersambung.....

1
Teh Sopiah
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!