Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Setelah urusan administrasi selesai, Arka dipindahkan ke ruang rawat. Pertama kali masuk, Arka yang duduk di kursi roda, kaget melihat kamarnya. Tadi ia diberi tahu kalau harus pindah ke ruang rawat, tapi ekspektasinya tak seperti ini.
"Ini kamarnya, Bu?" mulut Arka menganga lebar, berdecak kagum, juga reflek mengatakan wow meski lirih. Rasanya tak percaya jika ia akan di rawat di ruangan sebagus ini. Kamar luas dengan cat putih itu, dihiasi dengan beberapa gambar kartun, bahkan tirai, sprei dan selimut yang berwarna biru, juga bergambar kartun. Fasilitasnya lengkap, mulai dari kamar mandi, TV, AC, kulkas mini, sofa, hingga bed untuk yang menunggu.
Sebenarnya Zea agak kaget juga, tak mengira Naka akan memilihkan kamar yang sebagus ini. Semoga saja, setelah ini tak ada itung-itungan di belakang. Kalau sampai dihitung hutang, bisa kelabakan dia.
"Suka gak Ka, sama kamarnya?" tanya Rizal.
"Suka Om, suka benget. Kamarnya bagus, Arka pasti kerasan, apalagi ditemani Ibu disini," menoleh pada Zea yang mendorong kursi rodanya.
"Jangan dong. Kalau kerasan disini, artinya Arka gak mau sembuh," ujar Zea.
"Ah iya," Arka menutup mulut dengan telapak tangan, tertawa cekikikan. Saking senangnya, ia sampai lupa jika ini adalah rumah sakit. "Arka gak mau disini lama, mau segera sembuh, lalu kita pulang," menatap ibunya. "Bu guru dan teman-teman pasti nyariin aku, karena lama gak sekolah."
Naka menahan tangan Zea yang hendak menggendong Arka, memindahkan dari kursi roda ke ranjang. "Biar aku aja," mengangkat tubuh kurus Arka, menaikkan ke atas ranjang.
"Makasih Om Bos," ujar Arka sambil tersenyum. "Makasih juga karena sudah menjemput Ibuku dari luar negeri."
Zea auto nyengir. Dalam hati tak terima Naka mendapatkan ucapan terimakasih. Andai saja Arka tahu jika biang keladi mereka berpisah adalah Naka.
Sama seperti Zea, Rizal dan Vira membuang nafas berat. Sepertinya kata terimakasih Arka salah sasaran, kayak kebanyakan bansos.
Perawat memasang kantong infus pada tiang, lalu memastikan jika kecepatan tetesannya sesuai. Ia menjelaskan beberapa hal dasar seperti cara memanggil petugas medis, kapan kunjungan dokter, jam berapa mendapatkan makanan, dan lain-lain. Setelah semua disampaikan dan tak ada pertanyaan, ia langsung pamit.
Vira yang sejak tadi salfok pada sesuatu, menarik Rizal agak menjauh dari ranjang, lalu berbisik di telinganya. "Kamu bilang, Ibunya Arka janda, tapi kok lehernya penuh bekas cipokann?"
Pertanyaan Vira membuat Rizal yang mulanya gak nggeh, langsung menyipitkan mata, fokus memperhatikan leher Zea. Kebetulan wanita itu menguncir kuda rambut panjangnya.
"Dia baru hari ini kan, tiba di Jakarta?" Vira kembali bertanya. "Kamu yang jemput dia, terus anter dia apartemen."
Rizal langsung menoleh pada Vira, "Kamu gak lagi nuduh aku kan?" keningnya mengernyit.
Menuduh si enggak, tapi bisa juga ada kemungkinan itu, mengingat apa sih yang gak mungkin di dunia ini. "Emang kamu merasa ketuduh?"
"Tadi pas aku anter ke apartemen, gak ada kissmarknya," berbisik di telinga Vira. "Aku cuma anter doang, habis itu aku tinggal. Dah, gitu aja. Sumpah demi Allah."
"Dia kesini sama Pak Naka kan? Jangan-jangan... " fikiran Vira mulai liar.
"Udah, gak usah nebak-nebak, bukan urusan kita." Tapi meski bicara seperti itu, aslinya dalam hati Rizal juga menebak-nebak, penasaran.
Vira kembali berbisik, "bibirnya juga luka, dan kayak bengkak gitu," menatap Zea. "Kira-kira... " jemarinya reflek menyentuh bibir, lalu tiba-tiba bergidik.
"Bayangin apa kamu?" Rizal mengusap wajah tunangannya itu dengan telapak tangan. "Udah, diam!" desis Rizal, meletakkan telunjuk di depan bibir.
Tapi bukan Vira namanya kalau langsung diam. "Kalau beneran sama Pak Naka, ganas juga ya bos kamu itu."
Rizal memutar kedua bola matanya malas. Udah dikasih tahu untuk diam, masih aja terus bahas. Jangan-jangan, mereka berdua emang habis gituan. Pak Naka mau melakukan tes DNA dengan Arka, itu artinya ada sesuatu di antara mereka dulu. Gak mungkin kalau gak nebar benih, tiba-tiba mau tes DNA.
"Beb, kira-kira, mereka udah keramas belum ya?"
"Udah!" Rizal memelototi kekasihnya. "Gak usah bahas itu lagi. Aku ngantuk banget," menutup mulut, menguap lebar.
"Bu, ada AC nya, pantesan dingin," Arka menunjuk ke arah AC. "Enak ya Bu, kayak di rumahnya Ditya, ada AC nya. Di rumah Om Rizal juga ada AC nya."
Zea reflek menoleh pada Rizal, mendengus kesal. Padahal Arka ada di rumahnya, tapi dia tak mau mempertemukannya dengan Arka.
"Pak Naka, apa kami berdua boleh pulang?" Rizal menghampiri Naka yang berdiri di samping ranjang, berhadapan dengan Zea.
"Ya udah, kalian pulang saja."
Vira melangkah ke samping Zea, mengusap pelan kepala Arka. "Tante pulang dulu ya Arka, InsyaAllah besok Tante kesini lagi. Arka cepat sembuh."
Arka mengangguk, "Makasih Tante Vira, udah jagain Arka pas Ibu gak ada."
"Sama-sama, Sayang."
"Jadi, kamu yang jagain Arka selama di Jakarta?" Zea menoleh pada Vira yang berdiri di sampingnya.
"Iya, Mbak," Vira mengangguk sambil tersenyum.
"Makasih ya, udah jagain Arka," Zea meraih tangan Vira, menggenggamnya.
"Sama-sama. Arka anak pinter, sama sekali gak ngerepotin. Arka, tos dulu dong," mengangkat tangan ke arah Arka. "Eh, udah kuat tos belum?"
"Udah dong, Arka udah sembuh, kan ada Ibu," tersenyum pada Zea. Ia mengangkat tangan meski agak lemas, lalu tos dengan Vira.
Setelah pamit, Rizal dan Vira meninggalkan ruangnya Arka. Setelah pintu kembali ditutup, suasana kamar mendadak canggung.
"Kamu gak pulang?" Zea menatap Naka yang ada di hadapannya.
"Aku ikut jagain Arka malam ini."
"Gak usah repot-repot, aku bisa jagain anak aku. Terimakasih."
Naka membuang nafas kasar, balik badan lalu melangkah. Bukan untuk keluar, tapi naik ke ranjang penunggu, rebahan disana sambil memejamkan mata.
"Astaga orang itu," Zea berdecak sambil geleng-geleng menatap kelakuan Naka yang sesuka hati. Besok saat pria itu keluar, ia akan langsung membawa Arka pergi dari sini. Beruntung saat ke rumah sakit tadi, ia tak meninggalkan tas ranselnya, sehingga besok kalau ingin kabur, rasanya mudah.
"Ibu, aku pengen dikelonin Ibu. Ngantuk. Ibu tidur disini ya, sama aku," Arka menggeser sedikit badannya, memberi ruang pada Zea.
Zea mengangguk, naik ke atas ranjang, rebahan sambil memeluk Arka. Menyentuh kening Arka yag ternyata sudah tak begitu panas. "Mau Ibu dongengin gak?"
Arka mengangguk cepat.
Sambil memeluk Arka, Zea menceritakan sebuah dongeng. Naka yang ada di ranjang sebelah, memiringkan badan menghadap Zea dan Arka. Suara Zea sama sama seperti dulu, lembut dan menenangkan. Matanya langsung terasa berat.
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣