NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 — Di Antara Ragu dan Peluk yang Tertahan

Malam itu, kota kecil terasa lebih sunyi dari biasanya.

Lampu-lampu jalan menyala temaram. Angin membawa aroma laut yang lembap. Alya berdiri di teras rumah setelah mengantar ibunya tidur, pikirannya belum juga tenang.

Pesan dari Dira siang tadi masih terngiang.

Kita perlu ngobrol. Penting.

Kalimat sederhana.

Tapi penuh kemungkinan.

Ponselnya bergetar.

Arka.

Aku di depan.

Jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya.

Ia melangkah keluar. Arka berdiri di bawah pohon mangga tua, masih dengan jaket tipisnya. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya tetap mencari Alya begitu pintu terbuka.

“Maaf ganggu malam-malam,” katanya pelan.

“Kamu udah sering ganggu dari dulu,” balas Alya, setengah bercanda.

Arka tersenyum kecil. “Iya. Tapi kali ini aku nggak mau ganggu. Aku mau beresin.”

Mereka duduk di bangku kayu di teras. Jaraknya tidak sejauh dulu. Tapi masih ada ruang di antara mereka—ruang yang diisi oleh masa lalu, ego, dan ketakutan yang belum sepenuhnya sembuh.

“Dira cuma mau memastikan satu hal,” Arka memulai.

“Apa?”

“Bahwa aku nggak ngasih harapan ke dia.”

Alya menahan napas.

“Dan?” tanyanya pelan.

“Aku bilang dari awal nggak pernah ada harapan itu.”

Angin menggerakkan ujung rambut Alya. Ia mencoba membaca ekspresi Arka dalam cahaya lampu yang redup.

“Dia… suka kamu?” tanyanya akhirnya.

Arka terdiam sesaat. “Mungkin.”

Jawaban jujur itu menusuk sedikit. Tapi justru karena jujur, Alya tidak bisa marah.

“Tapi aku nggak pernah lihat dia dengan cara itu,” lanjut Arka. “Dan aku nggak mau jadi alasan dia nunggu sesuatu yang nggak akan aku kasih.”

Hening.

Kali ini bukan hening canggung.

Tapi hening yang terasa seperti napas panjang setelah menahan terlalu lama.

Alya menunduk, memperhatikan jemarinya sendiri. “Aku nggak mau jadi orang yang bikin kamu kehilangan partner kerja.”

Arka tertawa pelan. “Alya, dia profesional. Kita tetap kerja bareng. Tapi jelas. Tanpa abu-abu.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diri Alya menghangat.

Tanpa abu-abu.

Selama ini hubungan mereka selalu terjebak di wilayah itu—tidak hitam, tidak putih.

Sekarang Arka memilih jelas.

“Kenapa kamu sekeras ini buat aku?” tanya Alya tiba-tiba.

Arka tidak langsung menjawab.

Ia memandang lurus ke depan, ke jalan yang sepi.

“Karena waktu kamu pergi dulu,” katanya pelan, “aku baru sadar kamu bukan cuma bagian dari hidupku. Kamu rumah.”

Alya menoleh cepat.

Kata itu terlalu dalam untuk diucapkan sembarangan.

“Dan lima tahun tanpa rumah itu… capek, Lya.”

Suara Arka tidak dramatis. Tidak berlebihan.

Justru itu yang membuatnya terasa nyata.

Alya merasakan matanya mulai panas. Ia membenci betapa mudahnya Arka menyentuh bagian dirinya yang paling rapuh.

“Aku pergi bukan karena nggak sayang,” bisiknya.

“Aku tahu sekarang.”

“Aku takut waktu itu. Ayah marah. Masa depan kita nggak jelas. Kamu masih kuliah, aku mau pindah kota. Semuanya terasa… terlalu berat.”

Arka mengangguk pelan. “Aku juga salah. Terlalu gengsi buat ngejar kamu lebih jauh.”

Mereka sama-sama tersenyum tipis.

Dua orang yang akhirnya mengakui kesalahan tanpa saling menyalahkan.

Angin malam bertiup lebih dingin. Tanpa sadar, Alya menggigil kecil.

Arka memperhatikan. “Kamu masih gampang kedinginan.”

“Masih,” jawabnya pelan.

Tanpa banyak kata, Arka melepas jaketnya dan menyampirkannya ke bahu Alya.

Gerakan sederhana.

Tapi ketika jemarinya tak sengaja menyentuh kulit Alya, ada aliran hangat yang menjalar sampai ke dadanya.

Mereka saling menatap.

Terlalu dekat.

Terlalu lama.

Alya bisa melihat garis halus di sudut mata Arka yang dulu tidak ada. Waktu memang berjalan. Mereka tidak lagi remaja yang bertengkar soal hal sepele.

“Aku boleh jujur lagi?” tanya Arka lirih.

Alya mengangguk pelan.

“Aku takut juga.”

Alya terkejut. “Kamu?”

“Aku takut kamu cuma di sini sementara. Takut kamu balik lagi ke kota besar dan ninggalin aku buat kedua kalinya.”

Suara itu retak sedikit.

Dan entah kenapa, mendengar Arka takut membuat Alya merasa lebih tenang.

Karena berarti ia tidak sendirian dalam rasa ini.

“Aku nggak tahu masa depan,” kata Alya pelan. “Aku masih punya kerjaan di sana. Tapi sekarang… aku nggak mau lari lagi.”

Arka menatapnya, seolah memastikan ia tidak salah dengar.

“Kita jalanin pelan-pelan,” lanjut Alya. “Tanpa janji besar. Tanpa paksaan. Tapi juga tanpa sembunyi.”

Arka mengangguk.

Pelan.

Seolah itu keputusan paling penting dalam hidupnya.

Beberapa detik berikutnya terasa berbeda.

Tidak ada perdebatan. Tidak ada kecurigaan.

Hanya jarak yang makin menipis.

“Alya…” suara Arka lebih lembut dari sebelumnya.

“Iya?”

“Aku boleh?”

Bukan kalimat lengkap.

Tapi Alya tahu maksudnya.

Ia tidak menjawab dengan kata.

Hanya tidak menjauh.

Arka mengangkat tangan perlahan, menyentuh pipi Alya dengan ujung jarinya—seperti memastikan ia nyata. Sentuhan itu hati-hati, hampir ragu.

Lalu ia menarik Alya ke dalam pelukan.

Tidak tergesa.

Tidak menuntut.

Hanya pelukan yang lama tertunda.

Alya membeku sepersekian detik.

Lalu perlahan, ia membalas.

Menyandarkan wajahnya di dada Arka, mendengar detak jantung yang stabil. Hangat. Nyata.

Dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun—

Ia tidak merasa sendirian.

“Kalau nanti kita berantem lagi?” bisik Alya, masih dalam pelukan.

“Kita selesain. Bukan kabur.”

“Kalau aku keras kepala?”

“Aku lebih keras.”

Alya tertawa pelan, suaranya teredam di dada Arka.

Pelukan itu tidak berubah menjadi sesuatu yang berlebihan. Tidak ada ciuman dramatis. Tidak ada janji manis yang mengawang.

Hanya dua orang dewasa yang memilih untuk tinggal.

Beberapa menit kemudian, mereka berpisah perlahan.

Bukan karena ingin.

Tapi karena tahu semuanya harus bertahap.

“Aku pulang,” kata Arka lembut.

Alya mengangguk.

Sebelum benar-benar pergi, Arka berkata,

“Besok sore ada acara kecil di kantor. Peresmian proyek baru. Kamu mau datang?”

“Sebagai apa?”

Arka tersenyum tipis. “Sebagai orang yang lagi aku perjuangin.”

Jantung Alya berdebar lagi.

Ia menahan senyum. “Lihat nanti.”

Arka menggeleng pelan, lalu akhirnya pergi.

Alya berdiri di teras lebih lama dari biasanya.

Tangannya masih terasa hangat.

Hatinyapun begitu.

Namun jauh di dalam pikirannya, satu pertanyaan belum benar-benar hilang—

Apakah cinta yang pernah retak bisa benar-benar utuh lagi?

Atau mereka hanya sedang menambal dengan hati-hati, berharap retaknya tidak terlihat?

Dan besok, ketika Alya melangkah ke dunia Arka secara resmi—

Akankah semua orang menerimanya?

Atau justru ada yang belum benar-benar rela melepaskan?

saksikan kelanjutannya bersama saya di sini sebagai penulis yang ikut penasaran...

1
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!